LOGINAletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat.
"Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.
Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur.
"Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya."
"Ziarah?" ralat Aletta.
"Nah, itu mungkin." Mama kembali sibuk menyelesaikan pesanan nasi kuningnya.
"Zirah itu baju besi. Biasanya dipake buat perang zaman dulu. Kalo perjalanan wisata namanya ziarah. Biasanya ke tempat-tempat atau makam orang yang dianggap suci kayak wali dan sebagainya," koreksi Aletta.
"Iya, betul yang itu. Eh, kok kamu udah bangun? Tumben?" Mama baru menyadari bahwa Aletta bangun lebih cepat pagi ini.
"Aletta mimpi abis dikejar-kejar sama setan tapi bentuknya perempuan dengan tubuh kurus banget kayak lidi. Aletta sebel banget sama makhluk bertubuh kurus sampe masuk ke dalam mimpi dalam bentuk setan." Aletta bersungut-sungut sebal. Mama justru tertawa.
"Kamu itu ada-ada aja deh," ucap mama.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Aletta sambil mendekat ke arah mamanya. Mama bukannya menjawab tapi malah memandangi Aletta dengan pandangan takjub, kaget, dan heran sekaligus.
"Serius?" Mama malah balik bertanya.
Aletta mengangguk yakin. "Gini-gini juga Aletta bisa kok ngapain aja—"
"Tapi kenapa nggak pernah bantuin Mama?" sindir mama.
"Karena Aletta lebih suka bantuin tanpa disuruh. Kalo disuruh-suruh malah males jadinya. Mama kan suka bawel tuh nyuruh-nyuruh Aletta."
Mama mencebik kemudian berkata, "Alasan aja kamu itu! Kalo Mama ga nyuruh-nyuruh gimana kamu mau bantuin? Udah disuruh aja ga mau bantu kok!" tapi Aletta mengabaikan perkataan mama itu. Mama pun memberi mandat pada Aletta untuk menata nasi kuning yang sudah matang ke dalam kotak-kotak yang sudah disiapkan.
"Itu lauknya ditata di mika terus ditaro di atas nasinya." Aletta mengangguk dengan komando sang mama lalu dengan cekatan Aletta mulai menata nasi kuning itu ke dalam kotak-kotak bersama dengan lauk-pauknya.
Tepat pukul 06.45, pekerjaan itu selesai.
"Tolong kamu sekalian anterin ke rumah Bu Yana dong, Ta," pinta mama begitu Aletta selesai memasukkan kotak-kotak itu ke dalam sebuah plastik besar. "Bu Yana bilang katanya rombongan ziarahnya mau berangkat jam 7. Masih ada waktu lima belas menit lagi."
"Cuma anterin aja kan?" tanya Aletta.
"Iyalah. Emang mau apa lagi? Udah buruan sana nanti keburu rombongannya berangkat."
"Nggak bakal lah, Ma, kan makanannya aja masih di sini masa mereka mau berangkat gitu aja."
"Ya udah buruan pokoknya. Mama kan janjinya dianterin sebelum berangkat."
"Iya, iya."
Aletta pun segera membawa plastik besar berisi kotak-kotak nasi kuning menuju ke rumah Bu Yana, tetangganya, yang rumahnya hanya berjarak sekitar seratus meter dari rumahnya.
"Ta, nggak usah minta uang lagi. Bu Yana udah ngasih uangnya kemarin," pesan mama sebelum Aletta pergi. Aletta pun mengangguk kemudian pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah Bu Yana.
"Mission accomplished!" lapor Aletta pada mama begitu sudah sampai di rumah. "Misi sukses, Ma!" kata Aletta sambil mendecak ketika mama tampak kebingungan dengan ucapan Aletta sebelumnya.
"Oh." Mama hanya ber-oh ria membuat Aletta makin sebal. "Bagus, bagus. Makasih ya, Ta." Aletta mengangguk sebagai jawaban atas ucapan terimakasih mamanya.
"Eh, eh, tunggu sebentar, Ta!" Aletta yang baru saja hendak menuju ke kamarnya langsung mengerem langkahnya dengan tiba-tiba. "Mama bisa minta tolong lagi?" tanya mama.
"Apa?" Aletta menjawab dengan enggan. Padahal sudah dibilang Aletta tidak suka kalau disuruh.
"Beliin ini ke toko kue di seberang jalan sana." Mama mengeluarkan selembar kertas berisi catatan bahan-bahan untuk membuat kue: tepung, gula, mentega, telur, icing sugar, dan sebagainya. "Mama ada pesenan bikin kue ulang tahun. Tapi mama bentar lagi mau ke rumah Bu Efendi."
"Ya udah, kenapa ga sekalian aja Mama ke rumah Bu Efendi terus pulangnya mampir ke toko bahan kue di sana?" Aletta menyahut santai.
"Ih, kamu! Mama nyuruh kamu malah kamu banyak alesan."
"Abis Mama kayak memanfaatkan Aletta barusan gara-gara Aletta tadi udah bantuin Mama bungkusin nasi kuning."
