Home / All / BUKAN MAUKU / Eps. 17 - Rencana

Share

Eps. 17 - Rencana

Author: Nhovie EN
last update publish date: 2020-10-23 22:17:23

“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.

“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?”

“Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad  membuatku dan Vivi terkejut.

“Maksud pak Rahmad?” Vivi lebih dahulu bertanya.

“Jadi kalian berdua belum diberitahu kalau pak Irfan besok akan pindah ke kantor cabang Pekanbaru.”

“Pak Irfan pindah? Maaf pak, pak Irfan tidak memberitahukan apapun kepada Windy. Kemaren Windy masih memberikan laporan Back Up Data dan pak Irfan masih menerimanya.”

“Iya, mungkin beliau belum sempat memberitahu Windy. Nanti kak Sonia akan menggantikan Posisi sebagai General Superintendent secara administrasi.”

“Iya pak, baiklah.”

“Bapak harap kita bisa bekerjasama Windy.”

“Tentu.”

“Kak, koq tiba-tiba sekali pak Irfan pindah ya? Bukankah dulu beliau pernah menolak untuk dipindahkan?” Vivi menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Kakak juga heran Vi, kemaren sore kakak menghampiri pak Irfan yang hendak meninggalkan gedung ini. Tapi sikapnya masih nggak baik ke kakak.”

“Kak, maaf, kali ini Vi serius. Kakak belum memiliki hubungan apa-apakan dengan pak Irfan? Maksud Vivi apakah kakak punya pacar gitu kak.” Pertanyaan Vivi malah semakin membuatku bingung.

“Maksud Vivi?”

“Gini kak, sudah menjadi rahasia umum dikantor ini kalau pak Irfan itu memiliki perasaan ke kakak. Dari caranya bicara, caranya menatap dan bersikap semua tampak sangat jelas.”

“Tapi bukannya pak Irfan begitu ya kesemua orang?”

“Kakak jangan terlalu naif kak. Nggak mungkin kakak gak merasakannya.”

“Terus apa hubungannya dengan kepindahan pak Irfan?”

“Mungkin kakak udah bikin pak Irfan cemburu?” pak Irfan pagi itu memang melihatku sedang menerima Video Call, tapi aku rasa nggak mungkin pak Irfan sekanak-kanak itu hingga pindah kerja.

“Kak rasa nggak ada hubungannya dengan kak, lagipula kak belum punya pacar atau calon suami. Masih jomblo,hahaha.” Aku berusaha mencairkan suasana.

Aku meraih ponsel yang berada diatas meja kerja. Aku cari nama pak Irfan dan aku coba menghubunginya. Namun Nihil, panggilan itu tidak diangkat. Kemudian aku mengiriminya pesan WhatsApp.

“[Assalamu’alaikum pak, bagaimana kabar bapak? Benarkah bapak akan pindah ke kantor cabang besok?]” lagi, pesanku diabaikan oleh pak Irfan.

-

-

-

-

-

Selepas Zuhur, aku mendengar ada bunyi pesan masuk dari ponselku. Aku berharap itu balasan dari pak Irfan. Namun ternyata bukan, itu pesan dari mbak Nurul.

“[Assalamu’alaikum Windy, bagaimana kabar Windy?]”

“[Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah Windy baik mbak. Ada apa?]”

“[Boleh mbak menelepon Windy sebentar?]”

“[Boleh mbak]”

Tak berselang lama ponselkupun kembali berdering.

“Halo windy, maaf kalau mbak menganggu.”

“Enggak koq mbak, ada apa mbak?”

“Mengenai permintaan mbak waktu itu. Windy tidak berubah fikirankan?” Aku tersentak mendengar perkataan mbak Nurul.

“Maaf, Windy fikir mbak yang berubah fikiran.”

“Mbak butuh waktu untuk membicarakan semuanya kepada keluarga mbak, keluarga mas Putra dan kepada mas Putra sendiri.”

“Lalu bagaimana tanggapan mereka?”

“Alhamdulillah, mereka sudah setuju Ndy. Windy, mbak merasa sangat sekarat. Dada mbak sekarang sering sakit. Mbak ingin Windy secepatnya bisa menikah dengan mas Putra.”

“Windy belum memberitahu apapun kepada keluarga Windy mbak.”

“Apakah terlalu cepat kalau minggu depan dilangsungkan pernikahan itu Ndy? Windy masih punya waktu tiga hari untuk memeritahukan keluarga Windy. Itu juga kalau Windy tidak keberatan. Sebab mbak sangat takut kalau sewaktu-waktu mbak meninggal.” Suara mbak Nurul terdengar bergetar

“Apa yang mbak katakan? Jangan berkata seperti itu.” Tanpa sadar tetesen bening keluar dari retinaku.

“Mbak Serius Ndy. Sakit di dada mbak sekarang sangat luar biasa. Tapi maaf, apakah Windy keberatan melangsungkan pernikahan Siri terlebih dahulu? Sebab mengurus surat-surat itu memakan waktu yang lama.”

“Bismillah mbak, demi mbak Nurul. Insyaa Allah Windy bersedia.”

Entah magnet apa yang ada pada diri mbak Nurul sehingga aku tidak mampu menolak permintaannya. Aku merasa kasihan terhadapnya. Namun aku juga ingin segera melepas status jandaku ini. Biarkanlah aku jadi isteri kedua, asalkan tidak ada lagi yang merendahkan statusku. Lagipula jadi isteri kedua bukanlah sesuatu yang hina. Karena aku bukan pelakor bukan?

-

-

-

-

-

Sore ini aku berencana menemui mantan mertuaku, orangtua mendiang bang Dika. Mereka berdua sudah kuanggap seperti orangtua kandungku sendiri. Sepantasnya aku menemui mereka untuk memberitahukan perihal rencana pernikahanku. Setelah itu aku akan menemui saudara-saudaraku dan keluarga inti lainnya.

Aku sengaja tidak pulang dulu kerumah, karena jika membawa langit dan Mentari maka akan memakan waktu lama disana.

“Assalamu’alaikum Ma.” Aku menyapa dari pintu rumah.

“Wa’alaikumussalam, masuk nak. Kenapa sendirian saja? Mana Mentari dan Langit.” Mama menyambutku dengan senyum merekah.

“Windy tadi dari kantor langsung kesini ma, sebab ada seuatu yang penting yang ingin Windy sampaikan.”

“Tentang apa?”

“Kita bicarakan didalam saja ya ma.”

“Baiklah, Silahkan Nak.”

“Begini ma, Windy berencana hendak menikah lagi.” Aku menghela nafas sebentar dan terdiam menunggu rekasi mama.

“Dengan siapa?”

“Dengan suami teman Windy Ma.”

“Apa? Maksud Windy, Windy merebut suami orang?” Mama kaget dan tersentak. Warna mukanya juga berubah seketika.

“Bukan ma, Windy tidak akan semurah itu merebut suami orang. Apalagi suami teman sendiri.” Aku berusaha menjelaskan.

“Tadi kata Windy?”

“Mbak Nurul, teman satu ngaji Windy. Beliau sedang sakit parah, kanker hati stadium 4. Beliau meminta Windy untuk bersedia menikah dengan suaminya agar kelak bisa menjaga suami dan putrinya semata wayangnya.”

“Terus Windy bersedia begitu saja? Apa Windy sudah kenal dengan laki-laki itu? Apa keluarga mereka tau?”

“Windy tidak mampu menolak permintaan mbak Nurul ma. Waktu itu beliau bahkan mengeluarkan darah segar melalui batuknya. Keluarga suami mbak Nurul dan keluarga mbak Nurul sudah menyetujui rencana itu.” Mama terlihat menghela nafas panjang.

“Insyaa Allah bang Putra itu baik ma. Dia juga sangat mapan. Windy yakin bang Putra akan jadi ayah yang baik untuk Langit dan Mentari.” Mama kemudian mengelus pipiku dengan sangat lembut.

“Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Windy. Setelah apa yang terjadi pada Windy waktu bersama Anto. Alangkah baiknya kalau windy cepat melepas status janda. Mama percaya dengan keputusan Windy. Jadi kapan Windy akan menikah?”

“Minggu Depan ma.”

“Cepat sekali.”

“Iya, mbak Nurul bilang kondisinya sudah sangat parah. Dia sering merasakan sakit di dadanya.”

“Baiklah, Insyaa Allah mama dan papa akan datang kepernikahan Windy.”

“Terimakasih ma.” Aku memeluk mama dengan sangat sayang.

Hari ini aku belum bisa memberitahukan semuanya kepada Langit, Mentari, Dian maupun Rian karena ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan mbak Nurul. Aku berharap keputusan ini tidaklah salah. Terlebih aku sudah tidak punya harapan lagi untuk meraih hati dan memiliki pak Irfan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status