Beranda / Semua / HIDE AND SEEK (INDONESIA) / Chapter 9 : Pertimbangan

Share

Chapter 9 : Pertimbangan

Penulis: Nhana
last update Tanggal publikasi: 2020-11-16 23:46:10

Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.

Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya.

"Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--

Hah, kau seharusnya tidak serakah."

"Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya.

"Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion yang masih enggan membuka mata.

"Aku lelah, dan masih ingin tidur." Dion kembali menarik selimutnya semakin atas dan menutupi kepalanya. Sedangkan Wina hanya mendengus pelan kemudian membereskan pakaian mereka yang masih berceceran dilantai.

"Sebaiknya kau bangun Dion dan segera mandi, aku tidak suka dengan aroma kamarku yang berubah karenamu."

"Itu juga karenamu," Kini giliran Dion yang mendengus. "Kuakui kau cukup hebat dan mampu membuatku kembali menginginkanmu."

"Tutup mulutmu!" Wina mendesis tak suka.

Ya. Semalam Dion mendatangi apartemen Wina dengan keadaan yang sangat kacau. Dia mabuk dan juga beberapa bagian tubuhnya memar jelas sekali kalau dia sudah berkelahi.

Dion tidak menceritakan apapun pada Wina, namun Wina sudah bisa menebak kenapa Dion seperti itu. Wina sudah mendengar tentang perjodohan dan juga pertunangan Nara, dan kemungkinan besar itu adalah alasan yang bisa menjelaskan kondisi Dion sekarang.

Awalnya Wina hanya membantu Dion agar sadar dari mabuknya dan juga membantu mengobati luka yang miliki pria yang berstatus sebagai atasannya, namun setelah sadar Dion justru meminta Wina untuk melakukan hal lain. Dan mereka mengulang kembali apa yang pernah terjadi dikantor tempo hari. Namun brengsek nya, kali ini tidak ada penyesalan apapun yang menyertai perbuatan mereka. Atau mungkin belum.

✿✿✿✿✿

Dean menatap ayahnya yang kini tengah menyesap kopi panasnya. "Apa yang ingin kau bicarakan. Jika itu tentang penolakan maka tidak ada lagi yang perlu dikatakan, semua sudah diputuskan." Ucap Daniel dengan dingin dan tegas.

"Boleh aku bertanya satu hal?"

"Katakan."

"Ayah tidak mungkin tidak tahu apapun tentang Nara," Dean menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kenapa ayah melakukan itu pada kami?" Tanya Dean pada akhirnya. Dean sangat mengenal ayahnya, tidak mungkin seorang Daniel Smith tidak mengetahui kehidupan anak-anaknya dan juga kehidupan orang lain yang membuatnya tertarik. Bahkan semut dalam lubang pun bisa Daniel ketahui keberadaanya jika dia menginginkannya.

Daniel mengerutkan dahinya, dia tidak terlalu terkejut dengan penuturan putranya, hanya saja Daniel tidak menyangka Dean akan bertanya secepat ini namun dia bisa mengerti apa yang dimaksud anak sulungnya itu.

"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kalian semua dan juga keadailan untukmu." Jawab Daniel masih dengan nada datarnya.

"Bukankah ini hanya akan menyakiti mereka?" Dean kembali bertanya. Sejujurnya Dean tidak mengerti dengan maksuk dari kalimat keadilan untuknya, tapi dia memilih tidak perduli dan lebih fokus pada hal lain.

"Lalu bagaimana denganmu?" Kini giliran Daniel yang bertanya.

"Apa maksudnya? Aku baik-baik saja dengan ataupun tanpa perjodohan itu." Jawab Dean tegas.

"Kalau begitu, tetap lakukan sebagaimana yang sudah direncanakan. Tidak ada penolakan, atau protes apapun itu. Cukup lakukan saja."

Dean hanya mengepalkan tangannya, dia sebenarnya tidak pernah mengerti dengan ayahnya. Entah apa yang ada dipikiran ayahnya itu, yang Dean ingat sejak dulu ayahnya selalu lebih memprioritaskan dirinya ketimbang adiknya, Dion.

Jika dulu mereka berdua membangkang, maka Dean hanya akan dikurung dikamar dan disuruh membaca banyak buku. Sedangkan Dion akan dipukul hingga badannya memar dan tak jarang berakhir dengan demam.

Namun setelah mereka dewasa, Daniel sudah jarang menggunakan kekerasan fisik. Dia lebih memilih untuk bertindak dengan licik. Menggunakan ancaman atau kelemahan anak-anaknya untuk menuruti semua perintahnya.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Dean memilih untuk pamit dari ruangan sang ayah. Percuma saja bicara dengan seorang Daniel Smith, karena keputusannya adalah mutlak.

"Belajarlah untuk egois, jangan selalu memikirkan orang lain. Kau hanya memiliki fisik dan sifat dingin sepertiku, tapi hatimu benar-benar sepertinya. Ibumu sepertinya ingin aku untuk tetap mengingatnya." Gumam Daniel pelan setelah kepergian Dean.

✿✿✿✿✿

Nara duduk diatas tempat tidurnya dengan pandangan kosong, dia baru saja selesai mengemas barang-barang yang akan dia bawa kerumah calon suaminya. Atau bisa juga dibilang rumah pacarnya.

Nanda perlahan masuk kedalam kamar Nara dan ikut duduk disampingnya. "Tidak baik melamun disiang bolong. Nanti ada yang merasuki kamu loh dek," Goda Nanda, mencoba sedikit mencairkan suasana hati adiknya.

"Cukup hati aku aja yang bolong, yang lain gak usah ikut-ikutan. " Jawab Nara ketus.

"Pipi kamu juga bolong," Balas Nanda sambil menekan-nekan pipi Nara.

"Ish kakak menyebalkan!" Nara mendorong tubuh kakaknya agar sedikit menjauh darinya.

"Hahhaaa maafkan aku, habisnya kamu melamun terus dek," Nanda menggenggam tangan Nara.

"Kakak, haruskah aku berakhir seperti ini?" Nara mulai bicara dengan nada serius.

Nanda segera membawa tubuh Nara kedalam pelukannya. "Maafkan kakak karena tidak bisa membantumu." Nanda mencium puncak kepala Nara.

Nara menggeleng. "Tidak kak. Kau tidak harus minta maaf untuk ini. Semuanya akan terasa lebih ringan jika saja itu bukan Dean Smith," Gumam Nara yang kini mulai terisak didadanya Nanda.

"Kenapa dengan Dean Smith?" Tanya Nanda yang sedikit bingung. Bagi Nanda bukankah harusnya sama saja baik Dean ataupun yang lainnya.

Lagi-lagi Nara hanya menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja mungkin akan sangat rumit." Gumam Nara lemah.

"Apa ada yang tidak aku ketahui dek?" Tanya Nanda khawatir. Namun Nara memilih diam.

"Kak, nanti siapa yang akan memelukku disaat aku sedang menangis seperti ini jika tidak ada kakak? Lalu siapa yang akan menemaniku tidur disaat aku ketakutan? Siapa yang akan membuatku tertawa dengan candaan dan sifat menyebalkanmu?" Nara memborong kakaknya dengan banyak pertanyaan. Kemudian dia kembali terisak.

Nanda semakin mengeratkan pelukannya saat dirasa tangis adiknya semakin deras. "Mau mendengar sedikit cerita tentang Dean Smith?" Tawar Nanda.

Nara yang mendengar itu sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Nanda. "Apa yang kau ketahui tentangnya kak?"

"Dean Smith, dia dulu adalah seniokakak ketika kuliah. Dia sangat populer karena ketampanan, kepintaran, kekayaan, dan juga sifat baik hatinya. Namun yang lebih dominan diingat oleh orang-orang adalah sifat dinginnya, dia dingin tapi baik hati. Dia selalu sendirian, tidak pernah terlihat makan atau berkumpul dengan yang lain, bahkan dia tidak pernah dikabarkan dekat dengan siapapun termasuk perempuan. Sebenarnya yang kakak tahu, Dean punya dua orang teman, namun karena mereka berada di jurusan yang berbeda jadi mereka tidak pernah terlihat bersama di kampus. Kakak tahu karena kita sering ikut ayah untuk pertemuan bisnis. Saat itu Dean dibantu oleh dua orang tersebut yang sekarang masih menjabat sebagai sekretaris 1&2 Dean. Dean mungkin terlihat sangat dingin dan cuek dari luar. Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Dia mengambil semua beban tanggung jawab perusahaan agar adiknya bisa menikmati kebebebasan. Dia ingin adiknya menjalani hidup sebagaimana keinginannya sendiri bukan diatur oleh ayahnya," Nanda berhenti sejenak dan tersenyum kearah Nara.

"Benarkah?" Tanya Nara yang mulai penasaran.

Nanda menganggukan kepalanya. "Dean sangat menyayangi keluarganya, makanya dia selalu menuruti semua perintah ayahnya dan juga selalu berusaha untuk melindungi adiknya. Sejak dulu, jika adiknya berbuat ulah maka Dean akan selalu berusaha menutupinya agar tidak terdengar oleh ayah mereka. Dengan kata lain adiknya yang berulah dan Dean yang membereskannya."

"Kakak sepertinya sangat mengenal kak Dean, apa kebetulan kakak juga mengenal adiknya?" Tanya Nara hati-hati.

"Sebenarnya kakak adalah salah satu temannya, tapi tidak terlalu dekat juga. Hanya saja kita sering diskusi beberapa hal. Jadi kakak sedikit tahu tentangnya. Kakak tidak mengenal adiknya secara langsung. Sekarang adiknya sedang mengelola sebuah agensi hiburan dan dia adalah atasannya Wina."

Nara kembali menghela nafas panjang setelah mendengarkan cerita kakaknya. Ternyata yang tidak tahu tentang keluarga Smith hanyalah dirinya. Yang tidak tahu Dean Smith dan Dion Smith saudara juga sepertinya hanya dirinya.

"Kakak sebenarnya sedikit lega ketika ayah memilihkan Dean sebagai orang yang akan dijodohkan denganmu, setidaknya kakak sedikit mengenalnya jadi jika terjadi sesuatu bisa dengan mudah memukulnya dan Dean juga bukan orang yang akan menghianati orang lain."

Nara tersenyum lega dan kemudian kembali memeluk Nanda dengan erat.

✿✿✿✿✿

Setelah pembicaraannya dengan sang ayah, Dean kembali kekantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Tidak seperti biasanya, kali ini dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

"Bos, jika kau terus melamun seperti itu bisa-bisa semua klien kita kabur," Sena mencoba menyadarkan Dean. Dia sebenarnya cukup khawatir karena sebelumnya Dean tidak pernah seperti ini.

"Sen, bagaimana perasaanmu ketika kau tahu akan menikah dengan Harry sementara kau juga tahu kalau dia punya kekasih?" Tanya Dean tiba-tiba.

"Aku tidak suka membahas ini Dean," Dengus Sena.

"Kau harus memberitahuku, setidaknya aku harus punya referensi untuk menentukan tindakan apa yang akan aku ambil selanjutnya."

"Dulu aku tidak peduli sama sekali, Harry dan kehidupan pribadinya sama sekali bukan urusanku. Jadi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Namun, setelah kita menikah semuanya mulai berubah. Kebersamaan kita yang menjadi semakin intens membuat sesuatu yang seharusnya tidak pernah tumbuh dalam dada tiba-tiba saja semakin berakar kuat. Aku mulai serakah dan tidak rela Harry bersama kekasihnya. Bahkan aku mungkin membenci kebersamaan mereka, tapi aku sadar diri karena Sion lah yang lebih dulu sehingga aku tidak bisa berbuat apapun, meskipun kau istri sahnya." Sena menjelaskan sedikit tentang kehidupan pernikahannya.

"Tidak pernah mencoba untuk lebih egois lagi? Maksudku kau bisa saja meminta Harry untuk melepaskan Sion."

Sena menggeleng. "Aku sudah bilang, aku cukup sadar diri,"

"Tapi itu hanya akan semakin menyakitimu Sen. Bahkan bisa menyakiti kalian semua." Jawab Dean. "Lalu, apa kau tidak berniat untuk melepaskan Harry sepenuhnya?" Tanya Dean hati-hati dia takut akan menyinggung sahabatnya.

"Hahha, Jika aku bisa aku akan melakukannya." Sena tertawa hambar.

"Kau bisa, hanya saja kau tidak mau." Ucap Dean pada akhirnya.

"Dean, jika suatu hari kau berada diposisiku, bersikaplah untuk egois. Kau harus tegas pada dirimu maupun orang lain. Jika kau menginginkannya maka kau harus punya keberanian untuk menjadikannya milikmu sepenuhnya. Jika kau rasa ini hanya akan menyakiti banyak orang, sebaiknya lepaskan saja. Tidak masalah menjadi satu-satunya yang terluka, karena pada akhirnya waktu akan menjalankan perannya untuk menyembuhkan hatimu." Sena tersenyum tulus kepada Dean.

Dean kembali menghela nafas. "Terima kasih Sena," Ucap Dean dengan tulus.

"Sama-sama, kuharap kau bahagia dengan keputusanmu itu. Dan ya--

Mulai sekarang kita akan jarang bertemu, karena besok sekretaris barunya akan mengisi meja ini." Sena terkekeh pelan. Sedangkan Dean hanya melirik sekilas dan kembali pada tumpukan kertas yang sejak tadi tidak mendapatkan perhatiannya.

✿✿✿✿✿

Nara mendengus kesal. Sejak kemarin malam Dion tidak mengangkat panggilannya. Pesan singkatnya juga tidak ada yang dibaca oleh kekasihnya itu. Semenjak kejadian perjodohan itu, Dion memang sangat sulit dihubungi.

Nara menyambar kunci mobilnya dengan cepat. Kali ini dia tidak berniat menunggu panggilan dari kekasihnya, dia ingin langsung menghampiri kekasihnya itu. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, dan tidak hanya itu Nara juga sangat merindukan Dion.

Setelah sampai dikantor Dion, Nara bergegas menuju ruangan kekasihnya. Namun ketika dia akan membuka pintu, lagi-lagi yang dia temukan adalah Dion yang sedang berbicara dengan Wina. Nara sedikit mengernyit dan bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini Wina sering berada diruangan kekasihnya, padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah. Hampir setiap hari Nara kesini, tapi dia tidak pernah mendapati Wina berada diruangan. Bukan hanya itu, kini Nara juga melihat Dion sedang memegang tangan Wina.

- TBC -

With Love : Nhana

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 11 : Perempuan itu--

    Perlahan namun pasti seorang pemuda tampan terus mengecek jam tangannya berulang kali. Sejak tadi pandangan matanya juga terus mengarah kearah pintu sambil sesekali menikmati minuman dinginnya. Terlihat dengan jelas bahwa dia sedang menunggu seseorang.Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggu nya pun tiba, terlihat dari senyuman yang mulai terukir diwajah tampannya."Maafkan aku kak, aku terlambat." Ucap perempuan yang baru datang itu dengan nafas sedikit tersengal. Sepertinya dia baru saja berlari untuk sampai di cafe ini."Tidak apa-apa, duduklah Wina." Nanda mempersilahkan perempuan tadi untuk duduk, yang ternyata adalah Wina, adik angkatnya."Ada apa kak? Tumben sekali mengajak bertemu diluar," Tanya Wina to the point. Seperti biasa, Wina tidak pernah basa-basi terlebih dahulu."Ada hal penting yang harus aku katakan," Nanda menatap Wina dengan serius, membuat Wina sedikit mengernyitkan d

