Masuk"Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya.
"Apa maksudnya Nanda?"
"Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius.
"Kenapa harus Wina?"
"Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah."
"Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk seumur hidup, oleh karena ini kau harus memilih orang yang akan membuatmu nyaman." Yona mengusap punggung tangan Nanda.
"Aku menyukai Wina,"
"Benarkah? Tapi dari yang ibu lihat kalian tidak terlalu dekat bahkan terkesan sangat berjarak." Terang Yona.
"Aku tahu, aku menyukainya hanya saja aku sedikit canggung untuk mendekatinya secara langsung. Ibu tahu sendiri bagaimana karakter Wina, dia sangat tertutup."
"Ibu tidak keberatan dengan siapapun itu, hanya saja sebaiknya kau bicara dengan ayah mu."
"Aku akan bicara dengan ayah setelah Wina setuju." Nanda tersenyum dan memeluk ibunya.
"Ibu harap kalian semua bahagia."
✿✿✿✿✿
Dion menatap Dean yang kini duduk berhadapan dengannya. Sejak tadi dia hanya menghela nafas panjang. Dion masih ragu dengan apa yang akan dia katakan pada kakaknya itu.
"Jadi, siapa yang tuan Smith pilih untuk dia jodohkan denganku?" Tanya Dean to the point, dia tahu maksud kedatangan Dion pasti untuk menyampaikan titah ayahnya.
"Anak kedua dari tuan Siwon."
Dean menghela nafas lagi. "Selera tuan Smith memang tidak mengecewakan," Dean tersenyum miring.
"Kau mengenal mereka?" Tanya Dion sedikit kaget.
"Hanya mengenal tuan Siwon dan putra pertamanya saja," Dean kembali membaca dokumennya. "Jadi siapa?"
"Nara, Nara Andini." Jawab Dion dengan penuh penekanan.
"Namanya terdengar tidak asing,"
"Tentu saja. Karena dia kekasihku. Orang yang sering aku ceritakan padamu." Dion menggeram kesal.
"Kalau begitu batalkan saja." Jawab Dean asal dengan pandangan yang masih sibuk pada dokumen-dokumennya.
"Nara sudah menerimanya."
Dean mengernyitkan dahinya. "Jangan bilang jika dia salah mengira?" Tebak Dean.
"Aku tidak tahu. Bisa saja begitu."
"Kau tidak bilang pada ayah? Setidaknya mumpung masih ada waktu." Saran Dean.
"Aku tidak mau tulang ku patah karena dipukul tongkat baseball." Dion memejamkan matanya.
"Setidaknya kau harus mencoba. Jika kau memang ingin mempertahankan dia," Dean menatap adiknya serius. "Kau yakin tidak masalah jika dia denganku?"
"Kau gila, tentu saja aku tidak rela. Tapi untuk sekarang aku akan mengikuti dulu permainan tuan Daniel Smith." Dion meneguk air yang ada didepannya dengan kasar.
"Berhati-hatilah. Aku tidak bisa menjamin kalau dia tidak akan jatuh cinta padaku." Dean menyeringai.
"Dalam mimpimu!"
✿✿✿✿✿
"Ayah, Nara mohon kali ini saja," Nara menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.
"Kau terlambat. Malam ini kita akan bertemu keluarga mereka." Jawab Siwon dingin.
"Seharusnya ayah bilang padaku jika dia Dean Smith. " Nara merengut.
"Memangnya kenapa dengan Dean Smith? Apa kau mengenalnya sayang?" Kali ini Yona ikut berbicara.
Nara menggeleng pelan. "Aku tidak kenal,"
"Lalu?" Yona kembali bertanya.
"Tidak ada jalan untukmu kembali Nara Andini." Jawab Siwon tegas.
"Ayah menyebalkan," Nara segera berdiri untuk menuju kamarnya.
"Jangan lupa bersiap. Satu jam lagi kita akan berangkat."
"Ada apa dengan Dean Smith?" Tanya Yona.
"Tidak ada apa-apa, Nara hanya belum mengenalnya. Percaya saja, Dean tidak akan mengecewakan." Ucap Siwon untuk menjawab kekhawatiran istrinya.
✿✿✿✿✿
Tepat pukul 7 malam keluarga Nara sampai dikediaman keluarga Daniel Smith. Siwon, Yona, Nanda dan juga Nara menggunakan pakaian senada yang semi formal. Meskipun ini acara keluarga, namun pembicaraan mereka sudah pasti tidak akan jauh dari pekerjaan.
Keluarga Smith menyambut kedatangan keluarga Siwon dengan ramah. Daniel dan istrinya Zara mempersilahkan keluarga Siwon untuk masuk.
Keadaan rumah mewah dan megah itu cukup sepi. Tidak terlalu banyak maid yang mereka pekerjakan dan juga tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di rumah ini. Nata sejak tadi sudah gelisah, dia takut kalau akan bertemu dengan Dion disini dan semuanya menjadi kacau. Nanda yang menyadari gerak-gerik Nara, kini menggenggam tangan adiknya itu. Dia tahu kalau Nara pasti sedang gugup.
"Selamat datang tuan Siwon, maaf sambutan dari kami cukup sederhana." Ucap Daniel basa-basi.
"Tidak perlu formal seperti itu Daniel, kita tidak sedang berada di kantor," Kekeh Siwon.
"Mari kita duduk di ruang keluarga saja, sambil menunggu Dean. Kebetulan dia dalam perjalanan." Zara mengajak suami dan tamunya ke tempat yang lebih nyaman untuk berbincang.
Setelah mereka semua duduk, suasana pun menjadi sedikit hening. Belum ada yang memulai obrolan. Mereka masih sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Yona memulai pembicaraan.
"Sepertinya kami belum memperkenalkan diri." Ujarnya sopan.
"Ah benar juga, kita semua belum saling mengenal kecuali suamiku dan tuan Siwon." Jawab Zara sambil tersenyum ramah.
"Aku Yona istri dari Siwon. Ini putra sulung ku Nanda," Yona menunjuk Nanda yang duduk diujung sofa. "Dan ini putri bungsuku Nara." Yona menggenggam tangan Nara dan tersenyum kearahnya. Sementara Nanda dan Nara tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala kearah Zara dan Daniel.
"Nanda sangat tampan." Puji Zara. "Dan Nara, ya ampun kamu manis sekali sayang." Zara terlihat senang saat melihat Nara.
"Kau benar sayang, sepertinya Nara memang akan cocok untuk Dean." Daniel tersenyum tipis kearah Nara membuat gadis itu sedikit gugup.
Setelah acara perkenalan singkat mereka, obrolan pun terus berlangsung. Terlihat Nara yang mulai sedikit nyaman karena ternyata Zara menerimanya dengan baik. Sementara Daniel, Siwon dan Nanda sudah pasti sibuk membicarakan pekerjaan. Saking asiknya mereka dengan kegiatan masing-masing, tanpa menyadari kalau Dean sudah pulang.
"Aku pulang," Suara datar dan tegas yang membuat semua orang terkejut terutama Nara.
"Duduklah." Titah Daniel dengan tegas.
"Kemarilah nak," Zara menepuk tempat kosong disampingnya. Dean mengangguk dan berjalan menuju tempat duduknya.
Nara sejak tadi sudah menundukan kepalanya. Dia belum siap untuk melihat siapa calon suaminya itu. Dean yang baru saja duduk menyadari keberadaan Nara yang berada tepat di depannya. Namun dia belum bisa melihat wajahnya.
"Lama tidak bertemu Nanda," Sapa Dean dengan nada datar seperti biasanya.
"Aku baik. Lama tidak melihatmu, tapi kau tidak berubah banyak." Nanda tersenyum miring. Sementara Dean hanya bersikap acuh.
"Baiklah, karena Dean sudah disini sebaiknya kita mulai secara resmi saja tujuan dari pertemuan ini." Daniel membuka suara.
Nara yang mendengar perkataan Daniel segera mengangkat kepalanya. Namun tatapannya langsung tertuju pada Dean. Dalam sepersekian detik tatapan keduanya terkunci. Baik Nara maupun Dean sama-sama terkejut.
"Tuan jidat." Nara
"Dimple." Dean
"Ini anak pertama saya Dean Smith. Dan Dean ini keluarga tuan Siwon, dan perempuan yang didepan kamu itu adalah Nara Andini, calon istrimu. Ah lebih tepatnya mulai malam ini Nara adalah tunangan kamu." Ucap Daniel panjang lebar yang membuat Nara mengepalkan tangannya dan menggertak kan giginya. Sementara Dean hanya menghela nafas berat.
Daniel tidak main-main dengan ucapannya yang barusan, dia bahkan sudah menyediakan cincin pertunangan untuk mereka dan tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun.
"Pakaikan pada calon istrimu," Daniel menyodorkan cincin tersebut kearah putranya.
"S-secepat itu?" Tanya Nara pelan dengan ekspresi yang sangat kaget.
"Lebih cepat lebih baik," Kali ini Siwon yang menjawab.
"Tapi ayah-- " Nanda mulai bersuara.
"Bukan saatnya untuk menyuarakan pendapat Nanda!" Siwon berkata dengan tegas.
Yona menggenggam erat tangan putrinya dan tersenyum sembari mengangguk kearahnya. Berharap bisa memberi kekuatan dan keyakinan pada Nara.
Nara menyodorkan tangannya kearah Dean dan Dean segera memasukan cincin tersebut ke jarinya Nara. "Aku sudah memberimu kesempatan terakhir Dion, tapi kau memilih untuk tidak datang." Batin Dean.
Kini sebaliknya Nara yang memasangkan cincin ke jarinya Dean.
"Kalian sudah resmi bertunangan. Dan mulai besok, Nara akan tinggal disini. Dia juga akan bekerja sebagai sekretaris nya Dean." Ucap Daniel.
Nara, Nanda dan Dean membelalakan matanya karena terkejut. Sementara Siwon, Yona, dan Zara bersikap biasa saja karena mereka sudah mengetahui perihal ini.
"Ini gila, aku bahkan harus tinggal serumah dengan calon suami dan pacarku!" Batin Nara.
"Aku bahkan belum memulai, tapi sepertinya semua akan berjalan sangat rumit," Batin Dean
"Aku belum rela menyerahkan Nara kepada seorang Dean Smith." Batin Nanda.
✿✿✿✿✿
Setelah acara pertunangan dadakan dan juga paksaan tersebut, Dean kembali ke kamarnya. Dia pamit untuk membersihkan diri dan juga sebenarnya untuk menetralkan perasaan.
Dean menatap datar pantulan dirinya dicermin yang hanya mengenakan kaos polos dan juga celana panjang. Berkali-kali dia menghela nafas berat, berharap perasaannya menjadi lebih nyaman. Dean tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih. Di satu sisi dia bahagia karena tunangannya adalah orang yang sempat dia pikirkan, namun disisi lain, kenyataan tunangannya yang merupakan kekasih dari sang adik membuat dia mengerang frustasi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang," Gumam Dean pelan. "Jika aku membatalkannya, ayah mungkin akan sangat marah. Namun jika aku tetap melanjutkannya, akan ada lebih banyak perasaan yang terluka." Deab mengacak rambutnya yang masih belum kering sepenuhnya.
"Haruskah aku meminta ayah untuk menggantinya dengan Dion? Ayah mungkin akan sedikit mendengarku, hanya saja kenapa aku merasa sedikit tidak rela." Dean masih bermonolog dengan dirinya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Dean dari kegiatannya. "Siapa?" Tanya Dean dari dalam.
"Ini aku, Nara. Nara Andini," Jawab Nara dari luar pintu. "Boleh aku masuk?"
"Masuklah," Dean membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Nara masuk.
Dengan perlahan Nara memasuki kamar Dean. Matanya menatap seluruh penjuru kamar Dean, memperhatikan semua yang ada di kamar tersebut. Sebuah senyuman terukir dengan tipis diwajahnya kala menyadari betapa nyaman dan menenangkannya suasana kamar pria itu.
"Ada apa?" Tanya Dean sekaligus menyadarkan Nara dari kegiatan mengaguminya.
"Ah itu, aku di suruh memanggil mu untuk makan malam." Jawab Nara hati-hati.
Dean mengernyitkan alisnya. "Hanya itu?"
Nara mengangguk. "Untuk sekarang, hanya itu. Tapi lain kali kita harus berbicara." Jawab Nara dengan senyum yang jelas sekali dipaksakan. "Ayo kak, kita kebawah. Mereka sudah menunggu."
"Hn." Dean menjawab dengan singkat.
Sebelum Nara benar-benar keluar dari kamar Dean, Dean kembali memanggilnya.
"Nara," Nara yang merasa dipanggil kembali membalikan badannya untuk melihat Dean.
"Kenapa kak?"
"Lain kali jangan datang dengan topeng." Kemudian Dean pergi melewati Nara yang masih terdiam ditempatnya.
•
••- TBC -
With Love : Nhana
Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya."Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini."Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya."Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu."Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan d
"Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu."Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka."Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara."Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara."Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas."Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.
Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya."Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--Hah, kau seharusnya tidak serakah.""Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya."Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion ya
"Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya."Apa maksudnya Nanda?""Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius."Kenapa harus Wina?""Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah.""Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk
Nara berjalan dengan santai menuju ruangan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion. Dion juga belakangan ini sangat susah dihubungi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengunjungi kantor Dion tanpa sepengetahuannya untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.Pintu lift terbuka tepat berada di sebrang ruangan Dion. Namun langkah Nara tiba-tiba terhenti kala matanya menangkap sosok pemuda manis tengah berdiri tak jauh dari pintu."Felix, kak Felik?" Panggil Nara yang baru saja keluar dari lift."A-ah N-Nara," Mata Felix melotot tak percaya saat melihat Nara lah yang berjalan menghampirinya.Felix dengan segera memp
Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.Se