MasukBelum sampai di lokasi proyek, mobil pak Irfan berhenti di sebuah kedai sate, tepatnya sich restoran sate.
“Windy, kita sarapan dulu ya.” Pak Ifran membuka safebeltnya.
Akupun mengikuti seraya menganggguk.
Pak Irfan adalah General Superintendet atau kepala proyek pada dua proyek pengerjaan Jalan dan Jembatan yang dipercayakan oleh Dinas Pekerjaan Umum kepada Perusahaan kami. Secara materi beliau cukup mapan, itu menambah kekagumanku padanya. Yang aku tau, pak Irfan juga tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Namun ah, apa yang kamu fikirkan Windy, dia itu suami orang, jangan jadi benalu. Jangan rusak harga dirimu dengan sebutan PELAKOR nantinya.
Akupun menghela nafas, entah apa yang mengotori otakku pagi itu.
Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi proyek yang berada di Kabupaten Agam. Memang ada sedikit masalah disana. Aku yang bertugas sebagai administrasi proyek juga dibuat pusing oleh banyaknya data yang salah dan protes dari Konsultan Pengawas dan PU sebagai owner proyek tersebut. Gambar perencanaan dengan shop drawing tidak sejalan hasil dilapanganpun kacau padahal progress pekerjaan sudah mencapai 40%. Tentu saja hal itu membuatku semakin penat dan stress.
Sepanjang perjalan pulang aku lihat raut wajah pak Irfan agak kusut. Aku tau, sebagai penanggungjawab proyek dan sebagai pemimpin tertinggi di proyek itu, beliau bertanggungjawab penuh terhadap kekacauan yang terjadi.
“Bapak sabar ya, nanti kita selesaikan sama-sama.” Aku mencoba memecah keheningan, karena memang pak Irfan tidak menyetel lagi radionya padahal perjalan kami sudah lebih dari 30 menit. Itu artinya beliau memang sedang dalam tekanan.
“Kenapa ya Ndy, hidup abang koq kusut sekali.” Pak Irfan memang selalu memanggil dirinya abang, tidak hanya kepadaku tapi juga kesemua rekan kerja wanita dikantor kami.
“Bapak jangan bicara seperti itu, Allah menitipkan ujian ke Bapak, itu artinya bapak sangggup dan kuat untuk menghadapinya. Lagipun nich ya pak, kalau bapak berhasil melaluinya, bapak akan naik kelas.” Jawabku dengan luwes, entah kenapa kekakuanku tiba-tiba menghilang.
“Naik kelas berapa Ndy?? Kelas 5 atau kelas 6, hahaha.” Jawabnya sambil tertawa.
Syukurlah pak Irfan masih bisa tertawa.
“Maafkan abang ya Ndy, dirumah abang memang banyak sekali masalah, sehingga membuat abang tidak fokus terhadap proyek yang kita kerjakan kali ini.” Pak Irfan menyeka wajahnya dengan tangan kanan, matanya masih fokus pada jalanan dengan tangan kiri masih memegang stir mobil.
“Mungkin abang akan menerima saja permintaan cerai dari isteri abang.” Tiba – tiba Pak Irfan mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin aku dengar, dia mengatakan hal pribadi kepadaku, disaat kami berdua saja di mobil ini.
“Apa yang pak Irfan katakan? Jangan seperti itu pak, Ingatlah dia itu isteri Bapak, Ibu dari anak-anak bapak. Beliau bertaruh nyawa demi Kenzo, masa bapak tega mengatakan hal itu?” jawabku mencoba merespon apa yang disampaikan pak Irfan. Kenzo adalah anak semata wayang pak irfan, sekarang berusia 11 tahun.
“Tapi aku sudah tidak sanggup lagi Ndy, terlalu banyak tekanan, terlalu banyak tuntutan, aku lelah bertahan.”
“Jangan pak, coba fikirkan lagi, cari konselor yang tepat, Insyaa Allah akan menyelesaikan masalah bapak. Windy dulu juga pernah di posisi Bapak. Pada saat usia pernikahan Windy masuk ke 8 tahun. Windy melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan agama. Namun takdir berkata lain, masing-masing kami bertemu dengan konselor yang tepat. Alhamdulillah kami berdua sama-sama berubah dan sangat berbahagia hingga kejadian mengerikan itu datang memisahkan kami selamanya.” Aku tidak mempu membendung airmataku pada saat membayangkan lagi kejadian nahas yang menimpa bang Dika.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela agar pak Irfan tidak melihat airmata ini mengalir. Namun sepertinya pak Irfan tau apa yang terjadi pada diriku. Dia meberikan 2 helai tisu.
“Maafkan abang ya Ndy, karena abang, Windy jadi sedih.”
Aku menerima tisu itu dan hanya menggeleng dan tersenyum kecil, tak memberikan jawaban apapun.
Hingga sampai dirumah, kami hanya diam seribu bahasa di mobil. Pak Irfan akhirnya menghidupkan juga radionya untuk memecah keheningan diantara kami. Jam 8.15 malam aku sudah sampai dirumah diantar pak Irfan. Seperti biasa banyak mata tetangga yang memandangiku. Aku sengaja tidak menawari pak Irfan mampir, karena hanya akan membuat heboh di kampung ini. Setelah aku turun dari mobil, aku menyapa hangat beberapa orang yang tengah duduk di salah satu teras rumah tetanggaku.
