Share

Infinity Love (Bahasa Indonesia)
Infinity Love (Bahasa Indonesia)
Author: Deeta Pratiwi

Prolog.

Author: Deeta Pratiwi
last update publish date: 2020-09-23 07:36:29

Malam ini, suasana di sudut kota Jakarta terasa dingin. Mungkin karena sedari pagi, kota ini sudah diguyur hujan. Berita lalu-lalang tentang banjir sudah tak asing lagi di media televisi jika kota ini sudah terkena rain syndrom. Kota yang malang.

Kota dengan tingkat kesenjangan sosial yang bisa dibilang cukup tinggi. Di mana kemiskinan dan kemakmuran terlihat jelas hidup berdampingan, seperti Romeo dan Juliet yang sangat romantis namun sebenarnya tragis.

Bagaimana tidak tragis? Jika keduanya berakhir dengan kematian. Lalu, di mana letak kisah romantis bahagianya? Sudah, lupakan dulu sejenak drama Romeo dan Juliet.

Back to Jakarta. Bagaimana mungkin kota ini tidak tergolong tragis, layaknya kisah Romeo dan Juliet? Coba pikirkan sejenak. Diantara gedung perkantoran pencakar langit dan gedung-gedung apartemen yang tumbuh seperti jamur di musim hujan, mari kita melongok sedikit ke belakang gedung-gedung cantik itu. Deretan rumah kumuh dan pemukiman sempit padat penduduk sudah seperti rumput liar yang tumbuh bebas. Jadi bagaimana? Benar bukan, romantis layaknya Romeo dan Juliet yang lengket seperti perangko? Tapi perbedaan derajat memisahkan dengan jelas kedua kasta dengan begitu tragis.

Kita tinggalkan dulu kisah pelik kota ini, karena di sudut sempitnya Jakarta, ada kisah yang jauh lebih tragis malam ini.

Gerimis yang enggan pulang sangat ampuh mengirimkan dingin yang menusuk tulang. Tapi itu tidak berlaku di salah satu kamar apartemen yang berdiri kokoh dekat pemukiman padat penduduk ini. Kehangatan bergelung dengan kerasnya nafsu, menghantarkan tragedi keji pada sesosok gadis belia bernama Neira. Bermula dari niat baik sang gadis, yang justru berujung petaka.

Gadis ranum berusia tujuh belas tahun itu, kini bagai anak rusa yang sedang meminta belas kasihan pada seekor singa jantan yang lapar. Harapan kosong dan konyol. Di belahan dunia manapun, tidak akan ada singa yang melepaskan makan malam apalagi sudah berada di mulutnya.

Kamar berwarna abu-abu itu menjadi saksi, isak tangis permohonan dan wajah ketakutan yang gadis itu tunjukan, tidak melunturkan niat sang singa untuk melahapnya. Tangan kiri yang kekar itu menahan tangan Neira di atas kepala gadis itu, sedangan tangan kanannya meraba liar pada perut dan juga dua gundukan ranum yang sesekali ia remas dengan tidak sabaran.

Bibirnya terus mengecap dengan fasih leher putih jenjang yang begitu memancing birahinya. Bercak-bercak merah seolah menjadi tanda sakral ritual keji yang akan terjadi malam ini. Rintihan; sedu sedan; bahkan caci maki sang rusa, bukanlah penghalang bagi sang singa jantan, justru terdengar merdu di telinganya.

Hanya dengan satu koyakan, deretan kancing seragam putih abu-abu itu sudah tercerai berai. Menampilkan bongkahan kenyal yang masih bersembunyi di balik bra hitam berenda.

Sang singa gelap mata. Bagai seorang psikopat, ia melepaskan buruannya hanya sekadar agar bisa dia kejar kembali untuk kesenangan permainan.

Neira yang polos. Gadis itu dengan tergesa beranjak dari ranjang lalu merangsek ke pintu, mencoba membukanya yang ternyata pintu itu telah terkunci. Tubuhnya menggigil ketakutan dengan tangan gemetar mencengkeram baju di depan dada. Gadis itu luruh ke lantai, membuat sang singa menyeringai penuh kemenangan.

Lelaki itu berjongkok tepat di hadapannya, menyeringai iblis dengan mata penuh amarah membuat lutut gadis itu semakin lemas.

"Memohon! Ayo ... Memohon." Suaranya tegas penuh penekanan.

Neira berdesis kesakitan, tangan besar lelaki itu mencengkeram rahangnya dengan cukup keras. Kuku-kuku gadis itu menancap di lengan sang singa jantan demi agar lelaki itu melepaskan cengkeramannya.

"MEMOHON!" bentaknya.

Spontan gadis itu terjengkit kaget. Dengan suara yang bergetar dan sisa isakkan tangis, gadis itu memohon.

"Ampun .... " Lirihnya.

Singa jantan tersenyum dengan sangat memukau. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu dengan lembut menuntun gadis itu untuk berdiri.

"Sakit ya?"

Ia membelai pipi cubie yang mulus itu, bertanya dengan suara sangat lembut seolah tanpa dosa.

Sedetik ....

Dua detik ....

Pria itu diam menatap bibir mungil gadis di hadapannya. Selanjutnya? Ia dengan ringannya mengangkat gadis itu, melemparkan dengan keras ke atas ranjang kembali.

Gadis itu panik, ia histeris. Sekuat tenaga Neira melawan, tapi tenaga tuan singa bukanlah lawan yang sebanding.

Dengan sangat cekatan pria itu melucuti apapun yang menempel di tubuh sang rusa perawan. Mulutnya berceloteh tentang banyak hal, penghianatan; cinta; pernikahan. Entahlah, hal-hal yang Neira sungguh tidak mengerti.

"Ampun ... Ampun ... Ampun ...." Si rusa kecil terus memohon pengampunan. Teriakan minta tolong dari bibirnya seolah hanya di dengar oleh dinding-dinding bisu ruangan ini.

Pria itu menggila, ia menikmati inci demi inci kulit mulus yang berada di bawahnya. Saat satu tetes buliran bening itu jatuh di atas wajah Neira, gadis itu membisu terpaku sejenak oleh wajah yang kini tepat berada di atas wajahnya.

Raut itu, bergambarkan begitu banyak rasa. Ada kesedihan yang teramat sangat di mata pria itu, ada buliran bening mengalir di sana. Tapi rahangnya yang kokoh bergemeretak penuh kemarahan.

Waktu seolah berhenti untuk keduanya. Hanya detik-detik dari jarum jam yang masih terasa berisik di telinga.

Setelahnya ....

Satu hujaman menyeruak masuk begitu saja.  Neira terhenyak, ia memejamkan matanya rapat-rapat seiring rasa sakit yang teramat sangat. Bukan hanya pada tubuh intimnya, tapi juga pada lubuk hatinya. Hancur sudah.

Jiwa bagai tercabut dari raga. Gadis itu layaknya mati rasa. Tak ada tangis yang keluar dari matanya yang cantik; tak ada juga jeritan permohonan ampun. Matanya kosong, mulutnya terkunci rapat. Hujaman demi hujaman itu dia rasakan bagai ribuan pedang yang mencabik-cabik raganya, meluluhlantakkan jiwanya, hatinya teramat sakit untuk menangisi nasibnya malam ini. Neira ... Kosong!

Langit malam yang masih mendung; rintik hujan yang kian menderas; serta alunan sunyi detik jarum jam pada dinding yang mendingin, menjadi saksi bisu permainan takdir. Bahwa ia___Takdir___ telah menyulam kembali benang merah kusut antara dua insan, kisah yang terjeda mulai terajut kembali.

Babak baru dimulai. Petarungan antara Neira dan takdir. Kali ini, akankah Neira keluar menjadi pemenang? Time will tell.

***

- Deeta Pratiwi -

Dalam rangkaian kisah panjang ini. Ada begitu banyak hal baik dan buruk yang tersajikan. Keluarga, persaudaraan, cinta, ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan.

Ambil baiknya dan buang buruknya. Semoga nanti dilembar terakhir kisah ini, bisa menjadi alasanmu tersenyum menyambut kerasnya hidup.

Semua memang harus dilewati, dan semua akan baik-baik saja.

🌻 dee.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    12.

    [Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    11.

    Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    10.

    Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    09.

    Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    08.

    Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    07.

    Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status