Beranda / Semua / HIDE AND SEEK (INDONESIA) / Chapter 11 : Perempuan itu--

Share

Chapter 11 : Perempuan itu--

Penulis: Nhana
last update Tanggal publikasi: 2020-11-17 12:13:51

Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.

Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya.

"Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini.

"Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya.

"Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu.

"Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan dahinya. Wina sudah menduga pasti ada yang serius, mengingat Nanda yang hampir tidak pernah mengajaknya bicara secara pribadi dan hanya berdua.

"Sepertinya, ada sesuatu yang serius." Wina mencoba menebak-nebak apa yang akan dikatakan kakak tirinya itu.

Nanda menganggukan kepalanya. "Benar," Dia masih menatap Wina dengan tatapan yang sama. "Apa kau punya pacar?" Nanda bertanya dengan hati-hati sambil menyiapkan hati juga.

Wina terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Eh? Kenapa kakak bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Wooseok malah bertanya balik.

"Hanya ingin tahu," Jawab Nanda singkat.

"Aku tidak punya pacar,"

Nanda menghembuskan nafas lega. "Baguslah,"

"Ada apa sebenarnya kak, tidak mungkin kau mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan itu saja." Tanya Wina penuh selidik.

"Wina. Ayo kita menikah." Ucap Nanda pada akhirnya.

"APA?" Wina terkejut tentu saja, bahkan dia hampir saja berdiri dan menggebrak meja, saking terkejutnya. Namun lagi-lagi Wina sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.

"Aku serius, aku sudah membicarakan ini dengan ibu."

"Tapi kak, bagaimana bisa? Maksudnya, kenapa aku?" Tanya Wina yang masih terkejut dan tidak percaya.

"Karena aku menyukaimu." Nanda memalingkan wajahnya dari Wina. Ini pengakuan pertamanya. Sebelumnya Nanda tidak pernah menyatakan perasaan kepada siapapun kecuali anggota keluarganya.

Wina masih terdiam ditempatnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, bagaimanapun ini sangat tiba-tiba dan hal ini tidak pernah ada dalam bayangan hidupnya sama sekali. Iya Wina tidak pernah membayangkan hal seperti ini.

Nanda kembali menatap Wina. "Tidak perlu dijawab sekarang. Aku tahu ini sangat tiba-tiba dan kau pasti butuh waktu. Tolong pikirkan baik-baik." Nanda tersenyum dan menggenggam tangan Wina untuk membuatnya lebih nyaman.

Wina juga membalas senyuman Nanda. "Akan aku pikirkan kak," Setelah itu percakapan diantara mereka pun selesai. Nanda dan Wina hanya menikmati makan siang mereka.

"Bukankah ini bagus untukku? Dengan begitu aku bisa mengambil semua hal dari Nara." Wina tersenyum miring yang sayangnya tidak disadari oleh Nanda.

✿✿✿✿✿

Nara menghela nafas berkali-kali, sejak selsai makan siang dia hanya duduk diam di mejanya. Sementara Dean yang merasa sedikit terganggu karena desahan nafas Nara hanya melirik tunangannya itu melalui ekor matanya.

"Ah aku benar-benar akan gila," Erangnya frustasi.

"Ada apa?" Tanya Dean.

"Aku bosan. Sebaiknya kau berikan aku pekerjaan, aku tidak disini untuk duduk manis saja kan?" Sindir Nara kepada Dean. Iya mulai hari ini Nara sudah bekerja dikantor Dean dan mereka berada dalam satu ruangan.

"Tidak ada pekerjaan untuk hari ini, Sena sudah menyelesaikan semuanya." Jawab Dean tanpa mengalihkan perhatiannya kepada Nara.

"Kalau begitu biarkan aku pergi,"

"Kemana?" Kali ini Dean memutar tubuhnya kearah Nara.

"Bertemu temanku." Jawab Nara santai.

"Tidak. Kau harus pulang dan pergi bersamaku. Jika tidak ayah akan memerahiku,"

"Aku akan kembali sebelum jam pulang kantor," Nara terlihat memohon. "Dengan begitu kita bisa tetap pulang bersama." Nara kemudian menegakkan badannya. "Aku janji kak,"

"Sebaiknya kau buatkan aku kopi." Titah Dean  yang kembali mengerjakan pekerjaannya menganalisis.

