LOGINJames terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.
Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.
Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya.
"Hai, apa kamu sudah makan? aku lapar sekali" keluh James memegang perutnya. Sanita cemberut mendengar hal itu. "Kamu tidak di kasi makan dengan Karina adikmu?," kening Sanita tak urung mengerut, "Bagaimana bisa seorang adik menelantarkan kakaknya begini" omel Sanita kesal berlipat-lipat begitu menyadari kalau James sedang sengaja mengalihkan topik supaya tidak mendapatkan hukuman darinya.
Dulu ada sebuah kontrak perjanjian tertulis ditandatangani kedua belah pihak, apabila melanggar jam kontrak maka pelanggar wajib mendapatkan hukuman sebagai peringatan. "Aku tak tahu apa mau mu James, tuan Frederick sudah menunggu diatas" Sanita berbalik berjalan meninggalkan James yang mematung mendengar nama pemilik badannya.
Senyum pahit terukir di bibirnya malah menambah tampan di wajahnya, James berjalan menuju lantai dua dimana istri atau suami menunggu dirinya.
Pekerjaan yang dari dulu tidak disukai yaitu menjadi suami Mr Frederick. kalau mengungkit masa lalu dimana ayah angkatnya tega menjualnya untuk membayar semua hutang-hutangnya yang menumpuk. Mr Frederick sangat mencintainya jadi sebagai pembayar hutang, terpaksa James menuruti daripada Karina yang dijadikan pembayaran hutang. Tidak sampai disitu juga, ternyata pernikahan tersebut sah dan membuat James kesulitan karena masih banyak aturan tertulis yang menjeratnya tidak mungkin bisa lepas.
Pintu kamar dengan ganggang pintu terukir dibuka pelan oleh James. Frederick duduk membaca artikel dengan santai di sofa kamar. Ia hanya mengenakan jubah mandi. Badannya yang mirip perempuan dengan kehalusan yang sama bikin semua orang salah fokus.
James duduk di sampingnya, membaringkan sejenak di bahunya. Frederick diam saja membisu dengan tingkah James.
"Kok baru pulang". Frederick melirik wajah kusut James, ia sangat mencintainya. Ia sangat paham bagi James ,Karina adiknya adalah segalanya. "Karina" kemudian ia memejamkan mata terlalu lelah, Frederick menepuk pipinya perlahan.
"Tidurlah dulu, sebentar lagi makan malam" katanya tenang berusaha membangunkan James untuk pindah tapi bukannya bangun malah mengendong Frederick ke arah kasur.
"Temani". Frederick sangat mengerti kalau sehabis dari Karina bisa dipastikan akan seperti ini. Ia hanya bisa membalas memeluk James dalam diam. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Frederick bukannya tak tahu apa yang dilakukan James kepada Karina tapi ia tak mungkin memaksanya. Jame ada di sisinya saja membuat hatinya bahagia. Jatuh cinta pada pandangan pertama memang sulit , walau disangkal malah bertambah banyak dosis cintanya.
Frederick bangkit dari tidurnya, perlahan menyingkirkan tangan James yang bertengger manis di perutnya. Helaan nafasnya mengingat hatinya yang selalu sakit setiap kali James menyentuh Karina. "Aku mencintaimu selalu, kapan kamu melihatnya?" gumamnya sambil menutup pintu kamar, berniat menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
klik...
Mata James terbuka lebar. Ia sengaja berpura-pura lelah demi membuat Frederick lupa dengan hukuman yang disebutkan kontrak. Sampai detik ini ia masih belum terima pernikahannya sah dengan kontrak seumur hidup. Tangannya mengepal diatas wajahnya dan berusaha untuk tidur. Bagaimana pun marahnya James tetap saja tak bisa melampiaskan ke Frederick yang selalu baik kepadanya.
James terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya
Karina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan."Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya."Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya."Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan s
Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima."Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda kera
Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong."Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya."Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhat