Share

Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)
Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)
Author: Dyingforwords

Bab 1

Author: Dyingforwords
last update publish date: 2020-10-05 10:16:02

Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah.

"Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking karena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.

Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain yang berhubungan dengan banyak orang. Hanya kulit putihnya yang jadi kelebihan. Mantan manajernya dulu malah pernah dengan terang-terangan mengatakan bahwa postur tubuhnya itu "mengintimidasi" alih-alih mendatangkan rezeki. Tapi bos besarnya menjadikannya anak emas karena Aletta bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan bagus. Sayangnya, akibat banyak orang yang tidak suka dengannya, posisi Aletta di perusahaan itu dijegal oleh orang-orang yang iri padanya. Hasilnya Aletta terpaksa harus menganggur karena dikeluarkan dari pekerjaannya. Kini dia pun terpaksa harus mencari kerja sana sini dengan susah payah.

Tubuh Aletta memang tak semolek Anya Geraldine, wajahnya tak secantik Raisa Andriana, suaranya tak semerdu Isyana Sarasvati, dan follower-nya tak sebanyak Ria Ricis tapi Aletta tetap berpegang teguh bahwa dia memiliki kemampuan yang bisa membuatnya bersaing dengan pelamar kerja yang lain. Tapi Aletta lupa bahwa zaman sudah berubah. Kini segalanya butuh privilege.

"Aw!" Suara seseorang terdengar gaduh. "Siapa yang lempar batu sembunyi tangan?" tanya suara itu.

Aletta mencari sumber suara tapi dia tak menemukan siapapun di sekitarnya.

"Hii, jangan-jangan setan lagi." Aletta mulai merinding dan memeluk tubuhnya sendiri. "Tapi ini kan masih siang. Masa sih setan muncul tengah hari gini?" Aletta masih berusaha mencari sumber suara. Siapa tahu ada manusia sedang berkamuflase sehingga manusia itu luput dari pandangannya.

"Jij nyari ik?" tanya suara itu lagi.

Aletta masih celingukan mencari suara itu. Nihil. Dia masih tak menemukan sosok empunya suara di sekelilingnya.

"Jij liat kemana sih? Liat ke atas sini!" perintah suara itu yang tanpa disadari Aletta langsung diikutinya. Aletta mendongak ke atas, ke arah rerimbunan pepohonan. Dia menemukan sosok yang awalnya Aletta pikir adalah manusia sedang nangkring di atas pohon dengan kedua sayap mengepak-ngepak tak santai. Namun, kedua sayap itu seketika membuat Aletta sadar bahwa makhluk itu sudah jelas bukan manusia. Manusia tidak ada yang bersayap kan?

"Jij mau lempar batu sembunyi tangan ya?" tuduh makhluk itu.

Aletta justru ketakutan begitu melihat penampakan di atasnya itu. Dia buru-buru melepas sepatunya lalu berlari secepat yang dia bisa. Tak dia hiraukan panasnya aspal jalanan karena terpapar teriknya sinar matahari.

"K-KUNTIIIIIII!!!" jerit Aletta. "EH, PEMBALUUUTTT!!"

"Eh, eh, eh." Sosok itu mengejarnya lalu tiba-tiba saja makhluk itu sudah ada di hadapan Aletta, menghadangnya. "Jij mau kemana, hah?"

Aletta ingin berlari lagi tapi kakinya seolah terpaku ke aspal jalanan. Dia makin ketakutan karena dia merasa terjebak, tak bisa menemukan jalan keluar.

Gimana ini? Batin Aletta galau.

Dua kesialan harus Aletta hadapi dalam tempo yang singkat. Sudah ditolak kerja, kini harus bertemu makhluk yang tidak jelas klasifikasinya ini. Dibilang kunti tapi bersayap dan bisa muncul di siang hari-- setan ga bisa muncul di siang hari kan? Dibilang pembalut tapi kenapa mirip kunti. Ah, katanya sih malaikat bersayap tapi masa malaikat ngondek? Pake bajunya warna-warni pula. Ini malaikat abis ngisi acara dangdut?

"Jij harus menebus dua kesalahan jij. Pertama, jij udah lempar batu kena kepala ik, kedua jij ngatain ik kunti. Ik bukan kunti tau!" Sosok itu cemberut. "Apalagi dikatain pembalut. Nay, nay, nay. Masa ik disamain sama penadah darah. Ih!" Sosok itu bergidik dengan gaya khasnya.