“Darimana....” Teriak salah seorang wanita paruh baya dari pintu rumahnya.
“Dari Agam tek, melihat proyek.” Etek adalah panggilan hormat kepada wanita yang tua didaerahku, artinya sama dengan bibi.
“Owhhh, gak mampir dulu temannya itu.” Teriaknya lagi, aku paham arah pembicaraannya, aku mengena terhadap sindirannya, tapi aku berusaha tenang.
“Enggak Tek, beliau buru-buru.” Kataku sembari berlalu dibalik pintu rumah.
-
-
-
Seperti hari-hari biasa, aku selalu terbangun pukul 4 dini hari. Betapapun lelahnya fisikku, mataku seperti sudah terinstall bangun jam segitu. Terkadang aku terbangun jam 3 dini hari, tapi tak pernah lewat dari jam 4. Kuambil sekantong ikan didalam freezer dan kumasukkan kedalam sebuah wadah berisi air agar es dalam ikan itu bisa mencair. Lalu kutuang air panas dari temos kedalam wadah lainnya yang sudah kububuhkan garam halus dan kumasukkan potongan-potongan kecil tahu kedalam air panas itu.
Sembari menunggu es dalam ikan mencair dan garam meresap kedalam tahu, akupun seperti biasa mengambil air wudlu untuk kemudian melaksanakan shalat tahajjud. Ku intip kekamar, anak-anak masih tertidur lelap. Langit sekamar dengan Rian dengan kasur springbed bertingkat. Sementara Dian tidur sendiri dikamar bekas neneknya dan Mentari tidur denganku dikamar kami.
Seusai melaksanakan shalat, akupun langsung menuju dapur kembali. Membubui ikan yang sudah kurendam tadi. Menyiapkan bawang merah, bawang putih dan cabe yang nanti akan kugoreng bersamaan dengan tahu dan ikan. Aku memang terbiasa memasak setiap subuh seperti ini, karena Mentari dan Langit harus membawa bekal ke Sekolah.
Tak lama Rian dan Dianpun bangun. Dian membantuku mencuci piring dan membersihkan rumah, sementara Rian mulai memasukkan pakaian kotor kedalam mesin cuci. Selama 5 bulan ini kami memang sudah terbiasa seperti ini, membagi tugas rumahtangga karena merekapun paham kalau aku juga sangat lelah bekerja seharian.
“Gimana dengan proyek yang ummy lihat kemaren my, amankah?” Tanya Rian.
“kurang aman dek, Proyeknya bermasalah, tapi mudah-mudahan ada jalan penyelesaiannya.”
Aroma wangi menyengat dari dapur kami, ikan yang kubumbui tadi sudah masuk kedalam penggorengan.
“Masyaa Allah, wangi sekali my, jadi laper.” Canda Dian.
“My, Alhamdulillah, Dek dapat pesanan 10 lubang teralis jendela dan 1 pintu kembar, kemaren baru selesai survey dan ukur. Mau cerita ke ummy, tapi ummy kelihatannya sangat lelah, jadi dek gak berani ganggu.”
“Oh Iya, Alhamdulillah, baguslah. Apa dek bisa kerjakan sendiri? Gak butuh orang untuk bantu?”
“Kan langit bisa bantu dikit-dikit nanti my, lagipun orangnya gak butuh cepat. Katanya maksimal 1 bulan.”
“Ya, walaupun demikian, dek gak boleh lalai, kalau bisa 2 minggu selesai kenapa enggakkan?”
“Iya my, target dek juga maksimal 2 mingggu my, mudah-mudahan bisa.” Rian tampak optimis.
“Gimana dengan penjualan Dianeshop kak?” Tanyaku ke Dian, dimana kami masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.
“Alhamdulillah, bagus my. Kemaren kak habis belanja lagi 3 juta lebih. Oh iya, listrik bulan ini sudah kami bayar my.”
“Apa? Kenapa kalian yang bayar, itukan tanggungjawab ummy. Lagipula inikan masih tanggal 7. Biasanyakan ummy bayar listrik lewat tanggal 15.” Aku agak terkejut dengan perkataan Dian.
“Gak apa-apa my, Dek dan kakak ada rezeki berlebih cukup banyak bulan ini. Jadi sepantasnya kami membalas kebaikan ummy, kan berbagi rezeki, hehehe “. Dian tiba-tiba memelukku dari belakang.
“SPP Langit dan Mentari juga sudah kami bayar my, kemaren saat menjemput mereka.”
Tiba-tiba aku menangis terharu, begitu beruntungnya aku mendapat keponakan seperti mereka berdua yang begitu menyayangi aku dan anak-anak.
“Makasih sayang-sayang ummy. Tapi sebenarnya kalian berdua tidak perlu serepot itu. Sebab ini adalah tanggung jawab ummy. Sebaiknya kalian tabung untuk kebutuhan kalian nanti.” Kataku kepada mereka berdua.
“Tenang ummy sayang, tabungan kami sudah terlalu banyak, hahaha.” Tawa Rian pecah dan terhenti seketika karena alunan adzan subuh sudah berkumandang.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi
Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.
POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.