LOGINSelepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.
Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.
Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.
Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.
Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.
Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.
Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada Jake melakukan perburuan harimau yang telah menjadi tradisi bangsa Magadorr menyambut Festival Puja.
Tetapi Jake akan ditemani oleh Panglima Soraloga karena Ia sendiri akan melakukan tugas Kerajaan di tempat lain bersama Putri Malikan.
Setelah selesai makan malam Jake di ajak oleh Budun Daut ke Perpustakaan Negeri, sementara Kirani diajak berkeliling istana oleh Putri Malikan.
Jake memuji koleksi buku-buku yang ada di dalam perpustakaan. Koleksinya banyak sekali dan rata-rata berukuran besar dan berat sehingga satu buah buku saja perlu diambil dengan kedua tangan.
Sekalipun demikian buku-bukunya bersih dan tidak ada debu sama sekali, setiap halaman terawat dengan baik.
Jake menemukan sebuah buku antik yang beda dengan buku-buku yang terdapat di sana.
Umumnya buku-buku di perpustakaan ini ditulis tangan dengan tinta dan halaman-halamannya terbuat dari kulit, tetapi buku yang satu ini istimewa karena selain bentuknya kecil dan dicetak di atas kertas yang biasa ada di planet Bumi.
Jake mengambil buku itu dan memperhatikan lebih seksama.
Ia baca judulnya: Tata bahasa Indonesia, sub judul untuk sekolah lanjutan atas oleh Dr Gorys Keraf? Jake merasa heran sekali, buku ini dari Bumi, kok bisa ada di sini? Pikirnya.
Lalu Ia membolak-balik dan membuka halaman-halaman buku itu dengan penuh minat.
"Ya, itu memang bukan dicetak di sini. Buku itu berasal dari Kerajaan Surga para Dewa," ujar Budun Daut mengerti apa yang dipikirkan oleh Jake.
Dalam sebuah halaman Jake melihat ada sebuah tandatangan dan tertulis sebuah nama: Rikwanto Subadri. Barulah Jake mengerti rupanya buku ini yang dikatakan oleh Budun Daut sebagai salah satu buku-buku mantra dewa. Padahal itu adalah buku pelajaran bahasa Indonesia yang dianggap masyarakat Magadorran sebagai bahasa para dewa.
Sekarang bagi Jake semakin jelas semua ini apalagi hal ini telah diceritakan oleh Kirani soal astronot bernama itu.
"Apakah ada buku-buku lain, pemberian Dewa Ridik Wadan Todo?" Tanya Jake menyebut nama Rikwanto dalam dialek Magadorran.
Dengan senang hati Budun Daut menunjukan sesuatu yang ia ambil dari rak yang letaknya tidak jauh dari buku pertama.
Buku lain yang Jake terima dari pria gendut ini ternyata sebuah buku umum mengenai perang sipil di Amerika.
Jake tidak mengerti bagaimana seorang Astronot Rikwanto sampai membawa buku-buku seperti ini dari Bumi?
Jake menaruh buku itu di atas meja lalu meraih buku lain yang lebih menarik perhatiannya.
Buku itu hanya sebuah buku tulis biasa tetapi diisi oleh tulisan tangan. Dan Jake yakin itu adalah tulisan Kolonel Rikwanto.
Buku ini cukup tebal dan hardcover. Dan yang paling menarik dalam tulisan-tulisan itu merupakan penjelasan bagaimana membuat senjata api dari yang ringan sampai yang berat dan meracik bahan-bahan mesiu untuk pelurunya.
Ada pula penjelasan bagaimana membuat teknologi mesin uap. Dan beberapa penjelasan teknologi sederhana lainnya.
"Kakekku telah mewariskan semua buku-buku ini dan bagaimana mempraktekan dalam penggunaan sehari-hari karena pernah tinggal bersama Dewa Ilmu Pengetahuan, Yang Mulia Ridik Wadan Todo. Sekarang pengetahuan itu telah diwariskan kepada kami." Papar Si Gendut pengurus perpustakaan negara.
Jake pernah mendengar hal ini dari Budun Daut sendiri.
"Sekarang Padanduk Jako telah memberikan mantra dewa kepada Kami bagimana membuat pedang Guntur, Puji Budun Daut. "Maka kerajaan Magadorran semakin lengkap dan kuat."
Jake sama sekali tidak merasa bangga sehingga menanggapi pujian itu dengan dingin.
Lalu Budun Daut menyodorkan sebuah buku lain.
"Tetapi sampai sekarang Hamba belum bisa mengerti isi mantra-mantra ini?" Ujar Budun Daut sambil menyodorkan beberapa buah buku ke tangan Jake.
Jake mengambil buku-buku itu. Ternyata buku yang Budun Daut perlihatkan kepada Jake adalah buku panduan navigasi astronomi, buku-buku cara merawat dan memperbaiki mesin-mesin pesawat columbus. Bahkan ada pula buku panduan mengoperasikan mesin-mesin pesawat columbus.
Ya tentu saja tidak akan mereka pahami, pikir Jake yang tidak kuasa menyembunyikan rasa geli.
Kemudian pada saat itu Budun Daut menunjukkan sebuah halaman dalam sebuah buku yang lain kepada Jake.
"Hamba tidak mengerti gambar bola-bola ini?" Tunjuk Budun Daut. "Padanduk Jako, Ijinkan Hamba mengajukan pertanyaan?"
"Silakan." Sahut Jake mengabulkan permintaan itu sambil lalu.
"Mohon dijelaskan apa artinya gambar-gambar ini?"
Jake menengok sejenak pada buku yang ditunjukan padanya. Setelah diamati, lalu Jake jelaskan, "Itu adalah dunia-dunia dan ini adalah duniamu yang sekarang kita pijak." Jelas Jake sambil menunjuk pada sebuah gambar bola yang ada 3 lingkaran pada kelilingnya.
Penjelasan dari Jake justru semakin membuat Budun Daut mengajukan pertanyaan susulan dengan penuh minat dan keingin-tahuan yang besar.
"Seberapa besar dunia ini sebenarnya?" Tanya Budun Daut sambil menadahkan tangan ke atas. Budun Daut menanyakan ukuran planet tempatnya Ia berpijak.
Hm, pertanyaan serius pikir Jake. Budun Daut bukan orang biasa. Dia adalah seorang ilmuwan dijamannya sehingga Jake harus menyusun jawaban yang tepat dan tidak asal.
"Wilayah Magadorr terbentang sejak kaki langit di tempat matahari terbit sampai ke tempat matahari tenggelam. Dan terbentang mulai dari utara Kolappo Toru hingga ke selatan menyebrang Toru." Ujar Budun Daut. "Tetapi banyak para pengembara mengabarkan bahwa jauh di kaki langit dan ujung-ujung dunia lain masih ada negeri yang lebih besar daripada Magadorr? Dan mereka membawa bukti tanaman-tanaman obat yang tidak ditemui di tanah wilayah Magadorr.
Dan kata mereka pula kaki langit ternyata masih jauh lagi hingga tidak diketahui seberapa luas dunia ini?"
Jake mendengar pertanyaan Budun Daut sambil mencari-cari sesuatu.
Akhirnya barang-barang yang cari telah Ia dapatkan.
Jake mengambil dua buah batu berbentuk bola yang terletak di sudut ruangan dan entah dipakai untuk apa. Tapi bukan itu yang penting.
Dua buah bola yang berbeda ukuran. Satu buah sebesar bola tenis sedangkan yang lainnya sebesar bola kaki.
"Pegang batu ini!" Pinta Jake sambil meletakkan batu sebesar bola tenis ke tangan kanan Budun Daut. "Dan pertahankan posisi seperti ini, ya."
Jake menempatkan tangan Budun Daut yang memegang batu pada posisi menadah batu itu. Dengan senang hati Budun Daut mengikuti permintaan Jake. Sementara batu yang lebih besar masih diletakkan di atas meja.
"Anggap ini adalah dunia tempat kita berpijak. Tunjuk Jake pada batu yang di tangan Budun Daut. Dan dunia ini sesungguhnya berbentuk bulat seperti batu ini."
Tampak Budun Daut terkejut karena tidak menyangka, tetapi Ia tetap menyimak dengan sungguh-sungguh penjelasan Jake. []
AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah
Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be
Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake
"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k
Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J
Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib