Share

Bab 2

Author: Dyingforwords
last update publish date: 2020-10-07 01:19:58

"Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.

Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?"

"Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat.

"Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jij aja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.

Aletta hanya ber-oh ria.

"Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ik minta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya."

"M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah ketakutan.

"Ck, bukan. Itu tadi ik liat di TV ada orang berpeci yang hobi ambilin duit orang dengan jabatannya. Namanya kons- Apa? Konspirasi?"

"Korupsi kali!" ralat Aletta.

"Ah, itu dia. Terus ada juga yang hobi ambil suami atau istri orang. Apa namanya? Pe- Pelacur?"

"Pelakor," ralat Aletta lagi.

"Ah, iya itu. Terus ada juga yang suka bunuh orang lain karena sakit hati lah dan sebagainya. Terus ada juga manusia yang suka buang bayi-bayi lucu tanpa dosa. Hey, kalian ga mikirin capeknya dan sibuknya temen-temen ik pas ada manusia yang mau lahir, hah? Manusia itu dari abad ke abad hobinya makin serem ya," celoteh Angelou masih sambil menyuapi mulutnya dengan es krim.

"Dulu sudah ada King Henry VIII, Vlad Țepeș, Jack The Ripper, eh sekarang ternyata banyak yang lebih sadis dan gila. Ik pikir yang begitu cuma jadi legenda ga taunya malah jadi inspirasi." Angelou menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aletta tersenyum. "Mungkin emang udah waktunya kali. Kita udah makin deket sama kiamat. Jadinya manusia pada gila. Manusia pada ga manusiawi lagi. We see human but not humanity. Iya kan?"

Angelou berteriak. "Nah, bener itu! We see human but not humanity. Kita melihat manusia tapi tidak melihat kemanusiaan. Ya ampun, ini es krim enak banget." Angelou sibuk memakan suapan demi suapan es krimnya dengan nikmat. Sayapnya mengepak-ngepak dengan heboh. Sepertinya sayap itu asli karena gerakannya mengikuti kehendak si pemilik sayap. Ingatkan Aletta untuk mengeceknya nanti.

Masih ada delapan gelas es krim lagi yang belum dihabiskan Angelou. Syukurlah Aletta masih bisa menemukan es krim yang harganya ceban per porsi sehingga Aletta bisa memesan banyak untuk Angelou. Apalagi Angelou juga menyukai es krimnya meski harganya terbilang murah.

"Jij mau?" tawar Angelou saat melihat Aletta diam saja memandanginya.

"Boleh emangnya?" tanya Aletta agak sungkan.

"Silakan aja. Eh-" Angelou buru-buru memegang tangan Aletta ketika Aletta hendak mengambil segelas es krim. "Satu gelas aja ya. Kalo lebih, ik bakal batalin kesepakatan tadi!" ancam Angelou.

"Iya, iya." Aletta mendengus sebal.

"Jadi gini..." Angelou akhirnya mulai membuka percakapan ke sesuatu yang menarik minat Aletta sedari tadi hingga dia rela melepaskan dua lembar uang seratus ribunya ke penjual es krim. "Ik diutus datang ke sini untuk memberi jij sesuatu."

"Apa itu?" tanya Aletta dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap.

Angelou mengeluarkan sebuah kotak (yang entah tadi disimpannya dimana) berukuran sedang berwarna coklat yang dipelitur yang terbuat dari kayu mahoni. Kotak itu terlihat mahal dan mewah. Aletta berpikir mungkin Angelou membawa sesuatu yang sangat berharga misalnya kunci menuju sebuah harta karun atau semacamnya yang tidak akan habis tujuh turunan yang akan membuatnya hidup makmur.

Angelou menjentikkan jari-jari lentiknya di depan wajah Aletta yang masih bengong maksimal karena mengkhayal. Angelou mengedik ke arah kotak itu sebagai tanda agar Aletta membukanya.

"Apa ini?" Tanya Aletta lagi.

"Just open it!" perintah Angelou.

Aletta membuka penutup kotak itu ragu. Namun, ketika tutupnya terbuka Aletta tetap kebingungan. "Apa ini?"

"Ini namanya Wheel of Fortune." Angelou mengeluarkan sebuah benda dari kotak itu. Benda itu berbentuk lingkaran yang disangga oleh tiang pendek seukuran diameter lingkaran dengan dudukan kecil. Bagian atas tiang pendek itu terpasang panah kecil yang lentur. Panah itu bisa menunjuk ke bagian-bagian tertentu dalam lingkaran bila lingkaran itu diputar. Lingkaran itu terbagi menjadi sembilan bagian sama besar yang hanya diisi oleh angka-angka dan setiap bagian dari lingkaran mempunyai warna yang berbeda-beda. Setiap bagian lingkaran itu juga dihiasi semacam paku-paku kecil sebagai pembatas antara satu bagian dan bagian lainnya.

"Wheel of Fortune?" Aletta mengernyitkan dahi. "Semacam alat untuk lotere? Undian?"

"Ya, cara kerjanya mirip lotere, undian, you name it..."

"Ckck, lo ngajarin gue berjudi? Malaikat macam apa yang-"

"Sssshh. Just listen!" Aletta langsung mengilustrasikan merisleting mulutnya begitu Angelou menyuruhnya diam.

"Alat ini cara kerjanya memang mirip lotere atau undian. Hidup bukannya tentang berjudi? Tunggu, bukan berjudi tapi tentang peluang. Ya, secara teknis, berjudi juga soal peluang. Ah, whatever-" Angelou jadi kesal sendiri. Aletta justru menertawakan tingkah Angelou yang menurutnya lucu. Aletta pikir malaikat itu semuanya misterius. Ternyata ada juga yang bawel.

"Jij kenapa ketawa, hah?" hardik Angelou yang membuat Aletta langsung bungkam.

"Oke. Cara kerja alat ini memang mirip dengan undian atau lotere. Mirip juga dengan kuis-kuis di TV. You just need to spin the wheel and booyah. You get the luck. Bedanya lingkaran ini semuanya berisi keberuntungan," tegas Angelou.

"Semuanya?" Angelou mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Jadi gue ga bakal kena sial kalopun panahnya berhenti dimana aja?"

Angelou mengangguk lagi. "Tapi-"

"Tapi?" potong Aletta penasaran.

"Ada syarat dan ketentuan berlaku." Aletta manggut-manggut antusias.

"Yang paling penting, benda ini tidak bisa dipindahtangankan karena ini spesial untukmu. Ada nama kamu di kotaknya." Angelou menunjukkan ukiran nama Aletta dengan huruf yang terlihat mewah di penutup kotak itu. Gadis itu berdecak kagum. Baru sekarang Aletta mendapatkan benda mewah seperti ini. Berkat ukiran namanya itu pulalah, Aletta jadi yakin bahwa Angelou benar-benar malaikat karena mana mungkin seorang manusia bisa menebak nama lengkapnya dan diukir di kotak kayu sebelum dirinya sendiri memperkenalkan diri.

"Kemudian keberuntungan di Wheel of Fortune ini ada tingkatannya."

"Maksud lo?"

"Lihat angka-angka ini? Ada angka satu sampai sembilan kan? Nah, angka-angka itu untuk memberi tingkatan keberuntungannya."

Aletta mengangguk sambil memperhatikan angka-angka di Wheel of Fortune itu.

"Tapi yang menjadi masalah adalah kita tidak tau apakah keberuntungan paling besar itu dimulai dari angka satu atau justru di angka sembilan."

"Tunggu, tunggu! Berarti ga ada patokannya dong gue dapet keberuntungan yang bagaimana? Mana gue ga bisa milih kan minta keberuntungan apa?"

Angelou mengangguk. "Kurang lebih begitu."

Aletta mengerucutkan bibir karena kecewa terlebih lagi saat Angelou berkata, "selain itu tidak menjamin kalau jij bisa dapat keberuntungan yang lebih besar setelah memutar untuk yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya."

"Jadi?" Aletta mulai tidak sabar. "Jadi maksud lo, gue bisa aja dapet keberuntungan yang sama berkali-kali?"

Angelou mengangguk lagi. "Tepat sekali. Semua keberuntungan yang jij dapet tergantung dari Wheel of Fortune ini menunjukkan arahnya kemana."

Aletta mendengus. "Yah, sama aja bohong dong kalo gitu."

Angelou langsung mendelik. "Maksud jij apa, hah?"

"Maksud gue, kalo keberuntungan yang gue dapet itu-itu aja ya sama aja bohong dong. Misal nih ya gue dapet keberuntungan berupa disapa sama gebetan deh. Terus besoknya gue puter lagi dapetnya itu lagi. Ya bohong dong. Apa fungsinya kalo gitu doang? Kapan gue bisa kaya raya? Kata lo gue bisa dapet dua milyar. Rugi dong gue udah traktir lo es krim segini banyak kalo rahasianya cuma gitu doang. Kalo kayak gini doang sih main di pasar malem juga bisa, Lou. Atau maen di mamang-mamang yang jualan mainan di SD-SD juga banyak. Ga perlu pake nurunin malaikat ke bumi segala."

Angelou memasang tampang garang. "He sent me to you to deliver this special gift for you terus jij ngomong begitu seenak udel, hah? Berani-beraninya ya..."

"Ampun, ampun, Lou. Iya, iya, maap." Aletta langsung berlindung dengan kedua lengannya yang dijadikan tameng untuk menutupi wajah dan kepalanya. "Abisnya lo mancing sih." Aletta tak mau disalahkan.

