Beranda / Semua / BUKAN MAUKU / Eps. 18 - Pernikahan

Share

Eps. 18 - Pernikahan

Penulis: Nhovie EN
last update Tanggal publikasi: 2020-10-26 03:05:27

Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan.

Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan bisa selalu dekat dengannya. Kakak pertama Dian yang semula mengontrak, aku minta untuk tinggal dirumahku menemani Rian dan Dian. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka berdua saja dirumah.

Pernikahan akan dilangsungkan nanti siang di salah satu mesjid terdekat rumah mbak Nurul. Aku yang masih dirumah akan langsung menuju mesjid selepas dari sini. Aku tidak mampu menggambarkan perassaanku saat ini. Masih ada keraguan, dan ingin membatalkan semua ini. Namun aku tidak tega melihat kondisi mbak Nurul.

“Masyaa Allah, ummy cantik sekali. Tapi sayang, ummy kami nanti tidak akan disini lagi.” Tampak raut kesedihan diwajah Dian yang menemaniku mempersiapkan dandanan.

“Insyaa Allah nanti ummy akan sering main kesini. Dian dan rian juga, jangan lupa kunjungi ummy terus ya sayang.” Aku mengusap lembut wajah gadis manis itu.

“Semoga ummy bahagia ya. Kami semua sangat menyayangi ummy.” Dian memelukku dengan sangat sayang.

Setelah aku selesai dengan dandananku, kami sekeluarga bersiap meninggalkan rumah ini menuju lokasi pernikahan. Beberapa saat hendak melangkah masuk kedalam mobil, seorang paruh baya menyapaku dari pintu rumahnya.

“Mau kemana Windy? Koq rapi sekali?”

“Alhamdulillah tek, hari ini Windy akan melasungkan pernikahan.” Aku tersenyum kearah paruh baya tersebut.

“Menikah? Mengapa tidak mengundang-undang?”

“Enggak tek, sederhana saja. Pernikahan dilangsungkan dirumah mempelai laki-laki dan kemungkinan setelah itu Windy akan tinggal disana. Maaf Tek, Windy pamit dulu ya.”

Mobil kami melesat dijalanan aspal yang begitu ramai. Hatiku semakin bergemuruh ketika mobil sudah mulai memperlambat lajunya hingga akhirnya berhenti. Kami sudah berada di perkarangan Mesjid tempat acara akan dilaksanakan. Aku langsung disambut hangat oleh mbak Nurul dan keluarga bang Putra. Aku sudah mengenal semuanya dua hari yang lalu. Ketika taaruf akan dilaksanakan dan bang Putra tidak bisa menghadirinya, hanya keluarga beliau saja yang bisa aku temui.

Mereka menuntunku masuk kedalam mesjid dan duduk dibagian shaf wanita. Bagian wanita dan pria ditutupi tirai pembatas, jadi aku tidak bisa melihat calon suamiku dari balik tirai itu. Beberapa menit kemudian, tiraipun terbuka. Aku dituntun menuju meja tempat pernikahan akan dilangsungkan. Aku hanya menunduk, tak kuasa melihat siapapun apalagi calon suamiku. Hatiku semakin bergemuruh, aku merasa semua ini salah. Namun aku tidak punya pilihan lagi selain meneruskan acara ini.

Pernikahan berlangsung dengan sangat khidmat. Bang Putra menyelesaikan ucapan akad hanya dalam satu tarikan nafas. Kakak tertuaku menjadi wali nikah kami. Setelah semua selesai akupun diminta mencium punggung tangan suamiku. Akupun memberanikan diri menatap wajah pria yang kini sudah sah menjadi suamiku. Bang Putra cukup tampan, namun tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya. Bahkan ia seperti enggan menatap kearahku. Dadaku tiba-tiba bergetar hebat, aku semakin yakin jika ini adalah keputusan yang salah. Namun semua sudah terjadi, aku sudah resmi menikah dengannya.

