Beranda / Semua / HIDE AND SEEK (INDONESIA) / Chapter 6 : Awal Mula Prahara

Share

Chapter 6 : Awal Mula Prahara

Penulis: Nhana
last update Tanggal publikasi: 2020-11-15 18:18:22

Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.

Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.

Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.

Setiap kali teringat dan memikirkan tentang itu, Dean selalu mendecih kesal. Dia tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu, Harry yang begitu terang-terangan tentang hubungannya, dan Sena yang sok kuat dengan merelakan suaminya bersama orang lain. Padahal Dean tahu dengan benar baik Harry maupun Sean mereka saling menyukai.

Sebuah bola tiba-tiba saja melayang dari kejauhan dan menghantam kepala Dean dengan tidak indahnya. Membuat lamunan pemuda berumur 27 tahun tersebut berhamburan dan digantikan dengan aduh-an karena nyatanya benturan tersebut cukup keras.

"Astaga kak, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Seorang anak remaja yang diduga pelaku dari kejadian tersebut meminta maaf kepada Dean.

Dean mengambil bola tersebut dan memberikannya pada anak itu. "Berhati-hatilah disini tempat umum, jika bola tadi mengenai anak-anak atau orang tua itu bisa berbahaya."

"Iya kak, sekali lagi aku minta maaf." Anak itu sedikit membungkuk hormat pada Dean. Sementara Dean hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

"Woody apa yang kau lakukan disini?" Tiba-tiba suara seseorang menginterupsi kegiatan mereka.

Merasa namanya dipanggil, anak itu menengok kearah sumber suara begitupun dengan Dean, dia ikut melihat siapa yang berbicara.

"Ah kak Nara, Woody sedang meminta maaf pada kakak ini." Woody menunjuk kearah Dean.

"Kenapa? Apa kau berbuat salah? Atau pria ini yang mengganggumu lebih dulu? Katakan pada kakak," Nara memutar tubuh Woody agar menghadap kearahnya. Sedangkan Dean hanya menghela nafas panjang.

"Tidak kak. Woody yang salah," Woody menggeleng pelan. "Tadi Woody menendang bola terlalu keras dan mengenai kepala kakak ini." Setelah mengatakan kalimat itu Woody menggigit bibirnya karena gugup takut dimarahi.

Nara memicingkan matanya. Menatap Woody dengan lekat guna mencari tahu apakah anak dihadapannya ini berbohong atau tidak.

Melihat interaksi Nara dan Woody tiba-tiba saja Dean ikut membuka suara. "Jika kau tidak mempercayainya, sebaiknya lihat saja dahiku. Kurasa akan membekas, karena benturan nya cukup keras." Dean menunjuk dahinya.

Nara mengamati wajah Dean dengan lekat, dilihatnya dahi pria itu memang merah dan sedikit benjol. Saking asiknya mengamati wajah Dean yang menurut Nara cukup tampan ralat sangat tampan, tatapan Nara dan Dean pun akhirnya bertemu. Keduanya menatap dengan intens mencari sesuatu makna dibalik tatapan satu sama lain. Merasa tatapan Dean semakin tajam, Nara segera mengalihkan pandangannya dan menghindari kontak mata dengan pria itu.

"Sial dia sangat tampan." Umpat Nara dalam hatinya.

"Dahimu benjol. Aku akan mengobatinya." Nara segera mendudukkan dirinya di samping Dean.

"Woody, kau sudah minta maafkan?" Woody mengangguk. "Kalau begitu, pergilah ke bibi dan ajak anak-anak yang lain untuk segera makan."

"Baik kak. Kakak tidak akan ikut?" Tanya Woody sebelum pergi.

"Kakak akan menyusul." Jawab Nara sambil tersenyum manis. Membuat Dean betah memandangi nya.

"Kemarilah, lebih dekat." Panggil Nara pada Dean dengan menepuk tempat kosong di sampingnya.

"Kita sudah duduk satu kursi. Kenapa juga harus lebih dekat." Jawab Dean cuek.

"Aku sudah bilang akan mengobatimu. Jadi cepat kemari biar lebih cepat selesai dan aku bisa pergi dari sini." Nara berbicara dengan ketus dan membuat Dean mengernyitkan dahinya.

"Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak akan menuntutmu."

"Aku melakukannya bukan karena peduli. Aku hanya tidak ingin adikku merasa bersalah padamu." Nara mengambil obat ditasnya dan segera berdiri menghadap Dean.

Posisi mereka sekarang berhadapan dengan Nara yang berdiri diantara kedua kaki Dean yang sedang duduk. Nara mengobati dahi Dean yang benjol dan sedikit terluka itu, beruntung dia selalu membawa kotak P3K kemanapun. Alasannya karena dia selalu pergi dengan anak-anak. Dan anak-anak rentang sekali terluka saat sedang bermain.

Dean menatap Nara dari bawah. Ditatap nya wajah manis itu dengan begitu lekat. "Pantas saja aku seperti mengenalmu." Ucapnya dalam hati.

"Baiklah sudah selesai. Aku akan pergi sekarang." Nara segera kembali kesamping Dean dan membereskan barang-barangnya.

"Terima kasih." Ucap Dean dengan tulus tidak lupa dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Nara yang melihatnya seketika tertegun. Senyuman Dean berbahaya untuk jantungnya.

"Tidak masalah, lagipula itu karena Woody."  Jawab Nara masih dengan acuh, padahal jantungnya sejak tadi sudah berdetak kencang.

"Nara, kau sudah selesai?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.

"A-ah bibi. Iya bi aku sudah selesai." Nara menghampiri Dean yang berada tidak jauh dari mereka berdua.

"Kalau begitu ayo kita pergi. Anak-anak tidak mau makan tanpamu." Sarah menggenggam tangan Nara.

"Baiklah bibi. Ah iya, saya permisi dulu tuan, semoga cepat sembuh." Pamit Nara kepada Dean. Sarah yang berada di samping Nara juga ikut pamit dengan menganggukan kepala dan tersenyum kearah Dean. Sementara Dean hanya membalas dengan anggukan kepala.

"Aku menemukanmu dimple."

✿✿✿✿✿

"Astaga Dion, ini apa lagi hah?" Wina yang baru saja memasuki ruangan Dion dibuat terkejut karena seisi ruangan yang sangat berantakan. Semua benda yang semula berada di atas meja kerja Dion kini berpindah kelantai dengan tidak beraturan, hancur dan berserakan.

Dion masih diam dikursinya, tatapannya kosong dan raut wajahnya merah penuh amarah. Dia juga tidak mengindahkan ucapan Wina sama sekali.

"Hanya ada 2 alasan yang bisa membuatmu sekacau ini. Yang pertama keluarga, dan yang kedua Nara." Tebak Wina dengan yakin.

Dion menatap Wina dengan tajam. "Dan kali ini keduanya. Kau selalu menebaknya dengan benar sialan!" Dion mendesis pelan.

Wina yang sudah terbiasa menghadapi sifat buas Dion yang kasar hanya mendesah pelan. "Kali ini kenapa lagi?"

Dion melemparkan foto keluarganya kearah pintu dan membuat figura yang tidak bersalah itu pun hancur tidak berbentuk lagi.

"Berhenti melempar barang-barangmu brengsek. Kau akan membuat semua orang dikantor mendatangi ruangan ini." Wina menampar wajah tampan milik atasannya dengan berani.

"Sialan kau berani sekali." Dion bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Wina dengan penuh amarah. Belum sempat dia melayangkan sebuah pukulan kearah perempuan itu, dengan tiba-tiba Wina menyambar bibir Dion membuat Dion dengan refleks menurunkan tangannya.

Wina mencium Dion dengan kasar dan tergesa-gesa. Dilumatnya bibir Dion yang sejak tadi hanya diam saja. Tidak ada penolakan namun juga tidak ada pergerakan yang berarti. Tidak mau menyerah, Wina menekan tengkuk Dion untuk memperdalam ciuman mereka. Dan dengan tiba-tiba Dion meraih pinggangnya untuk semakin menempel dengannya. Diangkatnya tubuh kurus dan mungil itu kedalam pangkuannya, Wina dengan refleks melingkarkan kedua kakinya dipinggang Dion. Ciuman mereka pun semakin memanas. Kali ini Dion bahkan sudah mendominasi dengan berutal.

Entah sejak kapan mereka pindah ke sofa, kali ini Wina sudah duduk dipangkuan Dion dengan baju yang sudah berantakan. Kedua kancing kemeja bagian atas tubuh Wina sudah terlepas.

"Aku mengingnkanmu Win!" Bisik Dion dengan suara yang berat.

"S-sebaiknya kita berhenti Dion," Wina berusaha menghentikan Dion. Mereka sama-sama sadar, namun nafsu sudah mengambil alih kesadaran mereka. Meski bibir Wina berkata tidak, namun tubuhnya tetap menikmati semua perlakuan Dion padanya.

Sedangkan diluar ruangan tampak seorang laki-laki dan seorang perempuan tengah berbincang.

"Hallo Mike, apa kak Dion ada didalam? Sejak tadi aku telepon tapi tidak dijawab." Nara baru saja tiba dikantor kekasihnya. Dan kini dia sedang bertanya kepada salah satu model di agensi Dion yang merupakan teman dekat mereka yaitu Mike.

"Aku rasa ada karena sejak tadi tidak ada yang meninggalkan kantor." Jawab Pria tampan itu.

"Ah begitu ya. Baiklah kalau begitu aku akan langsung masuk ke ruangannya saja."

- TBC -

With Love : Nhana

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 11 : Perempuan itu--

    Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya."Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini."Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya."Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu."Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan d

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 10 : Pindah Rumah

    "Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu."Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka."Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara."Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara."Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas."Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 9 : Pertimbangan

    Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya."Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--Hah, kau seharusnya tidak serakah.""Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya."Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion ya

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 8 : Pertunangan

    "Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya."Apa maksudnya Nanda?""Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius."Kenapa harus Wina?""Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah.""Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 7 : Kesalahan

    Nara berjalan dengan santai menuju ruangan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion. Dion juga belakangan ini sangat susah dihubungi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengunjungi kantor Dion tanpa sepengetahuannya untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.Pintu lift terbuka tepat berada di sebrang ruangan Dion. Namun langkah Nara tiba-tiba terhenti kala matanya menangkap sosok pemuda manis tengah berdiri tak jauh dari pintu."Felix, kak Felik?" Panggil Nara yang baru saja keluar dari lift."A-ah N-Nara," Mata Felix melotot tak percaya saat melihat Nara lah yang berjalan menghampirinya.Felix dengan segera memp

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 6 : Awal Mula Prahara

    Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status