Sosok itu bertubuh layaknya manusia. Dia mengenakan setelan dengan warna pelangi berbahan glossy persis seperti penyanyi dangdut kalau lagi manggung. Oh, tentu saja Aletta tidak menyuarakan pikirannya lagi kali ini karena takut sosok di hadapannya itu tersinggung disamakan dengan penyanyi dangdut yang menurut makhluk itu bisa saja norak. Wajahnya rupawan dengan dagu lancip dan kulit putih bersih. Bibirnya disapu oleh lip tint merah muda yang juga glossy. Hidungnya mancung. Rambutnya hitam cepak. Dia memakai sepatu pantofel merah muda dari kulit dengan aksen bulu-bulu. Terlihat imut sekali. Andaikan Aletta sedang tidak dalam kondisi ketakutan pasti Aletta menganggap sosok di hadapannya ini adalah model sebuah majalah sedang cosplay menjadi malaikat. Kedua sayapnya yang mengepak terlihat lucu. Mungkin dia memakai sejenis tuas untuk membuat sayap-sayap itu mengepak. Tapi, bagi Aletta, kedua sayap itu terlihat asli.

"Nama ik Angelou. Ik itu malaikat. Ik bukan kunti apalagi pembalut," katanya sambil memamerkan kuku-kukunya yang bersih berkilau dengan gerakan gemulai.

Waduh, gue abis lempar batu kena bencong terus sekarang bencongnya langsung ngehalu gini? Gimana dong ini? Aletta jadi kalut dan berdebat dengan batinnya sendiri.

"Hey, Manusia!"

"Eh, iya iya." Aletta otomatis terkejut begitu mendengar sentakan sosok yang mengaku malaikat itu.

"Jij tuh kebanyakan ngelamun makanya sial mulu. Kurang-kurangin itu ngelamun," kata si sosok-yang-mengaku-malaikat itu. "Jij udah ngelamar kerja kesana kemari tapi ditolak terus kan?"

Aletta terpana. Bagaimana makhluk di depannya itu bisa tahu?

"Jij udah berusaha nurunin berat badan, nontonin video tutorial make up, sampe belajar make up tapi tetep ngerasa ga cantik juga kan?"

Aletta terpana lagi. Bagaimana makhluk itu bisa tahu juga?

"Jij suka iri kalo liat model-model cantik di majalah, di TV, dan cewek-cewek yang dilihat di pusat perbelanjaan karena mereka punya tubuh yang bagus kan?"

Aletta menganga kali ini. Bagaimana dia bisa tahu sejauh itu? Dia cenayang kah? Doppelganger-nya kah? Alter ego-nya kah? Tapi mana mungkin doppelganger dan alter ego-nya adalah seorang pria gemulai?

"Jij terkejut?" tanya makhluk itu sambil tersenyum. "Ik juga terkejut pas baca isi kertas ini!" Makhluk itu melemparkan selembar kertas berisi data dirinya, segala kelebihan, dan kekurangan, termasuk kebiasaan, tanda lahir, dan sebagainya yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Siapapun yang menulis kertas ini sepertinya lebih tahu tentang Aletta daripada dirinya sendiri. Tapi siapa yang menulis di kertas itu?

"Ik tadi cuma bacain isi kertas itu doang by the way bukan ngeramal," kata makhluk itu lalu terkekeh. Mungkin dipikirnya lelucon itu lucu. Oh, mungkin di dunia malaikat memang lucu. Sayangnya dia belum belajar lelucon receh ala manusia.

"Lo-- Lo dapetin kertas itu dari mana? Siapa yang nulis itu?" Aletta mencecar makhluk itu.

Makhluk itu memutar bola matanya malas. "Jij ga perlu tau siapa yang nulis. Intinya kredensial si penulis itu sudah jelas lah. Terpercaya."

"Iya, tapi siapa? Dia punya kredensial apa?" Aletta masih tak puas dengan jawaban sosok itu.

Makhluk itu mendesak sebal. "Jij itu jadi orang ngeyel. Pantesan susah dapat kerja."

Aletta mendengus. Tapi dia tak protes karena memang kenyataan berkata begitu. Dia sudah berbulan-bulan mencari pekerjaan baru setelah didepak oleh perusahaan tempat dia bekerja dulu dengan alasan pemangkasan tenaga kerja akibat pandemi padahal Aletta tahu betul bahwa ada permainan kotor di dalam perusahaan itu untuk menyingkirkannya. Orang-orang yang tidak suka padanya bersekongkol untuk membuatnya dipecat dari perusahaan. Dia membuat CV baru semenarik mungkin, ikut bursa kerja, dan melamar pekerjaan sana sini tapi tetap tak ada hasil.

"Jij ga penasaran kenapa ik ada di sini? Kenapa malah mikirin siapa yang nulis di kertas itu?"

Ah, iya. Aletta menepuk jidat lebarnya. Kenapa Aletta justru sibuk mempertanyakan siapa penulis kertas itu alih-alih mempertanyakan siapa makhluk yang mengaku malaikat di hadapannya ini?

