LOGINKecelakaan tragis yang menimpa Dika, Suami windy, membuat Windy harus menjadi orangtua tunggal di usia 33 tahun. Semenjak kejadian naas itu, hari-hari Windy selalu diliputi kesepian dan airmata. Terlebih Mentari, putri keduanya yang setiap saat selalu menggigau memanggil abynya. Mentari yang masih berusia 5 tahun begitu haus akan kasih sayang seorang ayah. Sementara pekerjaanya di perusahaan konstruksi begitu menyita waktu yang membuatnya sering pulang malam. Didalam kesendirian, dilema cinta mulai menggelayuti hati dan fikiran Windy. Beberapa lelaki mulai mendekatinya, dari seorang duda, hingga pria beristri. Sungguh itu bukanlah hal mudah untuk Windy. Malang, Ketika ia memutuskan menerima tawaran untuk menjadi istri kedua. Dunianya Semakin terpuruk dan batinnya semakin tersiksa. "Sungguh, ini bukan mauku.” Jerit hatinya setiap saat. Terasa mimpi, menjadi istri kedua bukanlah inginnya. Tak pernah sedikitpun Windy terfikir akan terjebak dalam pernikahan dan cinta seperti ini. Rasa rindu kepada mendiang suaminya, selalu menggelayuti hatinya yang rapuh.
View MoreKring... Kring... Kring...
Ponselku tiba-tiba berdering.
“Assalamu’alaikum, maaf ini siapa?” Tidak ada nama dilayar teleponku.
“Windy, ini bang Ilham. Dika kecelakaan Ndi.”
“Apa...?”
“Iya, cepatlah kesini, dipersimpangan Soraya.”
“I-Iya bang...” Akupun gemetar.
Itu adalah kejadian 3 bulan yang lalu, ketika hujan lebat sepulang suamiku bekerja, sebuah mobil truk pembawa batu menyambarnya sesaat sebelum dia berhasil menyeberangi jalan. Helmnya lepas, kepalanya terhempas dan badannya terseret di jalanan basah itu, membuat sekujur tubuhnya dipenuhi darah segar. Seketika itu juga ponselku berdering mendapat kabar mengerikan itu dari salah seorang teman suamiku yang melihat jelas kejadian tersebut. Dengan bergetar, aku secepat kilat mengambil kunci motor dan tas yang terletak didepan meja kerjaku. Tanpa terlebih dahulu mematikan komputer dan tanpa pamit pada siapapun, aku langsung pergi secepat kilat menuju lokasi kejadian.
Beruntung kantor tempatku bekerja tidak jauh dari kantor tempat suamiku bekerja dan juga tidak jauh dari lokasi kecelakaan sehingga hanya dalam hitungan menit aku sampai di lokasi. Tubuh suamiku masih tergeletak disana, manusia begitu ramai hanya menonton tanpa berbuat apapun. Tanpa di kode, aku langsung menghampiri tubuh itu. Banyak yang mencoba mencegahku, namun mereka tidak mampu menghalangiku memeluk tubuh itu.
“Ni, (Uni sama dengan kakak, itu adalah panggilan kepada orang yang lebih tua atau juga panggilan hormat kepada seorang wanita di daerahku), jangan kesana, kita tunggu ambulan datang, jangan gegabah.” Teriak seorang wanita sembari menahan tubuhku agar tidak menghampiri tubuh kaku itu.
Ya, aku melihat tubuh itu sudah kaku, orang2 menutupi bagian kepalanya dengan daun pisang. Beberapa orang memotretnya dan bahkan merekamnya. Padahal kondisi masih hujan lebat. Sementara truk yang menabrak suamiku melarikan diri. Namun teman suamiku yang melihat kejadian itu sempat mengingat dan menyimpan plat nomor mobil itu.
“Tolong.... tolong... dia suamiku... jangan halangi aku untuk menemuinya.“ Kataku keras dengan suara bergetar karena sudah penuh dengan airmata dan air hujan. Setelah berhasil melepaskan diri, aku langsung memeluk tubuh kaku itu, “ Kalian semua jahat... dan kau....“ kataku dengan penuh amarah sambil menunjuk kepada seseorang yang tampak menikmati rekaman adegan ini dengan ponselnya.
