Home / All / Be A Parent / 21. Anson Back

Share

21. Anson Back

Author: ricasari575
last update publish date: 2020-09-30 22:46:49

Club mewah itu nampak sepi     

Club mewah itu nampak sepi. Jelas saja karena bos pemilik club mengosongkan tempatnya untuk pesta kecil hari ini.

Padahal yang datang hanya segelintir orang. Tapi club itu diubah besar besaran. Para pelayan yang melayani bahkan pelayan eksklusif. Penjagaan yang biasanya sudah ketat, semakin diperketat.

Para eksekutif yang masuk pasti dijamin keamanannya. Mereka bahkan dengan santai minum minum, melepaskan penat, menikmati fasilitas club itu.

"Aku tau kau pembunuhnya" suara salah satu eksekutif memecah kebisingan. Mengalihkan perhatian beberapa orang yang datang.

Lelaki yang di tuduh melirik menyunggingkan sedikit senyum.

"Kau sangat tau Hyung" lelaki itu meminum alkohol yang ada didepannya. Mengucapkan secara santai seolah itu hanya sedikit dari pekerjaannya.

"Aku tidak menyangka. Ku kira kau mencintainya" suara lelaki lain menginstruksi.

Di meja bundar itu terdapat 6 lelaki yang saling berbincang. Melakukan acara minum minum seperti biasa.

"Bahkan kau menangis saat pemakamannya" lanjutnya. Sudut bibir lelaki itu naik. Tersenyum remeh.

"Oh ya, aktingnya bagus sekali. kukira kau lebih bagus jadi artis. Bukannya jadi pembunuh Allice hahaha"

"Diam Hyung. Jika dia disini bukankah kalian bisa bahaya"

"Ayolah, kau sudah menyingkirkan nya. Dan apa tadi, kau bahkan dibayar jalang mahal untuk melakukannya. Wah kau benar benar. Padahal kan kau tau itu uang allice juga. Bahkan allice punya lebih banyak dari sekedar receh yang jalang__ hmm klien itu berikan padamu." Sekarang lelaki berpostur tinggi, berwajah terlalu tampan ikut bicara. Sedikit menjaga ucapan karena lirikan Jung lumayan menakutkan.

"Jeon Jungkook kau luar biasa" lelaki pucat bermata sipit. Keluarga min ikut bicara. Dari sekian banyak obrolan tadi, ia baru menanggapi satu kali.

"Kau yang luar biasa Hyung        

"Kau yang luar biasa Hyung. Kau bahkan tak datang saat L dimakamkan. Kakak macam apa." Pancing lelaki berwajah kelinci yang yoongi bilang luar biasa. Tatapannya sangat tajam. Mungkin jika tatapan Jungkook merupakan senjata. Lelaki min itu pasti akan mati hanya dengan sekali serang.

"Apa bedanya. Aku hanya akan jadi pelengkap drama kalian saja. Kau tau sendiri, dia tak pernah suka aku ikut campur."

"Hey sudahlah, yang penting dia sudah dimakamkan sekarang. Tak usah ribut. Mungkin saja dia sudah tenang disana"

TAKK

Suara gelas dengan meja. Dihantamkan cukup keras tapi tak sampai membuat gelas itu pecah.

"Berhenti membicarakan L. Anggap saja ia gugur dalam tugas. Sekarang, kita hanya perlu membicarakan tentang pemimpin yang baru."

"Bahkan setelah ia pergi. L masih membuat kita pusing"

"Tenanglah ini hanya sementara. Harusnya kau yang pusing sekarang park." Lelaki yang punya senyum kotak itu memperingati.

Mata lelaki park itu melebar
"Kenapa?"

"Kau tau maksudku. Kuatkan temanmu itu. Berpura-pura lah jika semuanya memang kecelakaan. Bantu dia mengatasi semuanya." Pinta yoongi.

Lelaki yang bermarga park itu mengusap wajahnya.
"Ah benar benar. Aku harus akting bagaimana lagi."