Angelou berkomat-kamit dengan ritme cepat tapi Aletta masih bisa mendengarnya. "Ya Tuhan, ampuni aku. Manusia seperti ini memang harusnya tidak usah dikasihani. Biar saja dia hidup miskin dan menderita karena terlalu banyak menuntut padaMu."

"Lou." Aletta memegang lengan Angelou, membuat malaikat bawel itu diam. "Jangan gitu dong." Mau tak mau, Angelou akhirnya luluh juga.

Angelou mendesah sebal. "Intinya ik ngasih benda ini ke jij. Masalah jij mau percaya atau ga, mau dipake atau ga, terserah jij. I don't care."

Aletta mengangguk patuh kali ini.

Angelou kemudian menambahkan, "Ik sudah bilang syarat dan ketentuan yang lain belum?" yang dibalas dengan gelengan oleh Aletta.

"Oke. Dengerin ik ya. Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet."

"Tunggu, tunggu, tunggu!" Aletta memotong lagi. "Gue dikasih benda yang katanya mendatangkan keberuntungan tapi gue harus ngasih sesuatu dulu? Itu namanya barter dong."

Angelou tersenyum sambil mengangguk. "Exactly. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?"

Aletta memonyongkan bibirnya kesal. "Terus ini gue bisa tau keberuntungan gue apa kalo tulisannya di sini cuma angka?"

Angelou tertawa lagi. "Oleh sebab itu namanya keberuntungan kan? Karena kita ga tau apa bentuknya. Bukannya rezeki itu juga rahasia Tuhan untuk kita?"

Aletta mengangguk-angguk. Meski dia masih merasa ini tak adil tapi penjelasan Angelou masuk akal dan ada benarnya.

"Oh, ik baru inget. Rezeki itu tidak melulu bentuknya uang lho. Kadang benda-benda immaterial juga bisa jadi rezeki."

Aletta mengangguk-angguk lagi.

"Jadi gimana? Mau terima ini ga?" tanya Angelou.

"Kan emang mau dikasihin ke gue kan?" Aletta jadi bingung.

"Kalo jij ga mau juga ga papa kok. Ik bisa kirim balik ke Eden untuk dihancurkan." Angelou berlagak jual mahal. Dia memasukkan benda itu ke kotaknya lalu hendak dibawanya lagi.

"Iya, iya, gue mau!" Aletta menjawab cepat. Aletta mencegah Angelou membawa kotak itu.

Angelou tersenyum menang, "Oke. This is yours," lalu menyorongkan kotak itu ke arah Aletta.

"Satu pesan dari ik: never stop doing good." Angelou mengedipkan sebelah matanya.

"M-maksudnya?" Aletta mengerjap.

"Berbuat baiklah."

"Iya, tapi ap-"

Belum selesai Aletta berkata-kata, Angelou sudah menariknya keluar dari kedai es krim. "Ik mau pulang. Di sini hawanya panas banget. Ga kuat. Udah ya, Aletta. Yang penting ik kan udah ngasih benda ini ke jij."

Aletta mengangguk-angguk pasrah ketika Angelou melambaikan tangan lalu melesat pergi. Seorang anak kecil yang baru saja keluar dari kedai es krim dengan ibunya menunjuk-nunjuk Aletta.

"Itu, Ma, kakak yang aku bilang tadi. Kakak yang makan sama cowok bersayap," seru bocah itu.

"Ngaco kamu. Kakak itu tadi makan sama manusia biasa kok sama kayak kita," kata si ibu dengan nada berbisik pada anaknya. Mungkin tidak enak karena harus membicarakan Aletta di depannya.

Aletta pura-pura tidak mendengar. Sementara anak itu masih heboh menarik-narik baju ibunya sambil tetap menunjuk-nunjuk Aletta.

"Ayo, Ma, kita nanya kakaknya kenal peri bersayap dimana."

"Kamu jangan ngaco ah! Kakaknya tadi makan es krim sama manusia, Nak, bukan sama peri bersayap. Kamu pasti kebanyakan mengkhayal deh. Kebanyakan nonton kartun kamu." Si ibu mulai risih dengan tingkah laku anaknya.

"Ayo. Ayo, Ma. Tanya ke kakaknya."

Aletta akhirnya memutuskan untuk pergi dari kedai es krim itu agar tidak menjadi perhatian lebih banyak orang. Jadi benar bahwa Angelou malaikat? Jati diri Angelou tidak bisa dilihat oleh semua orang. Hanya Aletta dan anak kecil itu saja yang bisa melihat sayap di punggung Angelou.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 6

    Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 5

    Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 4

    Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 3

    "Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 2

    "Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 1

    Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status