LOGIN"Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"
Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote control dan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.
Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan Komnas Anak. Selain gosip artis, tayangan televisi Indonesia lain isinya melihat kegiatan sehari-hari artis yang sebenarnya amat sangat tidak penting untuk kehidupan umat manusia apalagi kalau kegiatan itu berisi kegiatan yang hedon. Tentu saja itu akan menimbulkan dengki bagi yang melihatnya. Ada pula kisah motivasi dari seorang penyanyi yang dulunya terkenal yang sempat jatuh miskin lalu sekarang menjadi sukses berkat usahanya tapi menurut Aletta sikap penyanyi itu tidak patut ditiru karena kesombongannya. Iya, harta itu memang cobaan paling berat untuk makhluk penuh nafsu macam manusia.
"Kok bisa ga diterima? Bukannya kamu udah ada pengalaman?" Mama duduk di ujung sofa yang digunakan Aletta untuk selonjoran.
Aletta mengedikkan bahu. "Mana Aletta tau, Ma. Kayaknya sih mungkin gara-gara ada yang lebih bening kemarin makanya Aletta ga diterima."
"Makanya Mama bilang apa. Kamu tuh harus mulai peduli sama penampilan kamu. Kamu tuh udah gede lho. Udah 26 tahun. Kamu harus mulai kurusin badan, belajar make up yang bener, beli baju-baju bagus—"
"Ma, Ma." Aletta menghentikan ucapan mamanya. "Aletta gimana caranya beli baju-baju bagus kalo kerjaan aja ga punya? Mau make up juga belinya gimana kan ga punya duit? Mama juga kan ga pernah ngasih duit."
"Lah, kan kamu udah bisa cari duit sendiri ngapain Mama masih harus kasih kamu duit? Lagian Mama kan udah pernah bilang kalo kamu susah cari kerjaan ya udah bantuin Mama jual kue-kue pesenan aja sama jual gado-gado depan rumah. Ga perlu kurusin badan, ga perlu make up, ga perlu pake baju bagus--"
"Masa Aletta lulusan S1 malah disuruh jualan sih?" Aletta bersungut-sungut.
"Siapa yang nyuruh kamu kuliah dulu?" Mama mendebat sengit, tak mau kalah. "Mama bilang masuk SMK aja udah. Ga usah lanjut kuliah karena ga ada biaya. Tapi kamu ngeyel."
"Nah, Aletta kuliah juga nyambi kerja kan? Aletta kuliah juga bayar sendiri. Kenapa Mama marah pake bawa-bawa papa pula?" Aletta juga ikut ngegas.
"Karena kamu ga dengerin omongan mama. Mama kan bilang lebih baik kamu sekolah kejuruan aja. Masuk jurusan tata boga atau apalah jadi kamu bisa deh cari duit begitu kelar SMK. Jualan kek kayak Mama."
"Biar apa, Ma? Biar kayak Mama juga hidup miskin kayak gini? Ngandelin uang dari pesenan kue orang sama jualan makanan? Kalo pas ga laku gigit jari? Iya?" Aletta meluapkan emosinya.
Mata Mama terlihat berkaca-kaca ingin menangis. Aletta sadar hati Mama pasti terluka karena kata-katanya barusan tapi Aletta masih tetap memberondong mamanya karena itulah yang selama ini dirasakannya tapi dia diam saja. Lagipula sudah terlanjur terucap kan? Jadi sekalian saja.
"Aletta pengen sekolah tinggi biar bisa bikin hidup kita lebih baik, Ma. Aletta pengen hidup kita beranjak dari kemiskinan. Ga kayak gini terus."
Mama membiarkan air mata mengumpul di pelupuk matanya lalu jatuh begitu saja. Hati Aletta mencelos. Namun, dia terlalu gengsi untuk meminta maaf.
"Tapi mana? Kamu malah di-PHK kan?"
"Ini lagi masa sulit, Ma. Mama sadar dong." Aletta masih menampik kenyataan yang disodorkan mamanya.
"Justru karena Mama sadar jadi Mama harusnya kasih tau kamu kalo kamu ngandelin cari kerja di perusahaan aja kita ga bisa hidup, Ta. Kita harus cari penghasilan tambahan dengan jualan atau apalah itu."
"Tapi ga jualan kayak Mama juga kan?"
"Terserah kamu mau jualan apa. Mama ga maksa kamu harus jualan makanan kayak Mama. Kamu bisa jualan apapun itu yang sesuai sama minat atau bakat kamu. Kamu kan punya banyak temen. Bisa dong dijadiin ajang promosi."
Aletta terdiam. Sebenarnya dalam hatinya sudah sering ada niatan untuk berjualan tapi dia masih belum tahu hendak berjualan apa. Aletta sadar dirinya tak pandai berpromosi. Lebih tepatnya lagi-lagi gengsi. Dia menganggap bahwa berjualan itu bukan pekerjaan berkelas bila dibandingkan dengan bekerja kantoran.
"Mama ga usah atur-atur hidup Aletta. Aletta tau apa yang baik buat diri Aletta sendiri." Aletta pun beranjak dari sofa yang didudukinya bersama mamanya.
"Mau kemana kamu?" tanya mamanya.
"Ke kamar. Suntuk. Mau nonton TV ga ada acara yang bagus eh malah ketambahan dengerin omelan Mama." Aletta berjalan menuju kamarnya.
"Kamu ga nyoba ngelamar kerja lagi hari ini?" tanya mamanya setengah berteriak karena Aletta sudah masuk ke dalam kamar meski belum dikunci.
"Duitnya udah abis, Ma. Udah ga ada ongkos. Mama ga mau ngasih kan?" Aletta lalu segera menutup pintu kamar dan menguncinya sebelum mamanya mengomel lebih banyak.
Aletta segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamar yang mulai keropos di sana sini karena sering terkena rembesan air hujan. Bahkan sebenarnya di beberapa bagian rumah yang lain sering bocor saat hujan turun cukup deras misalnya di ruang makan dan ruang keluarga. Masih bagus kamarnya tidak ikut bocor.
Ah, papa. Aletta mendesah.
Andai saja papanya masih hidup mungkin hidupnya tak akan sengsara seperti ini. Papa meninggal di usia Aletta yang terbilang masih kecil, 5 tahun. Saat itu Aletta tak tahu kalau papa meninggal berarti papa tidak ada lagi ada di dunia. Aletta pikir papa bisa mampir kapan saja saat Aletta rindu. Ternyata tidak. Aletta merasa kesepian di awal-awal kepergian papa. Aletta selalu berdoa agar papa kembali. Aletta ingin dimanja papa seperti dulu. Aletta ingin selalu dibelikan makanan yang enak, es krim yang lembut, kue yang lezat. Tapi saat Aletta beranjak besar Aletta sadar bahwa ketika seseorang sudah pergi ke hadapan Tuhan berarti orang itu sudah tak bisa kembali lagi pada keluarganya yang masih hidup di dunia.
Kini, kepergian papanya sudah 21 tahun lamanya. Namun, Aletta masih merasakan kehilangan itu. Terutama ketika hidupnya dan sang mama menjadi semakin sulit karena papa tidak meninggalkan apapun untuk mereka berdua selain rumah kecil yang nyaris bisa dibilang bobrok ini. Papa saat itu memang baru merintis usaha sehingga membutuhkan banyak modal. Sayangnya, sebelum hasilnya terlihat, papa justru lebih dulu berpulang. Belum lagi rekan bisnis papa ternyata menggondol uang modal itu. Lengkaplah sudah penderitaan Aletta dan mama. Mama tak mau melaporkan kasus penipuan ini ke jalur hukum karena merasa percuma. Kalau melaporkan pun pihak mama harus menyiapkan uang yang tidak sedikit pula. Pernah Aletta mendengar mamanya berkeluh kesah sendiri dan merutuk papa.
'Kenapa kamu pergi sih, Pa? Kenapa kamu ga ninggalin apa-apa untuk aku dan anakmu? Kalau begini hidup kami pasti akan kerepotan.'
Hingga akhirnya sang mama memutuskan untuk membuka usaha makanan kecil-kecilan yang meski tidak menghasilkan banyak uang tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari meski dengan lauk pauk seadanya.
Seandainya gue lebih beruntung. Tinggal di keluarga kaya raya misalnya, batin Aletta.
Aletta tersentak. Tiba-tiba dia teringat dengan benda yang diberikan Angelou kepadanya kemarin. Dia nyaris melupakannya karena tadi sudah telanjur bete dengan omelan mamanya. Aletta merogoh kolong tempat tidurnya. Dia menyimpannya di sana. Semoga saja mama tidak menyapu kamarnya dan menemukan benda itu di bawah sana. Aha! Ketemu. Kotak itu masih ada di sana. Aletta membawanya ke atas kasurnya. Kata-kata Angelou masih terngiang di kepalanya.
'Cara kerjanya mirip lotere. Dan lingkaran ini semuanya berisi keberuntungan.'
Lingkaran ini semuanya berisi keberuntungan. Keberuntungan. Aletta butuh hal itu. Sesuatu yang dirasanya tak pernah mampir dalam hidupnya. Sejak kecil ditinggal sang papa yang tidak meninggalkan apa-apa, hidup susah dengan sang mama, sekalinya punya pekerjaan justru di-PHK, mencari pekerjaan lain susahnya minta ampun dan justru kalah saing sama anak lulusan baru, uang sepeser pun tak punya, apalagi baju bagus dan make up mahal. Belum lagi tubuh dan rupanya yang jauh dari kata elok apalagi body goals. Jangan ditanya. Tentu saja semua itu tak ada dalam kehidupannya yang nestapa.
Jomblo pula! tambahnya sendiri. Catatan mental itu seolah menempel erat di kepalanya.
'You just need to spin the wheel and booyah. You get the luck.'
Aletta lalu teringat dengan pesan Angelou. Aletta mengelus-elus benda berbentuk roda itu sambil termenung. Cukup diputar lalu keberuntungan itu akan datang. Mudah sekali. Tapi Aletta masih tidak yakin apakah benar semudah itu mendapatkan keberuntungan dengan Wheel of Fortune ini? Tapi, yah, kenapa tidak? Bukannya benda ini berasal dari malaikat yang diutus Tuhan untuk menolongnya? Tuhan kan Maha Segalanya. Pasti segala hal akan terasa mudah bagiNya. Tapi Aletta masih bingung kenapa Tuhan repot-repot mengutus malaikat turun ke bumi untuk memberinya keberuntungan? Kenapa tidak langsung saja doa-doanya dikabulkan? Kenapa tidak langsung saja keberuntungan itu diturunkan pada Aletta? Aletta malah jadi bingung sendiri.
Eit, tunggu sebentar. Angelou bilang ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Aletta mencoba mengingat-ingat lagi apa saja syarat dan ketentuan itu. Tidak dapat dipindahtangankan. Oh, tentu saja. Kalau alat ini berhasil memberinya keberuntungan Aletta juga tak akan sudi membaginya dengan orang lain. Tanpa disuruh pun Aletta pasti akan menyimpannya rapat-rapat. Keberuntungan di roda ini ada tingkatannya tapi tidak bisa diketahui angka mana yang menyimpan tingkatan lebih besar, apakah dari angka 1 ke 9 atau sebaliknya. Well, tidak begitu masalah, toh, semuanya tetap berisi keberuntungan. Sekecil apapun yang namanya keberuntungan tetap keberuntungan kan? Setidaknya Aletta tidak perlu pusing berdoa agar panahnya tak menunjukkan bagian yang zonk. Bisa mendapatkan keberuntungan yang sama berkali-kali, yah, itu juga tidak terlalu menjadi masalah untuk Aletta. Oh, yang paling penting adalah benda ini akan bekerja kalau pemiliknya memberikan sesuatu dengan keikhlasan. Semakin besar yang diberikan semakin besar pula keberuntungan yang didapat. Aletta mengernyit bingung di bagian itu. Jadi kalau Aletta belum memberikan sesuatu, benda ini tidak bisa dipakai? Jadi Aletta tidak bisa sembarangan memutar benda ini kapan saja, begitu? Masalahnya Aletta harus memberi apa? Uang saja tidak punya. Dan kepada siapa Aletta harus memberi? Sementara banyak orang di luar sana yang lebih beruntung daripada dirinya tapi kenapa harus dirinya yang berderma?
'Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?'
Kata-kata Angelou itu terngiang di kepala Aletta. Bermanfaat itu berarti maksudnya membantu? Berarti yang dimaksud memberi itu adalah memberi bantuan? Tapi membantu apa? Kepada siapa?
'Never stop doing good.' Begitu pesan terakhir dari Angelou sebelum menghilang. Apakah itu artinya Aletta harus terus jadi orang baik? Tapi orang baik itu yang seperti apa? Aletta sibuk dengan isi pikirannya sendiri hingga lelah dan jatuh tertidur tak lama kemudian.
***
Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti
Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k
Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""
"Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan
"Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k
Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y