"Hahaha, kau artis. Berakting biasa saja. Tak usah berusaha terlalu keras. Cukup seperti biasa. Kau bisa kan Park Chanyeol."

Chanyeol mengangguk

Chanyeol mengangguk. Setelah kematian Lisa bukannya dia tambah santai tapi pekerjaannya makin banyak. Lihat semua orang yang disini. Mereka sibuk bekerja menutupi kematian L. Termasuk dirinya dan jeon Jungkook gila itu tentunya.

"Kau mungkin juga lupa. Bahwa temanku itu berbisnis denganmu. Jadi aku tak mau akting sendirian. Kim Taehyung."

Taehyung tersenyum tipis"Tentu, dia temanku juga


Taehyung tersenyum tipis
"Tentu, dia temanku juga. Aku tak akan mensia-siakan hartanya yang kelewat banyak itu. Dia akan sangat membantu."

...

Di pemakaman tampak lelaki yang mengusap batu nisan bertuliskan Han Allice        

Di pemakaman tampak lelaki yang mengusap batu nisan bertuliskan Han Allice. Matanya memerah. Tapi merah bukan karena menangis, tapi karena alkohol. Ia tak mabuk hanya saja memang begitu, matanya akan merah. Toleransi alkoholnya tinggi. Dia masih dalam tahap sadar.

"L, kau pasti kesepian. Harusnya aku tak membiarkanmu dikubur di dalam sana." Lelaki itu mengusap wajahnya frustasi.

Lalu membuka notebook kecil yang ia bawa. Mengetikkan banyak simbol dan angka. Mengkonfigurasi satu hal.

Menekan ENTER

Terlihat sudah satu jalan di samping makam allice. Pintu ke bawah tanah. Tepat menuju peti mati allice yang sudah diturunkan ke ruangan bawah tanah itu.

Meskipun tempatnya di makam di bagian bawah. Dengan peti mati yang bahkan masih basah dengan tanah pagi tadi. Terkesan menakutkan. Tak menyurutkan niat lelaki itu untuk membuka jasad wanita yang mengobrak Abrik hatinya.

Krakk

Peti itu terbuka menampilkan wajah cantik allice yang sudah tak ia lihat selama beberapa tahun belakangan ini.

Ia membopong tubuh dingin tak bernyawa itu kesuatu ruangan yang lebih layak.

Lelaki itu membuka pintu rahasia itu dengan sensor suaranya. Cukup menakjubkan. Dimana di bawah kuburan yang terkesan seram. Diubah olehnya menjadi persembunyian bawah tanah yang luar biasa mewah.

Ruangan itu bahkan lengkap dengan semua alat alat modern. Jangan lupakan fasilitas yang ada di dalamnya. Kamar mandi, kamar mewah. Tempat yang cukup sebagai ruang tamu. Dan tempat senjata tentunya.

Lelaki itu merebahkan tubuh L ke ranjang putih di kamar rahasianya.

"Cantik." Tangannya merapihkan rambut L yang berantakan.

"Jika saja kau menikah denganku. Kau pasti tak harus mengalami ini L." Lelaki itu mengecup pelipis lisa. Lalu merebahkan diri disampingnya. Tidur disamping wanita yang sudah dianggap mayat oleh orang lain.

"Maafkan aku. Biarkan begini untuk sementara." Lelaki itu memejamkan matanya. Rasa pusing akibat mabuk baru datang. Ia harus tidur. Persetan dengan kegilaannya. Ia hanya ingin tidur.

....

Pranggg

Piring pecah untuk kesekian kalinya. Kepala Sehun teramat pusing. Tapi ia ingin menyiapkan sarapan untuk anaknya. Han Anson.

"Daddy are you okay."

Sehun mengangguk. Mengusap tangan Anson menenangkan anak itu.

"Dad, kau sakit. Aku panggilkan dokter ya?" Anson beranjak tapi tangan Sehun menahan lengannya.

"Aku tak apa nak. Hanya pusing."

"Dad tolong. Jangan bilang tak apa begitu. Aku tak mau kau sakit." Anson memeluk ayahnya.

"Aku tak mau ditinggalkan lagi."

Sehun terenyuh. Pertama kalinya anak ini menangis di pelukannya. Biasanya Anson hanya akan cerita pada L. Menangis di dekapan L.

"Jangan menangis nak. Daddy tak akan kemana mana."

Anson mengusap pipinya. 
"Tapi dad. Kau harus diperiksa. Terserah Daddy mau atau tidak akan kupanggim dokter kemari." Anson beranjak pergi tanpa menghiraukan panggilan anaknya.

Mata Sehun terpejam. Hatinya terasa sakit, melebihi rasa sakit kepalanya.

Membuka mata melirik foto di ponselnya. 
"Aku merindukanmu L." Sehun menangis lagi. Terduduk di meja makan memandangi wajah wanita yang sangat ia cintai.

"Dad." Anson terdiam membeku di tempatnya. Ayahnya mungkin butuh sendiri. Bukan obat yang akan menghilangkan rasa sakit kepala ayahnya.

Anson melirik ke kanan. Di tembok yang terdapat foto keluarganya. Yang paling baru. Foto yang di ambil sebelum nyawa ibunya direnggut.

"Mom. Daddy sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau lihat dan kembali. Paling tidak muncul di mimpinya." Anson mengusap wajah Lisa yang tersenyum hangat di foto itu.

Anson segera beranjak pergi. Tidak jadi merawat ayahnya. Ia tak akan kuat untuk menangis bersama dengan ayahnya. Anson berusaha tak sakit. Berusaha menahan sedih agar ayahnya Kuat.

"Pak Kim kita berangkat."

Lelaki tua itu melirik tuan mudanya. Anson tiba tiba datang ke garasi bawah tanah dan memintanya mengantar dengan mobil yang paling mewah.

Bahkan penampilan Anson jauh lebih segar dibandingkan penampilan biasanya. Barang mahal dari atas sampai bawah. Sepatu, jam tangan. Pak Kim bertanya tanya dalam hati. Apa aksesoris tindik telinga dan cincin diperbolehkan. Jangan lupakan kalung yang pak Kim rasa harganya melebihi gajinya selama setahun.

'benar benar sakit tuan muda ini.' batin pak Kim.

"Tuan muda, saya rasa aksesoris yang terlalu mewah tak dianjurkan dipakai untuk ke sekolah."

Anson memalingkan wajahnya ke pak Kim.

"Aku tau."

"Lalu, bolehkah aksesoris itu dilepas." Pak Kim memberikan kotak untuk penyimpanan barang Anson.

"Tidak perlu, aku memang sengaja." Tolak Anson.

"And__"

"Jangan banyak bicara. Jalan saja." Potong Anson dengan sorot mata tajam yang bisa pak Kim lihat di spion mobil.

"B baik tuan." Pak Kim menghela nafas panjang sepanjang panjangnya. Menahan sabar. Tuan mudanya kembali menjadi seperti dulu. Atau mungkin lebih buruk.

...

Chenle dan para grup C berada di lantai atas. Lantai paling tinggi di jeguk. Sebenarnya ini terlalu payah untuk dijadikan lantai tertinggi. Yah, sangat disayangkan jeguk hanya punya 3 lantai. Jadi memang benar jika dikatakan ini lantai tertinggi kan.

Chenle berkutat dengan ponsel memainkan game online di handphonenya. Sementara yang lain melakukan aktifitas yang tak jauh berbeda.

Bukan rahasia lagi jika lantai teratas gedung ini dibangun oleh keluarga Chenle atas bantuan keluarga Han. Jadi ini merupakan daerah kekuasaan resmi anak anak itu.

Kling

Satu notifikasi menghentikan aktivitas chenle. Ia langsung beranjak turun.

"Chenle Berhenti, aku belum mati." Ucap haechan kesal.

"Kita lanjutkan nanti Hyung." Chenle bergegas.

