Mag-log inSejujurnya James ingin berteriak untuk memaki-maki tapi tak bisa. Hatinya menangis mengingat setiap kali hidup terasa tidak adil, dimana wanita yang selalu bersamanya mentertawakan semua yang telah James lakukan kini berbalik kepadaku dan terasa salah. Bibir terkunci rapat tapi mata berbicara banyak. "Tak adakah keinginan terdalam darimu untuk kembali kepadaku?"bisik James yang tertelan keriuhan orang-orang memesan makanan. Langit terdiam mendengar suara doa James dalam hati, angin malam menjadi teman bersama angin malam dan secangkir kopi. Inilah kisahku...
view moreJames terburu-buru masuk kedalam mobilnya, ia terlambat masuk kerja. Jam menunjukkan pukul 7 malam, dering ponselnya bergetar terus menerus. Mobilnya dikendarai dengan kecepatan tinggi, tangannya berkeringat menahan ketakutannya akan sebuah hukuman karena baru kali ini ia terlambat.Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. James memarkirkan di dalam garasi. Kakinya baru turun satu ketika mendengar suara sepatu high heels mendekat. "Kok baru pulang, kamu tahu ini jam berapa tuan Jameson huge!" teriaknya kencang. James tersenyum mendekat kearahnya kemudian memeluknya, "Kamu tahu bukan kalau ayah sakit, Karina membutuhkan bantuan ku sesekali, tak mungkin bukan aku biarkan adikku kesulitan" elaknya sambil memeluk wanita didepannya.Sanita menimbang-nimbang perkataan yang diucapkan oleh James tapi ia masih tidak tenang. Walau status mereka tak lebih dari sekedar majikan dan sekretaris. Namun, hatinya berbelok menjadi menginginkan sepenuhnya
Karina membuka matanya perlahan-lahan, badannya remuk. Tangan James melingkar di perutnya. Tempat favorit James yang selalu membuatnya candu, sebenarnya sudah sejak tadi bangun, hanya malas saja kehilangan momen kebersamaan."Bang...". Karina merasa jengah dengan sikap abangnya yang terkadang tidak tahu tempat dan aturan.James menarik badan Karina lebih dekat. Bibirnya menyentuh telinga Karina, ia enggan membuka mata, jarang-jarang Karina mengikuti keinginannya."Ada apa?" Tanyanya pelan mengendus leher Karina yang mulus. James bukan tak tahu keengganan Karina tapi ia tak mau kehilangan momen kebersamaan yang sering di tolak Karina tetapi anehnya kali ini berbeda.Karina berusaha melepaskan tapi bukannya dilepas malah semakin erat. James berusaha mati-matian mengikat Karina menjadi miliknya."Ini sudah malam, ayah perlu makan dan mandi". Karina merasa bersalah dengan ayahnya yang di diamkan s
Resah dan gelisah, itu yang dirasakan oleh Karina saat memasuki halaman rumah susun. Sejak ia lahir, rumah susun inilah rumahnya. Terdengar suara bising dan keributan di setiap anak tangga yang dilaluinya. Kamarnya berada di lantai paling atas alias lantai lima. Nafasnya terengah-engah saat diantara lantai empat dan lima."Aih, si cantik muncul, sini duduk dulu dengan Abang James."Tanpa menunggu persetujuan ataupun sautan dari Karina, tangannya ditarik untuk duduk dipangkuan Abang James. Karina lupa kalau di jam-jam seperti ini Abang James suka nongkrong dianak tangga antara lantai empat dan lima.Tangan Abang James sudah berada di dalam rok Karina, mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya, Karina berjuang mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau erangan karena Abang James akan bertambah senang dan tetangga bisa mendengar suaranya. Suara resleting ditarik kebawah terdengar oleh telinga Karina, matanya terpejam menikmati desakan benda kera
Derap langkah berlarian menyusuri lorong sekolah disertai teriakan semua binatang yang diketahui terdengar memecah keramaian yang perlahan mulai usai.Karina celingukan mencari celah untuk kabur melalui tembok sekolah yang rusak, wajahnya tegang. Ini kali pertamanya membolos di jam pelajaran.Kaki kanan naik ke atas diikuti kaki kiri kemudian loncat. Nafasnya memburu tapi ia tetap berlari menjauhi sekolah. Tepat di warung Pak Ujang, Karina berhenti lalu masuk dan duduk di bangku yang kosong."Bu, beli es teh satu"pinta Karina masih dalam nafas gos-gosan, hari ini panas banget, keringatnya sudah membasahi sebagian baju seragamnya."Baik non"ujar penjual warung membuatkan es teh yang dipinta Karina.Dilihatnya tempat duduk yang sedikit terhalang sehingga orang lewat tidak akan menyadari atau memergoki kalau dirinya membolos.Karina diam menunggu pesanannya, dihapusnya peluh yang membanjiri wajahnya. Tak jauh Karina duduk, Bosga memperhat





