Home / All / Be A Parent / 22. The Fact

Share

22. The Fact

Author: ricasari575
last update publish date: 2020-10-24 12:01:21

"Jadi___" Anson menatap beberapa koper serta dua orang dihadapannya secara bergantian     

"Jadi___" Anson menatap beberapa koper serta dua orang dihadapannya secara bergantian. 

Sehun mengangguk
"Ini jika kau mengijinkan nak."

"Honey apa yang kau bicarakan. Bocah ini tidak punya hak. Mengijinkan atau tidak aku tetap akan disini. Ini rumahmu kan? Berarti rumah anak ku juga." Hyena mengusap perutnya lagi. Tanpa melepaskan lingkaran tangan di lengan sehun.

Anson tersenyum tipis. Tidak tau jalang mana yang dibawa ayahnya. Seenak hatinya menyebut Anson bocah.

"Begini_"

"Biar aku yang jelaskan dad."

"Jelaskan apa?" Hyena bertanya tanya.

"Sebagai anggota keluarga baru. Harusnya anda tau bibi."

"Bibi? Aku calon ibumu Anson. Panggil aku ibu atau nyonya."

Anson menggeleng merasa benar benar tak tau diri wanita di depannya ini. Tak ada cerita dia memanggil orang lain nyonya. Sebutan bibi jauh lebih baik daripada jalang kan?.

"Bibi. Kau mungkin bodoh. Tapi aku tak tau kau sebodoh ini" ucap Anson yang dihujani dengan pelototan penuh amarah dari hyena.

"Apa maksudmu bocah. Apa maksudnya ini Sehun." Hyena bertanya tanya. Meminta perlindungan Sehun yang sama sekali tak ada respect padanya.

"Semua aset termasuk perusahaan ayah. Hyundai dan Zeus itu punyaku." Ucap Anson santai sambil menghisap jus semangka dari gelasnya.

"Apa?"

"Itu benar. Anson mewarisi semuanya sejak umur 17 tahun. Aku dan L memberikan semuanya ke Anson."

"Dan tahun ini umurku akan masuk 18 tahun. Aku akan mengambil semuanya. Aku bisa melakukan semuanya termasuk menendang daddy dan simpanan nya dari sini."

Hyena meremat ujung roknya. Wajahnya memerah marah. Sudah sampai sejauh ini malah faktanya berbeda dari apa yang ia harapkan. Harusnya ia bisa menikmati harta Sehun dan menjadi nyonya Han.

"Kau salah sasaran bibi. Harusnya anakmu yang kau lempar padaku. Bukan dirimu yang melempar diri ke daddyku"

Mata hyena membulat. Baru kali ini ia dihina anak kecil yang masih setara dengan anaknya. Anak ini bahkan terlalu blak blakan.

Hyena menghela nafas kesal menahan sabar. Merubah ekspresinya. Ia menunjukkan wajah hangat. 
"Jadi anson, bolehkah bibi tinggal disini?"

"Hmm bagaimana ya. Rumah ini terlalu sempit untukku. Bernafas dengan bibi pembantu saja paru paruku sesak apalagi ditambah bibi dan keluarga baru bibi. Aku tak yakin rumah kami mampu menampung dirimu bibi." Anson mengucapkannya persis seperti iblis. Dengan sudut bibir naik ke atas.

"Tidak masalah Anson. Asal aku dan adikmu bisa dekat dengan daddynya. Aku mau dimanapun itu."

"Adik ya? Yang kutahu adikku sudah mati belasan tahun yang lalu." Ucap Anson yang dihadiahi tatapan tajam dari Sehun.

"Apa dad, aku hanya mengucapkan fakta. Mau marah. Silahkan." Tantang Anson.

Pembicaraan tentang adik terlalu sensitif di keluarga Han itu. Sehun dan Anson tak ada yang mau mengenang. Takut jika Han allice, ratu di keluarga mereka akan sedih.

"Anson. Bibi sedang mengandung anak ayahmu. Kau akan punya adik. Kau tak akan kesepian lagi nak. Rumah ini akan jadi lebih ramai. Kau suka kan?" Hyena berucap penuh percaya diri. Anson pasti tak akan berkutik.

"Sayang sekali bibi. Anak itu pasti akan jadi anak termiskin senegara."

"Ap apa maksudmu?"

"Dia tak akan punya uang atau apapun. Karena aset ayah dan ibuku sudah atas namaku. Bahkan gaji ayahku sudah dihitung masuk ke warisanku."

"Anson. Tidak kah kau kasihan pada bibi dan adikmu. Adikmu berhak sedikit dari ayahnya nanti."

"Maaf bibi. Seperti yang sudah ku katakan. Semuanya sudah jadi milikku. Kecuali, bibi bekerja disini. Kebetulan aku perlu tambahan orang mencuci mobilku."

"ANSON."

"Apa dad? Ini sudah bagus. Daripada kuminta mencuci private jet milikku. Mau memang?"

Sehun terdiam memijit pelipisnya. Antara kasihan dengan hyena yang dikerjai Anson dan sedikit senang dengan hukuman anaknya. Akhirnya Anson tau menggunakan kekuasaannya.

"Baik Anson. Bibi mau."

Anson melebarkan matanya. Tanpa melunturkan senyum remeh di bibirnya.

 Tanpa melunturkan senyum remeh di bibirnya

'besar juga nyalinya." Batin Anson.

"Oke. Bibi boleh tinggal disini. Oh iya tinggal di kamar paling belakang. Jangan muncul jika tidak ku panggil atau__"

"Atau apa?"

"Atau akan ku usir."

"Jadi__ semangat kerjanya bibi. Aku mau ke club dulu." Anson beranjak mengambil jaket dan berpamitan pada ayahnya.

Anson keluar sembari bersiul siul senang. Bahagia juga rasanya mengerjai orang lain. Apakah ini harus ditambahkan ke daftar kegiatan kesukaannya. Ingatkan itu di kepala. Anson suka begini.

Setelah kepergian Anson

"Bagaimana ini honey. Kau tega anakmu menderita padahal masih di dalam perut."

"Aku tidak tau hyena. Anson terkenal tidak bisa ditentang. Jadi kuharap kau terima. Kau sendiri yang minta tinggal disini."

"SEHUN."

"Apa? Oh iya aku lupa mengingatkanmu. Mobil Anson ada di garasi bawah. Tidak banyak, hanya ada 17. Tak akan membuatmu capek. Yasudah ya, aku pergi dulu. Ada pertemuan penting hari ini." Ucap Sehun lalu meninggalkan hyena sendirian di meja makan.

"Dasar Keluarga Sialan." Hyena meremat rambutnya frustasi.

...

"Mom. Mommy bahagia disana?" Anson mengusap nisan ibunya. Ibu kesayangannya dan satu satunya. Tunggal tanpa debat.

Bulir air mata menetes membasahi wajah tampannya. 
"Mom. Mommy pasti akan sedih kalau tau ini.___ tapi kurasa mommy sudah tau sampai lebih memilih pergi daripada memperbaiki. Benar kan mom?." Anson berbicara dengan nisan yang seolah olah itu adalah ibunya.

"Daddy akan menikah lagi. Wanita itu bilang dia hamil adikku mom. Tapi adikku kan sudah tiada."

"Mom apa kau lihat dari sana. Daddy mengkhianatimu. Tidak kah kau ingin menembak kepalanya. Menaruh bom di bawah kasurnya. Atau mengajaknya gulat sampai babak belur." Anson masih bermonolog.

Teringat sewaktu kecil. Ayahnya tak sengaja membuat ibu marah. Dibilang tidak sengaja tapi yang terlihat di mata seakan tak bisa dipercaya. Sehun menghancurkan taman bermain lalu membangun minimarket di atasnya. 
Apakah menghancurkan dan membangun adalah suatu tindakan yang tidak disengaja?. Ibunya sampai tak mau tidur dengan sehun selama sebulan dan membuat Sehun frustasi sampai hampir gila tentunya.

Ibunya menghukum Sehun. Mengajaknya gulat sampai wajah Sehun babak belur. Wajah tampan putih mulus bebas hambatan itu berganti jadi penuh luka lebam. Sehun sendiri sampai tak berani ke kantor saking malunya.

"Bicara soal adik. Mommy pasti sudah bertemu dia disana. Apa dia cantik seperti mommy. Aku ingin sekali melihatnya." Anson terisak. Dadanya terasa sesak. Bibir terasa kelu hanya untuk mengungkapkan sesuatu.

"Tapi bagaimana mom. Adikku bahkan tidak ingin kutemui." Airmata kembali mengalir deras. Anson jatuh terduduk.

Beruntung gadis cantik menangkap ketidakseimbangan anson. Memeluk Anson erat. Mengusap usap punggung Anson yang bergetar hebat.

"Menangis lah. It's okay. Aku tak akan mengejekmu."

Anson membenamkan wajah ke bahu gadis itu. Menyembunyikan wajah yang dipenuhi air mata. Dipenuhi kesedihan, rasa frustasi dan perasaan buruk lainnya.

"Eve kenapa tuhan jahat padaku." Anson masih menangis di dekapan gadis itu sampai baju bagian bahunya basah.

Gadis yang dipanggil tak menjawab. Ia masih fokus mengusap punggung Anson. Menenangkan tunangannya yang tengah kalut.

Sejenak pelukan itu terlepas. Eve meraup kedua sisi pipi Anson. Berhadapan dengan wajahnya. Mengusap air mata yang membasahi wajah tampan tunangannya itu.

"Bersabarlah ans. Tuhan memberi cobaan tidak untuk membuatmu lemah. Kuatkan dirimu. Aku akan selalu di sampingmu. Jadi jangan khawatirkan apapun itu."

...

Di suatu ruang menampilkan adegan Anson dan gadis tengah berpelukan saling menguatkan. Meremas hati kedua orang yang melihatnya.

"Kau senang. Anson terlihat hancur begitu."

Wanita yang melihat itu hanya menatap datar. Mencoba mematikan rasa belas kasih sementara tangannya bergerak mematikan layar lebar itu.

"Jangan membuat ku goyah Jung."

"Ayolah L, aku hanya ingin tau. Apa investasi ku akan berakhir hanya karena kau melihat anakmu."

Flashback on

Hembusan nafas pendek namun teratur serta gerakan kecil menggoyangkan ranjang. Seseorang mulai membuka mata, terduduk di pinggir ranjang. Merasakan jantungnya mulai berdetak kembali.

Tangannya meraba dada sebelah kiri. Sudut bibirnya terangkat. Jantungnya berdetak normal kembali. Memeriksa keadaan tubuhnya. Senyumnya makin lebar. Tubuhnya masih utuh.

Deg. Jantungnya kembali berdenyut. Menjalarkan rasa sakit ke sekujur tubuh.

"Astaga. Sakit sekali." Mengusap usap dari luar baju.

Ia melirik ranjang sebelah kanan. Lelaki laknat pengikut setianya.

"Jung"

"Hngg"

"Koo"

"Hngghh" menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal.

"Jeon Jungkook bangun."

"5 menit lagi sayang."

"5 menit kepalamu" wanita itu menjitak dahi Jungkook.

"Awww." Bangkit dari tidur mengusap usap jidatnya.

"L. Kau bangun. Astaga. Ku kira kau mati betulan." Jungkook memeluk L yang masih kaget.

"Kau tau aku kaget sekali. Melihatmu di peti mati. Dengan lebam yang tak tau kau dapat darimana. Kupikir kau mati betulan." Ucapnya dengan posisi masih berpelukan.

"Sudah ku bilang jangan sampai terluka." Marah Jungkook mengusap lengan Lisa yang terdapat bekas luka.

"Ini hanya bekas kecil jung. Lebih besar karyamu di tubuhku jung."

"Bisa kita berhenti membicarakan itu. Aku selalu merasa bersalah tiap kau mengatakannya."

"Baiklah. Karena kau membantu ku. Aku akan diam saja."

"Bagus."

Krucuk krucuk krucuk

"Kurasa cacingmu perlu diberi makan L." Jungkook melirik perut Lisa, lalu beralih ke wajah secara bergantian.

Jangan lupakan senyum menggoda di bibir lelaki kelinci itu. Wajah Lisa langsung memerah. Malu. Ia baru bangun tengah malam dan perutnya berbunyi tidak sopan. Dihadapan Jungkook lagi. Jatuh sudah harga dirinya.

"Jung berhenti menggodaku." L beranjak pergi dari ranjang. Mencari dapur untuk memasak makanan mereka.

Membuka kulkas, penuh bahan makanan. Lalu melihat perabotan masak yang lengkap. Rasanya seperti di rumah sendiri.

L mengeluarkan bahan makanan dari kulkas sembari memikirkan apa yang bisa ia masak.

"L. Tidak kah harusnya kita bicara."

"Bicara apa?." L masih berkutat dengan sayuran dan kompor. Menabur bumbu lalu menyesap sup ke bibirnya.

Jungkook memperhatikan. Betapa manis wanita di hadapannya. Saat keningnya berkerut bingung. Sudah bertahun tahun ia tak melihat ekspresi itu.

"Soal kematianmu. Bukankah orang biasanya akan bertobat setelah bangkit dari Kematian. Atau mungkin mereka bersenang senang. Atau istirahat dulu menenangkan diri. Bukannya bangun seperti orang yang bangun tidur lalu menyiapkan sup pereda pengar."

L masih berkutat dengan masakannya. Telinganya mendengar apa yang Jungkook ucap. Tapi masih enggan untuk menjawab.

Satu hal yang Jungkook tau. L Tak begitu suka diganggu jika melakukan aktivitas seperti sekarang. Wanita seperti Lisa sangat menjunjung tinggi totalitas. Termasuk sup pereda pengar yang hadir di depan wajahnya berserta dengan pelengkap lainnya. Karena itu Jungkook sabar menunggu jawaban L sampai selesai memasak.

"Aku hanya menghangatkan apa yang ada di kulkas.__ sup ini, aku tau kau baru minum minum. Baumu bahkan menempel di badanku Jung. Ini semua masakan mudah, tidak merepotkan bagiku. Jadi jangan cerewet dulu. Sendok saja dan makan makananmu, baru kita bisa bicara." Ucap L. Setelah memberikan sendok makan di tangan Jungkook.

Untuk sejenak suasana berganti. Suara denting piring dan sendok. Suara sesapan sup menggantikan 2 orang yang masih bertahan untuk diam satu sama lain.

15 menit kemudian acara makan malam yang kelewat telat untuk disebut makan malam itu selesai. Kedua manusia beda gender itu duduk bersampingan di sofa.

Jungkook membuka kotak besi dimana terdapat satu suntikan. Tangannya dengan lihai membuka dan menusukan jarum ke lengan Lisa.

"Sudah."

L menurunkan lengan bajunya lagi. Mengusap usap bekas suntikan yang diberikan. Rasanya nyeri, persis seperti digigit semut. Yah, semut sebesar orang.

"Terima kasih Jung."

"Lain kali jangan memintaku melakukan ini. Orang orang bisa meragukan kredibilitas ku." Jungkook menutup kembali kotak besi itu. Menyimpannya di kulkas tempat obat.

Alis L Naik. Sudut bibirnya terangkat.
"Memangnya kau mau aku betulan tidak ada Jung?."

Jungkook terbatuk. Matanya membulat menatap Lisa. 
"Gila apa L. Melihatmu sakit saja, aku ingin mati rasanya. Apalagi sampai melihatmu mati betulan. Aku pasti orang pertama yang menyusulmu." Ucap Jungkook cepat.

Tapi ucapan itu tak membuat L Senang. Tatapannya berubah sendu. Untuk kesekian kalinya ia merasa bersalah. Ah tidak lebih tepatnya merasa sedih, sesal dan semuanya jadi satu sampai tak bisa di ekspresikan lagi.

"Jung."

"Hmm."

"Harusnya kau mencintai istrimu. Bukannya aku Jung." Lirih L yang masih di dengar lelaki jeon itu.

Pergerakan Jungkook terhenti. Hatinya terasa di remas. Beberapa menit yang lalu ia merasa bahagia sekali. L melengkapi hidupnya yang kurang. Melakukan apa yang pernah mereka lakukan seperti dulu. Tapi harapan memang hanya harapan. Posisi mereka tidaklah sama sekarang.

"Dan tidak seharusnya kau tidur denganku." Lanjut L sembari memejamkan mata.

Ekspektasi Jungkook hancur saat itu juga. Tangannya meremat sampai kuku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Hatinya sakit. Air mata lolos mengalir darinya.

"Jangan mengorbankan diri demi aku lagi."

"Berhenti L. Kau tau aku tak bisa dan akan selalu begitu. Kau prioritasku tanpa batas. Aku tak peduli meski mengorbankan hidup dan hartaku. Semuanya akan kulakukan untukmu. Jadi tolong jangan menolak bantuanku."

Jungkook mendekat. Memeluk Lisa. Mereka saling menitihkan air mata. Sama sama tersakiti dengan kesakitan masing masing.

Wajah Jungkook mengamati bulir air mata yang L jatuhkan. Air mata yang keluar karna salah yang ia perbuat.

"Aku salah lagi ya?. Cambuk aku L. Aku pantas mendapatkannya." Jungkook beranjak ingin mengambil cambuk. Tapi dekapan kuat itu tak mengijinkannya.

"Tidak. Berhenti Jung. Aku sudah menghukummu cukup lama. Jadi aku mohon berhenti."