"Astaga! Bisa-bisanya kamu ngomong begitu? Nih ya, Mama emang sering nyuruh-nyuruh kamu tapi kapan kamu pernah ngerjainnya? Berapa kali? Sekali? Dua kali? Seinget Mama ga pernah sama sekali." Mama berkacak pinggang.
Akhirnya dengan berat hati Aletta merebut kertas catatan itu dari tangan mama lalu menadahkan tangan untuk meminta uang.
"Nih!" Mama menyerahkan selembar uang seratus ribuan pada Aletta. "Pasti cukup. Ga usah banyak protes!" kata mama sebelum Aletta membuka mulut lagi.
"Udah sana!" Aletta pun pergi meninggalkan rumah dengan langkah gontai. "Dasar, Anak Manja!" kata Mama.
Sesampainya di toko bahan kue, Aletta segera mencari bahan-bahan yang tertulis di kertas catatan mama. Saat semua bahan selesai dipilih, Aletta melihat seorang nenek sedang bingung memilih sesuatu.
"Ada yang bisa dibantu, Nek?" tegur Aletta. Si nenek tersenyum padanya.
"Ah, bisa bantu bacain ini, Nak?" Si nenek menyodorkan selembar kertas. "Apa aja tulisannya? Nenek lupa ga bawa kacamata jadi ga bisa baca tulisannya. Kecil-kecil banget."
Aletta mengangguk lalu membacakan tulisan di atas kertas itu dengan lambat-lambat agar si nenek bisa mendengarkan dengan saksama.
"Oh, berarti Nenek harus beli tepung, mentega, gula, telur, kismis, coklat bubuk, dan krim vanila ya?" Si nenek mengkonfirmasi yang dijawab anggukan oleh Aletta.
"Mau saya bantu ambilkan bahan-bahannya, Nek? Kebetulan tadi saya abis beli bahan-bahan yang dituliskan di kertas catatan Nenek. Jadi saya masih ingat tempatnya dimana aja," tawar Aletta.
"Ah, kamu baik sekali. Terimakasih." Si nenek merasa terbantu dengan kemurahan hati Aletta. Aletta pun dengan cekatan segera meletakkan bahan-bahan yang dibutuhkan si nenek ke dalam keranjang yang dibawa si nenek sejak tadi.
"Cucu Nenek mau datang dari jauh. Dia mungkin sudah besar sekarang. Mungkin sudah 15 atau 16 ya? Ah, maklum, Nenek udah lama ga ketemu cucu Nenek sejak usia 8 tahun. Nah, Nenek mau bikin kue kesukaan dia dulu. Tapi karena Nenek sudah lama ga bikin kue jadi Nenek sudah lupa bahan-bahannya apa aja. Ini Nenek minta ART Nenek untuk mencatatkan bahan-bahannya."
Aletta mengangguk-angguk. Namun, sebelum Aletta bertanya lebih jauh, si nenek kembali menjelaskan.
"Sebenarnya ART Nenek sudah menawarkan berbelanja bahan-bahannya tapi Nenek menolaknya karena Nenek merasa ini spesial. Selain Nenek yang harus bikin kuenya sendiri, Nenek juga harus membeli bahan-bahannya sendiri."
Binar bahagia tampak jelas di kedua mata si nenek. Aletta seketika merasa bahwa sungguh beruntungnya cucu si nenek yang disayangi oleh neneknya sedemikian besar. Sementara Aletta tak pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh seorang nenek karena mama papa sudah tidak punya orang tua lagi bahkan jauh sebelum Aletta lahir.
"Saya bantu bawakan ke konter kasir sekalian ya, Nek," tawar Aletta lagi yang tentu saja ditanggapi gembira oleh si nenek. Bahkan Aletta mempersilakan si nenek untuk mengantre lebih dulu ketika di kasir.
"Terimakasih ya, Nak, atas bantuannya. Saya senang bisa bertemu dengan anak muda yang murah hati seperti kamu. Semoga Tuhan membalas kebaikan kamu," kata si nenek sebelum berpamitan pulang.
"Sama-sama, Nek. Amin," balas Aletta.
Aletta merasakan ada sejumput perasaan yang tidak bisa didefinisikannya setelah berhasil membantu si nenek. Ternyata memang menyenangkan bisa bermanfaat buat orang lain. Ada kepuasan tersendiri ketika Aletta bisa melihat kebahagiaan di hati orang yang ditolongnya. Apalagi ketika Aletta didoakan oleh si nenek dengan ketulusan. Hey, tunggu dulu. Bermanfaat buat orang lain? Apakah ini saatnya Aletta untuk mencoba peruntungannya dengan memutar Wheel of Fortune itu sekarang? Bukankah Aletta sudah memberi manfaat untuk orang lain? Berarti dia akan mendapatkan keberuntungan kalau memutar Wheel of Fortune itu? Keberuntungan apa ya? Ah, Aletta jadi tidak sabar untuk pulang ke rumah dan segera menanti keberuntungannya. Aletta pun melangkah pulang dengan riang.
Keberuntungan, aku datang! Aletta mengucapkannya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
***
Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti
Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k
Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""
"Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan
"Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k
Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y