LOGINSehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.
Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.
Cklek
Matanya membulat saat pintu rumah itu tidak terkunci.
"Permisi, Apa ada orang disini?."
Sekali panggilan tak ada yang menyahut. Sehun masuk saja ke rumah itu. Ia bingung sendiri kenapa begitu bodoh.
'Ini kan rumah ku kenapa aku harus sungkan' pikirnya sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
Sehun berjalan masuk. Melihat sekeliling ruang tamu tak ada siapapun. Memeriksa kamar di lantai atas sampai lantai bawah. Nihil. Tak ada seorang pun di rumah itu.
'Mungkin bibi pengurus rumah lupa mengunci' pikir Sehun. Selama bertahun tahun tidak ditempati rumah itu selalu dibersihkan oleh bibi pengurus rumah. Sehun menitipkan rumah itu pada bibi pengurus. Jadi wajar jika sheun berfikiran bibi lupa mengunci, karena hanya bibi yang punya kunci rumah itu.
Sehun melangkah menuju ruang tamu kecil dimana ada foto Anson bersama L saat memenangkan pertandingan ibu dan anak di TK. Pandangannya melihat potret sang Istri Han Allice yang tersenyum senang. Tangan kanannya memegang Anson kecil sementara tangan kirinya memegang piala mereka.
Sudut bibir Sehun terangkat mengingat betapa konyolnya mereka waktu itu. Istrinya yang terlalu bersemangat berlari, dengan menggendong anson sampai berlumuran lumpur. Tak heran jika mereka yang memenangkan piala, dimana L saja berani kotor dibanding ibu ibu yang lain.
DOR
Satu peluru melubangi foto besar itu, hampir mengenai kepalanya seandainya sedikit saja ia terlambat menghindar mungkin kepala sehun sudah berlubang.
Tubuh Sehun ditarik ke bawah, sementara mulutnya dibekap. Seseorang berpakaian hitam dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Jari telunjuk orang itu berada di depan bibir. Mengkode untuk diam. Sehun sadar jika orang ini tidak akan mencelakainya. Ia menurut instruksi orang itu. Sementara yang dia atas mereka terus terdengar sauara tembakan.
Orang itu menarik lengan Sehun menuju lorong dimana mereka sampai ke sebuah ruang bawah tanah. Ruang mewah kedap suar, berbanding terbalik dengan kondisi rumah di atas yang tua dan sangat sederhana. Di bawah sana Sehun melihat ruangan yang tak kalah jauh dengan tempat rahasianya di rumah.
"SIAPA KAU?. Kenapa kau membawaku kesini?." Teriak Sehun yang tak dihiraukan sama sekali oleh orang yang membawanya.
"Untung saja tempat ini dibuat kedap suara. Jadi mereka tak akan mengejar dan membunuhmu 2 kali, Daepyonim."
Sehun menoleh pada orang yang memperhatikannya dari balik pantri. Mata Sehun membulat melihat orang itu.
"Jungkook. Kenapa kau disini?__ kenapa mereka menembakiku?." berondong Sehun pada Jungkook. Jujur ia shock, pertama kali dalam hidupnya ia ditembaki orang orang tak dikenal secara live.
"Dan__. oh my god L." Sehun terkejut setengah mati saat orang yang berpakaian hitam tadi membuka penutup wajahnya. Menampilkan wajah sang istri dengan rambut tergerai.
"Sehun, duduk dan tenangkan dirimu." Perintah L.
"Bagaimana bisa? Aku melihat jasadmu dikubur." Tanya Sehun yang masih bingung dengan objek disampingnya.
Sang Istri Han Allice yang memakai baju hitam masih terlihat cantik. Melindunginya mengusap punggungnya. Ini benar benar istrinya. Aromanya, sifatnya, geraknya. Sehun memeluk erat tubuh mungil L.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau__." Ucapan sehun terhenti melihat wajah L baik baik saja. Sedikit kelegaan timbul di hatinya. Air mata sehun tak terasa menetes saking bahagianya.
L melepas pelukan sehun lalu mengambil jus semangka dan memberikan segelas pada Sehun.
"Minum sayang, tenangkan dulu dirimu." L mengusap punggung Sehun, menenangkan suaminya yang shock. L tau ini pertama kalinya sehun ditembak pistol betulan.
Sehun meminum jus itu sampai tandas. Ia ingin segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, belum sampai ia ingin menanyakan hal itu. Tubuhnya sudah terhuyung dan seketika pandangannya menggelap.
Sehun Tertidur tepat di bahu L.
"Jung bantu aku." L merebahkan kepala Sehun di bantal sofa. Mengubah posisi Sehun agar bisa lebih nyaman.
"berapa banyak yang kau masukkan jung?" Tanya L pada jungkook yang masih menikmati pemandangan suami istri itu dibalik pantri.
"Tidak banyak. Dosis untuk semalam. Mau ditambah?." Tawar jungkook yang dihadiahi gelengan L.
L kembali memakai topeng serta helm pelindung kepala. Tak lupa senjata dan barang seperti granat jika mungkin ia ingin mengebom orang yang ada di atas.
"Jangan bermain L." Larang jungkook menahan lengan L. Jungkook tau apa yang akan L lakukan. Menghancurkan apa yang ada di atas sana.
"Tidak. Ini keterlaluan Jung. Memangnya siapa mereka sampai berani menembak suamiku." L melepas tangan Jungkook yang mencengkeram lengannya. Berlalu pergi menutup pintu ruangan itu.
Jungkook menoleh ke arah Sehun yang tertidur pulas.
"Andai kau tau besarnya kepedulian L padamu. Jangankan selingkuh, Melirik wanita lain pun tak mungkin berani kau lakukan Sehun." Jungkook mengangkat tubuh Sehun yang seperti orang mati karena obat tidur dosis tinggi yang ia berikan.
...
Jika Lucas yang pintar minum itu punya jadwal seminggu sekali ke club untuk ritual having fun. Maka anson yang hampir setiap hari berada di tempat terkutuk itu lebih dari 1 bulan dianggap ritual apa. Anak itu menghabiskan 20 juta won setiap open tablle. Anson tidak sendiri, ia bersama teman teman lain juga. Lucas tak pernah absen jika sudah ada alkohol apalagi gratis. Jangankan untuk naik pesawat dari hongkook ke korea. Jalan kaki dari Busan Ke seoul saja ia mau.
Serendah itulah harga diri lucas. Tak jauh berbeda dengan Johnny yang saat ini menggoda bartender cantik kesayangannya. Siapa lagi jika bukan steffani. Pemilik bar serta kasino mewah di seoul.
Jika kalian pikir anson minum di tempat steffani karena steffani adalah teman. Kalian salah bung. Jangankan dianggap teman, melirik satu sama lain saja mereka jarang. Steffani hanya suka dengan alkohol, uang dan johnny. Meskipun Johnny tunangannya minum di tempat itu. Tagihannya tetap saja Steffanny tarik. Steffani menjunjung tinggi miras dan uang daripada hubungan. Jadi, jangan salahkan sekarang jika johnny kuat mabuk hanya agar steffani suka padanya. Jangan tanyakan juga berapa banyak uang yang johnny habiskan hanya agar steffani peduli padanya. Dihitung pun percuma, anggap saja ini latihan memberi nafkah.
Bisnis tetaplah bisnis. Maka selama 30 hari anson mendompel di tempatnya. Apalagi di ruang paling mewah. Sampai tagihannya sudah tak bisa dihitung dengan jari, stefani tetap baik dan membiarkannya. Pikirnya anson baik, kaya dan sumber pendapatannya. Jadi, biarkan saja anson bersenang senang sementara steffani yang menghitung tagihan.
Untung saja steffani hidup di era teknologi tinggi. Jadi, ia bisa mengandalkan alat bernama komputer dengan aplikasi yang sudah dipasang oleh ahlinya untuk menghitung biaya saat anson tinggal di club mewahnya. Ia hanya perlu mencetak selembar kertas yang berisi tagihan anson dan memberikannya pada anak itu.
"Thank you Fan." Ucap anson saat menerima tagihannya.
"Aku tidak tau apakah aku berhak berkata begini, tapi ini terlalu keterlaluan." ucap gadis blesteran canada dengan memegang gelas wine di tangannya. Menatap mereka satu persatu.
"Apa ada yang kau takutkan eve." Ucap anson merangkul bahu somi.
Yah mereka sedang berkumpul lengkap. Anak chain beserta tunangannya. Jangan lupakan heejin yang kembali pada mereka. Entah apa yang merasuki otak gadis itu sampai ia mau kembali.
"Bukankah hyundai akan diserahkan padamu?. Kenapa susah susah mengekspos diri." Ucap somi yang dihadiahi senyuman anson.
"Hey dude, kekasihmu sepertinya cemburu berat." Ejek johnny.
Pasalnya semenjak anson mengekspos diri. Anson jadi lebih sosial. Maksudnya, pencitraan anson melebihi dirinya. Terbukti dari followers di instagram anson dan penawaran anak anak pejabat padanya. Lirikan para gadis juga seakan ingin memakan anson saja, dan somi tak suka akan hal itu. Ia tak suka miliknya dilirik lirik. Memangnya anson baju obralan apa, sampai banyak yang lihat begitu. Anson itu ibarat barang mahal. Barang mahal yang bertuliskan Made for somi. Hanya dibuat untuk somi. Tak ada yang lain, dan tak boleh ada yang lain.
"Aku hanya ingin dipercaya lebih cepat. Jika aku terekspos kalian juga yang untung. Eve jadi kumohon jangan berlebihan"
Memang benar, dengan diumumkannya pewaris, apalagi sebentar lagi status hubungan anson bersama somi. Saham mereka akan naik luar biasa.
"Itu benar, kita hanya perlu menunggu sampai pemegang saham kebingungan mencarimu."
"Dan sampai itu semua terjadi. Ayo habiskan uang ayahku." ucap anson mengangkat gelas.
...
"Sehun."
L memandangi wajah suaminya. Mengusap pipi lelaki yang telah menemani hidupnya selama 18 tahun terakhir.
"Jangan drama L." Ucap lelaki yang tak jauh dari mereka. Membawa P3K dan kapas. Bukan tanpa alasan ia selalu membawa alat medis. Si nyonya han. atau disebut Allice sering melukai fisik. Jadi, ia yang lelaki peka dan bergelar sarjana kedokteran tau apa yang harus ia lakukan pada pasien di hadapannya.
Lengan L tersayat dalam hingga butuh jahitan lumayan banyak. Jungkook menjahitnya dengan hati hati. Mencoba menggunakan usaha terbaiknya, agar luka L tak terlalu membekas. Walaupun pastinya juga tak membantu banyak. Luka seperti itu sembuhnya cepat bekasnya lama. Maka dengan berat hati L harus menjalani operasi plastik agar lengannya bisa mulus seperti sedia kala.
L meringis, menahan perih pada jahitan di lengan kanannya. Memang brengsek gengster di atas yang hampir berhasil membunuh L. Untung saja ia cekatan dan menembak kepala mereka sampai bolong. Ah, jangan diceritakan. Membuat muak saja.
"Sakit?."
L hanya diam menggigit bibirnya.
"Sudah ku bilang jangan diladeni. Suamimu saja brengsek tak ada manfaatnya kenapa dilindungi segala." Ucap jungkook sembarangan.
"Mulutmu jung."
"Memang benar. Kau terus begini karena siapa jika bukan karena dia." Jungkook kesal, cemburu, jadi 1. Anggap saja jungkook sudah gila karena faktanya memang begitu. Ia suka istri orang dan tak akan membuat L terluka walaupun hanya tergores.
"Dia suamiku jung."
Jungkook terdiam. Ada satu hal yang menyakiti hatinya saat L mengatakan itu. Pandangannya tertuju pada L yang menatap sehun. Padahal L kesakitan sewaktu ia menjahit luka. Tanpa obat bius pula. Tapi L tetap saja menahan luka itu dan memandangi suami yang jelas jelas tidak ada faedahnya.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua." Pamit jungkook pada L.
"Terima kasih jung."
Jungkook tak menjawab. Berlalu menuju pintu keluar meninggalkan pasangan suami istri itu di dalam.
"L,boleh aku bertanya."
"hmm."
"Kenapa kau masih menolongnya, padahal dia menghianatimu. Lelaki yang kau genggam tangannya itu tak mencintaimu lagi L. Jadi kenapa kau terus bertahan padahal sudah ku beri jalan?" Tanya jungkook dengan wajah setengah kesal dan penuh tanda tanya.
....
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.