MasukHari sudah menujukkan pukul 12 siang, saatnya jam istirahat. Aku mulai berbenah untuk segera makan siang. Namun tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan dari mama mertua.
“Assalamu’alaikum ma, apa kabar ma?.” Tanyaku
“Wa’alakumussalam, kabar baik nak. Windy sibuk gak? Mama gak gangggukan? Sebab mama sengaja menelepon di jam istirahat agar tidak menganggu.” Jawab mama.
“Enggak koq ma, Windy sedang tidak sibuk, rencana mau makan siang, ada apa ma?.”
“Begini Windy, pagi tadi antan menelepon tentang rencana perkenalan Windy dengan Anto, windy masih ingatkan nak?.”
“Iya ma, terus kenapa ma?.”
“Nanti malam selepas Maghrib Anto mau datang kerumah katanya, mau kerumah mama saja atau kerumah Windy langsung?.”
“Kerumah mama saja ma. Tidak patut rasanya Windy menerima tamu laki-laki dirumah Windy ma.”
“Bailah, nanti selepas Maghrib Windy langsung kerumah mama ya, bawa anak-anak sekalian, Assalamu’alaikum.” Mama mengakhiri telepon.
“Wa’alaikumussalam.”
Huft, entah kenapa aku masih berat menerima tawaran perkenalan ini. Aku juga tidak tau kenapa, padahal aku sama sekali belum mengenal pria yang disebut mama Anto tadi. Bahkan aku belum tau bagaiman rupa lelaki itu. Yang aku tau dari mama, beliau bercerai dengan isterinya. Dengan posisi masih berdiri dan kedua telapak tangan terpaku kemeja kerja diiringi kepala yang merunduk kebawah, aku masih berfikir mengenai perkenalan yang akan berlangsung nanti malam.
“Lagi ngelamunin apa buk.” Suara yang tidak asing itu seketika memecah lamunanku.
“Eh, Pak Irfan, ada apa pak?.” Jawabku gugup.
“Maaf Windy, ini sudah lewat 15 menit dari jam istirahat, rekan-rekan yang lain sudah pada makan siang, Windy kenapa masih disini sendirian? Kita makan keluar yuks, kebetulan nanti jam 2 ada rapat dikantor PU, Windy ikut ya.” Begitulah pak Irfan tanpa segan selalu memperlihatkan perhatiannya berlebih padaku dikantor. Namun tidak pernah berbuat lebih jauh, bahkan tidak bersalaman denganku karena dia tau akan menolak.
“Windy bawa bekal koq pak, Windy makan dikantor saja.” Aku menolak dengan sopan.
“Baiklah, nanti Windy siap-siap ya. Kita berangkat jam satu lewat seperempat, siapkan berkas-berkas gambar, backup data, MC, dan lainnya. Semua itu nanti akan kita bawa. Pak doni akan ikut untuk membantu membawa berkas-berkas itu.”
Pak Doni adalah salah seorang supir dikantorku.
“Siap pak.” Jawabku sembari tersenyum lebar dan mengangkat tangan kiri kesamping wajah serta jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O pertanda Oke.
“Baguslah, segera makan ya, nanti sakit perut.” Pak Andi mengakhiri perkataannya sembari mengedipkan sebelah mata kearahku dan berlalu dengan senyum manisnya.
Aduh, apa sich yang ada difikiranmu Windy, jangan kotori otakmu lagi. Pak Irfan itu suami orang, ingat suami orang. Berkali-kali kucoba tepis kekagumanku pada sosok gagah itu.
-
-
-
Hari ini cukup melelahkan, aku sampai dirumah sudah hampir jam setengah tujuh sore, teringat janji dengan mama untuk bertemu dengan lelaki yang akan dikenalkan padaku. Sebenarnya aku malas untuk kemana-mana, aku benar-benar sangat lelah. Fisik dan fikirianku terkuras habis waktu rapat tadi, belum bertemu titik penyelesaian untuk salahsatu proyek yang dipimpin oleh pak Irfan itu. Masih buntu.
Namun selepas rapat, ada sedikit angin segar dari Supervision Engineer yang sekilas aku dengar sedang mengobrol ringan dengan pak Irfan. Semoga saja proyek itu baik-baik saja, fikirku.
Sampai dirumah aku disambut hangat oleh pelukan Mentari. Gadis kecil manis berlesung pipit ini selalu membuatku kembali bergairah. Ocehannya yang tidak berkesudahan membuat rumah inidipenuhi canda dan tawa. Mentari seperti biasa, kalau aku terlambat pulang, maka dia akan dimandikan oleh Dian dan Dian cukup telaten menjaga adik-adiknya.
“Kak, hari ini ummy mau izin keluar lagi ya, mau ke Ikur Koto, rumah nenek dan kakek Tari.” Kataku pada Dian, sementara Rian masih sibuk di bengkel depan rumah kami menyelasaikan pesanan Teralis dari pelanggan.
“Ya my, koq tumben ummy pergi di hari kerja, bukannya weekend? Emang ummy gak capek, kan baru saja pulang.” Jawab Dian.
“Ummy udah janji tadi sama nenek Tari, kayanya nenek Rindu Mentari dan Langit. Segan ummy kalau membatalkan. Gak apa-apa, ummy mau mandi dulu ya. Tolong ganti baju Tari ya kak.”
“ Langit, Ganti baju nak, kita mau kerumah nenek habis maghrib.” Kataku pada langit.
Adzan maghribpun berkumandang. Aku segera mandi, shalat dan berganti pakaian. Tepat jam 7 malam, kami bertigapun bergegas menuju rumah orangtua bang Dika di Ikur Koto, jaraknya lebih kurang 20 menit dari rumah kami.
Sesampai disana, kami disambut hangat oleh nenek dan kakek Mentari. Tari segera mengejar dan merangkul sepasang paruh baya tersebut, sementara Langit hanya menyalami mereka sembari memberikan bungkusan yang berisi martabak bandung kesukaan neneknya. Diluar aku lihat sudah terparkir sebuah motor Vario Hitam. Ini pasti motor lelaki itu, fikirku.
Setelah helmku lepas, aku segera menemui dan menyalami mama dan papa yang sudah berdiri didepan pintu sedari tadi. Aku lihat didalam sudah duduk seorang pria.
“Assalamu’alaikum ma, pa.” Akupun menyalami mama dan papa dengan takzim, tak lupa kupeluk mama sembari menanyakan kabarnya.
“Wa’alaikumussalam, mama dan papa sehat. Ayo masuk Nak. Anto sudah menunggu di dalam.” Mama menggiringku masuk dan mengajak duduk disebelahnya, sementara Mentari dan Langit diajak oleh papa keruang tengah nonton televisi.
Aku lihat seorang pria duduk didepanku. Kulitnya sawomatang agak gelap. Perawakannya biasa saja, tidak terlalu tampan. Mengenakan topi berwarna dongker, baju kemeja kotak-kotak dan mengenakan celana jeans berwarna biru muda. Didepannya terletak segelas teh hangat dan sekotak rokok surya berserta mencis. Aku merasa tatapannya agak tajam dan liar, entahlah mungkin perasaanku saja. Hanya jujur saja, aku tidak menyukainya.
“Windy, kenalkan ini nak Anto.” Kata mama memecah lamunku. “Anto, ini namanya Windy.”
Mama memperkenalkan pria itu padaku dan memperkenalkan diriku pada pria itu.
“Hai.” Anto menyapaku sembari mengulur tangannya untuk menyalamiku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk seraya mendekap kedua tanganku ke dada pertanda aku menerima salamnya tanpa menyentuh tangannya. Anto tampak kecewa jabat tangannya aku tolak. Aku memang tidak berani menyentuh yang bukan mahromku walau hanya sekedar berjabat tangan.
“Kalau begitu mama tinggal ya. Silahkan nak Anto dan Windy mengobrol-ngobrol dulu.” Mamapun meninggalkan kami diruang tamu sambil tersenyum .
Ini memang bukan pertama kalinya aku berdua saja dalam suatu ruangan dengan seorang pria semenjak kepergian bang Dika. Tapi kali ini perasaanku berbeda, ada perasaan risih dan tidak nyaman. Aku juga tidak tau mengapa.
Masih hening, dan akhirnya Anto berpindah duduk kekursi panjang yang ada disebelahku. Aku semakin gelisah dan tidak nyaman dengan ini. Selama ini aku sangat sering berdua saja didalam satu ruangan dengan pak Irfan atau rekan kerja laki-laki lainnya. Tidak jarang berada dalam 1 mobil bahkan pada perjalanan keluar kota yang cukup lama. Tapi tidak pernah aku serisih ini.
“Dek Windy, boleh minta nomor WhatsApp.” Suara berat Anto memecah keheningan.
“Owh, Ya.” Kataku sembari memberikan nomor WhatsAppku padanya.
“Dek Windy kerja dikontraktor ya.” Tanya Anto
“Ya.” Jawabku singkat.
“Wah, dek Windy hebat ya. Dek Windy bagian apa disana.” Tanyanya lagi, tangannya masih posisi mengepal, cara duduknya kulihat kurang tenang. Dia selalu menggerak-gerakkan kakinya dan tangannya sesekali memainkan ujung topinya.
“Windy administrasi proyek bang.” Jawabku singkat.
Aku lihat dia mengambil sebatang rokok surya dan menghidupkannya. Ketika asap rokok itu mengenaiku, akupun terbatu-batuk. Aku memang alergi dengan asap rokok.
“Maaf bang, Windy alergi asap rokok.”
“Oh Ya.” Diapun meletakkan batang rokoknya di asbak tanpa mematikannya.
“Abang apa kegiatannya.” Tanyaku singkat.
Diapun menjelaskan panjang lebar mengenai pekerjaanya. Dia mengatakan kebun bawangnya cukup luas dikampung. Dia hanya memantau saja, ada anak buah yang mengerjakan kebunnya itu. Sementara aku hanya sebagai pendengar yang baik.
Aku bertanya mengenai anak-anaknya. Dia malah mengatakan tidak mau membahas masalah itu. Dia hanya ingin membicarakan mengenai masadepan.
Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b
“Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad
Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.
Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi
Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.
POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.