LOGINHari ini mama dan papa mengajak kami liburan ke Alahan Panjang, disana ada rumah saudara mama mertuaku itu. Pada saat acara makan siang keluarga, ada pembicaraan yang tak terduga dari pihak keluarga yang di Alahan Panjang.
“Windy apa kabar?“ kata Antan, sapaan untuk kakek disana.
“Alhamdulillah, sehat Ntan.“ Jawabku singkat.
“Pekerjaan lancar, masih kerja di Kontraktor ?“
“Masih Ntan, Alhamdulillah aman sampai sekarang.“
“Usaha Dika siapa yang meneruskan, apakah masih atau berhenti?”
“Diteruskan Ntan, Ponakan Windy yang meneruskan, sembari kuliah dia yang melajutkan bengkel teralis itu, Alhamdulillah cukup untuk membantu biaya kuliah mereka.“ Jelasku.
“Syukurlah... Oh iya, maaf kalau Antan menanyakan ini, apakah Windy tidak ingin berniat menikah lagi?”
Entah mengapa pertanyaan itu membuat degup jantungku yang tadi biasa saja berubah menjadi sangat keras. Pertanyaan itu membuatku gugup. Aku menatap mama, mamapun membalas menatapku dan tersenyum.
“Ma... Maaf, maksud Antan apa?” Jawabku sedikit gugup.
“Begini Windy, Antan tau Dika memang belum lama meninggal dunia, namun tidak baik wanita seperti Windy berlama-lama menjanda, terlebih Windy cukup cantik dan bekerja pula. Antan dengar Windy juga sering pulang malam kalau ada pekerjaan membuat penawaran di kantor. Memang tidak terlalu larut seperti dulu waktu Dika masih ada untuk menemani Windy, namun itu tidak baik dilihat orang.” Antan menghela nafas sebentar, menghisap rokok yang sedari tadi ada ditangannya, aku hanya diam dan menunduk mendengarkan Antan.
Keluarga mertuaku semuanya menang sangat baik padaku, bahkan setelah kepergian bang Dika mereka tidak pernah mengganggapku orang lain. Mereka masih mengganggap diriku sama, anak dan menantu mereka. Bahkan untuk hal inipun mereka membahasnya di pertemuan keluarga.
“Begini windy, Antan harap Windy tidak marah, karena Antan dan keluarga ini sudah mengganggap Windy adalah anak kami. Sampai kapanpun Windy adalah anak kami. Jadi begini, Antan berniat hendak memperkenalkan Windy kepada seseorang, ini sudah atas persetujuan mama dan Papa Dika.“ Jelas Antan lagi.
Aku tetap membisu.
“Jadi bagaimana menurut Windy?“ Tanya Antan lagi.
“Maaf Ntan, bukannya Windy menolak, tapi Windy belum siap.“ Jawabku mantap.
“Tidak mengapa, antan tau ini terlalu cepat, namun tidak ada salahnya berkenalan saja terlebih dahulu.“
“Iya, mama dan papa sudah menyetujui. Mama dan papa sudah ikhlas atas kepergian Dika, mama dan papa juga sudah mengizinkan dan mengikhlaskan jika Windy menikah lagi.” Mama berkata dengan sedikit senyum di bibirnya, namun aku lihat matanya berkaca-kaca.
“Terserah mama dan papa saja “ Jawabku.
“Ya, kalau Windy mau, nanti antan akan mengatur waktu untuk pertemuan kalian. Sungguhpun begitu, semua keputusan tetap di tangan Windy. Antan dan keluarga tidak akan memaksa jika Windy tidak cocok, karena yang akan menjalani adalah Windy sendiri.“ Antan kembali meyakinkan.
Aku hanya mengangguk.
Semenjak kepergian bang Dika dan mama, aku memang sedikit lebih pendiam. Padahal sebelumnya tidak seperti ini. Windy yang dulu adalah seorang wanita yang aktif dan energik, supel, mudah bergaul, humoris dan menyenangkan. Namun kini aku lebih banyak diam dan menjaga sikap, mungkin karena masih sedih atas kehilangan Bang Dika dan mama, atau karena menjaga statusku yang kini adalah seorang Janda.
Disepanjang perjalanan pulang dari rumah Antan, perkataan Antan selalu terngiang-ngiang ditelingaku. Fikiranku menerawang, bahkan aku berfikir apa yang dikatakan antan ada benarnya. Alangkah lebih baik aku menikah lagi untuk menghindari fitnah.
“Windy memikirkan apa?“ Suara mama memecah lamunku.
