Beranda / Semua / BUKAN MAUKU / Eps. 2 – Meninggal

Share

Eps. 2 – Meninggal

Penulis: Nhovie EN
last update Tanggal publikasi: 2020-10-19 11:56:36

Dengan sedikit memaksa, akhirnya mereka mengijinkan aku ikut kedalam bilik yang ditutupi tirai tempat bang Dika diperiksa. Dokter memeriksa denyut nadi tangan suamiku, namun Dokter menggeleng. Dengan sigap dokter meminta cepat memasang alat pasien monitor untuk memastikan keadaan bang Dika dan mencoba memompa jantungnya. Ternyata hasilnya Nihil. Suamiku, Aby dari Mentari dan Langit sudah meninggalkan kami untuk selamanya. Dan aku meyakini dia sudah pergi tepat setelah berada di pangkuanku, ditengah jalan yang basah di bawah guyuran hujan lebat, karena saat itu aku masih merasakan hangat tubuhnya.

Seketika aku berlutut, menangis dan pingsan.

Setelah sadar, aku sudah berada diatas dipan tempat tidur IGD Rumah sakit, sudah berganti pakaian yang kering. Cindy dan Dian, keponakanku berada disana ketika aku siuman.

“Kak Widy sudah sadar, Alhamdulillah, Papa dan Pak Uncu (Pak Uncu adalah panggilan kepada paman yang lebih kecil) sedang mengurus jenazah bang Dika.“ Katanya sambil menangis, aku lihat matanya sudah merah.

“Mama mana?.“ Tanyaku dengan suara gemetar.

“Mama darah tingginya naik mendengar kabar ini, dan beliau sedang dirawat dirumah.” Jawab Cindy.

“Bagaimana dengan nenek, Mentari dan Langit Dian?.“ Tanyaku pada keponakanku yang sedari tadi hanya diam dan matanya juga memerah karena menangis.

Dian hanya mengangguk dan membisu.

Begitulah kejadian terburuk yang pernah aku alami, kehilangan satu-satunya lelaki yang pernah menemaniku. Satu-satunya lelaki yang kucintai, ayah dari anak-anakku, Mentari dan Langit. Sebetulnya banyak yang protes atas nama kedua buah hati kami itu, baik pihak keluarga ataupun para tetangga. Namun mengenai nama, bukankah itu adalah hak kami berdua sebagai orangtua? Nama mereka berdua mewakili hati dan harapan kami yang begitu tinggi untuk mereka berdua.

11 tahun pernikahan dan apalagi pernikahan diusia cukup muda dengan ego remaja yang masih mendominasi, membuat 5 tahun awal pernikahan kami penuh dengan masalah. Hingga diusia pernikahan ke 8 tahun, aku memutuskan menggugatnya, saat itu usia Mentari 2 tahun. Aku menggugatnya bukan tanpa alasan, aku sudah cukup sabar menghadapinya selama ini. Tapi waktu itu kudapati dia menghianati pernikahan kami.

Namun Bang Dika Tidak mau perpisahan itu terjadi. Bang Dika bersujud, memohon maaf atas kesalahan dan kekhilafannya. Dia berusaha menjelaskan namun aku tak butuh penjelasan. Bagiku bukti-bukti itu sudah cukup jelas, aku berada di puncak kemarahan, ego mendominasi pada waktu itu. Bagaimana Tidak, ketika karirku sedang bagus-bagusnya, aku menuruti permintaanya untuk dirumah saja mengurus dirinya dan anak-anak. Dia tidak ingin aku bekerja lagi karena sikap over protective dan cemburu yang berlebihan dirinya.

Deminya, aku rela keluar dari Zona Nyaman dalam hidupku. Penghasilan yang bisa dikatakan cukup besar pada waktu itu, teman-teman, karir, semua kutinggalkan demi mengakhiri pertengkaran yang sudah terjadi lebih dari tujuh tahun. Aku merasa untuk apa uang banyak namun tidak ada kebahagiaan diantara kami. Hampir setiap hari bertengkar dan ada saja yag di perselisihkan, berhenti hanya ketika dia meminta haknya sebagai suami. Dan memang, beberapa bulan sebelum gugatan itu, aku merasakan ada yang berbeda ketika berhubungan dengannya. Hatinya tidak ada disini, bersamaku.

