FAZER LOGIN"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."
Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake.
"Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya.
"Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu.
"Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang.
"Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan kirinya sejauh yang memungkinkan.
"... tetapi di saat yang sama, dunia juga memutari matahari. Bagian yang terkena cahaya matahari itu waktu siang dan bagian gelapnya sedang malam."
Jake mengarahkan tangan budun daut yang menadah batu, bergerak melingkari batu ditanganya. Ia lakukan hal itu berulang-ulang hingga Budun Daut mengerti.
"Tetapi mengapa matahari itu kecil?" sanggah Budun Daut.
"Itu karena letaknya sangat jauh dari dunia."
Budun Daut mengangguk-anggukan kepala.
"Sedangkan bulan beda." Jake memberikan tambahan informasi. "Dia tidak berputar pada porosnya. Hanya bergerak memutari dunia sehingga selalu terlihat di sisi yang sama. Dan bulan banyak untuk menerangi malam-malam di duniamu yang luas."
"Lalu siapakah yang memegang dunia, matahari dan bulan-bulan hingga bergerak satu sama lain seperti itu?" Tanya Budun Daut.
Jake tidak mungkin menjelaskan konsep ketuhanan karena alam pikiran masyarakat Magadorran. bahkan Budun Daut sekalipun tidak akan sampai pada hakikat Sang Khalik. Lalu Ia memberikan kesimpulan yang sederhana dan cocok untuk Budun Daut.
"Ada Maha Dewa yang menguasai gerak benda-benda ini dengan tangan yang tidak terlihat oleh mata manusia, bahkan oleh mata dewa-dewa seperti kami sekalipun! Dunia dibangun di atas Toru. Demikian Matahari dan Bulan-bulan pun memiliki Toru, tetapi masing-masing berbeda wujudnya sehingga masing-masing geraknya seperti yang Aku jelaskan.
Toru pulalah yang membuat kaki kita tetap berpijak pada dunia di bagian manapun kita berdiri. Dan Toru yang membuat semua benda ditarik jatuh dan langit tetap di atas tanpa tiang."
"Maha Besar, Maha Dewa." Puji Budun Daut yang menggumamkannya dengan khidmat berulang-ulang.
"Tahukah sobat, bahwa duniamu tidak hanya ada satu, tapi ada sepuluh!" Ujar Jake. Kesepuluh duniamu berkeliling matahari dengan jarak yang berbeda tanpa saling mendahului satu sama lain ...."
Orang bertubuh gendut ini tidak bicara apa-apa, tetapi air mukanya terlihat jelas, lagi-lagi dibuat sangat takjub mendengar kabar yang disampaikan Jake.
"Dan masing-masing punya Toru-nya sejenis dengan Toru di dunia ini ....
Toru menjadi pasak dari utara ke selatan yang berfungsi sebagai peneguh dunia. Lalu memutar dunia hingga terjadi terbit dan terbenam matahari ...."
....
"Ada legenda di kalangan kami ...." Ujar Budun Daut setelah beberapa saat terjaga oleh pesona cerita Jake. "Toru akan berbicara kepada orang yang Ia pilih untuk menjadi wakil Toru. Tugas orang pilihan ini adalah menjaga dan merawat Toru untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Tetapi selama ini Toru hanya berbicara di pasak utara saja dan orang-orang yang mendapatkan pilihannya akan dipanggil ke tempat itu ...."
"Tapi kenapa, Burila Durr yang katanya Avatar, penggenapannya bukan pergi ke kutub utara?" Sela Jake.
"Sebelum pergi ke Swargaloka di mana Padanduk tinggal, Kami pilgrim dulu ke Utara. Tetapi di sana Atung Maa Awang telah berbicara kepada Padanduk Burila Durr. Pesannya adalah supaya memindahkan tempat penggenapan, ke tempat yang sekarang akan menjadi ritual Padanduk Burila Durr...
Sudah berabad-abad Kami merindukan kehadiran seorang VADN TORU kembali, setelah VADN TORU terakhir moksa."
Hah! umpat Jake dalam hati. Itu sih bisa-bisanya si Burila Durr!
