Share

Bab 5

Author: Dyingforwords
last update publish date: 2020-10-09 06:56:49

Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak.

"Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.

Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.

'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'

Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta.

"Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini kan?" Aletta masih berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Setelah berdebat sekian lama dengan dirinya sendiri, Aletta akhirnya memutuskan untuk mencoba memutar Wheel of Fortune miliknya. Aletta memejamkan mata. Satu menit, dua menit, tiga, hingga lima menit kemudian mata Aletta masih memejam. Aletta menunggu terjadi sesuatu tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada goncangan, suara berderak, berdecit, atau suara apapun yang menandakan bahwa sesuatu telah berubah atau bergeser. Aletta membuka mata pelan-pelan. Segalanya masih sama. Kamarnya masih sama— bocor dan lembap sana sini akibat rembesan air hujan. Tubuhnya masih sama— tinggi besar. Wajahnya masih sama— tidak rupawan. Tidak ada satupun yang berubah. Satu-satunya yang berubah adalah panah di roda itu berhenti di angka 1— yang tadinya berhenti di angka 9. Bahu Aletta melorot.

"Yah, gue pikir gue bakal tiba-tiba jadi cakep dan seksi gitu kayak Anya Geraldine," keluh Aletta kecewa.

"Kalo muka gue tiba-tiba cakep kan segalanya jadi lebih mudah. Seperti yang orang-orang bilang kalo cakep itu privilege jadi kalo punya wajah cakep itu setidaknya gue menggenggam separuh kemudahan dunia. Misal gue masih susah cari kerjaan juga gue bisa jadi sugar baby."

Aletta lalu menertawai kata-katanya sendiri. "Mungkin Tuhan sengaja ga bikin gue cakep karena gue punya cita-cita jelek kali ya. Cita-cita kok jadi sugar baby."

Aletta lalu merebahkan dirinya di atas kasurnya yang meski tidak empuk tapi tetap nyaman. Selama ini Aletta merasa Tuhan begitu tidak adil pada dirinya. Sejak Aletta tahu bahwa papa tiada, Aletta merasa Tuhan mengujinya terlalu berat. Belum lagi ketika dia dan mama harus menjalani kehidupan penuh perjuangan sejak kepergian papa, Aletta makin merasa bahwa Tuhan sudah keterlaluan. Ditambah kini Aletta harus menghadapi kenyataan bahwa dia di-PHK. Tidak sedikitpun keberuntungan yang tersisa untuk dirinya lagi. Jangan dikira Aletta tak pernah menyerah. Aletta pernah mencoba bunuh diri saat usianya 16 dan 18 tahun— saat hidupnya dirasa paling sulit— tapi beruntungnya akal sehatnya masih berjalan normal saat itu. Dia mengurungkan niatnya sebelum mama mengetahuinya. Hingga kini mama tidak tahu-menahu soal percobaan bunuh diri itu. Mama lah yang membuatnya sadar. Aletta tahu bahwa mama berjuang dengan susah payah untuk hidup mereka berdua. Meski terbilang anak yang menyusahkan, Aletta tahu bahwa mama tetap bersemangat hidup karena dirinya. Mama merasa masih punya tanggung jawab untuk membesarkan Aletta sebagai anak mama satu-satunya. Namun, sejak kepergian papa, hubungan antara Aletta dan mama memang sedikit merenggang. Entah kenapa. Mungkin karena keduanya terlalu kehilangan sehingga sama-sama menyendiri adalah obat luka terbaik.

"Ta!" terdengar ketukan di pintu kamar Aletta. "Mama masuk ya," tak berapa lama kenop pintu diputar dan pintu kamar Aletta terbuka.

Aletta kaget tapi kemudian dia teringat dengan kotak mahoni itu. Dia buru-buru menutupi kotak itu dengan bantal dan menggesernya ke belakang punggungnya agar mama tidak melihat. 

"Kamu kenapa? Kok panik gitu?" tanya mama curiga.

"Ng-nggak papa, Ma. Kaget aja soalnya tadi Aletta abis rebahan." Aletta berusaha menepis kecurigaan mama. Aletta berusaha menutupi kotaknya dengan gaya senormal mungkin.

"Mama bawa apa?" tanya Aletta untuk mengalihkan perhatian mama. Tapi Aletta memang penasaran dengan nampan yang dibawa sang mama. Nampan itu ditutupi oleh sebuah penutup berbentuk kubah dari aluminium seperti nampan yang biasa dibawa oleh pelayan restoran mahal sehingga Aletta tidak bisa menebak apa isinya.

"Oh, ini—" Mama membuka penutup nampan lalu katanya, "Selamat ulang tahun, Aletta."

Sesaat Aletta terdiam. Aletta membeku di atas tempat tidurnya. Tak bereaksi menatap sebuah kue ulang tahun cantik yang baru saja nampak begitu penutup nampannya disingkap.

"M-mama, ini—" Aletta hanya sanggup membuka dan menutup mulutnya hingga beberapa detik kemudian.

"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, Aletta. Selamat ulang tahun." Mama bernyanyi sambil menyalakan lilin di atas kue. Angka 2 dan 7 dijajarkan terbalik menjadi 72— yang seharusnya 27, sesuai umur Aletta tahun ini. Aletta tertawa melihatnya.

"Mama ih. Kenapa angkanya 72 sih?" rajuk Aletta.

"Loh, kirain emang umur kamu 72." Mama terkekeh geli. Aletta mengerucutkan bibirnya. "Udaaah, anggep aja doa dari Mama biar kamu panjang umur."

"Amin," sahut Aletta.

"Lilinnya ditiup dong terus bikin permohonan," pinta mama. Aletta mengikuti permintaan mama. Dia berdoa agar mama dan dirinya diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Tak lupa Aletta juga meminta maaf atas segala kesalahannya karena berprasangka buruk pada Tuhan selama ini. Aletta berjanji akan lebih rajin beribadah dan memperbanyak bersyukur setelah ini.

"Jadi tadi Mama bohong ya bilang ada pesenan kue ulang tahun itu?" tanya Aletta. "Pake nyuruh-nyuruh Aletta buat beli bahan-bahan kue ga taunya buat dimakan sendiri juga."

"Ya, ga papa dong. Emangnya salah? Kalo Mama bilang terus terang kan juga ga mungkin nanti jadinya bukan kejutan," dalih mama.

"Iya juga sih." Aletta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ucapan mama memang ada benarnya.

"Potong kuenya yuk terus kita makan di depan TV. Udah lama kan kita ga ngobrol berdua. Sudah berapa tahun ya, Ta?" ajak mama.

"Iya ya, Ma. Udah berapa tahun?" Ingatan Aletta menerawang jauh ke masa lampau. Entah sudah berapa tahun sejak terakhir kalinya Aletta dan mama bisa ngobrol berdua. Yang Aletta ingat, sejak papa pergi, Aletta jadi gadis yang senang sekali menyalahkan segala sesuatu. Ah, mungkin ini penyebab hubungan mereka merenggang. Aletta ingat saat dirinya menuduh bahwa mama terlalu cerewet pada papa sehingga papa pergi meninggalkan mereka karena papa sudah tidak tahan dengan kecerewetan mama.

"Omong-omong Aletta mau minta maaf, Ma," kata Aletta.

Mama mengernyit. "Minta maaf buat apa?"

"Inget ga waktu papa ga ada terus Aletta nyalahin Mama karena Mama terlalu cerewet makanya papa ga betah lagi hidup."

Mama tergelak. "Oh, itu. Mama ga marah kok. Lagian waktu itu kamu masih kecil, belum cukup tau soal kematian. Mama paham kenapa kamu ngomong gitu. Mama juga kadang menyalahkan diri sendiri. Kadang juga menyalahkan Tuhan. Kenapa hidup ini begitu ga adil buat Mama. Tapi kalo dipikir-pikir lagi Mama ternyata masih kuat bahkan masih hidup sampe sekarang. Mungkin dengan cara begini mental Mama ditempa."

Aletta menelan ludah. Ternyata bukan dirinya saja yang sempat depresi. Mama juga. Bahkan mungkin beban mama lebih berat. Aletta jadi merasa malu sekarang karena pernah secengeng itu. Padahal mama yang punya tanggung jawab lebih besar saja berusaha kuat berdiri.

"Dan Mama pikir sudah saatnya kita mengubah itu semua. Kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun lalu tapi kenapa kita seolah masih berhenti di sana. Mama pengen kita jadi dekat lagi dan akrab lagi kayak dulu waktu masih ada papa. Kamu juga kan?" tanya mama. Tentu saja aku langsung menghadiahi mama dengan pelukan. Pelukan rindu. Rindu dengan perhatian dan kasih sayang mama, orang tua satu-satunya yang aku punya.

"I love you, Ma," bisikku di telinga mama. Mama menepuk-nepuk punggungku tanpa membalas perkataanku. Aku tahu mama pasti sedang menahan tangis. Oleh sebab itu, mama tidak mengatakan apapun. Lagipula tanpa dikatakan pun aku tahu apa jawaban mama.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 6

    Setelah perayaan ulang tahun amat sederhana itu— karena hanya ada Aletta dan mama serta sebuah kue tart berukuran sedang yang bahkan tak habis dimakan berdua dan harus dibagi dengan beberapa anak kecil tetangga, tak ada tamu undangan, pesta mewah, apalagi kado— Aletta merasa dirinya disuntik semangat tak kasat mata. Dia senang karena akhirnya hubungannya dengan sang mama berangsur membaik. Kembali menghangatnya hubungan ibu dan anak itu ternyata cukup berdampak pada diri Aletta. Aletta kini sering membantu mama membuat pesanan kue atau berjualan gado-gado karena belum ada bursa kerja yang dibuka mengingat ini masih masa pandemi dan belum ada satupun lamaran kerjanya yang diterima. Aletta juga tak pernah melihat kehadiran Angelou lagi sejak kejadian beberapa minggu lalu setelah malaikat itu menyerahkan kotak mahoni itu padanya. Aletta bahkan nyaris melupakan pertemuannya dengan Angelou dan menganggap itu semua hanya mimpi di siang bolong karena sibuk dengan ruti