"Kau menyebalkan. Setidaknya jangan beri aku harapan jika tidak akan mengijinkan aku pergi." Ketus Nara yang kemudian langsung pergi dari ruangan Dean.

"Aku lebih suka sikapmu yang barusan. Ketimbang sikap pura-pura baikmu." Gumam Dean sambil menatap kepergian Nara.

Nara membuatkan kopi untuk Dean. Dia tidak keberatan dengan itu, karena dia sudah terbiasa seperti ini. Jika dia bekerja bersama Nanda pun dia selalu melakukan hal yang sama. Hanya saja kakaknya akan memintanya dengan halus disertai senyuman diwajahnya bukan dingin dan menyebalkan seperti Dean.

"Tuan jidat sialan, menyebalkan, dasar anak orang. Jika bukan karena ayah aku benar-benar sudah memakinya." Tolong ingatkan Nara kalau saat ini dia sedang memaki Dean di kantornya dan ditatap oleh beberapa orang karyawan Dean.

"Ada apa kak, sepertinya kau sedang kesal sekali," Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Nara.

"Astaga kau membuatku terkejut," Nara memegang dadanya.

"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja." Perempuan tersebut menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia juga tersenyum dengan canggung. "Ah iya perkenalkan, aku Rosa." Perempuan yang bernama Rosa itu menjulurkan tangannya kepada Nara.

"Nara," Jawab Nara singkat. Nara memang selalu begitu, cuek dengan orang yang baru dikenalnya.

"Aku tahu. Tunangannya kak Dean kan?" Tebak Rosa dengan dengan benar. Sementara Nara hanya tersenyum miris.

"Melihatmu memanggilnya kakak, sepertinya kau bukan pegawai biasa."

"Hahha, aku hanya pegawai biasa. Cuma masih ada ikatan saudara dengan keluarga Smith. Lagipula di kantor ini hampir semua karyawan memanggil kak Dean dengan santai." Jawab Rosa masih dengan senyumannya

"Kenapa? Ini kan kantor seharusnya mereka bersikap formal. "

"Harusnya sih begitu, tapi kak Dean memang memperlakukan pegawainya seperti teman makanya kami semua nyaman."

Nara mengernyit, karena Dean yang dia kenal justru sebaliknya, menyebalkan.

"Baiklah Rosa aku harus kembali sekarang," Nara mengangkat cangkir kopinya membuat Rosa mengerti maksud dari lawan bicaranya itu.

Nara meninggalkan Rosa dan kembali keruangan Dean.

✿✿✿✿✿

Setelah mengantar Nara pulang, Dean kembali meninggalkan rumahnya dengan terburu-buru, membuat Nara yang melihatnya sedikit mengernyitkan kening. Tapi seperti biasa, dia memilih tidak peduli.

Dean melajukan mobilnya menuju sebuah apartement mewah. Setelah memarkirkan mobilnya dia bergegas menuju lift yang membawanya kedepan sebuah pintu apartemen bernomor 101.

Setelah menekan pasword pintu tersebut terbuka dan Dean pun segera masuk. Setelah beberapa langkah menuju dapur, sebuah senyuman nampak diwajahnya. Dean menghampiri seseorang yang tengah sibuk dengan acara memasaknya, kemudian dia melingkarkan kedua tangannya dipinggang orang tersebut.

"Sedang memasak apa?" Tanya Dean yang kini meletakan dagunya dibahu wanita yang tengah memasak tersebut.

"Hanya membuat sup," Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari sup tersebut. "Kau datang tanpa mengabariku, dan langsung nyelonong masuk begitu saja. Tidak punya sopan santun sekali."

"Haha, maafkan aku. Aku hanya rindu." Dean semakin mengeratkan pelukannya.

"Jangan seperti ini. Jika tunanganmu tahu, dia mungkin akan marah." Wanita tersebut terkekeh.

"Ayolah dia bahkan tidak menyukaiku," Dean berkata dengan nada yang cukup sedih.

"Kasian sekali. Tidak perlu khawatir kau masih punya aku." Wanita tersebut mengelus pipi Dean dengan penuh kasih sayang.

"Tentu. Your my world." Dean mengecup pipi wanita tersebut, lalu melepaskan pelukannya. "Ayo cepat selesaikan masaknya, aku lapar." Setelah itu Dean duduk di meja makan.

"Kau ini selalu saja begitu, datang kesini hanya untuk minta makan." Sekali lagi wanita itu terkekeh.

Setelah menyelesaikan masakannya, Dean dan wanita pemilik apartemen ini makan bersama. Seperti biasanya, Dean selalu makan dengan lahap. "Pelan-pelan Dean, kau ini seperti anak kecil saja." Wanita tersebut mengusap makanan yang berantakan disekitar bibir Dean dengan tisu.

"Hanya didepanmu saja aku seperti ini." Dengus Dean. Sementara pria dihadapannya hanya tersenyum manis.

"Aku akan segera menikah," Ucap Dean tiba-tiba.

Wanita dihadapannya menghentikan aktivitas makannya. "Secepat itu?" Tanyanya dengan tatapan sendu.

Dean mengangguk. "Iya. Ayah sepertinya sudah mengatur segalanya, dan aku tidak bisa berbuat apapun."

"Lalu bagaimana dengan tunanganmu? Apa dia tidak keberatan?" Tanya wanita itu dengan hati-hati.

"Dia pasti keberatan. Dia bahkan punya kekasih, hmm." Dean tersenyum miring. Wanita dihadapannya mengelus tangan Dean dengan lembut. "Apa kau menyukainya?" Tanyanya.

"Siapa?" Tanya Dean tak mengerti.

"Bodoh. Tentu saja tunanganmu," Jawab wanita itu kesal. Hanya dia wanita yang bisa mengatai Dean bodoh tanpa protes dari Dean.

"Aku hanya menyukaimu," Dean tersenyum kearah wanita tersebut.

"Aku tahu. Tapi--

"Tidak ada tapi-tapian. Selama kau bersedia disampingku, aku tidak peduli dengan yang lainnya." Dean memotong perkataan pria tersebut dan menggenggam tangannya dengan lembut.

"Berdebat denganmu memang tidak ada gunanya." Wanita tersebut mendengus pelan dan segera merapihkan bekas makan malam mereka.

"Dean kau akan menginap atau pulang?" Tanyanya yang mencuci piring.

"Aku akan pulang. Ayah melarangku tidur diluar sampai aku menikah." Dean terkekeh.

"Kalau begitu, kau tidak akan pernah menginap disini lagi? Wahh aku terluka." Wanita tadi memasang wajah kecewanya dan ada air mata yang jatuh disudut matanya.

Dean yang melihat itu langsung berdiri dan membawa wanita tersebut kedalam pelukannya. "Jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu. Pada saatnya nanti aku akan mengenalkannya padamu," Dean tersenyum.

Wanita di dalam dekapannya mengangguk dan menghapus air matanya. "Kau harus mengenalkannya padaku."

"Aku berjanji."

- TBC -

With Love : Nhana

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 11 : Perempuan itu--

    Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya."Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini."Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya."Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu."Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan d

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 10 : Pindah Rumah

    "Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu."Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka."Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara."Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara."Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas."Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 9 : Pertimbangan

    Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya."Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--Hah, kau seharusnya tidak serakah.""Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya."Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion ya

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 8 : Pertunangan

    "Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya."Apa maksudnya Nanda?""Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius."Kenapa harus Wina?""Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah.""Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 7 : Kesalahan

    Nara berjalan dengan santai menuju ruangan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion. Dion juga belakangan ini sangat susah dihubungi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengunjungi kantor Dion tanpa sepengetahuannya untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.Pintu lift terbuka tepat berada di sebrang ruangan Dion. Namun langkah Nara tiba-tiba terhenti kala matanya menangkap sosok pemuda manis tengah berdiri tak jauh dari pintu."Felix, kak Felik?" Panggil Nara yang baru saja keluar dari lift."A-ah N-Nara," Mata Felix melotot tak percaya saat melihat Nara lah yang berjalan menghampirinya.Felix dengan segera memp

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 6 : Awal Mula Prahara

    Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status