“Selamat ya Windy, mbak harap Windy bisa menjaga mas Putra dan Aisyah selepas mbak pergi nanti.” Mbak Nurul membisikkan hal itu ketelingaku yang membuat tetesan bening keluar begtu saja dari mataku.

“Mbak jangan bicara seperti tu. Mbak pasti kuat menjalani semuanya. Windy akan membantu penyembuhan mbak. Kita akan menjalani semua sama-sama. Kita akan mengurus bang Putra dan Aisyah bersama-sama.” Aku memeluk mbak Nurul.

Selesai acara di mesjid, kami semua minggalkan perkarangan mesjid kerumah kediaman mbak Nurul. Disana akan diadakan acara syukuran sederhana. Hanya dihadiri oleh beberapa tetangga dekat dan anggota keluarga.

Mobilpun berhenti disebuah perkarangan yang cukup luas. Rumah berlantai dua sudah tampak didepan mata. Rumah bergaya minimalis yang terlihat sangat indah. Langit dan Mentari memelukku sebelum kami memasuki rumah ini. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami setelah ini.

Langit dan Mentari mendapatkan teman-teman baru. Saudara sepupu Aisyah cukup banyak dan masih seuruman dengan Mentari dan Langit. Kedua bocah itu tampak sangat bahagia. Apalagi Mentari, dia begitu bahagia akan memiliki ayah lagi.

Mbak Nurulpun menuntunku kesebuah kamar yang berada dilantai satu. Kamar yang begitu luas dan sangat indah. Ranjang yang sudah dihias dengan begitu cantiknya.

“Ini kamar Windy, kamar mbak ada disebelah sana. Kalau anak-anak kamarnya ada diatas. Mbak sudah siapkan semua.” Mbak Nurul  tersenyum.

“Makasih ya mbak. Seharusnya mbak tidak perlu serepot ini.” Aku kembali memeluk mbak Nurul.

“Justru mbak yang harus mengucap terimakasih ke Windy. Sebab windy sudah mau menerima permintaan mbak.

Para tamu undangan sudah meninggalkan rumah ini. Termasuk keluargaku dan orangtua mendiang bang Dika. Aku melihat bang Putra bercengkrama dengan langit dan Mentari juga Aisyah. Langit dan Mentari begitu senang punya adik baru. Bang Putrapun tampak menyayangi mereka. Aku rasa kecemasanku tadi tidak beralasan. Bang Putra begitu mencintai anak-anak. Bahkan bang Putra sendiri yang menuntun anak-anak menuju kamar mereka. Aku dan mbak Nurul masih duduk diruang keluarga.

“Windy, seminggu ini bang Putra tidur denganmu ya.” Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan mbak Nurul.

Aku melihat bang Putra masuk kekamar mbak Nurul. Mbak Nurul pamit untuk menyusul bang Putra. Akupun berjalan menuju kamarku yang sudah disipkan oleh mbak Nurul. Ini sudah cukup larut, aku memang sangat lelah dan mengantuk. Aku duduk di kursi rias yang menghadap kesebuah cermin besar. Aku berencana hendak berganti pakaian.

“Kenakan kembali jilbabmu.” Suara seorang pria mengagetkanku.

Aku memang sengaja tidak mengunci pintu kamar karena aku rasa bang Putra akan datang kekamar ini. Ternyata benar, pria itu datang tanpa memberi salam dan tanpa mengetuk pintu. Yang lebih mengagetkan, beliau dengan suara tidak ramah menyuruhku kembali mengenakan kerudungku. Aku segera mengenakan kerudungku kembali tanpa berani menatap pria itu. Aku begitu canggung.

Bang putrapun masuk kedalama kamar dan duduk di tepi ranjang. Aku tetap mematung disini. Dia belum mengatakan apapun tapi aku tau dari cara duduknya, bang Putra menyimpan sesuatu dihatinya. Beberapa menit berlalu dengan keheningan. Hanya terdengar suara hujan diluar sana yang memecah kesunyian malam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status