"Lo-- Lo siapa?" tanya Aletta lagi dengan gerakan defensif. Tanpa disadarinya, Aletta menanyakan pertanyaan yang sudah dijawab Angelou.

"Astaga. Ik kan tadi udah perkenalan. Ik Angelou. Malaikat. Jij ga dengerin ik tadi?" ucapnya dengan sebal. "Udah ngeyel, budek juga deh jij!"" umpat Angelou.

Meski Aletta sebal karena dikatai ngeyel dan budek, toh Aletta sadar dia sudah salah sehingga Aletta harus minta maaf.

"M-maaf. Abisnya lo nongol tiba-tiba gitu jadi gue takut. Oh iya, gue minta maaf karena tadi gue ga sengaja lempar batu terus kena ke lo," kata Aletta pelan.

Angelou mengibaskan jemari lentiknya. "Huh, ga papa. Anggep aja ik lagi berbaik hati sama jij."

"Oh, sama gue juga minta maaf karena udah ngatain lo kunti dan pembalut tadi," lanjut Aletta lagi. "S-soalnya gue ga ngerti lo itu apa dan siapa. Karena lo bisa terbang dan punya sayap jadi gue bilangnya kunti dan pembalut."

"Ya, ya. Anggep aja ik lagi baik kali ini."

Aletta tersenyum. "M-makasih."

Angelou tersenyum tipis. "Jadi gini, Manusia..."

"Uh, nama gue Aletta by the way jadi mending lo panggil gue Aletta aja. Panggilan Manusia itu kedengarannya aneh." Aletta mengoreksi. 

Angelou mengerjapkan kedua matanya lalu katanya, "oh, oke!" 

Aletta tersenyum puas.

"Jadi ik kesini karena diutus untuk memberitahu jij tentang sesuatu."

Aletta mengernyit. "Sesuatu apa?"

Angelou tersenyum. "Yang jelas sesuatu ini akan bikin jij senang."

Aletta makin tertarik karena penasaran. "Apa itu?"

"Jij mau tau?" Angelou bertingkah sok misterius membuat Aletta makin penasaran.

"Mau, mau, mau!" Aletta langsung mengangguk dengan semangat.

"Tapi ada syaratnya."

Aletta ingin berteriak saja. Angelou ini membuatnya habis kesabaran.

"Apa?" Namun, alih-alih marah, Aletta justru berusaha menahan kesabarannya agar Angelou tak buru-buru kabur lalu dia meninggalkannya bertanya-tanya penasaran hingga tak bisa tidur.

"Bawa ik ke tempat jualan es krim lalu traktir ik sepuasnya." Angelou nyengir jahil.

"Hah?" Aletta langsung berteriak. "Mana ada..."

"Jij mau tau ga?" goda Angelou.

Aletta menimbang-nimbang keputusan yang akan dibuatnya. Seingatnya dia masih menyimpan uang dua ratus ribu di kantong roknya. Sepertinya cukup kalau untuk membelikan Angelou es krim beberapa porsi. Tapi itu uang terakhir yang dia punya dari hasil memecah celengannya. Itu sebenarnya uang untuk ongkos dia melamar kerja kesana kemari. Kalau uang itu dipakai sekarang bagaimana besok dia pergi melamar kerja?

"Jadi ga nih?" Angelou masih menggoda Aletta, membuat gadis itu makin bimbang.

"Duit gue tinggal dua ratus. Itu duit terakhir yang gue punya. Kalo gue pake buat traktir lo..."

"Tenaaaang. Kalo jij ikut ik, jangankan dua ratus ribu, dua milyar pun bisa jij dapat dalam semalam," rayu Angelou membuat mata Aletta berbinar cerah.

"D-dua milyar?" Aletta membelalak. Iming-iming mempunyai uang dua milyar terasa memabukkan.

Angelou mengangguk. "Syarat dan ketentuan berlaku tentu saja."

Aletta langsung waspada. "Lo bukan MLM kan?"

Angelou tertawa. "Apa itu MLM? Ik bahkan ga tau apa itu MLM."

"MLM itu- Ck, ga usah dibahas. Tapi beneran nih?" Aletta mulai goyah lagi.

"Malaikat ga pernah bohong, Aletta. Come with me and lucky will be your middle name. Oh, dengan syarat dan ketentuan berlaku ya, jangan lupa!" Angelou menjelaskan dengan gaya gemulai khasnya.

Aletta berpikir sejenak lalu katanya. "Oke. Ayok!"

Angelou tersenyum senang. Diikutinya langkah gadis tambun itu dengan riang.

Es krim, es krim. Senandung Angelou sepanjang jalan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 6

    Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 5

    Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 4

    Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 3

    "Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 2

    "Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 1

    Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status