Beranda / Semua / BUKAN MAUKU / Eps. 15 – Aneh

Share

Eps. 15 – Aneh

Penulis: Nhovie EN
last update Tanggal publikasi: 2020-10-19 12:59:55

Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku.

Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi suaminya. Namun mbak Nurul yang begitu paham agama pasti memiliki pertimbangan lain, sehingga beliau nekat mengambil keputusan itu.

Tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari Cindy.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, kak Windy sedang dimana?”

“Kakak dirumah, ada apa Ndy?”

“Kak, untung aja kak Windy gak jadi sama bang Anto. Ternyata disini suasananya sedang panas kak.” Aku belum bisa mencerna apa yang Cindy sampaikan.

“Memangnya ada apa?”

“Ternyata antan sengaja menjodohkan kakak dengan bang Anto, agar bang Anto bisa pisah sama pacarnya. Bang Anto itu ada main sama isteri orang disini. Perceraiannya dengan isterinya karena isteri abang itu tau hubungan gelap bang Anto dengan isteri orang.”

“lalu?”

“Pacarnya bang Anto itu hamil dan ngakunya hamil anak bang Anto. Antan sudah tau perihal itu, makanya antan cepat-cepat hendak menikahkan kakak dengan bang Anto, agar wanita itu tidak menuntut bang Anto lagi. Kemaren ternyata dia ke Padang bersama pacarnya itu, mereka sudah pergi dari subuh.” Aku kaget mendengarkan penjelasan Cindy. Pantas saja kemaren aku merasa Anto sudah berbohong.

“Untung aja kakak nggak jadi lho sama bang Anto. Papa tadi sampai emosi.”

“Tapi papa nggak bikin keributankan Ndy? Maksud kakak, papa nggak mukulin Anto?”

“Nggak kak, Alhamdulillah, mama bisa mengendaikan emosi papa. Oya, udah dulu ya kak, nggak enak nanti dilihat sama orang. Sebab Windy menjauh dari pertemuan itu.”

“Anak-anak apa mendengar perdebatan itu?”

“Nggak kak, anak-anak dibawa sama Rendi pergi jalan-jalan.”

“Baiklah, makasih ya Ndy udah bantu jagain anak-anak kak.”

“Iya kak, sama-sama. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumuusalam.”

Sedari awal aku berkenalan dengan Anto, aku sudah menebak ada yang tidak beres dengan pria itu. Sikapnya sangat agresif dan cenderung tidak sopan. Untunglah Allah menyelamatkanku sebelum aku terlanjur menikah dengan Anto.

-

-

-

“Vivi, apa lihat pak Irfan? Kakak tidak melihat pak Irfan sedari pagi.” Aku memang tidak melihat pak Irfan sedari pagi, padahal ada dokumen yang harus beliau tanda tangani hari ini.

“Cieeee... yang lagi rindu nich ye.” Vivi rekan seruanganku malah meledek.

“Kakak serius nich, ada dokumen yang harus ditanda tangani pak Irfan.” Aku agak gugup dibecandain seperti itu oleh Vivi.

“Kabarnya bang Irfan sakit kak. Tapi koq kakak nggak tau? Kan kakak anggotanya bang Irfan dan kakak deketkan sama bang Irfan?” Rekan-rekanku yang lain memang biasa memanggil pak Irfan dengan panggilang abang.

“Oiya, pak Irfan nggak ada ngabarin kakak. Sakit apa emangnya?”

“Vivi juga kurang tau kak, jangan-jangan kakak lagi marahan ya sama bang Irfan?” Vivi kembali menggodaku.

“Apaan sich ach.” Aku melempar pulpen kearah Vivi.

Tapi memang aneh, tidak biasanya pak Irfan bersikap seperti ini. Biasanya pasti beliau mengabariku kalau beliau tidak masuk kantor. Terakhir menghubungiku waktu mengajak makan siang Sabtu lalu. Setelah itu tidak ada kabar apapun lagi mengenai pak Irfan.

Aku mencoba menghubungi pak Irfan lewat panggilan suara. Namun sudah tiga kali mencoba, tidak ada jawaban dari seberang sana.

“Pak Irfan nggak ngangkat telepon kakak Vi.” Aku menoleh kepada Vivi yang masih asyik dengan kayar komputernya.

“Ngambek kali kak, emang apa yang udah kakak lakuin ke bang Irfan?”

“Kamu tu ya, nggak bosan ya godain kakak. Kakak nggak ada apa-apain pak Irfan. Lagipula kami nggak ada apa-apa koq.”

“Coba kak kirim pesan saja, mana tau nanti dibalas.”

“Iya, biar kak kirim pesan saja.”

“Emang ada apa kak? Koq kelihatannya penting sekali.”

“Hari ini jadwal nagih MC ke PU, jadi semua dokumen ini harus segera ditanda tangani oleh pak Irfan.”

“Owh, kalau nanti nggak dibalas juga, kak susul saja kerumahnya.”

“Nyusul kerumahnya?”

“Iya, sekarang pak Irfan tinggal sendiri diperumahan. Nanti kak susul saja, minta temani sama pak Doni.”

“Wah, kadang-kadang adek kak ini pinter juga ya ngasih solusi, hehehe.”

“Iya dong, Vivikan emang pinter, hahaha.” Vivi memang cukup menyenangkan.

Akupun mengirim pesan WhatsApp kepada pak Irfan.

“[Assalamu’alaikum pak, maaf kenapa tidak angkat telepon Windy? Bukankah hari ini kita akan mengajukan MC? Banyak dokumen yang harus bapak tanda tangani].” Sudah 10 menit belum ada balasan dari pak Irfan.

Aku terus menungggu hingga hampir satu jam. Padahal pesanku sudah dibaca oleh pak Irfan, namun beliau tidak membalasnya.

“[Maaf Ndy, abang baru balas. Abang sedang tidak enak badan. Windy tanda tangani saja dokumen itu. Windy bisakan tanda tangan abang? Jadi tolong selesaikan saja].”

Ini sungguh tidak biasa. Apa yang terjadi dengan pak Irfan? Apakah rencana perceraiannya membuat pak Irfan stress dan depresi? Entahlah, lagipula itu bukan urusanku.

“Gimana kak, udah dibalas sama bang Irfan?” Vivi tiba-tiba memecah lamunku.

“Udah, katanya disuruh tanda tangani saja. Padahal pak Irfan belum memeriksanya. Kakak bingung harus gimana.”

“Pak Irfan kenapa ya? Gak biasanya lho kayak gini.”

“Makanya kak juga heran.”

“Kalau gitu turuti saja kak, yang penting MC kita cair. Kalau nggak nanti kita nggak gajian, heheh.”

“Oke zheyenk...” Aku kembali melempar Vivi dengan pena.

Aku benar-benar dibuat bingung dengan kejadian dua hari ini. Mulai dari Anto yang ketahuan sikap aslinya. Mbak Nurul yang tiba-tiba memintaku jadi madunya. Kemudian sekarang pak Irfan yang bersikap aneh, tidak seperti biasanya. Semua ini benar-benar membuatku bingung.

Aku tetap menyelesaikan pekerjaanku hari ini dengan baik. Terpaksa semua dokumen ini aku sendiri yang menanda tangani, tentu saja dengan memalsukan tanda tangan pak Irfan. Yang penting MC ini bisa cair. Sungguh hari yang cukup melelahkan karena aku mengurus semuanya sendirian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status