"Kenapa Presdir kita?" Tanya Renjun yang masih heran.

"Entahlah." Singkat haechan tanpa menoleh ke arah Renjun.

"Hey teman teman. Lihat itu. Mobil siapa itu." Jeno menunjuk ke bawah. Dimana keramaian siswa mengelilingi mobil itu.

"Apa ya__. Ya ampun. Cubit aku sekarang. Tampar aku Renjun."

Renjun melakukan apa yang haechan katakan. Mencubit sampai menampar dengan keras.

Plak

"HEY. SAKIT."

"Katamu minta ditampar. Aku hanya melakukan yang kau inginkan haechanie."

Haechan menatap Renjun tak percaya. Sahabatnya ini benar benar.

Sementara di bawah

Mobil mewah berwarna silver. Sangat mencolok dengan mobil jemputan para siswa jeguk yang rata rata berwarna hitam. Mobil itu memasuki halaman sekolah jeguk. Pergerakannya bagaikan slow motion di mata anak anak kaya itu. Mereka kagum. Mobil itu impian banyak orang termasuk salah satu orang tua mereka.

 Mobil itu impian banyak orang termasuk salah satu orang tua mereka        

Mata haechan memindai mobil mewah itu. Mencari cari di otaknya mobil apa dan berapa harga yang tertera.

Koenigsegg CCXR Trevita

Bingo

Satu merk mobil dan type muncul di otaknya. Mobil silver yang hanya diproduksi 3 biji di dunia dan berharga kurang lebih $ 4,8 juta.

"Astaga, ayahku bahkan harus menabung bertahun tahun untuk membeli mobil itu." Ucap haechan lirih.

Pintu mobil itu terbuka ke atas. Seperti mobil chenle hanya saja lebih mewah. Merk-nya juga lebih tinggi. Harganya dipastikan luar biasa berkali kali lipat dari mobil chenle.

"Kenapa chenle disitu." Ji-Sung angkat bicara melihat chenle berdiri di samping mobil yang terbuka. Menampakkan siswa tampan yang gempar dibicarakan akhir akhir ini.

"MARK" ucap mereka semua. Beberapa siswa melongo tak percaya. Bukan karena mobil mewahnya ataupun ketampanan nya. Serius. Mereka melihat Mark setiap hari. Mark memang sudah tampan. Tapi kali ini nilai ketampanan Mark berubah berkali kali lipat dengan name tag yang terpasang di dadanya. 

Chenle segera menghampiri Anson


Chenle segera menghampiri Anson. Berdiri di sampingnya. Karena memang itu tempatnya sedari dulu.

"Selamat datang Anson." Ucap chenle lirih.

Jika biasanya Anson akan tersenyum senang saat chenle memanggilnya. Maka jangan harap kali ini ia bersikap demikian. Itu bukan stylenya sama sekali.

Mark dan Anson adalah dua orang yang berbeda. Seperti kata ibunya. Ia harus bersikap baik. Merendahkan diri meskipun tak mau. Karena image mereka berbeda. Ibunya berkata ia harus totalitas. Maka ia berusaha untuk itu sampai ibu yang mengajarkan Anson pergi dari hidupnya.

"Tunggu disini pak Kim. Aku hanya sebentar." Titah Anson lalu melangkah pergi diikuti chenle dibelakangnya.

Anson melangkah menuju ruang kepala sekolah. Bukan ke ruang kelasnya.

"Kau kembali." Suara gadis yang sangat Anson benci sampai ke sumsum tulang.

Anson menaikkan sebelah alisnya. Menaikkan sudut bibirnya.
"Aku tak pernah kemana mana. Kau merindukan siksaanku ternyata."

Sontak senyum gadis itu luntur. Digantikan tatapan gentar. Namun buru buru ia tutupi.

"Kau tak akan bisa menyentuhku ans."

"Begitu. Kau mungkin perlu ku ingatkan siapa dirimu."

"Kau yang perlu ku berikan kaca. Agar kau ingat siapa dirimu."

Anson tersenyum lebar lebih seperti psikopat. Senyuman yang sangat gadis itu tau kemana arahnya.

"Joen Heejin. Hanya karena hyungku dipihakmu bukan berarti kau menang."

"Apa maksudmu."

"Kau masih bodoh ternyata.__ ayo chenle, kita tinggalkan saja barang bekas ini." Anson berlalu pergi tanpa mau mengatakan apapun ke heejin yang masih terdiam. Memikirkan apa yang akan Anson lakukan padanya.

"Brengsek." Ucap heejin lirih.

"Siapa yang brengsek?" Suara Jeno menginstruksi di belakang heejin.

"Astaga. Bisakah kau berikan tanda dulu sebelum bicara. Lama lama bisa serangan jantung aku Jung." Kesal heejin.

"Memang itu yang aku inginkan. Jika kau serangan jantung dan mati. Hidupku bisa lebih bebas dari ini."

Mata heejin memincing
"MIMPI." Lalu meninggalkan Jeno.

...

"Mark." Kepala sekolah membungkuk pada siswa tampan itu.

Anson tengah duduk di kursi kepala sekolah dengan sang kepala sekolah yang duduk di kursi didepannya. Sementara chenle duduk di kursi tamu. Memakan camilannya tanpa mau repot repot mendengar pembicaraan si tua Bangka pengerat sekolah itu.

"Aku Anson." Sergahnya.

"Tuan muda."

"Bagus."

"Apa yang anda perlukan tuan." Tanya lelaki tua itu gugup. Dirinya lebih gugup dari evaluasi bulanan ataupun acara penyambutan walikota sekarang.

"Data diri semua yang setia padaku. Pindahkan semua ke hyundai. Termasuk Heejin."

Lelaki tua itu melebarkan matanya. Permintaan Anson terlalu gila.

"Nona heejin tak bisa dipindahkan tuan."

"Kau melawanku!"

"Nyonya Han sendiri yang mengatakannya. Di buat stempel. Dan disahkan secara resmi. Jika anda tak boleh mengganggu heejin."

Anson memijit pelipisnya.

"Bagaimana ini, aku tak punya mainan lagi."

"Bagaimana jika Chaeri?"

Anson melirik kepala sekolah yang menyebutkan satu nama. Nama yang sangat Anson tau.

"Kau kira dia pantas."

"Dia pantas tuan. Dari berita yang saya deng__"

"Berita apa?"

"Bukankah ibu Chaeri akan dinikahi Presdir Han. Anda dan Chaeri akan jadi saudara. Jadi anda bisa bermain dengannya"

Kening Anson mengerut. Tak membantah ataupun menerima apa yang kepala sekolah itu katakan padanya. 
"Begitu?"

Chenle yang diseberang terlihat terkejut. Bagaimana bisa Presdir Han menikah lagi. Tanah Mrs Han saja belum kering. Apa tidak takut, arwahnya gentayangan.

"Benar tuan."

"Aku senang punya ibu baru. Tapi aku tak suka berbagi harta ibuku. Itu alasannya, kau pasti suka jika aku menyiksanya daripada menyiksa heejin kan."

Kepala sekolah itu terdiam. Lalu menghadapkan diri pada Anson lagi.
"Selain itu heejin."

Brakk

"Hyung."

"Keluar."  Ucap lelaki muda yang usianya tak jauh berbeda dari Anson.

Kepala sekolah keluar. Tapi tidak dengan chenle. Tak ada yang bisa mengusirnya. Chenle punya keyakinan tersendiri untuk terus berada di sisi Anson. Dimanapun, kapanpun.

"Winwin Hyung. Kenapa repot repot kemari."

"Kau gila ans. Kau harusnya masih di rumah menenangkan ayahmu sekarang dan bukannya bermain main."

"Siapa bilang aku bermain main?"

"Lalu ini, kau disini. Terekspos dimana mana. Kau gila ans. Mereka bisa menargetkanmu lagi."

Anson menggeleng
"Memang itu yang aku mau. Mereka akan membiarkan ayahku berduka karena topik mengenai diriku lebih menarik."

"Apa?"

"Aku menjaga ayahku dengan cara yang berbeda. Jadi jangan halangi aku atau apapun Hyung." Anson beranjak pergi.

"Apapun itu. Aku tetap akan menghalangi mu ans. Jika sampai kau menyentuh sehelai rambut heejin saja. Akan kubuat kau menyesal."

"Benarkah. Tapi bagaimana ini Hyung. Aku kesepian tak ada mainan sekarang."

"ANSON."

"Baiklah, kenapa Hyung sensitif sekali. Aku kan hanya bercanda."

"Apa rencanamu. Aku sudah bilang untuk berhenti. Jadi apa yang kau lakukan sekarang."

"Aku akan kembali ke hyundai. Seperti kata mommyku." Ucap Anson lirih.

"Aku akan melanjutkan semuanya."

...

Anson tidak masuk ke kelas hari itu. Sementara Chaeri di kelas mencari cari dirinya. Bahkan harus bertanya tanya. Ia heran di kelas yang biasanya ada sekitar 30 siswa sekarang terasa lebih sepi.

"Apa ada yang tidak masuk hari ini?"

Min young menggeleng.

"Mereka bukannya tak masuk. Tapi Pindah."

Chaeri melebarkan matanya. Melirik sekitar ruang kelas. Lalu melebarkan telapak tangannya di depan minyoung.

"5, 5 orang yang pindah." Tanya Chaeri.

"Tepatnya ada 20 orang yang pindah."

Chaeri melebarkan mulutnya terkejut. Kenapa bisa sampai banyak yang pindah padahal jeguk tak ada masalah apapun.

Minyoung menghela nafas panjang.
"Kau tak tau ya. 20 siswa yang pindah itu dibawa mobil Limosin dan beberapa naik helikopter tadi pagi.

Mereka semua langsung pindah tanpa mengucapkan sepatah kata apapun"

"Apa alasannya."

"Aku lupa kau berangkat siang jadi tak tau."

"Memangnya ada apa?"

"Kau tau Mark Lee bule kw asli lokal itu. Ternyata dia pewaris Han yang selama ini tersembunyi. Dan kau tau. Pagi tadi dia datang dengan mobil mewah milyaran won."

Chaeri terdiam. Ia sudah lama tau dan untuk itu juga ia datang ke sini.

"Lalu apa hubungannya dengan mereka yang pindah."

"Yang kudengar. Karena ibunya meninggal kemarin. Ia harus kembali ke hyundai. Dan ia membawa anggotanya kembali."

"Seungkwan juga?"

Minyoung mengangguk menampilkan wajah seolah sedih.
"Si cabe itu bahkan tak mengucapkan salam perpisahan padaku. Awas saja jika bertemu. Ku ulek kepalanya."

Chaeri terdiam. Fikirannya berputar putar. Jika Anson kembali, untuk apa ia di sini. Harusnya ia ikut di bawa. Padahal dirinya sudah menyebarkan rumor jika ayah Anson akan menikahi ibunya. Bukankah harusnya ia dibawa, agar semua orang tau statusnya akan setara dengan Anson.  Gengsinya pasti akan tambah tinggi. Terpandang di semua anak anak kaya. Harusnya Anson tak meninggalkannya begini.

'Dasar Anson sialan.' pekiknya dalam hati.

...

Sehun POV

Sepeninggal L rumah besar ini terasa sangat sepi. Meskipun rumah ini biasanya memang sepi. Dimana aku akan selalu bekerja dan pulang malam saat ia tak ada. Sementara Anson, entahlah. Anak itu ada dimana sekarang. Sekertaris Kim bilang Anson menjalankan tugasnya kembali.

"Tuan muda Anson hari ini mengekspos diri dan memindahkan 23 siswa ke hyundai." Ucap sekertaris Kim yang hanya ku respon dengan anggukan.

"Lalu."

"Tuan muda juga membawa mobil sport, Limousine dan 3 helipad pribadinya ke jeguk."

"Baguslah."

"Maaf daepyonim. Bukankah ini akan menjadi bumerang untuk kita. Tuan muda akan dianggap sebagai orang yang suka pamer."

"Biarkan saja. Itu malah bagus. Dengan menunjukannya, semua orang akan tau betapa hebatnya hyundai. Saham kita akan naik dengan munculnya pewaris yang disembunyikan. Para pemegang saham yang cerewet itu juga akan diam. Ini bukan sekedar ajang pamer pak Kim."

Sekertaris Kim terdiam sebentar. Mungkin ia berfikir benar juga apa yang aku katakan. Tapi aku tak peduli. Aku sibuk dengan pemikiran ku sendiri.

"Sehunnn. My honey." Suara wanita memasuki ruang kerja ku.

"Saya undur diri daepyonim." Sekertaris Kim pergi meninggalkan aku berdua dengan wanita yang menjadi sumber dari masalah.

"Honey, ayo jalan jalan. Liburan ke Jepang. Atau terbang ke Hawai." Tangan wanita itu mengalungi leherku. Menyandarkan wajahnya di bahuku.

"Berhenti menggangguku hyena." Ku lepaskan diri darinya. Sungguh itu tak nyaman. Aku tak suka disentuh yang lain kecuali L dan Anson.

"Kau kenapa sayang. Halangan bagi kita sudah tiada. Jadi mari bersenang senang." Ucapnya dengan senyum menggoda yang membuatku jijik.

"Tolong hyena. Aku sama sekali tak tertarik padamu."

"Tak tertarik tapi kau senang tidur denganku."

"Itu kesalahan."

"Brengsek sekali kau Sehun. Setelah tidur denganku kau bilang itu kesalahan? Bahkan istrimu di dalam kubur sana tau jika itu salah nafsumu sendiri. Bayangkan jika dia tau. Akan semarah apa dia padamu Sehun."

"Aku tau. Jangan membicarakannya, ia baru tiada. Tidak bisakah kau meninggalkanku hyena. Aku masih berduka." Ucapku lirih. Memohon lebih tepatnya.

"Tidak mau, aku akan pindah kesini jadi kuharap kau membiasakan diri dari sekarang."

"Tidak bisa hyena. Ini rumahku dan L. Aku tak bisa tinggal denganmu. Apa kata orang nanti."

"Jadi nikahi aku Sehun. Ayo menikah dan jadi keluarga.

Anakmu itu pasti terima dengan ibu yang dirumah saja. Dan ia pasti akan terhibur karena punya saudari baru.

Aku akan merawat kalian. Bagaimana?"

"Sekali tidak tetap tidak."

"Begitu? Kalau begitu akan kubuat hubungan kita terekspos ke media. Oh iya, bagaimana dengan bayi yang ku kandung. Wah pasti akan ada berita panas Presdir hyundai yang terhormat menghamili istri orang."

Wanita itu tersenyum penuh percaya diri. Ingin sekali kubenamkan wajahnya ke lumpur babi. Jijik sekali aku rasanya.

"Biar bagaimanapun aku hamil anakmu Sehun. Jadi perlakukan kami sama seperti kau memperlakukan istrimu yang mati itu."

Ucapnya lirih di telinga ku. Mengingatkan kesalahan yang paling menjijikan. Mengingatkanku pada L, mengingatkan bagaimana aku tak berani menjelaskan sampai kematian menyapanya.

Bahkan sampai L dikubur dan diliputi rasa curiga berminggu Minggu sebelumnya, aku tak bisa mengatakannya. Satu penyesalan yang paling menghantui ku.

'Maafkan aku L. Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya'

...

To Be Continued
.
.
.
To Be Continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Be A Parent   24. Our Family

    Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek

  • Be A Parent   23. A plan

    "L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."

  • Be A Parent   22. The Fact

  • Be A Parent   21. Anson Back

  • Be A Parent   20. D

    "Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.

  • Be A Parent   19. A information

    Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status