MaharKu
Tidak pernah ia bayangkan akan menikah kembali setelah badai bernama anak yang tidak akan datang menerpa rumah tangganya, bukan mau dirinya membagi diri, bukan keinginannya membelah raga dan jiwa serta bahkan hati demi sepenggal kata 'Ayah', tetapi demi permohonan sang ibunda tercinta, mau tak mau Habibi membagi raganya.
Menikahi salah seorang perempuan yang dipilih sendiri oleh sang istri tercinta.
Malam itu, seharusnya menjadi malam sakral di mana tidak hanya raganya yang bergerak menjauh tetapi juga hati yang seharusnya dibagi sama rata. Namun, bayang sang istri menghantui, perasaan bersalah karena tidak bisa memilih menjadi alasan dirinya tidak menyentuh istri keduanya.
Katanya, tulang rusuk itu berada begitu dekat. Bukan di samping hanya sebagai pendamping, tidak pula berada di belakang sebagai pengikut, ia berada tepat di dekat hati, melindungi ruhnya dari sebuah pengkhianatan yang bisa saja membawanya pada lorong neraka.
Habibi berusaha sekuat tenaga untuk mencinta, apalah daya Tuhan tidak menggerakkannya ke sana. Hanya berada pada satu titik saja.
Tulang rusuknya.