Share

Bab 6

Author: Dyingforwords
last update publish date: 2020-10-10 01:30:39

Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan rutinitas barunya membantu mama. Namun, Aletta menjadi yakin bahwa Angelou memang nyata ketika dia menemukan kotak mahoni di bawah kolong tempat tidurnya suatu hari saat dia beberes rumah.

Beberapa kali setelahnya selepas membantu mama, Aletta masih memutar Roda Keberuntungan itu diam-diam di dalam kamarnya. Hasilnya masih sama. Rumah Aletta tidak serta-merta berubah jadi megah. Tubuh Aletta juga masih jauh dari body goals-nya. Mata Aletta masih sipit, rambut masih kusut masai sehingga Aletta makin sering mencepolnya, tapi, yah, setidaknya kulit Aletta masih putih— satu-satunya yang jadi kebanggaannya selama ini. Tapi hubungan Aletta dan mamanya makin baik. Mungkin benar kata Angelou bahwa keberuntungan yang sama bisa terjadi berkali-kali. 

'Rezeki itu tidak melulu bentuknya uang lho. Kadang benda-benda immaterial juga bisa jadi rezeki.'

Ucapan Angelou itu masih diingat Aletta. Mungkin memang Aletta belum mendapat pekerjaan tetapi dia sudah mendapat rezeki lain berupa keharmonisan dalam keluarganya. Yah, tidak buruk juga. Lagipula kadang Aletta merasa bersalah karena menolong orang-orang hanya untuk mendapatkan keberuntungan dari Wheel of Fortune saja seolah-olah Aletta menolong orang-orang itu dengan pamrih.  Jadi Aletta belajar untuk menolong orang karena memang harus menolong.

"Permisi, Mbak." panggil seseorang yang membuat Aletta tersadar dari lamunannya. Seorang wanita paruh baya berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.

"Ah, i-iya. Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya Aletta meski agak sedikit tergagap karena kaget.

"Anu, Mbak, saya mau tanya kalo mau ke sini harus ke arah mana ya? Masih jauh ga? Bisa jalan kaki atau harus naik kendaraan lagi?" tanya wanita itu sambil menyerahkan secarik kertas berisi sebuah alamat.

"Oh—" Aletta tahu alamat yang dimaksud. "Ini lumayan deket kok, Bu, dari sini," kata Aletta. "Mari saya antar. Tapi jalan kaki saja ya, Bu, karena saya ga punya kendaraan. Deket kok cuma lima belas menit." Si wanita mengangguk.

"Eh, beneran nih, Mbak?" Si wanita terkejut tapi senang bukan main mendapat tawaran begitu.

Aletta lalu pamit pada mama untuk mengantar wanita itu ke alamat yang ditujunya.

"Ini mau ke rumah saudara, Bu?" tanya Aletta ketika dalam perjalanan untuk menghilangkan keheningan dan kecanggungan.

"Ah, anu—" Si wanita tampak ragu menjawab. "Sebenernya ini rumah suami saya," jawab wanita itu. Aletta seketika bingung. Kok rumah suami istri bisa misah gini? Tapi Aletta tak mau terlihat kepo apalagi wanita ini baru dikenalnya. Lagipula Aletta kan hanya dimintai bantuan untuk menunjukkan alamatnya saja. Apa hak Aletta untuk bertanya-tanya masalah yang lain?

"Blok sama nomor rumahnya berapa, Bu?" tanya Aletta ketika mereka sudah mulai memasuki sebuah kawasan perumahan yang dituju wanita dengan baju terusan bermotif kembang itu.

"Ah, sebentar—" Si wanita merogoh kantung terusannya untuk mengambil kertas berisi catatan alamat tadi. "Blok D3 nomor 5."

Aletta mengangguk lalu menunjukkan jalannya. Belum juga Aletta memberitahu, tiba-tiba saja si wanita tadi sudah menerjang seorang pria yang berdiri di depan sebuah rumah— yang belakangan baru Aletta sadari bahwa itu rumah yang dituju si wanita— dengan seorang wanita lain yang lebih muda yang sedang melambaikan tangan ke arah si pria.

"Beraninya kamu ya selingkuh di belakangku terus beli rumah di sini sama perempuan jalang ini. Kamu pikir aku ga bakal bisa nyari tempat persembunyian kamu sama wanita jahanam ini, hah? Sudah berapa hari kamu ga pulang? Kamu lupain anak istri kamu di rumah. Kamu pikir aku bakal tinggal diam kayak dulu lagi? Nggak, Pa, aku ga bakal tinggal diam lagi..." cerocos si wanita. Pria yang diterjang itu kaget bukan kepalang melihat kehadiran si wanita yang tiba-tiba sama halnya dengan wanita satunya lagi.

"M-mas, gimana—" Si wanita yang satunya bingung harus bertindak apa.

"Kamu masuk aja ke dalam rumah!" titah si pria dengan panik. Si wanita yang dibantu Aletta tadi tentu saja tidak kalah pandai. Sebelum si wanita lebih muda berhasil masuk rumah, wanita yang dibantu Aletta itu lebih dulu menerjang ke arah wanita itu dengan penuh amarah. Adegan jambak, tampar, pukul, cakar tak bisa dielakkan lagi. Si pria kelabakan dengan adegan itu tapi hanya bisa berteriak-teriak panik tak ubahnya perempuan sedang melihat adegan perkelahian sementara Aletta hanya sanggup berdiri mematung.

"Dek, bantuin saya dong lerai mereka!" kata si pria itu pada Aletta.

Aletta memandang si pria lalu dengan santainya malah menjawab, "Bapak dong yang harusnya lerai mereka kan mereka berantem karena Bapak. Tapi bentar lagi juga bakal dilerai warga kok."

Si pria makin panik karena Aletta mengendik pada kerumunan warga yang mulai datang karena penasaran dengan suara riuh yang diakibatkan oleh dua wanita itu. Aletta tak perlu menunggu apapun lagi sehingga dia segera beranjak pergi dari sana meninggalkan hiruk-pikuk itu untuk kembali ke rumah.

"Ketemu, Ta, rumah yang dicari?" tanya mama begitu melihat Aletta sampai rumah.

Aletta mengangguk. "Ketemu tapi malah ribut."

"Lah, kok bisa?" tanya mama lagi.

"Ibu tadi ternyata nyari rumah suami sama selingkuhannya."

"Wah, wah, wah, jadi berita besar dong abis ini," sahut mama.

Aletta mengedikkan bahu. "Tadi pas Aletta mau pulang udah ada beberapa warga yang dateng. Mungkin mau melerai dua wanita itu. Suaranya emang berisik banget."

Mama tidak komentar lagi setelahnya karena sibuk melayani seorang pembeli yang baru datang dan memesan beberapa bungkus gado-gado. Aletta memilih masuk ke dalam rumah untuk mengambil minuman dingin. Meski yang berkelahi orang lain, entah kenapa Aletta merasa dirinya yang kelelahan. Aletta kecewa. Ternyata masih ada pengkhianatan yang dilakukan umat manusia pada sesamanya. Dulu Aletta pikir perselingkuhan itu kasus yang jauh dari jangkauannya karena mama papa selama ini selalu akur bahkan hingga papa tiada. Dulu Aletta pikir itu semua adalah cerita sinetron. Dulu Aletta pikir semua rumah tangga juga sama harmonisnya seperti rumah tangga mama papanya. Kini setelah melihat sendiri para pelaku perselingkuhan dan salah satu korbannya, Aletta merasa matanya terbuka akan pelajaran hidup. Aletta memang belum pernah punya pacar hingga usianya nyaris kepala tiga. Siapa pula yang mau dengan perempuan seperti dirinya. Penampilan fisiknya tentu tidak akan menarik lelaki manapun untuk mendekat. Lagipula Aletta dulu juga disibukkan oleh kuliah dan bekerja. Tidak ada waktu untuk jadi bucin pria yang belum tentu akan jadi jodohnya kelak. Aletta selalu skeptis dengan segala hubungan percintaan meski tidak pernah ada sejarah buruk pada hubungan percintaan dalam keluarganya. Beruntung mama tidak pernah membahas apalagi memaksa Aletta untuk punya pacar atau segera menikah. Tidak, Aletta bahkan tidak pernah berangan-angan untuk menikah. Meski demikian, dalam hati Aletta tetap terbersit pikiran untuk menemukan lelaki baik yang bisa menerima dirinya apa adanya.

Ah, Aletta tiba-tiba teringat dengan Wheel of Fortune di kamarnya. Kalau dia memutarnya sekarang apakah dia bisa meminta jodoh yang baik untuknya? Bagaimana kalau dicoba saja? Siapa tahu tiba-tiba saja besok ada seorang pria tampan nan kaya seperti Christian Grey dalam film Fifty Shades of Grey yang sedang mencari jodoh— minus kelainan seksualnya, tentu saja. Aletta tersenyum geli dengan khayalannya sendiri tapi dia tetap saja memutar Wheel of Fortune itu dengan iseng. Aletta jadi tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi besok. Keberuntungan apa yang akan didapatnya. Apakah benar jodoh atau hal lain?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 6

    Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 5

    Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 4

    Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 3

    "Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 2

    "Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 1

    Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status