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 10 : Pindah Rumah

    "Aku tahu kau brengsek kak, tapi ya jangan pegang-pegang tangan kakak ku juga!" Nara nyelonong masuk keruangan Dion, menghiraukan tatapan terkejut dari kedua orang yang sedang saling tatap itu."Eh? Nara bukan begitu," Jawab Wina yang refleks melepaskan genggaman Dion. Sebelum Nara datang, Dion tengah meminta maaf kepada Wina atas kejadian tadi malam dan sekaligus memintanya untuk kembali merahasiakan perbuatan mereka."Hm, apapun yang kau pikirkan, aku dan Wina tidak seperti itu sayang," Ucap Dion yang kini sudah berdiri dan memeluk Nara."Memangnya apa yang ku pikirkan?" Dengus Nara."Kali saja kau berpikir yang tidak-tidak," Dion mengusap kepala Nara dan mencium bibirnya sekilas."Mau makan siang denganku?" Ajak Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 9 : Pertimbangan

    Wina membuka tirai kamar apartemennya dengan perlahan. Sinar matahari yang masih belum tinggi mulai menampakan diri seiring dengan terbukanya tirai tersebut.Perempuan berusia 25 tahun itu menatap lurus kedepan, sebuah helaan nafas berat terdengar berkali-kali menemani dirinya menyambut pagi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya semenjak bertemu Nara dan keluarganya."Haruskah aku sejauh ini?" Gumamnya pelan. Wina membenarkan bathrobe nya yang sedikit turun dan memperlihatkan pundak mulusnya. "Nara--Hah, kau seharusnya tidak serakah.""Wina, kenapa membuka tirainya? Kau mengganggu tidurku." Tegur seseorang yang masih bergelut dengan selimut hangatnya."Ini sudah siang Dion," Wina berbalik dan menatap Dion ya

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 8 : Pertunangan

    "Ibu, aku ingin menikahi Wina," Ucap Nanda yang membuat Yona menghentikan segala aktivitasnya."Apa maksudnya Nanda?""Aku sedang meminta restu mu bu," Nanda berbicara dengan serius."Kenapa harus Wina?""Supaya tidak ada yang pergi dari rumah ini," Nanda menggenggam tangan ibunya. "Aku tahu ibu sangat sedih ketika mendengar Nara akan segera menikah.""Bukan begitu Nanda, pernikahan itu tidak didasari oleh hal seperti itu. Ibu mau kamu menikahi seseorang yang kamu cintai, bagaimanapun pernikahan itu jangka panjang, untuk

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 7 : Kesalahan

    Nara berjalan dengan santai menuju ruangan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion. Dion juga belakangan ini sangat susah dihubungi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengunjungi kantor Dion tanpa sepengetahuannya untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.Pintu lift terbuka tepat berada di sebrang ruangan Dion. Namun langkah Nara tiba-tiba terhenti kala matanya menangkap sosok pemuda manis tengah berdiri tak jauh dari pintu."Felix, kak Felik?" Panggil Nara yang baru saja keluar dari lift."A-ah N-Nara," Mata Felix melotot tak percaya saat melihat Nara lah yang berjalan menghampirinya.Felix dengan segera memp

  • HIDE AND SEEK (INDONESIA)   Chapter 6 : Awal Mula Prahara

    Dean berjalan menyusuri taman kota, entah kenapa hari ini dia merasa sangat bosan. Pekerjaan yang biasa dia lakukan mampu dia selesaikan dengan cepat. Hingga membuat dia tidak punya lagi kegiatan dan berakhir dengan duduk sendirian di taman.Sena sebenernya mengajak dia untuk pergi bersama. Namun Dean menolak, dia tidak mau mengganggu waktu berduaan Sena dan Harry. Bagaimanapun mereka hanya punya sedikit waktu untuk bersama, karena Harry harus memberikan waktunya untuk Sion juga.Ngomong-ngomong tentang Harry, Sena dan Sion mereka bertiga punya hubungan yang cukup rumit. Sena dan Harry sudah menikah 2 tahun lalu karena perjodohan. Namun sebelumnya Harry sudah memiliki kekasih yaitu Sion dan dia tidak mau meninggalkan Sion begitu saja, hingga berakhirlah mereka menjalani kisah cinta segitiga. Sena tahu tentang Sion, namun Sion tidak tahu apapun tentang Sena.Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status