Mag-log inKarina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan.
"Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.
James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya.
"Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.
Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya.
"Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan saja sejak tadi. James melepas pelukannya kemudian menarik sebatang rokok dari bungkusnya. Ada kalanya Karina merasa kakaknya banyak berubah dari terakhir kali ia bertemu tapi ditepisnya perasaan yang tidak jelas ini.
"Kamu mau menyeka badannya?" Tanyanya disela hembusan rokok yang keluar dari mulutnya. Rokok kesayangannya tinggal sebatang, uang tak pegang, kepala James pusing memikirkan semuanya, belum lagi uang kontrakan yang sebentar lagi habis.
"Ya" kata Karina pelan. Namun, cukup di dengar oleh James. Kegusaran melanda dalam diri James. Terbuat apa Karina mau membersihkan pria tua tersebut padahal dahulu tidak dipedulikan sama sekali.
"Membuat tegang miliknya? tidak!". Teriaknya Membayangkan bagaimana Karina menyentuh pria tua itu bikin James kesal setengah mati. Pria tua itu menyusahkan dirinya sejak kecil, jijik kalau ingat perlakuannya padanya.
Wajah Karina memerah malu mendengar kalimat frontal abangnya. Bagaimana pun mereka semua memang tidak ada hubungan sedarah dan wajar kalau ayahnya menjadi begitu karena sudah lama tidak merasakan sentuhan wanita.
Ayah mendengar percakapan mereka berdua. Dinding pembatas terbuat dari triplek yang tipis sehingga apapun yang dilakukan sudah pasti akan terdengar tapi Karina tidak tahu itu.
"Bang!" teriak Karina kesal dan menghela nafas. Apa yang membuat James tidak suka dengan ayah? Karina tak habis pikir.
James merangkul Karina, "Lakukan saja tapi aku akan melihatnya, jangan membantah!" ucapnya halus di telinga Karina.
Helaan nafas Karina sudah cukup menjawab perkataan James. Karina menyiapkan semua keperluan untuk ayahnya sebelum memandikan. James diam saja.
Karina masuk kedalam kamar ayahnya "Mandi dulu yah" ujar Karina meletakkan peralatan mandinya. Hatinya miris melihat perubahan badan ayahnya yang berubah drastis menjadi lebih kurus. Kaki yang menopang tak lagi terlihat gagah. Perlahan Karina menyeka setiap bagian badan ayahnya dibawah pengawasan James.
Mereka semua membisu. Selesai mandi, Karina keluar berniat menyiapkan makan malam. James masih ada di kamar ayahnya. "James" panggil ayahnya pelan. James mengangkat alisnya tak peduli. "Maafkan ayah, bukan maksud ayah melakukan itu tapi ayah terpaksa" katanya sambil menundukkan kepalanya ke bawah menatap kakinya.
"Tak ada orang tua yang mau anaknya terjerumus masuk kedalam nista tapi kamu membuatku berpikir ulang tentang semuanya. Untung saja aku bukan darah dagingmu. Aku ingin menikahi Karina! jangan coba-coba menghalangi jalanku kalau kamu tak ingin dilempar ke panti jompo" ucapnya panjang lebar sebelum Karina muncul membawa sepiring makanan.
Suasana tidak nyaman dirasakan Karina saat masuk tapi ditahannya. Biarlah mereka berdua menyelesaikan apa yang diributkan tanpa harus ia tahu.
James terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya
Karina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan."Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya."Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya."Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan s
Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima."Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda kera
Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong."Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya."Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhat