LOGIN
Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.
Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.
Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong.
"Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya.
"Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.
Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.
Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhatikan anak didiknya yang terkenal kalem. Keningnya mengerut bagaimana seragam yang dipakai muridnya tercetak jelas, isi dalamnya. Sungguh penampakan yang menguji imannya sebagai seorang guru, diperhatikan sekelilingnya tak ada orang yang memperhatikan. Bosga beranjak menghampiri Karina yang sedang menyeruput es teh. Karina terkejut melihat gurunya muncul di hadapannya, duduk menatap dirinya tajam.
"Pak guru?"kata Karina kaget luar biasa. bisa-bisanya ketahuan oleh guru olahraga yang paling malas ditemui.
"Ngapain disini"tanya Bosga memperhatikan raut wajah Karina yang berubah-ubah mencari jawaban yang masuk akal.
"Haus"jawabnya menyeruput lagi tehnya untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Kenapa tidak ikut pelajaran"tanya Bosga lagi.
"Mau pulang pak, capek"jawab Karina polos. Memang diriya sedang malas, belum lagi rasa capek dikarenakan dikerjai abangnya semalam suntuk.
"Kok bisa. Hari ini tidak ada pelajaran olahraga", kening Bosga mengerut tak percaya mendengar alasan yang mengada-ada Karina.
"Iya sih"ucap Karina bingung juga kalau sudah begini.
Mata Bosga menyelidik mempertanyakan, Karina menghela nafas panjang.
"Maaf pak, Karina benar-benar capek, ingin pulang"pinta Karina memelas belas kasihan guru olahraganya.
"Rumah kamu dimana"tanya Bosga ingin tahu.
"Rumah susun Kemayoran, pak"jawab Karina berharap gurunya mau mengantar pulang.
"Jauh juga dari sini", Bosga menganguk-angguk mengerti.
"Anterin ya Pak"pinta Karina nekad daripada kelamaan.
"Ke sekolah?"tanyanya santai.
Karina cemberut mendengar kalimat gurunya, Bosga tertawa geli dalam hatinya, "ckckck, imut"kata Bosga.
"Ih bapak, tadi kan Karina sudah bilang kalau Karina capek mau pulang, anter Karina pulang ya pak, nanti Karina kasi ongkosnya"terang Karina panjang lebar membuat begitu perubahan di wajahnya sehingga Bosga terpana akan kecantikan yang terpancar dari wajahnya.
Bosga bukan tipe menyukai muridnya sendiri tapi sepertinya ia harus memikirkan ulang lagi tentang keputusannya mengenai tidak memacari muridnya sendiri.
"Mau ya, pak"pinta Karina lagi bertambah memelas kearah Bosga.
Jantung Bosga berdebar kencang seperti berlarian sepanjang lapangan sekolah.
"Bapak masih harus balik ke sekolah, begini saja, anggap saja hari ini bapak tidak bertemu denganmu tapi kalau nanti ketemu dalam kondisi yang sama, mau tidak mau terpaksa bapak akan melakukan tindakan."ucap Bosga bergerak berdiri lalu mendekati penjual warung.
"Berapa semua Bu ditambah es teh manis"tanya Bosga sambil menunjuk kearah Karina yang merajuk sebal.
"Dua puluh ribu, pak"jawab penjual warung setelah menghitung semuanya.
Karina berdiri, menghentakkan kakinya kesal. Cuaca sangat panas membuat berfikir ulang. Bosga tersenyum melihat tingkahnya yang lucu di matanya.
"Mau ikut bapak ke sekolah tidak"
"Tidak, makasih"
Tak urung tawa pecah mendengar kalimat Karina yang terdengar imut ditelinga Bosga. diacak-acak rambut Karina. Tangan Karina berusaha menepis gerakan tangan Bosga yang sengaja membuat dirinya kesal.
Bosga mendekati motor bututnya kemudian pergi meninggalkan warung tersebut, Karina menghela nafasnya. Iapun berjalan perlahan menyusuri jalan menuju jalan besar yang jaraknya masih 50meter lagi.
Panas matahari membakar kulit Karina. decak kesal berulangkali dikeluarkan Karina karena angkot yang membawanya ke arah rumahnya tak terlihat juga.
Sekitar 30menit, akhirnya angkot berhenti didepannya. Karina masuk kedalam angkot, tak lama kemudian angkot berjalan menuju tujuan Karina.
Bosga turun dari motornya, hari ini ada rapat guru di ruang guru. Semangatnya masih sama dengan tadi, tiba-tiba kakinya berhenti ketika diingatnya penampilan Karina yang sangat mengiurkan semua jenis usia berkelamin pria.
Helaan nafas tak peduli dikeluarkan, lagipula ia tidak ingin terlibat apapun dengan muridnya, ia harus jaga image depan semua orang.
Anak-anak berlarian begitu bel berbunyi tanda pulang, teriakan dan jeritan kembali terdengar ramai. Bosga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat itu semua. Bagaimanapun mereka semua masih anak-anak walaupun umur merekam sebentar lagi diusia yang tak bisa dikatakan anak-anak.
"Hei, hati-hati"teriak Bosga saat sebuah bola melayang kearah anak murid perempuan yang melintas.
"Baik pak, sorry"teriak salah satu anak yang berada di lapangan. Bosga melanjutkan langkahnya menuju ruang guru, sesekali terpaksa berhenti untuk menyala atau berbincang-bincang sedikit dengan para muridnya.
Dibukanya pelan ruang guru, beberapa guru tampak marah-marah dengan muridnya yang bandel dikarenakan memberikan contoh kurang baik kepada temannya yang lain.
Suara alunan musik dinyalakan melalui siaran radio sekolah, sebuah rutinitas di sekolah sebelum melanjutkan pelajaran untuk kelas XII sebagai persiapan menghadapi ujian kelulusan.
Bosga duduk di kursinya, dibukanya ulangan muridnya yang belum diselesaikan, mumpung belum mulai dapat jadi bisa mengkoreksi semuanya.
tok...tok...
"Masuk"kata salah satu guru menyuruh muridnya masuk ke dalam ruang guru. Bosga hanya melihatnya sekilas, seingatnya yang masuk ternyata sahabat Karina. Murid tersebut mendatangi guru piket yang berkacak pinggang menunggu sedari tadi.
"Kamu nyakin Karina tidak masuk saat jam pelajaran terakhir?"tanya guru piket.
"Ya pak, tadi bilangnya sih sakit perut, di kelas kan ada ulangan mendadak jadi saya tidak mungkin mengantarkan ke kamar mandi"jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Ya sudah kembali ke kelas saja, sana"kata guru piket sambil memijit kepalanya yang mendadak sakit.
Bosga nyaris saj tertawa, ia berpura-pura sibuk. Guru piket menggerutu tak ada habisnya.
"Ada apa sih, Pak "tegur Bosga ingin tahu juga.
"Karina"katanya malas tapi mendekat juga duduk disampingnya.
"Ada apa dengan Karina?"Bosga tambah penasaran
"Ini sudah ketiga kalinya, Karina pergi di akhir jam pelajaran. Aku juga tidak tahu ada apa tapi kondisi seperti ini sangat tidak baik mengingat ujian nasional sebentar lagi dimulai"jawabnya panjang kali lebar.
Bosga manggut-manggut mengerti tapi ia juga tidak ingin masuk lebih jauh. Jadi, ia biarkan saja guru piket meluapkan emosinya sebanyak-banyaknya dibandingkan malah menjadi penyakit.
Tak lama kemudian ruang guru mulai sepi, kepala sekolah masuk membawa beberapa dokumen. Rapat dimulai begitu kepala sekolah membagikan dokumen yang dibawanya.
Walau enggan, mau tak mau Bosga mengikuti semua prosedur kalau ingin menjadi guru olahraga tetap di sekolah ini.
James terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya
Karina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan."Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya."Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya."Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan s
Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima."Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda kera
Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong."Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya."Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhat