Masuk“Ummy.... ummy....” Seseorang menggoyang-goyang badanku dan membuat aku terjaga.
“Mentari sayang... Aduh, ini sudah jam berapa? Mentari pulang dengan siapa?” Tanyaku pada Mentari.
Aku melihat arloji yang masih melekat dipergelangan tangan kiriku. Astaga, sudah jam 5 pantas saja mereka berdua sudah pulang sekolah, tapi dengan siapa mereka pulang? Setauku hari ini jadwal kulian Dian dan Rian sampai jam 6 sore.
Aku mulai mengeluarkan keringat, mungkin efek dari obat yang diberikan dokter. Ditambah lagi aku tidak melepaskan jilbab dan tidak menghidupkan kipas angin, membuatku semakin gerah.
“Tari dan abang dijemput sama om, teman kerja ummy. Tu omnya ada diluar.” Jawab Mentari dengan polosnya.
“Ayo ummy kita keluar.” Mentari menarik lenganku keluar kamar.
Aku melihat pak Irfan duduk dikursi teras rumah sedang bercengkrama dengan Langit. Aku memang bisa melihat jelas siapapun yang berada diluar rumah karena ada jendela kaca hitam yang langsung menuju teras rumah. Mentari dan langit memang sering bertemu dengan pak Irfan, karena mereka sering aku bawa kekantor ketika lembur akhir pekan.
Bagaimana bisa pak Irfan mengantar anak-anakku sampai rumah, fikirku.
Tanpa fikir panjang aku langsung menghampiri pak Irfan. Aku tidak menawarinya masuk karena tidak pantas aku menerima tamu laki-laki sementara dirumah hanya ada aku dan anak-anak.
“Pak Irfan, maaf sudah merepotkan. Langit, tolong bantu ummy buat minuman untuk om Irfan ya.”
“Baik Ummy.” Langit berlalu, tak lupa menyalami Pak Irfan terlebih dahulu.
Adu duduk di kursi yang berbeda di samping pak Irfan. Tempat duduk kami dibatasi oleh sebuah meja kayu bundar. Kembali perasaan canggung menghampiriku. Ini pertama kalinya ada seorang pria asing yang bukan anggota keluarga bertamu kerumahku semenjak kepergian bang Dika.
Kami masih membisu hingga Langit datang membawa dua gelas teh hangat untuk kami.
“Makasih ya sayang, Langit dan Mentari ganti baju dulu ya. Habis itu istirahat.” Kataku pada Langit dan Mentari.
“Ya Ummy, tapi Tari dan abang boleh nonton TV kan ummy?” Tanya mentari dengan tangan mengepal kedada, kedua bola matanya mengedip-ngedip dan bibirnya tersenyum-senyum pertanda memohon. Sungguh, sikap gadis 5 tahun ini sangat lucu dan mengemaskan sehingga pak irfan tanpa sadar mencubit lembut pipi gembulnya.
“Boleh sayang.” Pak Irfan menjawab pertanyaan Mentari.
“Iya boleh.” Kataku sambil tersenyum.
Huft....
Sikap pak Irfan terhadap Mentari sangat manis, membuat irama jantungku kembali tak terkendali.
“Terimakasih sudah mengantar anak-anak pulang dan maaf kalau sudah merepotkan bapak. Tapi maaf, bagaimana anak-anak bisa bersama bapak?” Pertanyaanku memecah keheningan.
“waktu pulang tadi, pas melewati persimpangan aku lihat anak-anak berjalan ditrotoar. Aku segera keluar dari mobil dan mengejar mereka.” Arah pulang Langit dan mentari dengan arah kendaraan keluar dari persimpangan sekolah memang berlainan arah.
“Lalu aku bertanya, mengapa mereka berjalan kaki berdua saja dan hendak kemana. Katanya mau ke pangkalan ojek, mau pulang sebab ummy tidak menjemput. Ketika ustadzah mencoba menelepon ummy, nomornya tidak aktif.” Pak Irfan kembali menjelaskan.
Astaga, mendengar penjelasan pak irfan, aku segera pamit masuk kerumah sebentar mengambil ponsel. Dan benar saja, ponsel itu kehabisan daya.
“Maaf pak, tadi Windy benar-benar tidak enak badan, selepas minum obat, Windy tertidur. Terbangun ketika Mentari sudah datang. Sekali lagi Windy minta maaf.” Aku merasa sangat segan.
“gak apa-apa koq, justru abang senang jadi bisa mampir kesini. Bisa tau rumah Windy. Sekarang bagaimana keadaan Windy”
“Alhamdulillah, agak mendingan.”
“Oh iya, ini tadi abang sekalian mampir ke toko buah. Ini untuk Windy, agar lebih segar perbanyak konsumsi vitamin C.” Pak Irfan memberikan sekantong jeruk berukuran cukup besar.
“Terimakasih.” Jawabku sembari menerima bungkusan itu. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku takut pak Irfan akan tersinggung.
“Maaf, apakah abang boleh mengobrol sebentar?”
“Ya, silahkan.”
Sebenarnya aku agak risih jika pak Irfan terlalu lama bertamu. Walau hanya didepan teras rumah, namun orang-orang disini akan memandang sinis. Maklumlah, aku tinggal diwilayah perkampungan dan mengingat statusku adalah seorang janda. Namun aku tidak mau membuat pak Irfan tersinggung. Dia sudah sangat baik selama ini, bahkan cukup sopan. Jadi tidak ada alasan untukku menolak permintaanya.
“Abang ingin cepat menyelesaikan proses perceraianku dengan Ita. Abang sudah memikirkannya dengan matang, sudah tidak ada lagi yang harus abang pertahankan.”
Aku membisu, hanya berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Apa Windy tau bagaimana caranya agar proses perceraian di pengadilan itu berjalan cepat. Dan apakah abang butuh seorang pengacara? Sungguh, abang tidak tau apa-apa mengenai permasalahan ini.” Pak Irfan tampak sangat serius bercerita. Kedua sikunya diletakkan diatas kedua paha dengan telapak tangan mengepal tersandar ke bibirnya.
Aku melihat ada beban yang cukup berat di pundaknya.
“Maaf pak, untuk masalah ini, Windy tidak tau harus bagaimana. Yang Windy tau, jika ingin proses cepat selesai, pihak suami tidak datang disetiap sidang. Tapi apakah benar demikian atau tidak, Windy juga tidak tau pasti. Dan nanti wali hakim akan berusaha bagaimana caranya agar perceraian itu tidak terjadi. Tapi maaf, apakah bapak tidak memikirkannya lagi?” Aku kembali berusaha memberikan jawaban yang bijak.
“Windy tidak mengerti apa yang sudah terjadi selama ini pada abang. Kalaupun abang ceritakan, tidak akan cukup waktu sejam atau dua jam untuk menceritakannya. Yang pasti, ini sudah titik final, abang sudah tidak kuat.”
“Atau bapak bisa berkonsultasi dengan sepupu Windy, beliau lulusan S2 Hukum. Beliau pasti lebih paham, atau mungkin beliau punya teman pengacara yang sudah biasa menangani kasus perceraian.”
“Langit, tolong ambilkan ponsel ummy nak, tadi ummy cas didalam kamar.” Aku memanggil langit.
“Ya ummy.” Jawab Langit dari dalam rumah.
Akupun memberikan nomor handphone sepupuku kepada pak Irfan.
“Baiklah Windy, terimakasih sudah mau menemani abang mengobrol. Maaf kalau sudah menganggu. Abang harus segera pulang. Sebelum nanti semakin banyak mata yang menonton kita, hahaha.” Pak Irfan bangkit sambil tertawa ringan.
Yah, aku lihat beberapa wanita paruh baya berkumpul di teras rumah salah seorang tetanggaku. Mereka mengobrol-ngobrol dengan sesekali melirik ke arah kami. Entah apa yang mereka bicarakan. Biarkanlah, toh apapun yang mereka gosipkan akan menjadi ladang pahala untuk yang digosipkan.
“Iya pak, biasa disini memang begitu. Sekali lagi terimakasih sudah mengantar anak-anak.” Akupun mengantar pak Irfan sampai ke depan pagar rumah.
“Jangan lupa jaga kesehatan, bertemu lagi besok dikantor ya.” Pak Irfan masuk kedalam mobil sembali memberikan senyum terindahnya.
Astaga...
Lagi, imajinasi liar kembali mengotori fikiranku. Senyum pak Irfan yang begitu manis berhasil melambung anganku.
“astagfirullah, apa yang kau fikirkan Windy.” Aku menggumam pelan.
Aku langsung memasuki rumah tanpa mempedulikan beberapa orang yang tengah asik memperhatikanku dari seberang jalan.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi
Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.
POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.