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 5

    Aletta memandangi kotak mahoni itu. Dia memandangi kotak itu cukup lama untuk memutuskan apakah dia harus memutar rodanya atau tidak."Gue puter sekarang ga papa kan ya?" tanya Aletta pada dirinya sendiri.Baru sekarang Aletta menyesali kenapa dia lupa tidak menanyakan pada Angelou kapan seharusnya dia bisa memutar rodanya. Angelou juga tidak menjelaskan kapan tepatnya Aletta harus menggunakan benda ini. Waktu itu Angelou hanya menjelaskan soal syarat dan ketentuannya saja tapi bukan kapan waktu penggunaannya.'Benda ini akan bekerja kalau jij memberi sesuatu. Semakin besar yang jij kasih apalagi dengan ketulusan maka semakin besar pula keberuntungan yang akan jij dapet.'Hanya itu yang diingat Aletta soal petunjuk penggunaan benda ini. Perkataan itulah yang dijadikan patokan Aletta."Kalau bantuan ke nenek tadi bisa dianggap memberi sesuatu berarti gue udah boleh pake benda ini k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 4

    Aletta melihat mamanya sudah sibuk di dapur sepagi ini. Aletta melirik jam dinding yang tak jauh dari jarak pandangnya. Baru pukul setengah enam. Dia saja baru bangun. Inipun rekor bangun terpaginya. Waktu bekerja dulu, Aletta masuk pukul 09.00 sehingga bangun pukul 07.00 pun tak akan terlambat."Ada pesenan?" tanya Aletta sambil mengambil segelas air putih dari lemari es lalu meneguknya dengan rakus. Kalau tidak salah semalam dirinya bermimpi dikejar-kejar setan dengan tubuh lidi. Tak heran kalau Aletta merasa kehausan begitu bangun.Mamanya memandang Aletta sekilas tapi tak memberi respon apapun seperti orang bingung. Aletta lalu mengedik pada bahan makanan yang berserakan di meja dapur."Ah—" Mamanya baru paham detik itu juga apa maksud anak gadisnya. "Ada ibu-ibu pengajian di komplek sebelah yang pesen nasi kuning buat bekal zirah, zarah, za—yah, semacam itulah. Mama lupa apa istilahnya.""

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 3

    "Gimana hasilnya kemarin, Ta?" tanya mama Aletta. "Diterima?"Aletta melirik malas ke arah mamanya, "Nggak, Ma," lalu tangannya asyik memencet-mencet tombol remote controldan mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati.Aletta mendengus kesal karena sedari tadi dia sudah mengganti saluran televisi sebanyak ratusan kali tapi tak ada satupun yang berhasil menarik minatnya. Tayangan di Indonesia kenapa ga ada yang watch-able banget sih? Kenapa tayangan televisi Indonesia isinya ga bermutu? Isinya ga jauh-jauh dari gosip artis; dari artis A yang nikah baru seumur jagung tapi sudah berniat cerai lalu sekarang artis A itu menuduh istrinya hamil dengan laki-laki lain, atau anak penyanyi terkenal yang gagal menggelar resepsi pernikahan mewahnya dengan seorang Youtuber sensasional karena masih pandemi, atau Youtuber yang memperkarakan satu kata yang menurutnya tidak baik sampai jadi perhatian seluruh jagad nasional dan bahkan

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 2

    "Lo yakin lo malaikat?" tanya Aletta sambil melihat Angelou dengan terpana ketika makhluk itu sedang menghabiskan gelas es krim kedua belasnya dengan lahap.Angelou menelengkan kepalanya. "Kenapa?""Gue pikir malaikat ga makan. Apalagi makan makanan manusia gini. Rakus pula." Aletta menopang dagunya, masih asyik memandangi Angelou yang lahap menghabiskan es krimnya dalam tempo singkat."Hmm, makanan-makanan manusia ada semua kok di Eden. Jijaja yang belum kesana," sahut Angelou enteng.Aletta hanya ber-oh ria."Oh, Eden itu nama kota tempat ik tinggal by the way," terang Angelou tanpa ditanya dan diminta. "Di sana sejuk ga kayak di sini. Panas. Makanya ikminta ditraktir es krim. Kayaknya banyak setan bertebaran di sini ya.""M-maksudnya?" Aletta bertanya bingung. "D-di sini banyak setan gitu? Siang-siang gini?" Aletta sudah k

  • Wheel of Fortune (Bahasa Indonesia)   Bab 1

    Aletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah."Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good lookingkarena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status