Masuk"Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu.
"Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka.
"Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara.
"Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara.
"Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas.
"Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.
"Ayo kak, kita makan bersama," Ajak Nara pada Wina.
"Tidak Ra, sebaiknya kalian makan berdua saja. Lagipula kalian sudah lama tidak makan berdua kan?" Wina menolak dengan halus ajakan dari Nara dengan disertai senyuman kearah Nara.
"Wahh kau memang terbaik kak, pengertian sekali." Nara menghampiri Wina dan mencium pipinya sekilas.
"Jangan lakukan itu Nara." Wina mengusap pipinya bermaksud menghapus belas ciuman Nara. Nara yang melihatnya hanya terkekeh. Nara sudah biasa diperlakukan dingin oleh Wina.
"Ah iya kak jangan lupa hari ini pulang kerumah. Ada hal penting yang mengharuskan kita semua berkumpul." Kemudian setelah mengatakan itu Nara dan Dion pun meninggalkan ruangan.
Wina menghela nafas berat. Akhir-akhir ini dia memang sering sekali menghela nafas, terutama jika sudah berhubungan dengan Nara dan Dion. Dan hari ini, dia hampir saja ketahuan. Wina memejamkan matanya, dia sedang memikirkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia tidak pernah cemburu melihat kebersamaan Nara dengan Dion, hanya saja dia tidak suka dengan Nara. Melihat adik angkatnya itu tertawa bahagia membuatnya kesal, hingga dia ingin sekali merebut semua kebahagian Nara, dan salah satunya adalah Dion.
✿✿✿✿✿
Nara dan Dean sedang makan siang di salah satu cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor agensi milik Dion. Niat Nara datang kekantor Dion karena memang ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan kekasihnya itu.
"Kak, apa kau sibuk sekali? Akhir-akhir ini kau sangat sulit dihubungi," Ucap Nara ketus.
"Maaf sayang, ada banyak sekali pekerjaan. Dan itu membuatku sering melupakan handphone. " Dion tersenyum kearah Nara.
"Hari ini aku mulai pindah kerumahmu. Seharusnya, aku juga sudah mulai bekerja dikantor kakakmu, tapi aku minta waktu satu hari." Jelas Nara.
"Secepat ini? Mereka benar-benar membuatku kesal." Dion mulai menunjukkan raut muka tidak bersahabat.
Nara mengangguk. "Aku harap kau sering pulang kerumah kak. Aku bisa gila jika harus menghabiskan waktu di sana sendirian atau dengan kakakmu itu," Nara menggigit bibirnya. Jujur saja dia sebenarnya ingin menangis, tapi dia selalu menahannya dan tidak pernah menunjukkannya kepada siapapun kecuali Nanda, kakaknya.
Dion menggenggam tangan Nara. "Kakak akan berusaha untuk selalu pulang dan menemanimu. Tentang Dean, kau tidak perlu khawatir dengannya sayang. Dia baik jadi tidak akan mengganggu atau menyakitimu. Dia juga tidak tertarik dengan dengan ikatan apalagi pernikahan. Kau bahkan mungkin akan sering diabaikan olehnya, jadi jangan khawatirkan itu."
"Aku tidak ingin menikah dengan kakakmu."
"Aku juga tidak mau sayang. Bersabarlah, aku akan mencari cara agar pernikahan kalian batal." Dion mencium tangan Nara dan menggenggamnya erat. Apa yang Dion katakan tidak main-main, dia memang ingin sekali membatalkan perjodohan mereka. Meski dia brengsek, tapi satu-satunya orang yang dia cintai hanya Nara, setidaknya untuk saat ini. Karena kita tidak tahu bukan apa yang akan terjadi kedepannya.
Setelah selesai dengan makan dan perbincangan mereka, Dion kembali ke kantor dan Nara memilih untuk pulang sendiri. Namun sebelum memasuki taxi, Nara menyempatkan diri untuk melirik punggung Dion yang semakin menjauh.
"Aku tidak bodoh kak, hanya saja aku takut dengan kenyataan. Dan berharap, semoga kali ini aku salah."
✿✿✿✿✿
Seperti yang telah direncanakan, malam ini Dean menjemput Nara di rumahnya untuk pindah. Diruang keluarga Nara sudah ada semua anggota keluarga Siwon termasuk Wina. Nara sejak tadi hanya menempel di lengan ibunya, terlihat sekali kesedihan tengah menyelimuti wajah manisnya. Dean yang melihat itu merasa iba dan sedikit bersalah. Bagaimanapun semua kesedihan yang Nara rasakan karena perjodohan dengannya.
"Sayang, jangan begini. Jika kau terus seperti ini ibu akan menangisimu." Yona mengelus surai hitam anak bungsunya.
"Sebentar saja bu, nanti Nara pasti akan merindukan pelukan ibu" Nara semakin mengeratkan pelukannya kepada Yona.
"Kau masih bisa berkunjung kesini sayang, atau sesekali ibu yang akan pergi kesana. Tidak apa-apa kan nak Dean?" Tanya Yona dengan lembut.
"Tentu saja. Anda bisa berkunjung kapanpun." Jawab Dean dengan sopan.
"Anak ayamnya kakak kan sudah dewasa sekarang. Jadi jangan manja begini kasian ibu," Nanda ikut mengusap kepala adiknya.
"Kemarilah, biarkan ayah memelukmu juga," Siwon merentangkan tangannya dan membiarkan Nara masuk kedalam pelukannya.
"Dengarkan ayah sayang, ayah melakukan semua ini bukan karena ayah tidak sayang padamu. Ayah hanya mencoba memberikan yang terbaik untukmu. Dean adalah anak baik, ayah berharap kalian akan bahagia." Siwon mencium puncak kepala Nara.
"Dirumah ini, jika mau diukur kadar rasa sayang yang ayah miliki, maka untukmu lah yang paling besar. Jadi jangan berpikiran kalau kami membuangmu sayang," Kali ini Siwon menatap wajah putrinya dan mencium kening Nara dengan sayang.
"Berangkatlah, Dean sudah menunggu terlalu lama dan sekarang juga sudah cukup malam." Siwon melepaskan pelukannya, dan memberikan tangan Nara pada Dean.
"Aku titipkan dia padamu Dean. Tolong jaga dan lindungi dia. Dia mungkin manja dan merepotkan, tapi Nara anak baik." Setelahnya Siwon menghela nafas panjang.
"Ayah sudahlah ini bukan altar pernikahan." Nara cemberut karena Siwon berkata seolah-olah sedang mengantarkan dirinya dialtar pernikahan.
Dean tersenyum dan mengangguk menanggapi semua perkataan Siwon. Dan didalam hatinya, Dean juga berjanji akan menjaga dan melindungi Nara, dengan atau tidak bersamanya. Jika bukan sebagai istrinya maka sebagai adiknya juga tidak masalah.
Nara menghampiri Wina dan memeluknya erat. "Kucing betina ku yang garang aku titip ibu, ayah dan juga kakak ya. Tolong jaga mereka, dan sering-sering lah pulang supaya ibu tidak kesepian." Nara menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes kembali. "Baik-baik sama kak Nanda, meskipun dia menyebalkan tapi dia benar-benar bisa diandalkan."
Wina mengeratkan pelukannya. "Jangan khawatir, aku pasti akan menjaga mereka. " Wina mengelus punggung Nara.
"Baiklah, aku pamit semuanya. Jangan lupa untuk selalu mengangkat telepon dariku."
✿✿✿✿✿
Hening. Begitulah susana didalam mobil Dean. Nara sibuk dengan pikirannya, sementara Dean fokus dengan jalanan. Dean mengerti jika saat ini keadaan Nara sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu dia memilih membiarkan perempuan tenggelam dalam lamunannya.
Setelah satu jam perjalanan, Dean dan Nara akhirnya sampai dikediaman milik Daniel. Dean membantu Nara untuk membawa barang-barangnya kedalam rumah. Sesampainya didalam, mereka disambut oleh Daniel dan Zara. Nara melirik kesana kemari mencari keberadaan Dion namun nihil, sepertinya Dion tidak pulang kerumah. Nara mendesah kecewa, padahal Dion sebelumnya sudah berjanji. Dean yang peka terhadap perubahan ekspresi Nara hanya menatap Nara dan menarik koper dari tangan Nara.
"Aku akan mengantarmu kekamar." Dean menaiki tangga yang kemudian diikuti oleh Nara.
"Ini kamarmu, masuklah. Jika kau butuh sesuatu kau bisa panggil maid di rumah ini. Atau jika kau sungkan, kau bisa bilang padaku. Kamarku ada di samping kamarmu. Dan yang yang berhadapan dengan kamarmu adalah kamar adikku--
Dion Smith."
•
••- TBC -
With Love : Nhana
Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya."Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini."Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya."Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu."Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan d
"Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu."Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka."Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara."Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara."Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas."Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.
Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya."Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--Hah, kau seharusnya tidak serakah.""Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya."Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion ya
"Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya."Apa maksudnya Nanda?""Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius."Kenapa harus Wina?""Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah.""Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk
Nara berjalan dengan santai menuju ruangan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion. Dion juga belakangan ini sangat susah dihubungi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengunjungi kantor Dion tanpa sepengetahuannya untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.Pintu lift terbuka tepat berada di sebrang ruangan Dion. Namun langkah Nara tiba-tiba terhenti kala matanya menangkap sosok pemuda manis tengah berdiri tak jauh dari pintu."Felix, kak Felik?" Panggil Nara yang baru saja keluar dari lift."A-ah N-Nara," Mata Felix melotot tak percaya saat melihat Nara lah yang berjalan menghampirinya.Felix dengan segera memp
Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.Se