“Eh, enggak koq ma, Windy hanya sedikit lelah.“ jawabku sekenanya.
“Nak, coba pertimbangkan lagi apa yang dikatakan antan tadi, mama dan papa sudah menyetujui kalau Windy menikah lagi, terlebih lelaki itu juga duda, yang mama tau dia bercerai dari isterinya.”
Apa??
Aku syok mendengarkan penjelasan mama. Entah mengapa aku agak sangsi untuk menikah dengan duda yang berpisah cerai dengan mantan isterinya.
“Bolehkah Windy tau alasan beliau bercerai dari isterinya ma?“ Tanyaku.
“Mama tidak tau pasti, tapi kata antan mereka sudah tidak cocok. Anak nya dua dan dibawa oleh mantan isterinya.”
“Owh....” Jawabku singkat dan itu adalah pembicaraan terakhir kami di dalam mobil Kijang Krista milik orangtua bang Dika yang dikendarai oleh suami dari Cindy. Biasanya bang Dika yang selalu mengendarai mobil ini kalau kami pergi-pergi. Kembali aku merindukannya.
Di kantor tempatku bekerja, ada juga salah seorang rekan kerjaku namanya pak Irfan yang selalu memberikan perhatian lebih kepadaku hingga membuat ricuh suasana kantor. Pak Irfan usianya 6 tahun lebih tua dariku. Postur tubuhnya cukup tegap dan sedikit berisi, tinggi sekitar 170 cm, kulit sawo matang agak terang dan wajah lumayan tampan. Jujur, secara fisik aku cukup terpikat dengan pak Irfan. Tapi yang aku tau, dia sudah beristeri dan hubungannya dengan isterinya memang kurang harmonis. Aku dengar dari Vivi, rekan kerjaku, pak Irfan berniat mengakhiri hubungan rumahtangga mereka.
Ah, itu tidak penting bagiku. Walau aku cukup mengagumi pak Irfan secara fisik maupun sikap, namun aku tak mungkin menambah benalu ditengah ketidak harmonisan rumahtangga pak Irfan. Apalagi aku memang kurang respek dengan lelaki yang berpisah cerai dengan mantan isterinya.
-
-
-
Malam ini aku cukup lelah. Pekerjaan hari ini menyita banyak tenaga dan fikiranku. Dari jam 6 pagi aku sudah berangkat ke lokasi proyek dijemput pak Irfan. Mentari dan Langit diantar oleh Rian hari ini, kebetulan Rian tidak ada jadwal kuliah pagi. Lokasi proyek berada diluar kota, sekitar 3 jam perjalanan dari rumahku, dan aku hanya berdua bersama pak Irfan didalam mobil itu.
Itulah yang aku kagumi dari pak Irfan, walau aku tau dia memiliki perasaan terhadapku dan walau dia tau statusku adalah janda, namun dia selalu bersikap sopan terhadapku. Jika dikantor pak Irfan adalah orang yang humoris dan menyenangkan, berbeda jika hanya berdua bersamaku baik di mobil atau di ruangan kantor. Dia begitu menjaga jarak dan ucapan.
Bersyukur, setidaknya pak Irfan menghargai pakaianku, begitulah fikirku. Semenjak kejadian 3 tahun yang lalu, aku memang tidak pernah lagi mengenakan celana jeans, kulot ataupun celana luaran. Aku mengenakan gamis longgar, terkadang rok dipadu dengan kemeja agak longgar. Kaus kaki tidak pernah lepas dari kakiku walau didalam kantor sekalipun. Jilbab longgar dan terkadang pashmina yang kubentuk sedemikian rupa agar bisa menutupi bagian perut dan punggung. Tidak ada lagi makeup yang menghiasi wajahku, hanya sekedar selapis bedak tabur dan liptin itu sudah cukup untuk menutupi kekusaman wajah dan bibir.
Sederhana....
Ya, begitulah aku, windy si janda beranak 2.
Alunan lagu dari radio yang distel pak Irfan di mobil tadi pagi mendominasi perjalanan kami. Tidak banyak yang kami bicarakan, kami lebih banyak diam. Sesekali pak Irfan membuka pembicaraan mengenai pekerjaan dan menanyakan kabar anak-anak, tidak lebih dari itu. Akupun menjawab seadanya, canggung, padahal ini bukan kali pertama kami berdua saja baik di mobil ataupun kantor. Tapi mungkin kali ini cukup lama, sebab biasanya aku tidak pernah dapat tugas mengontrol proyek keluar kota.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi
Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.
POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.