“Kau... sama saja seperti setan, kau merekam tanpa menolong. Dan kau juga apa hakmu memfoto-foto suamiku, kalian semua setan... kalian merekam namun tidak ada yang menolongnya...“ kataku sambil berteriak sangat keras, suaraku bersahutan dengan bunyi derasnya hujan.
“Windy sabar... “ seseorang menghampiriku dan aku tau dia adalah teman kerja suamiku.
“Ambulan sebentar lagi akan datang, tolong sabarlah Windy, kami bukan tidak mau menolong, kami hanya tidak ingin gegabah yang bisa menyebabkan hal yang lebih buruk pada tubuhnya. Dan kalian juga semua, berhentilah merekam, Windy benar, kalian semua sama saja seperti anjing.“ Bang Ilham, itu adalah namanya. Beliau tampak sangat marah kepada sekelompok orang-orang yang masih asyik menikmati kejadian ini dengan ponselnya.
Ya Allah...
Kenapa ambulan begitu lama, fikirku...
Tiba-tiba bunyi deringan ambulan datang, dengan cepat mereka mengangkat tubuh itu ke dalam tandu dan memasukkannya ke mobil, beriringan mobil polisipun datang. Tampak Bang Ilham berbicara sebentar dengan polisi dan kemudian menghampiriku.
“Windy, kamu ikut dengan ambulan ya, disini biar abang yang urus. Banyak juga teman-teman Dika disini yang membantu mengurus disini. Nanti kak Eka dan Kak Mona akan turut serta menemanimu.“ Kata bang Ilham.
Nama suamiku adalah Dika Pratama, Sarjana Mesin, orang pertama dan satu-satunya sampai saat ini yang pernah dekat denganku. Kebersamaanku dengannya selama 4 tahun membuatku memutuskan untuk menerima permintaannya menikah di usia muda, bahkan ketika aku baru saja beberapa hari menyelasaikan S1 teknik Sipilku waktu itu. Pernikahan yang sederhana namun tentu saja berkesan untukku dan untuknya. Kak Eka dan Kak Mona adalah Rekan kerja suamiku, aku tidak mengenali mereka berdua, namun itu tidak penting bagiku.
“Baiklah bang, Mohon Doakan Bang Dika baik-baik saja.“ Kataku dengan berurai airmata sembari masuk kedalam ambulan.
“Sabar ya Windy, kita doakan yang terbaik untuk Dika ya.“ Entah siapa nama wanita yang mencoba menenangkanku, yang ku tau nama mereka adalaha Mona dan eka, sungguh itu tidak penting untukku saat ini. Aku duduk di tengah-tengah antara mereka berdua dan mereka berdua dengan kondisi pakaian basah kuyup terus berusaha menenangkanku dan memelukku.
Perjalanan kerumah sakit terasa sangat lama untukku, sesekali ku kecup tangan kekar bang Dika, tangan itu sudah dingin. Ya Allah, pertanda apa ini.
Seketika aku tersentak, aku belum mengabari siapa-siapa mengenai kejadian ini. Aku mencari ponsel dalam tas. Alhamdulillah ada, sudah basah namun bersyukur ponsel itu masih menyala. Aku menyeka air yang membasahi ponselku dan seketika tanganku bergetar mencari nama seseorang yaitu Cindy, adik iparku. Aku mengiriminya pesan WhatsApp, mulutku terlalu kaku untuk berbicara melalui telpon.
“[Cindy, bang Dika kecelakaan, sekarang kakak sedang diatas ambulan menuju Rumah Sakit Siti Rahmah, tolong kabari mama dan papa].” begitulah pesan yang bisa kutulis, tak banyak yang bisa ku ketik.
“[Dek, tolong kabari siapa saja yang bisa dek kabari, Pak Dika Kecelakaan, sekarang ummy sedang dalam ambulan menuju Rumah Sakit Siti Rahmah].” lagi, kukirim pesan WhatsApp ke salah seorang ponaanku yang tinggalnya tidak jauh dari rumah kami.
Mobil ambulan pun melambat, itu pertanda kami sudah sampai di rumah sakit. Dengan Sigap petugas IGD dan Supir ambulan membawa tubuh suamiku ke Ruangan IGD. Sesampai didalam mereka menutup tirai, membersihkan semua darah yang masih mengalir pada beberapa bagian tubuh Bang Dika, khususnya bagian kepala. Kami tidak diperkenankan masuk. Walau aku sudah memohon kepada dokter agar bisa selalu mendampingi bang Dika.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi