LOGIN"L"
Suara Jungkook membuyarkan lamunannya.
"Kau melamun?."
"Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Memang benar, tapi bagaimana ya Jung. Pikiran buruk itu sering sekali masuk ke otak ini." L menunjuk kepala cantiknya.
"Jangan memikirkan si brengsek itu."
"Yang kau panggil brengsek itu masih suamiku Jung jika perlu ku ingatkan."
"Dia hanya suami diatas kertas."
"Di atas kertas matamu."
"Mulutmu angels."
"Ah maaf, mulutku memang susah dikontrol jika denganmu."
"Apa kau tak berfikir, jika mulutmu sering begitu jika denganku. Itu berarti kau nyaman. Jika nyaman berarti bisa tinggal. Jika tinggal berarti bisa bersama. Kenapa kita tak menikah saja dan hidup bersama?."
L merotasikan bola matanya jengah. Melirik tak minat pada pria bermarga jeon dihadapannya yang masih tersenyum kelinci. Senyum tak berdosa yang membuat jiwa jahat dalam diri L meronta ronta.
"Ingat calon besanku. Anak kita akan menikah. Jadi aku harap kau segera waras. Atau ku tembak kepalamu pakai refolver." L mengusap dada Jung dari luar jas. Berbicara dengan nada halus tapi mengancam.
Jungkook sama sekali tak takut. Malah sekarang ia tersenyum senang. Hatinya berdebar. Anggap saja ia gila karena berdebar pada istri orang. Tapi ini L. Allice kesayangannya. Tak mungkin ia tak berdebar karena wanita di hadapannya.
"Baiklah, aku takut. Aku masih ingin punya cucu. Ah aku, sebenarnya ingin anak."
L mengernyit. Melirik Jungkook dengan tatapan aneh.
"Gampang saja. Minta istrimu melebarkan paha. Tunggu sebulan kau pasti akan dapat kabar baik darinya."
"Bukan dari istriku. Aku ingin anak darimu."
"Uhuk uhuk uhukk."
Plak
"Sakit L."
Jungkook mengusap lengan yang dipukul L dengan sekuat tenaga. Jujur itu sakit, dipukul tangan L yang seperti besi. Jangan lupa jika L itu tentara, batu bata saja bisa terbelah jadi 2 karena tangannya. Apalagi lengan Jungkook yang selembut dan seringan kapas. Pasti didalam tulangnya sudah patah. Hampir berceceran seperti serpihan debu.
"Makanya jika bicara jangan sembarangan."
"Kapan aku bicara sembarangan."
"2 menit yang lalu jika kau lupa Jung. Ah aku lupa, umur memang tidak akan pernah berbohong."
"Aku tidak lupa. Aku tidak sembarangan bicara. Dan jangan bilang aku tua. Umurku sama denganmu."
"Lalu apa jika tidak sembarangan. Jangan bercanda."
"Aku tidak pernah bercanda. Aku serius. Dulu saat kau hamil kukira anak itu anakku. Ternyata bukan."
"Kau sangat tau jika itu anak Sehun. Aku tidak akan hamil anak siapapun kecuali anaknya."
"Kau jahat."
"Kau lebih jahat."
"Tukang pukul, jenius gila, bermulut jahat."
"Samakan saja hinaannya."
"Kita sempurna. Kenapa tidak menikah saja."
L melempar tablet yang ia bawa. Tapi sayang, lemparan itu ditangkap dengan sigap oleh tangan Jung.
"Wah. Semenjak bangkit kau jadi makin bar bar L." Jung menggeleng.
"Sudah tau tapi masih mengejek."
"Iya iya." Jung beranjak pergi. Tapi sebelum itu Jung menyemprotkan parfum serta mengoles Pomade. Berdandan seperti lelaki lajang yang ingin malam mingguan.
"Mau kemana." L melirik dari atas ke bawah. Heran, tentu saja.
"Mencari jalang. Yang dibawah butuh pelepasan."
"YAK JEON JUNGKOOK." L melempari Jungkook dengan apa yang ada di sekitarnya. Sementara yang dilempar segera melarikan diri.
...
"Mrs Han tidak menemui siapapun kecuali nyonya Park. Tapi ada yang aneh saat kami memperhatikan ponselnya. Di waktu ini dan di waktu yang lain mrs Han tidak menggunakan ponsel yang sama. Saat kami cari lagi, ponsel yang dimiliki Mrs Han tidak terdaftar. Ini sedikit aneh."