Aku yakin, Dia bukan Avatar!
Dan bila itu benar, bukankan Magnetism Planet ini yang memilih dan memanggil seorang Avatar, bukannya self-proclaim!
Pada saat Jake melamun, Budun Daut melanjutkan paparannya. "Kerajaan kami berdiri pun dulu atas bantuan seorang Vadn Toru. Sayang, setelah Beliau moksa, tidak ada lagi Vadn Toru."
Jake mendengar penuturan Budun Daut, tetapi di saat yang sama Ia terus tenggelam lebih dalam pada alam pikirannya.
Ia sekarang bimbang, apakah Avatar dan Magnetism planet yang sebut Atung Maa Awang itu adalah mitos atau ilmiah?
...
"Padanduk, mohon ijin bertanya kembali," Ujar Budun Daut memberanikan diri angkat suara demi melihat Jake yang sekarang giliran termangu-mangu.
Rupanya Budun Daut masih penasaran dan ingin mengajukan pertanyaan lain dengan harapan besar mendapatkan mantra para dewa dari seorang dewa seperti Jake.
Tentu saja Jake tidak keberatan melihat Budun Daut bersemangat seperti itu.
"Dimanakah letak surga tempat tinggal Padanduk Jako dan Dewi Kranisiditade Ma Madadinta?" Tanya Budun Daut sambil menunjuk batu di tangannya.
"Oh bukan di tempat yang sama dengan duniamu." Ujar Jake. "Tempat tinggal kami adalah dunia sepertimu yang letaknya lebih jauh daripada Matahari.
Budun Daut sekali lagi mengangguk-angguk kepalanya.
"Jadi surga tempat Padanduk adalah dunia juga?" Tanya Budun Daut meminta penegasan. Jake cukup memberikan anggukan sambil mengacungkan ibu jari kepada Budun Daut.
Maka kini Budun Daut yang mengangguk-angguk sambil ikut mengacungkan ibu jarinya pula.
Pada saat itu terdengar suara terompet di bunyikan keras-keras. Tetabuhan diperdengarkan. Terdengar pula sorak sorai membahan kemana-mana.
"Sekarang sudah waktunya," Budun Daut mengingatkan Jake. "Mari Padanduk Jako."
"Para ahli nujum kami telah memperhitungkan berdasarkan mantra-mantra dewa, hari ini Atung Maa Awang akan turut menyaksikan puja sehingga anda lihat Toru semakin besar. Itu bukti kehadirannya."
Jake ikut bersama Budun Daut ke luar. Jake baru tahu ternyata acara puja dilakukan di belakang istana sehingga mereka cukup berjalan kaki saja.
Tiba di luar, mereka naik ke sebuah bukit di belakang gedung Balaikota.
Di tempat itu Jake melihat aurora malam itu rupanya sedang puncak-puncaknya bersinar cemerlang dan lebih besar dari pada malam biasanya.
Di bukit yang cukup lebat oleh pepohonan, terlihat cahaya-cahaya yang berasal dari obor banyak dinyalakan, sehingga seperti kunang-kunang yang sedang berterbangan.
Jake berkali-kali mencari Kirani tetapi belum menemukannya.
Semakin tinggi naik ke bukit, semakin banyak orang datang sambil membawa sebatang obor ditangan masing-masing.
Puncak bukit yang dicapai dalam waktu sebentar ada sebuah panggung dan ternyata di panggung itu Jake melihat Kirani bersama Putri Malikan.
Panggung itu sendiri menjadi pusat berkumpul dan dibangun dari bahan-bahan kayu. Selain itu di atas panggung ada meja besar.
Di sana sudah ada pula Putra Mahkota Burila Durr, para Panglima dan pejabat-pejabat kerajaan lainnya.
Pada saat itu Budun Daut mengajak Jake ke tempat paling depan dan hanya orang-orang tertentu yang diperkenankan lebih dekat dengan keluarga Kerajaan.
Apakah mungkin malam ini ada kesejajaran planet Saturnus dengan Planet-planet di tata surya ini? Jake bertanya-tanya. []
AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah
Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be
Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake
"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k
Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J
Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib