Beranda / Semua / BUKAN MAUKU / Eps. 3 – Insiden Kumbang

Share

Eps. 3 – Insiden Kumbang

Penulis: Nhovie EN
last update Tanggal publikasi: 2020-10-19 12:46:12

Mentari sudah Sekolah, dan Mentari di Sekolahnya memiliki ustadzah – ustadzah yang baik yang mau membantu menjaga mentari. Mentari Sekolah di Yayasan dan lingkungan yang sama dengan Abangnya Sekolah. Langit, abangnya Mentari fullday school sementara Mentari jam 2 aku masukkan kelas Tahfidz hingga jam 4 sore sehingga Mentaripun secara tidak langsung juga fullday school.

Sementara mama, ada kakak iparku yang datang setiap hari menemani sekaligus menjaga mama, jadi hatiku aman dan mantap untuk bekerja lagi.

Ketika hidupku terasa begitu sempurna, ketika aku merasa keberuntungan berpihak padaku, seketika itu pula tiba-tiba semua sirna diluar kendaliku. Suami yang baik, perhatian dan penuh cinta. Anak-anak yang sehat dan dengan prestasi dan hafalan qur’an yang membanggakan, kondisi mama yang selalu stabil dan perekonomian yang mulai membaik, membuatku jarang sedih apalagi menangis.

Namun kini, semenjak dua orang yang begitu berarti dalam hidupku pergi untuk selamanya, membuat aku hancur, remuk dan nelangsa. Jika tidak karena Mentari dan Langit, mungkin aku sudah menyerah pada takdir, karena kaki ini mulai goyah.

Teringat betapa phobianya aku dulu pada seekor kumbang, kumbang apa saja aku pasti sangat takut, terlebih kumbang cirik (kumbang tai’) begitulah orang sini menamai jenis kumbang itu, ada warna hitam dan warna abu tua yang ukurannya lebih besar dari kumbang biasanya. Memikirkannya saja sudah membuatku merinding, apalagi melihatnya.

“Ma.... mama.... tolong.... tolong....“ Teriakku dari dalam kamar.

Dengan sigap mama mengambil tank atau kain atau apapun yang bisa digunakan untuk mengambil kumbang itu, karena mama sudah tau apa yang terjadi padaku saat itu.

“Tenang, biar mama buang ya.” katanya dengan senyum merekah

“Makanya Windy jangan lupa tutup pintu jendela, kumbang ini kalau udah gelap akan nyari lampu, makanya masuk kamar windy.”

“Iya mama, makasih.“ kataku sembari memeluk mama.

Huft...

kembali airmata ini menetes setiap teringat kejadian itu. Sekali waktu kedua ponakanku sedang tidak berada dirumah, keduanya Izin pergi ke pesta temannya dan pulang jam 9 malam. Dan pada waktu itu Mentari berteriak keras dari kamar.

“Ummy... tolong... tolong... ummy....“ Aku segera menghampiri Mentari dan kulihat Mentari menggigil menunjuk-menunjuk pada sesosok makhluk yang begitu aku takuti. Phobiaku turun kepada Mentari. Langit waktu itu juga tidak dirumah, sedang ikut nenek dan kakeknya, orangtua mendiang suamiku. Mereka pergi ke kampung karena ada acara keluarga.

“I... Iya sayang... Mentari sabar ya... Ummy akan buang kumbang itu.“ Aku tak kalah menggigil dari Mentari.

Huft....

Kenapa, kenapa aku setakut ini pada makhuk kecil bersayap itu. Seketika aku menangis, teringat mendiang suamiku dan mama. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Sesaat aku kelu, aku dan Mentari berpelukan sejenak dan aku kumpulkan keberanian untuk mendekati makhluk itu. Baru saja aku hendak mendekat, kumbang itu terbang yang membuat aku dan Mentari sama-sama berteriak dan melarikan diri keluar kamar. Dengan cepat kututup pintu kamar dan berusaha menyibak rambut dan pakaian siapa tau mahkluk itu menempel di pakaianku. Dan kami sama-sama menggigil.

Hingga kedua keponakanku pulang, aku dan Mentari tidak berani memasuki kamar. Hari sudah menujukkan pukul 8.30 malam, Mentari sudah tertidur di ruang tengah dan aku masih belum mendengar tanda-tanda kepulangan kedua keponakanku itu.

“[Dek, jam berapa pulang nak?, dikamar ummy ada kumbang, ummy tidak berani masuk kamar, tolong cepat pulang ya sayang].” Aku mengirim pesan WA ke Rian. Aku memang terbiasa menyapa anak-anak maupun semua keponakanku dengan ucapan sayang seperti itu. Dian yang lebih tua beberapa menit dari Rian kami panggil kakak, sementara Rian biasa dipanggil Dedek.

Selang 3 menit WA pun berbalas “[ Ya ummy, ini kami sudah mau siap-siap pulang, sebentar lagi sampai rumah].”

Kedua keponakanku itu sedang kuliah semester pertama di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Padang. Rian mengambil jurusan Teknik Mesin, sama seperti apaknya, mendiang suamiku. Rian memang mengidolakan apaknya itu dan mendiang suamikupun begitu menyayangi Rian. Sementara Dian mengambil jurusan Teknik Sipil sama sepertiku. Papa mereka sudah menikah lagi dan tinggal di Bukittinggi, ada usaha disana. Kakak pertama mereka sudah menikah dan mengontrak tidak jauh dari rumah kami. Kakak keduanya juga sudah menikah dan ikut suaminya ke Medan. 

Alhamdulillah, Allah titipkan rezeki untuk kedua keponakanku itu melalui diriku. Gajiku lumayan untuk menghidupi kami berlima, membayar uang Sekolah Langit dan Mentari dan membantu sedikit biaya kuliah Rian dan Dian. Rian sembari kuliah meneruskan usaha bengkel teralis apaknya. Alhamdulillah, mendiang suamiku meninggalkan sebuah bengkel teralis lengkap dengan semua peralatannya. Beliau semasa hidup memang pekerja keras, sepulang bekerja beliau akan melanjutkan mengerjakan pesanan teralis dari pelanggannya. Sementara Dian aku modali untuk membuka usaha online. Dian menjual baju-baju rumah, celana olahraga, dan apa saja yang bisa dia jual dan dia live setiap malam lewat akun sosial medianya.

Rian dan Dian juga begitu menyayangiku dan kedua adik mereka, jadi tidak patut rasanya aku berlarut dalam kesedihan dan merasa kesepian. Namun kehilangan kedua orang yang begitu berarti dalam hidup tetap saja tak mampu membuang rasa kesepian dan kesedihan ini.

Rindu.... itulah yang aku rasakan.

Tak lama, sekitar pukul 8.50 malam, aku mendengar suara motor berhenti didepan rumah. Ah, itu pasti Rian dan Dian, fikirku. Dan benar saja, kedua keponakanku itu sudah pulang.

“Assalamu’alaikum...”

“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah kalian sudah pulang.” jawabku dengan senyum merekah.

“Hahaha... takut kumbang ni ye...“ Rian mencoba menggodaku sembari melepas helm dari kepalanya.

“Tulah ummy ni, segala kumbang di takuti.“ Dian malah ikutan meledek.

Spontan aku pukuli bahu kedua keponakan itu, tidak keras tapi cukup sakit aku rasa, sebab kesal diledekin seperti itu.

“Ampun... ampun... ampun.... iya, aduh sakit ummy... maaf, ini kami bawain ayam goreng untuk ummy dan Mentari.“ Jawab Dian sembari memberikan bungkusan berwarna putih bening.

“Alhamdulillah, makasih ya sayang... “ Jawabku sambil mencubit pipi berlesung pipit itu.

“Jadi gak ni mau dibuang monster yang sudah menganggu ummy dan adik kami ini.” Goda Rian lagi.

“Eh, iya la, tapi ummy gak tau posisi kumbangnya dimana, sebab pas mau ummy coba dekati untuk buang, kumbangnya terbang dan kami histeris lari keluar.“ Jawabku dengan serius.

“mmppphhhh hahahahaha......” Kedua keponakanku melepas tawa mereka, keras sehingga membuat Mentari terbangun.

“Kak, besok kita pasang CCTV aja dirumah, biar bisa nontonin ekspresi ummy ketika ketemu monster dirumah ini.“ ledek Rian sembari menyikut bahu Dian dengan bahunya.

“Bang Dedek dan Kak Dian sudah pulang? Kumbangnya udah dibuang ummy.“ Suara kecil Mentari yang khas membuat mata kami semua mengarah kepadanya.

“Mentari sudah bangun sayank, ini tadi kak Dian dan bang Dedek bawain Ayam goreng upin ipin kesukaan Mentari.“ Jawabku sembari memeluk Mentari dan memberikan bungkusan tadi kepadanya. Mentari memang sangat menyukai ayam goreng tepung bagian paha.  Ayam upin ipin, katanya.

“Oke Tari sayang, bang dedek si Manusia super ini akan membuang monster itu dari dalam kamar Mentari.“ Rian menirukan gaya pahlawan super sehingga membuat Mentari tertawa terbahak-bahak, menampakkan lesung pipit dan sederet gigi putihnya.

Selang beberapa menit aku, Mentari dan Dian menunggu diluar kamar, akhirnya Rian nampak keluar kamar.

“Oke bos kecil, semua beres, monsternya sudah abang buang dan abang lempar tinggi sampai kelangit.” Katanya sembari menggendong Mentari dan mengayunnya.

“Wa.... Alhamdulilah, yeyeye... Makasih bang Dedek.“ Mentari tampak begitu senang dan memeluk erat kakak sepupunya itu.

Begitulah hari demi hari yang aku lalui hingga tak terasa sudah 5 bulan saja Bang Dika meninggalkan kami. Orangtua bang Dika begitu baik kepada kami, walau bang Dika sudah tiada, mereka tidak pernah melupakan kami. Cindy juga sering mengajak Mentari ke arena permainan bersama Aura putri Cindy yang usianya terpaut 1 tahun di bawah Mentari. Sesekali mama dan papa mengajak aku dan anak-anak berkujung kerumah saudara dikampung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status