Home / All / Desperated Love / 02. Sejauh mata memandang

Share

02. Sejauh mata memandang

Author: natalia sinta
last update publish date: 2020-08-28 17:29:45

Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima. 

"Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."

Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.

Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda keras masuk kedalam dirinya. 

"Cantik, milikmu sangat lezat, uhh...makan siang yang enak."

Karina merapikan pakaiannya begitu Abang James melepaskan semuanya kedalam dirinya. Tanpa rasa malu, Abang James memasukkan miliknya santai. Rokok dinyalakan, asap mengepul menerpa wajahnya.

"Bang, tidak kerja? ayah masih sakit?"

Abang James yang tak lain kakak kandungnya melengos kemudian bangkit berdiri, menepuk sekilas pantatnya untuk membersihkan dari kotoran yang menempel.

"Buang saja, pria tua itu! menyusahkan, bisanya cuma merengek-rengek saja."

"Bang!"

"Ingat baik-baik Karina, kalau sampai pria tua itu mati di tempat ini, kamu aku buang!"

Wajah Karina memucat, ini bukan pertama kalinya ia diperlakukan seperti sampah. Mereka berdua bukan saudara kandung, ayah hanya mengambil mereka saat di buang oleh orang tua kandungnya.

"Jangan bang, kasihan Karina, dimana nanti Karina tinggal?"

"Selama Otong puas, Karina boleh tinggal dan pria tua itu!"

Otong sebutan alat vital milik Abang James. Sejak Karina mendapatkan menstruasi pertama kali, Abang James lah yang mengambil keperawanan miliknya dan menjadikan ia budak seks sebagai nganti semua biaya hidup dirinya dan ayahnya. Karina mengangguk pasrah demi ayah yang sudah dianggapnya sebagai ayah kandung. 

"Sana lihat, aku pergi kerja dulu, nanti malam siap-siap temani Abang menjamu tamu."

Abang James meninggalkan Karina yang menyenderkan di dinding rumah susun. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat dari bawah. Seorang pria setengah tua memandangi dirinya. Karina ingin naik keatas, belum sempat bergerak, langkahnya ditahan. Pria setengah tua mendekati dirinya hingga tak ada jarak sama sekali diantara mereka berdua.

"Aku bisa membantu membayar pengobatan ayahmu, Karina."

"Eh, tidak perlu."

"Namamu benarkah Karina? pikirkan, kalau bersamanya, kamu hanya akan sia-sia."

"Ya aku Karina tapi aku tidak tertarik."

"Pikirkan lagi, ini nomor handphone milikku, setiap kali melayaniku, kamu akan mendapatkan uang yang cukup bahkan lebih."

Sebuah kartu nama menyelip diantara celana dalamnya, entah sejak kapan tangan pria setengah tua itu berada disana. Karina berdecak kesal, ia pikir nanti saja saat di kamar akan diambil kartu nama itu.

Pria setengah tua melanjutkan langkahnya naik keatas mendahului Karina yang kebingungan, senyum melihat buruannya sebentar lagi ada ditangan.

Karina menarik nafasnya sebelum ikut naik menuju kamarnya, kamarnya berada dekat pembatas rumah susun sebelahnya. Pintu dibukanya pelan, takut ayah akan terkejut. 

"Kok sudah pulang, Karina?"

"Iya ayah, ada rapat guru."

Ayah bangun dari tidurannya untuk duduk, cepat-cepat Karina membantunya. 

"Tidak usah bangun, ayah."

Tangan tua ayahnya menepuk tangan Karina sayang, pandangan sedih di perlihatkan membuat Karina tidak nyaman. 

"Apa abangmu menganggu lagi?"

"Tidak ayah, Karina tidak bertemu kok, ayah sudah makan?"

"Belum."

"Sebentar Karina ambilkan ya."

Karina berjalan ke ujung sudut ruangan yang terletak sebuah meja dan tersaji makanan yang tadi pagi dimasak olehnya.

Kamar kecil yang disewa oleh ayah di rumah susun ini, tak memiliki sekat. Oleh Abang James dibuatkan sekat-sekat sehingga menjadi rumah kecil yang nyaman. Abang James jugalah yang membayar uang sewa kamar di rumah susun ini. 

Ayah memperhatikan kondisi Karina, ia bukan orang bodoh sehingga menutup mata melihat Karina telah menyerahkan dirinya kepada Abang James demi kehidupan mereka berdua. air matanya menetes, dua anak yang dipungutnya dari tong sampah ternyata hanya Karina lah yang merawatnya di hari tua padahal di waktu muda, dirinya suka membedakan satu sama lainnya. Diusapnya pelan agar Karina tidak mengetahui kalau baru saja menangis.

Karina membawa piring kedepan ayahnya. Beberapa lauk sederhana tersaji sangat mengiurkan perut tuanya yang kelaparan, kalau tidak ada Karina, mungkin sampai malam, baru makan.

"Makanlah ayah, biar Karina suap ya."

"Tidak apa, ayah saja"

"Tangan ayah belum kuat, jangan dipaksa, kasihan"

Ayah menerima suapan yang diberi dengan hati sedih. Selesai makan, Karina menyibukkan diri dengan mengangkat jemuran yang terletak di belakang kamar. Walau kecil kamar ini, ada bagian belakang khusus untuk menjemur pakaian.

Mata Karina memperhatikan semua hal yang terjadi di bawah kamarnya. Setiap lantai dan kamar disediakan tempat untuk menjemur. Terkadang Karina tanpa sadar mentertawakan yang dilihatnya. Perasaan bersyukur tak henti diucapkan. 

Sejauh mata memandang memang tampak kesulitan dalam hidup tetapi Karina merasa di setiap kesulitan ini, masih ada syukur yang tak terlihat di terima olehnya. Walau kelihatannya dipersulit oleh Abang James tetapi Karina melihatnya itu semua sebagai bentuk kasih sayang yang diberikan dan ia masih berkali-kali mensyukuri hal ini.

Krek....

Suara pintu terbuka, Karina enggan beranjak dari berdirinya, malah semakin merapatkan ke pembatas tembok. Sebuah tangan melingkari pinggangnya, Karina tersentak.

"Bang, ayah..."

"Tidur."

"Katanya Abang kerja."

"Nanti malam saja, Otong kangen."

"Bang!"

"Diamlah kalau tidak ingin ayah dengar!"

Mau tak mau Karina terpaksa mengikuti keinginan Abang James yang memang memiliki nafsu sangat besar.

Sebenarnya Abang James memiliki banyak pekerjaan di kantor tapi ketika turun ia melihat pria setengah tua naik ke atas, ia mengikuti dan mendengar semua apa yang dikatakannya kepada Karina.

Terselip rasa cemburu melihat Karina diam saja, terlebih saat tahu kartu nama yang diselipkan di celana dalam Karina menambah daftar ketidaksukaan Abang James. 

Mereka tidak sedarah. Lambat laun muncul perasaan cinta dan ingin memilikinya, Abang James menandai Karina dengan segala tipu muslihat supaya tetap disampingnya. Abang James selalu terlihat kasar tapi semua dilakukan demi mendapatkan Karina didalam genggaman hatinya.

Karina lupa kartu nama tersebut, begitu sampai langsung mengurus ayahnya hingga tak sempat mengambilnya. Abang James menyeringai tangannya menemukan apa yang dicarinya.

Desahan dan erangan tertahan di mulut Karina diredam oleh bibir Abang James. Sementara ayah hanya dapat menangis di atas tempat tidurnya. Ia merasa gagal sebagai ayah yang tak dapat dilindungi putrinya. Semua ini adalah salahnya. 

Hentakan benda tumpul menguasai diri Karina hingga menghapus semua kewarasannya menjadi riak gelombang yang dasyat menghantamnya sekali lagi, Abang James tahu bagaimana membuat Karina tak berkutik dalam pelukannya.

"Kamu milikku selamanya." bisiknya membiarkan Karina tertidur di pelukannya. Dipindahkan Karina keatas ranjang milik Karina. Abang James ikut berbaring di sampingnya untuk larut dalam mimpi menjadi sepasang kekasih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Desperated Love   04. Kerja

    James terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya

  • Desperated Love   03. Drama

    Karina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan."Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya."Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya."Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan s

  • Desperated Love   02. Sejauh mata memandang

    Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima."Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda kera

  • Desperated Love   01. Pertemuan Pertama

    Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong."Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya."Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status