Mag-log inPOV Windy
Sesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.
Arrggghhhh...
Aku mulai melepas jilbab dan meremas rambutku sendiri. Kau merasa sangat marah, malu dan terhina. Aku merasa sudah menjaga sikap dan harga diriku dengan baik, tapi mengapa masih dihinakan?
Tiba-tiba ponselku berdering. Ada Panggilan dari Anto.
Berkali-kali aku riject hingga akhirnya nomor itu aku blokir. Aku sangat benci pada pria itu. Pria bajingan yang pernah aku temui. Seharusnya dia lebih menghargaiku, paling tidak hargailah pakaianku.
Lagi, telponku berdering. Aku langsung meriject panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelpon.
“Bukankah tadi nomor Anto sudah aku blokir? Lalu panggilan dari siapa yang aku matikan tadi?” Aku bergumam pelan.
Aku kembali melihat layar ponselku, ternya itu adalah panggilan dari mama mertuaku. Akupun menghubungi kembali wanita paruh baya itu.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar mama menyapa lebih dulu dari seberang sana.
“Wa’alaikumussalam, ya Ma. Mama sedang dimana?”
“Mama sedang perjalanan menuju Padang, sekitar satu jaman lagi sudah sampai. Bagaimana, apakah Windy jadi bertemu Anto hari ini?” Pertanyaan mama membuat tangisku kembali pecah. Aku tak mampu membendungnya lagi.
”Ada apa Ndy?” Aku fikir tidak ada salahnya aku ceritakan sekarang. Untuk apa menunggu sampai besok.
“Bang Anto, Bang Anto tadi melecehkan Windy ma. Dia mempermalukan Windy didepan banyak orang. Bahkan dia meneriaki Windy. Katanya Windy Janda Murahan, Janda tidak tau diuntung, sok suci...” Kali ini tangisku semakin keras.
“Ya sudah, Windy jangan menangis lagi ya sayang. Besok mama akan kerumah antan. Mama akan membatalkan perjodohan Windy dengan Anto.”
“Ya ma, terimakasih.”
“Sekarang Windy istirahat saja dulu ya. Nanti mama akan langsung kerumah. Windy ceritakan semuanya kemama.”
“Ya Ma.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Demi mengisi kejenuhan sembari menunggu anak-anak pulang, akupun kembali membuka file gallery diponselku. Bagian atas terlihat foto-fotoku bersama rekanan di proyek Agam. Tiba-tiba aku tersentak melihat ada fotoku berdua dengan pak Irfan didepan Jembatan yang sedang kami bangun. Aku zoom foto itu, dan jantungku semakin berdebar dikala menatapwajah pak Irfan dibalik layar ponsel. Pak Irfan sosok yang gagah, tampan dan bersahaja. Dan selama ini beliau begitu menghargaiku.
Betapa seringnya aku tinggal hanya berdua saja dengan beiau dikantor untuk membuat penawaran atau mengerjakan Administrasi proyek. Namun beliau tidak pernah sekalipun mencoba melecehkanku. Walau kutau, pak Irfan juga sedang kesepian.
Arghhh...
Andai saja??
Fikiran liar mulai merasukiku. Tak dipungkiri, wanita manapun pasti akan terbuai dengan sikap dan perlakuan lembut pak Irfan. Apalagi aku, seorang wanita yang kesepian semenjak ditinggalkan oleh Dika. Tapi aku harus bisa menghilangkan perasaan ini. Bagaimanapun pak Irfan masih bertatus suami orang.
Ponselku berdering menandakan ada sebuah pesan masuk.
“[Assalamu’alaikum Windy, maaf kalau mbak menganggu. Windy tadi kenapa gak masuk ngaji?]” ternyata itu pesan WhatsApp dari mbak Nurul.
Mbak Nurul adalah temanku sesama pengajian. Aku sekelas dengan beliau ketika belajar Tahsin. Aku belum lama mengenal mbak Nurul, mungkin baru tiga bulanan. Namun kami sudah merasa sangat dekat. Suara mbak Nurul yang begitu merdu ketika mengaji dan kehebatannya dalam pengucapan makharijul huruf, membuatku begitu mengaguminya.