Jungkook menggeleng. Air matanya mengalir. Berhenti?. Kata yang paling ia benci. Apalagi itu keluar dari L. Jungkook berlutut.

"Jangan membuang ku L." Ucapnya dengan terisak. Persetan dengan gender lelaki yang melekat padanya. Toh di dunia tak ada yang melarang lelaki menangis dan memohon seperti yang ia lakukan.

"Aku tidak membuangmu Jung. Mengertilah." L mengusap kedua lengan Jung. Membantunya berdiri.

"Kita sampai sejauh ini. Aku terima bantuanmu. Termasuk serum kematian itu. Kurasa ini sudah terlalu banyak. Jadi biarkan aku lakukan sendiri."

"Tidak. Kau tetap denganku sampai akhir L. Biarkan aku menebus rasa bersalahku."

"Kau meragukanku?."

"Tidak. Tapi biarkan kali ini aku ikut andil. Aku akan membuat pekerjaanmu lebih cepat dan mudah."

"Baiklah Jung."

Tangis Jung berganti dengan senyum cerah. Tapi masih meninggalkan bekas air mata di pipinya. Matanya memerah. Entah karena alkohol atau apapun.

"Berjanjilah jangan mati L."

L mengangguk, menautkan janji jari kelingkingnya. Membuat stempel tak terlihat. Tanpa menghapus senyum tulus.

"Karakter utama tidak akan mati mudah Jung, dan kupastikan tak akan Mati ditangan orang lain kecuali di tanganmu."

Malam itu mereka membuat janji, yang hanya mereka berdua yang tau. Tanpa stempel tak terlihat tapi tertancap sangat kuat. Janji bukan untuk saling mencintai tapi janji untuk tidak mati. Serta bukan janji untuk bersama, tapi janji hidup berdampingan berdua. Tidak ada yang lebih baik dari janji yang diucapkan mereka. 2 orang 'kombinasi sempurna' yang pernah saling mencintai tapi memilih mengakhiri.

Flashback off

"Tenang saja Jung, aku tak akan mengecewakan. Anak dan suamiku memang harus diberi pelajaran."

"Tentu saja harus diberi pelajaran. Dia membuang sperma nya sembarangan. Dan lagi si bodoh itu malah mengembangkan calisto. Dia benar benar cari mati" Ucap Jungkook enteng.

Calisto adalah proyek energi alternatif yang dibuat L sewaktu muda. Alat itu hanya produk cacat yang masih belum sempurna. Alat itu bisa berubah menjadi mesin pembunuh jika berada di tangan yang salah. Alat yang Lisa ciptakan hanya untuk Jeon Jungkook.

"Hmm anakmu juga___ ah maaf calon menantuku maksudnya. Kenapa dia bandel sekali. Sampe huh." Tangan Jungkook teremat emosi.

Masih teringat apa yang L katakan. Jika Anson terlibat bisnis ilegal. Terperosok sangat dalam sampai L sendiri tak tau apakah ia bisa menyelamatkan anson.

Mungkin jika yang Anson lakukan adalah menjalankan bisnis Zeus atau Hyundai. L pasti akan tenang dan tak memilih mati meski Sehun selingkuh berulang kali. Tapi, anak itu benar benar diluar ekspektasi.

Anak SMA mana yang punya pulau pribadi hanya untuk menanam ganja?. Ide bagus darimana itu. Dan L sendiri mengatakan jika para Angels (agen rahasia) mencari pengedar kecil yang tak lain dan bukan adalah Han Anson. Coba bayangkan jika orangtua kalian adalah pemimpinnya dan anak buah kalian mencari target yang kalian tau sendiri itu adalah anak kalian. Bagaimana perasaan kalian.

Malu?. Tidak. L Tak pernah menganggap apapun yang Anson lakukan sebagai hal yang memalukan. Bisnis narkoba itu bagus jika dilakukan di negara yang legal. Tapi Anson di Korea. Yang menganggap ganja dan sejenisnya adalah obat terlarang. Dengan orang tua seperti L, menangkap pengedar setiap hari. Bahkan tak segan menembak mati. Tapi ini, anaknya sendiri. Bermain aman di belakangnya. Di pulau yang ia belikan untuknya. Lagi, di negara yang ia lindungi. Di negara yang masih dipimpin keluarganya sendiri. Tindakan Anson sama sekali tidak bisa dibenarkan.

"Kau tau, jadi jangan mengungkitnya lagi Jung. Aku pusing sendiri sekarang." L menunduk. Memegangi kepalanya yang terasa berat dengan banyaknya pikiran.

"Maaf L, aku tak pernah tau jika masalahmu sebesar itu. Kau harusnya cerita. Jangan hanya diam di perbatasan menangkis tembakan."

"Ingat L, kau Allice. Bukan power rangers atau iron man yang tahan peluru dan rasa sakit penghianatan. Kau juga bisa sakit. Jangan terus melindungi mereka." Lanjut Jung menggebu gebu.

"Aku tau Jung. Karena itu aku lebih memilih mati dan berada di bawah kuburan dengan kau disampingku. Daripada ikut terjerumus bersama mereka."

Sudut bibir Jungkook terangkat. L memang luar biasa. Untuk ukuran egois ia akan sangat totalitas seperti biasa.

"Lalu, apa rencanamu sekarang my angels."

Sebelah alis L naik, melirik Jungkook yang menyebutkan panggilan lamanya.

"Panggil aku L. Aku Han allice."

"Harusnya kau menyandang Jeon. Kau ratuku jika perlu ku ingatkan."

"Aku selalu jadi ratumu Jung. Jadi hentikan basa basi ini. Mari bergerak."

"Bergerak?."

L mengangguk

"Semua kesalahan dimaafkan kecuali penghianatan Jung. Mereka menghindari negara yang sudah aku pertahankan. Secara tidak langsung mereka menghianatiku."

"Hancurkan pulau itu. Sabotase Calisto. Buat semua jadi normal." Putus L dengan raut wajah serius. Berdiskusi layaknya masalah biasa.

Mata Jungkook melebar. Semakin lebar dengan permintaan L yang diambang mustahil.

"Kau yakin? Sebab akibatnya tidak sebanding. Dananya luar biasa L"

"Apa kau fikir aku akan jadi miskin hanya karena keluar dana beberapa milyar won?."

"Tidak begitu. Aku hanya,__ hmm terserahmu saja lah." Jungkook tergagap. Hanya di hadapan L seorang mafia kelas atas tak bisa berkata apapun. Lidahnya kelu. Badannya terasa kaku. Aura L begitu menakutkan. Tapi, karena itu jugalah. Jung tak bisa lepas. Dia mencintai wanita itu. Dari dulu sampai sekarang dan nanti.

...

Ruangan bernuansa putih yang awalnya bersih, rapi, tak ternoda menjadi amat berantakan. Snack makanan dimana mana, bantal kursi entah terbuang sampai kemana. Bahkan sandal rumahan hanya terlihat bagian kanan, tak tau gandengannya dimana.

Pelaku utama pengrusakan ini jelas dan hanya ada satu orang.

"HAN ANSON." Teriak wanita itu marah marah tak jelas. Berkacak pinggang ingin sekali menerkam. 
Sedangkan yang dimarahi masih santai setengah rebahan menekuk lengannya. Melihat ke arahnya dengan tatapan tak minat.

"What?"

"Anson, aku tak masalah jika kau tak menerima aku dan calon adikmu di rumah ini

"Anson, aku tak masalah jika kau tak menerima aku dan calon adikmu di rumah ini. Tapi tidak bisakah kau bersikap baik."

"Memangnya apa yang aku lakukan?" Tanya Anson tak merasa bersalah. Pikirnya apa yang ia lakukan sampai perkataan wanita ayahnya itu berlebihan sekali. Anson tidak menghajar orang di club, atau menabrak orang lagi. Tapi ekspresi wanita dihadapannya seperti anson telah melakukan kesalahan besar saja.

"Kau membuat kamar ini berantakan. Ini kamar calon adikmu. Tidak kah kau lihat. Aku bahkan menulis di pintu." Tunjuk hyena ke arah pintu besar yang tertulis. VVIP Han son.

"Adik? Sudah ku bilang adik ku di surga. Kenapa kau bebal sekali di beri tau." Anson mengambil keripik kentang di meja. Memakannya sembari menonton Avengers tanpa memperdulikan wanita itu.

"Lagipula itu namaku. Han son. Apa kau lupa. Aku pewaris tunggalnya. VVIP yang dimaksud disini pasti aku kan?"

"Terserahmu saja." Kesal hyena. Beranjak pergi. Belum 1 X 24 jam ia ada di rumah ini. Tapi Anson sudah mau membuatnya emosi darah tinggi.

"Hmm, Bibi. Bagaimana mobilku? Sudah dicuci belum? Aku ingin naik no 5 hari ini. Jadi kuharap itu sudah bersih."

Hyena terdiam. Ia baru saja kembali setelah mencuci 2 mobil sialan itu. Tangannya bahkan sampai pegal. Rasanya ia bisa saja masuk angin jika melanjutkan mencuci mobil lainnya.

Salahkan pemilik mobil ini. Pemuda brengsek di hadapannya yang memiliki lebih dari 10 mobil mahal. Jangan lupakan perawatan nya. Serta pencucian mobil yang harus detail dan intense.

Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. Dimana sopir kim menunjukkan garasi bawah yang dimaksud sehun.

Flashback on

Setelah Sehun pergi, pak Kim langsung menghampiri hyena untuk melihat garasi yang dimaksud sehun. Letaknya di basemant mewah bawah tanah. Lupakan tentang garasi. Tempat itu lebih mirip dengan showroom mobil sport.

Dari yang paling belakang sampai dengan yang paling depan isinya mobil sport semua

Dari yang paling belakang sampai dengan yang paling depan isinya mobil sport semua.

"Ini mobil tuan Anson 17 unit mobil sport. Dari yang paling pojok sampai yang paling depan nyonya." Ucap sopir kim.

Sopir kim sebenarnya gatal memanggil hyena dengan sebutan nyonya. Tapi mau bagaimana lagi, demi mencari nafkah dan membuat wanita itu mau melaksanakan tugasnya. Sopir kim harus bermanis manis kan.

Hyena terdiam. Matanya membulat tak percaya. Ia kira Anson hanya mengerjainya dan tidak akan Setega ini. Lihat saja, semua mobil mewah di hadapannya. Jumlahnya bahkan lebih dari yang mereka katakan.

"1,2,3,4...." Jarinya menghitung dari yang paling pojok sampai ke pojok.

"Anson bilang 17, kenapa ini melebihi 25 pak Kim?"

"Hngg itu, mobil nyonya L. 8 unit mobil hitam itu milik nyonya L. Di pindahkan kesini karena garasi nyonya L sudah tidak muat."

"Memangnya sebanyak apa mobil wanita itu, sampai garasi untuknya tak muat." Hyena berdecak.

"Mau saya tunjukkan nyonya. Ikuti saya."

Sopir kim memutar arah. Menaiki cart yang membawa mereka ke sebuah landasan.

"Katamu ke garasi?"

"Ikut saja nyonya."

Hyena terdiam. Sopir kim menekan kartu karyawan ke sebuah scan. Lalu terbukalah gerbang secara otomatis.

Jglaagg

Pintu besi terbuka dengan sempurna. Menunjukkan tidak hanya mobil, melainkan pesawat dan yang lainnya.

"Menakjubkan

"Menakjubkan." Hyena menoleh ke pak Kim.

"Apa ini semua akan jadi milikku, saat aku menikah dengan Sehun nanti pak Kim?"

Pak Kim menggeleng. 
"Yang saya tau semuanya telah diwariskan ke Han daepyonim. Jadi tak ada yang tersisa jika anda menikah dengan tuan Han."

"Lalu anakku akan dapat apa. Setidaknya anak ini harus dapat beberapa milyar won kan. Aku pasti akan mendapatkan nya."

"Sepertinya tidak mungkin nyonya. Han doryeonim tidak semurah hati itu."

"Kita lihat saja nanti pak Kim. Semua yang jalang itu miliki akan jadi milikku." Ucap hyena menyeringai. Lalu pergi meninggalkan pak Kim yang masih terpaku.

Jalang katanya

Nyonya besar yang anggun, cantik, baik itu di bilang jalang. Wah, jiwa benci di hati pak Kim menyeruak. Kesabarannya teruji.

'tuan Sehun pasti sudah gila membawa begundal pulang ke rumah.' batin pak Kim masih mengusap usap dadanya sabar.

...

"Sehun, kemari kau. Sehuna." Teriakan itu disertai dengan lemparan balon air.

"L aku salah, aku tak akan beli itu lagi. Akh, sayang." Sehun menutupi bagian tubuhnya yang sudah basah. Jas, kemeja dan semua yang ia pakai basah semua.

"Sudah kubilang jangan dibeli, kenapa kau bebal sekali."

"Ah ayolah L, itu cuma beberapa juta dolar. Harganya akan lebih mahal saat rilis nanti." Sehun berhenti di tempatnya. Tak lari lagi. Ia lelah, baru pulang kerja bukannya disambut malah dilempari balon air.