Sehun membuka berkas yang diberikan. Melihat memang ada perbedaan ponsel yang L gunakan.
"Kau bisa pergi."
"Baik daepyonim."
Ruangan CEO lebih hening sejak sekertaris Sehun pergi. Sehun masih berkutat dengan pemikirannya. Memikirkan beberapa kemungkinan, kemungkinan jika L, istrinya masih hidup.
Jgleek
"Ayah." Kepala Anson menyembul dari balik pintu.
"Kau sibuk?" Tanya nya melihat Sehun yang berkutat dengan beberapa berkas. Atau lebih tepatnya menyembunyikan berkas yang diantarkan sekertaris nya tadi.
"Tidak nak, masuklah."
Anson masuk ke ruangan besar itu. Melempar tas punggung merk guci ke sembarang tempat lalu merebahkan diri di sofa empuk ruang kerja Sehun. Matanya terpejam dengan lengan menutupi wajahnya, tak peduli dengan tatapan ayahnya yang menatap heran.
"Apa hari ini berat untuk mu?" Tanya Sehun, menghampiri Anson dengan segelas soda yang diambil dari freezer ruangannya.
Anson berdeham dengan mata terpejam.
"Ada masalah? Ada yang mengganggumu?"
Anson merubah posisi menjadi duduk. Meraih soda yang Sehun sediakan.
"Jangan bercanda dad." Anson meminum soda di tangannya.
Sehun tersenyum hangat, menatap anaknya yang beranjak dewasa.
"Yasudah, bagaimana kebunmu?" Tanya Sehun mengalihkan pembicaraan.
Anson melirik Sehun. Alisnya menukik menatap ayahnya. Keningnya berkerut penuh tanya
"Kebun mana yang ayah maksud?" Tanya Anson spesifik. Pasalnya Sehun tidak mengatakan kebun apa yang ia tanyakan. Dan lagi, Anson punya banyak kebun. Kebun semangka, kebun teh dan kebun ganja.
"Ganja, opium, dan yang lain mungkin"
"Ayah tau, kebun itu kuratakan saat ibu tiada."
"Baguslah. Kau jadi anak baik. Akan sangat buruk jika ibumu tau kau jadi petani."
"Yak, dad. Aku pemilik kebunnya. Bukan petani."
"Tetap saja namanya bercocok tanam. Dan bercocok tanam itu identik dengan petani." Goda Sehun dengan cengiran halus di bibirnya. Meledek Anson dengan kebun ganjanya.
Sehun tau, ini salah. Mengijinkan 1 pulau yang Sehun hadiahkan untuk digunakan 'bercocok tanam'. Apalagi bercocok tanam ganja. Tapi mau bagaimana lagi.
Sehun itu ayah yang kompetitif. Ia tak ingin anaknya kalah oleh yang lain. Apalagi kalah oleh anak rekan kerjanya. Kesampingkan istrinya yang mungkin akan melarang ini itu untuk Anson. Toh istri yang ia punya tak akan tau dan tak akan bertanya banyak.
Lisa lebih fokus pada tugas militer daripada kehidupan rumah tangganya. Lisa lebih mementingkan negara daripada keluarganya. Dan Lisa lebih mementingkan prestise orang terhadap keluarga mereka daripada hidup bahagia yang Sehun janjikan padanya.
Begitulah pemikiran Sehun selama belasan tahun mereka menikah. Pemikiran tentang Lisa, Han lisa yang hanya peduli pada karir dan perusahaannya. Meskipun kesepakatan itu terjalin karena mereka berdua. Tetap saja, di tengah jalan semua bisa berubah.
Lisa yang makin tak ada waktu untuk Anson anaknya. Sementara Sehun harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus buah hatinya. Menghiraukan cemoohan orang tua, mertua serta para rekan kerja yang terus membully dirinya budak. Sehun tak apa, asal anaknya bahagia. Istrinya bahagia, dan semua tetap baik baik saja.
Kata orang perasaan manusia itu bisa berubah. Sehun kira itu hanya omong kosong, karena ia sangat mencintai L serta anak semata wayangnya. Tapi, belasan tahun ini perasaan cinta pada L mulai berubah. Setiap memandang Anson yang tak punya perhatian lebih, membuatnya merasa bersalah. Melihat L yang tak pernah pulang membuatnya pusing. Bagaimanapun ia juga butuh sosok istri di rumah. Yang pulang, membantunya mengurus dirinya. Membantu mengurus anak yang mereka buat dengan susah payah. Perlahan rasa cinta itu terkikis dan Anson menjadi alasan mempertahankan hubungan mereka yang diawali dengan cinta itu.
Tidur dengan wanita lain selalu jadi rutinitas Sehun saat L bertugas. Sehun tak peduli juga jika istrinya tau. Anson, jangan ditanya. Anak itu tau dan biasa saja. Sekolah di sekolah internasional dan tinggal di luar negeri cukup lama membuat Anson berfikiran terbuka. Untuk anak berumur 18 tahun, pemikiran Anson sudah cukup dewasa.
Satu pesan Anson padanya. Jangan sampai L tau. Anson sangat menyayangi ibunya. Terlepas L yang terlalu sibuk dengan tugasnya. Bagaimanapun Anson itu anaknya. Mengetahui Sehun tidur dengan wanita lain saja membuat hatinya sakit. Apalagi ibunya tau jika sifat ayahnya seperti itu.
"Terserah ayah saja. Tapi aku sudah gulung tikar. Anggap saja aku mantan petani sekarang." Suara Anson memecah lamunan Sehun.
"Hahahaa, tak masalah nak. Kau bisa membuat ratusan kebun lain jika kau mau."
"Ya aku tau."
Sehun melirik jam tangannya yang menujukkan pukul 18.30. Waktunya makan malam.
"Anson, sebentar lagi makan malam. Mau makan bersama?" Tanya Sehun. Bukan tanpa sebab juga Sehun bertanya. Semenjak hyena berada di rumah, Anson sangat jarang terlihat di kediaman utama.
Anak itu jauh lebih sering tidur di hotel. Makan malam dengan somi atau sahabat chain nya. Anson hanya pulang jika moodnya buruk dan melampiaskan dengan hyena ataupun anaknya hyena. Mulai dari mencuci mobil sampai meminta hyena mencuci helipad pribadinya. Anson melakukan apa yang ia inginkan.
Baginya, semua yang di rumah, yang dipijak serta yang tertempel di tubuh wanita itu adalah miliknya. Berbuat sesuka hati lebih baik daripada mengusir mainan barunya.
"Dimana? Jika di rumah, lupakan saja." Ucap Anson malas.
"Kenapa? Itu masih rumahmu."
"Ayah pikir aku sudi makan dengan wanita asing?"
"Wanita asing itu mengandung adikmu."
"Harus berapa lama wanita itu berpura pura."
"Maksudmu?"
"Ayah jangan berpura bodoh. Anak itu bukan adikku meski faktanya ayah benar tidur dengannya."
Sehun mengendikan bahu.
"Ayah tau, tapi mau bagaimana. Dia minta tanggungjawab nya ke ayah. Lagipula kau suka mainan baru. Jadi ayah tak menolak saat wanita itu minta masuk ke rumah."
Anson tersenyum licik. Ayah dan anak itu memang kolaborasi sempurna.
"Aku suka, hanya saja mereka terlalu merepotkan. Anak wanita itu mengaku saudaraku di hyundai. Dan wanita itu mengaku sebagai ibuku di depan chain " Anson terkekeh. "Menggelikan sekali."
"Benarkah. Sejauh itu?"
Anson mengangguk. Sementara Sehun mulai sedikit terpancing. Pikirannya mulai bercabang. Yang pasti ia simpulkan adalah wanita jalang dan anaknya itu telah membuat mood Anson buruk. Apalagi bisa jelas dilihat, jika sampai mendeklarasikan diri di depan chain dan hyundai. Anaknya itu pasti menanggung rasa malu.
Bagi Sehun, tak masalah jika hyena atau siapapun itu mengganggu dirinya. Tapi beda cerita jika mengganggu Anson. Apalagi sampai membuat mood Anson buruk.
Anak kesayangannya. Satu satunya. Memberikan semua kekayaan saja tak membuat Anson senang. Berani beraninya mereka membuat mood Anson buruk. Apalagi membuat malu.
Sebentar. Malu?. Kata itu tak pernah ada di kamus keluarga Han. Semua yang mereka punya hanya ada kebanggaan. Tanpa ada rasa malu. Maka jika Anson yang selalu dipenuhi kekayaan dan semua kasih sayang yang Sehun berikan mulai bicara pada ayahnya. Bahkan jika Anson dengan blak blakan bilang merasa malu. Maka Sehun maupun L pasti akan bertindak.
"Kau tak nyaman? Jika terlalu lekat dan merugikan ayah tak masalah jika mereka kau singkirkan." Tawar Sehun.
"Tidak, aku suka mainan baruku. Mereka terlalu bagus untuk dibuang."
Pembicaraan ayah dan anak itu terlihat ringan. Padahal mereka membicarakan buang membuang orang. Bisnis ilegal dan kegiatan Anson yang suka membulli.
"Sesukamu saja." Sehun kembali ke meja kerjanya. Merapikan meja bersiap pulang.
....
Hyena melirik ayah dan anak itu secara begantian. Pikirnya tumben sekali Anson mau makan di rumah. Sudah seminggu sejak Anson pergi dari rumah dan hyena harap tak kembali lagi. Ini malah pulang dan bersikap baik baik saja.
"Makan yang banyak." Gadis itu meletakkan daging diatas nasi Anson.
"Gomawo eve."
Lihat sekarang Anson malah membawa gadis blasteran yang tidak tau namanya siapa. Bermesraan layaknya pasangan.
"Hmm Anson, dan___" hyena melirik ke arah somi. Tatapan matanya bertemu mata bulat somi.
Somi tersenyum menghentikan aktivitasnya.
"Aku jeon somi bibi. Tunangan Anson. Maaf tidak memperkenalkan diri dengan benar." Ucap somi sopan. Ia kembali ke posisi semula.
Anson dan Sehun tetap fokus dengan makanannya. Tanpa peduli percakapan somi dan hyena. Jangan lupakan juga atensi Chaeri yang juga ikut makan bersama mereka. Ia seperti tak terlihat saja disini.
"Ooo, tunangan." Kaget hyena yang berusaha disembunyikan.
Sementara somi hanya mengangguk dan masih berfokus pada Anson dan makanan nya. Sudut bibirnya terangkat. Melihat betapa apatisnya Anson terhadap bibi ibu tiri di depannya.
"Hmm somi apakah kita pernah bertemu sebelumnya. Wajahmu terlihat familiar sekali." Tanya hyena penasaran.
"Hyena bisakah bertanya nya nanti saja. Biarkan somi dan Anson makan." Tegur sehun dengan tatapan mengintimidasi.
"Baiklah."
...
"Aku suka ibu tirimu."
"Jika suka bawa saja. Dan dia masih calon jika kau lupa eve"
"Dia jelas ibu tiri. Dari ciri ciri yang ku lihat di tv dia benar benar ibu tiri. Terlihat dari wajahnya. Jelas sekali dia tidak suka dirimu."
"Kau bicara seperti orang yang suka padaku saja."
"Jika tak suka mana Sudi aku tunangan denganmu." Ucap somi sebal.
"Sudahlah ayo tidur." Ajak Anson menarik selimut tebal menutupi tubuhnya.
"Berbagi. Tolong ingat. Kamar ini bukan milikmu saja." Somi mengingatkan. Mereka berdua di kamar Anson. Dengan somi yang tidur di sampingnya.
Mungkin terlihat tidak wajar. Untuk anak SMA berbeda jenis tidur sekamar. Tapi mereka, Anson dan somi sudah terlalu terbiasa. Kedua anak itu terbiasa tinggal bersama berdua sewaktu di Kanada. Bagi somi milik Anson adalah miliknya, begitupun sebaliknya.
"Ans,"
"Hmmm."
"Aku tau ini salah. Tapi,"
Anson membuka kelopak matanya. Melirik wajah cantik somi disampingnya.
"Aku suka dirimu yang biasa saja. Jangan berpura lagi di depan yang lain."
Tangan Anson mengusap helai rambut somi. Mengecup pelipis somi singkat. Yang langsung dihujani dengan tatapan bingung somi.
"Aku sudah biasa, kurang biasa apa lagi sayang." Tangan Anson masih mengusap rambut somi. Posisi mereka saling berhadapan dengan guling yang menjadi pembatas.
"Ku rasa kau terlalu show up beberapa hari ini. Image remaja milyuner sering ku baca akhir akhir ini. Aku takut banyak gadis gila mengikuti mu dan berusaha merebutmu dariku."
"Aku tak akan direbut. Meskipun aku mau. Mana berani aku dengan bandar narkoba."
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.