Mbak Nurul memiliki paras yang sangat cantik. Kecantikannya ia tutup dibalik gamis super longgar dan cadarnya. Tutur bahasanya juga sangat lembut dan ramah. Aku berfikir bidadari syurga mungkin seperti mbak Nurul ini. Usianya lima tahun diatas usiaku. Namun karena parasnya yang begitu ayu, mbak Nurul terlihat malah lebih muda dariku.
“[Wa’alaikumussalam, nggak menganggu koq mbak, justru Windy lagi sendirian dirumah. Maaf, tadi Windy ada kegiatan jadi bolos belajar Tahsin].” Aku tidak mungkin memberikan alasan sebenarnya kepada mbak Nurul, karena aku begitu menyegani wanita itu.
“[Oh... ya, tapi besok pagi Windy masuk kelaskan?]”
“[Ya mbak, Insyaa Allah].”
“[Besok sepulang tahsin, mbak mau mengobrol sebentar dengan Windy, apakah bisa? Ada hal penting yang ingin mbak bicarakan. Kita cari tempat yang enak untuk mengobrol]”
“[Tentang apa ya mbak? Koq sepertinya penting sekali].”
“[Besok saja kita bahas ya, nggak enak via WA. Terimakasih Ndy, Assalamu’alaikum].”
“[Wa’alaikumussalam].” Akupun menutup perbicangan tersebut dengan rasa penasaran. Apa gerangan yang akan dibahas oleh mbak Nurul, kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang.
Tak lama aku mendengar suara pagar dibuka. Aku beranjak keluar kamar dan melihat dari jendela ada mobil hitam masuk keperkarangan rumahku. Itu pasti mobil mama, fikirku. Aku segera membuka pintu.
“Assalamu’alaikum.” Langit lebih dulu memberi salam, karena ia memang sudah turun lebih dulu.
“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah semua sudah pada pulang. Gimana tadi jalan-jalanya, asyik?” tanyaku pada Langit.
“Asyik banget My, sayangnya ummy tadi gak ikut.” Senyum Langit persisi seperti senyum mendiang suamiku. Langit dan bang Dika memang sangat mirip.
“Ummy.....” Tiba-tiba Mentari berteriak memanggilku, turun dari mobil dan mengejarku sambil membawa beberapa kantong kresek berbagai ukuran.
“sayang...” Aku memeluk dan menggendong Mentari.
Kuhampiri Mama, Papa, Cindy dan suaminya. Kusalami mama dan papa dengan takzim sembari menawari mereka semua masuk. Akupun segera menuju dapur dan membuatkan mereka semua teh hangat.
Malam ini kuceritakan semuanya kepada Mama, Papa dan Cindy. Aku tak mampu menahan airmataku yang mengalir deras ketika menceritakannya. Sesekali kupelankan suaraku agar tidak terdengar oleh Mentari dan Langit yang sedang asyik menonton televisi. Mereka masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini.
Mama dan Cindy juga menangis mendengarkan ceritaku. Aku lihat papa sangat marah. Berkali-kali kulihat papa mengepalkan kedua telapak tangannya.
“Baiklah sayang, besok kami akan kerumah antan. Mama akan membatalkan rencana antan yang akan menjodohkan Windy dengan Anto.” Mama mengusap pipiku dengan sangat lembut.
“Andai saja tidak segan dengan antan, akan papa hajar laki-laki itu.” Suara papa terdengar cukup berat. Umur papa memang sudah lebih dari 60 tahun. Namun ia masih tampak muda, segar dan kuat.
“Jangan pa, tidak perlu main kekerasan. Katakan saja kepada antan dengan baik kalau Windy menolak Anto.” Aku berusaha menenangkan papa.
“Iya sayang, nanti biar mama yang mengurus semuanya. Windy tenang saja.” Mama kembali mengelus kedua pipiku yang masih mengalirkan butiran-butiran bening.
“Terimakasih Ma, Pa.” Aku merasa sangat bahagia memiliki mereka. Walau mereka bukanlah orangtua kandungku, namun mereka begitu menyayangiku.
“Kalau begitu kami semua pamit dulu ya, jaga diri Windy baik-baik. Besok akan mama kabari lagi.”
Akhirnya Mama, papa, Cindy, Aura dan suami Cindy meninggalkan rumah kami. Aku berharap besok semua baik-baik saja disana. Karena aku tau betul siapa papa mertuaku itu. Sifatnya sama seperti anaknya, mendiang suamiku. Beliau tidak akan segan menghabisi siapa saja yang beliau tidak sukai.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi
Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.
POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.