"Mom, dad, What are you doing?" Anson menghampiri orangtuanya yang basah kuyup. Melihat dua orang yang seperti anak kecil. Padahal disini Anson lah yang jadi anaknya.

"Hentikan mom, Daddy baru pulang. And Dad apalagi ini?" Anson melihat mobil bagus terparkir rapi di halaman rumahnya. Warnanya hitam metalik, begitu bersilau di matanya.

"Ini mobil keluaran terbaru nak,  hanya ada 3 di dunia. Dan sekarang ini milikmu"  Sehun menyerahkan kunci. Mangayun ayunkan di depan istrinya yang masih berkelut marah.

"Woah, benar ini dad. Punyaku?"

"Ya nak, itu punyamu sekarang. Gunakan dengan baik okay." Sekarang L menjawab Anson. Tatapannya berubah hangat, berbeda sekali dengan beberapa saat yang lalu.

"Thanks mom, dad. Kalian memang yang terbaik." Anson langsung naik ke mobil baru itu. Mengajaknya berkeliling rumah Han.

Sehun mendekat menarik ujung baju L dengan tangannya yang basah. Mencebikkan bibirnya.

"L, masih marah?"

"Tuan Han, Baiknya kau mandi dulu." L langsung pergi melewati Sehun.

"Salahku dimana lagi." Sehun memijit pelipisnya. 

Saat di kamar, L menyiapkan baju Sehun seperti biasa. Suara gemricik air menandakan lelaki di dalam sana tengah membersihkan diri.

Lingkaran tangan di pinggang, menghentikan aktivitas L. Lelaki itu mendusalkan hidung serta wajah ke bahu L yang terbuka. Mengecup lama, tapi tak sampai menimbulkan bekas merah.

L berbalik, mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu. Saling bertatapan. 
"Sayang."

"Hmm"

"Masih marah?" Sehun mendekatkan jarak mereka. Sampai benar benar dekat. Hidungnya menyentuh hidung L, dengan mata yang terus memperhatikan kecantikan wanita di depannya.

"Aku tidak marah."

"Melempari ku dengan air dan tak mau kusentuh itu dianggap tidak marah Mrs Han?" Goda Sehun dengan sudut bibir tersungging.

"Ah baiklah, aku sedikit marah. Tapi tidak lagi. Kukira kau membeli itu karena alasan konyol. Tapi yang kulihat itu untuk Anson. Kau tau kan, jika semua tentang anson akan selalu termaafkan Mr han" ucap L, tangannya mengusap pipi sehun.

"Mau melanjutkan?" Sehun menaikkan alisnya terkejut. L membangunkan singa, ia harus bertanggung jawab.

"As you wish Mrs han."

Mata Sehun terbuka, mengamati kamarnya. Tatapannya beralih ke ranjang di sebelahnya yang kosong.

"Kukira itu nyata." Wajah sehun tertekuk, hatinya terasa perih. Mengusak bantal disampingnya. Membayangkan jika L disana. Tertidur pulas, mengamati setiap inci wajahnya. Menciumi setiap jengkal untuk membangunkannya. Sehun rindu.

"Aku pasti sudah gila." Sehun mengusak rambutnya frustasi.

Teringat banyak sekali kenangan terputar di kepalanya. Sewaktu mereka bersama sampai sekarang. Terlalu banyak kenangan yang tak bisa dilupakan begitu saja.

'Semua kesalahan dimaafkan kecuali penghianatan.' Kalimat itu berdengung di telinga Sehun. Rasa bersalah menyeruak di hatinya.

Sejenak ia menyadari sesuatu. Memorynya mencoba mengingat beberapa Minggu yang lalu.

Sehun meraih ponselnya. Mengetikan satu nama.

"Pak Lee, laporkan semua kegiatan L selama ia pulang. Cek semua orang yang pernah bertemu dengannya."

"Tapi daepyo__"

"Lakukan saja."

"Nde daepyonim."

Panggilan di putuskan sepihak. Sehun masih mengusap figura kecil yang menampilkan wajahnya dan L.

"Kuharap dugaanku salah L. Kuharap kau tak tau sampai akhir nafasmu." Sehun menutup foto pernikahan nya di nakas. Lalu beranjak pergi.

...

To be Continued
.
.
.
To Be Continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Be A Parent   24. Our Family

    Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek

  • Be A Parent   23. A plan

    "L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."

  • Be A Parent   22. The Fact

  • Be A Parent   21. Anson Back

  • Be A Parent   20. D

    "Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.

  • Be A Parent   19. A information

    Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status