Namun Takdir berkata lain. Ketika penghianatan itu terungkap dan gugatanku masuk ke Pengadilan, kondisi mamaku yang biasanya baik-baik saja secara perlahan turun drastis. Aku memang tidak berfikir panjang, padahal waktu itu aku tidak bekerja, pun tidak memiliki usaha apa-apa. Hanya ada sedikit uang tabungan di rekeningku. Mungkin itu yang dikhawatirkan mama, bagaimana dengan kelangsungan hidup kami setelah ini.

Sementara Bang Dika yang semenjak terungkapnya hal buruk itu, aku usir dari rumah dan memilih memang pergi untuk sementara atas permintaan kakak perempuanku. Rumah ini memang hasil dari pernikahan kami, tapi berdiri diatas tanah peninggalan orangtuaku, jadi aku merasa berhak mengusirnya dari rumah ini.

Selama 2 minggu kami pisah ranjang, sembari menunggu panggilan dari pengadilan, Bang Dika setiap hari selalu datang kerumah. Pagi sebelum pergi kerja dan sore hingga malam. Namun bersyukur dia tidak egois. Dia menuruti permintaanku untuk tetap diluar saja. Tidak boleh menginjakkan kaki kedalam rumah, dan dia menyanggupi. Hanya mama yang menemani bang Dika diluar. Aku tak sudi menemuinya, egoku lebih besar daripada perasaan. Karena sebenarnya aku menangis menatapnya di balik jendela. Aku merindukannya, tak sadar tanganku menempel pada kaca. menangis terisak-isak sambil menatap rambut hitam lebatnya karena posisi bang Dika memang membelakangi jendela. Tiap saat ponselku berdering, tapi aku abaikan, karena pasti dari Bang Dika.

Namun Kondisi mama yang semakin memburuk membuatku menyerah, mama menintaku kembali kepada bang Dika, mama memintaku memaafkannya dan memberi kesempatan untuknya. Akhirnya didepan seorang pemuka agama di daerah tempat tinggal kami, aku meyatakan bersedia memaafkannya dengan beberapa persyaratan. Dua minggu perpisahan cukup membuatku meyakini ternyata aku begitu mencintai bang Dika, dan aku menyadari beberapa kesalahan yang sudah kulakukan selama berumahtangga. Akhirnya gugatan itu tidak jadi kulanjutkan dan berkahir pada sidang pertama.

Semenjak kejadian itu Bang Dika berubah total, aku juga. Kuperbaiki semua kesalahan yang pernah kuperbuat selama 8 tahun pernikahan. aku mengurusnya dengan baik, Mengurus anak-anak kami, dan kulayani kebutuhan batinnya dengan sempurna. Semenjak itu akupun memperbaiki hubunganku dengan sang pencipta yakni Allah, sang pemilik segalanya. Aku mulai merubah penampilanku jadi lebih sederhana diluar rumah, namun sangat menarik apabila didekat suamiku. Aku mulai memperhatikan penampilanku, tubuhku, dan dandananku hanya apabila suamiku ada dirumah. Aku selalu membuatnya bergairah. Tak pernah lagi ku menolak pintanya. Tak pernah lagi ada bau bawang ketika suamiku sudah ada disisiku.  Jangankan setiap hari, bahkan jika ia meminta setiap jampun akan kulayani, dan itu membuatnya benar2 berubah. Dia semakin bersemangat dan semakin mesra.

3 tahun.....

Ya, 3 tahun aku merasa sangat bahagia. Aku menemukan kembali cinta yang hilang, ketidak harmonisan rumah tangga selama 8 tahun awal pernikahan tak pernah lagi kurasakan. Kami berlima, aku, mamaku, Langit, Mentari dan Bang Dika merasakan rumah yang sangat nyaman dan penuh canda tawa. Rumah sederhana namun hangat dan begitu menenangkan.

Namun, semenjak kejadian gugatan itu, kondisi mamaku memang tidak pernah benar-benar baik hingga saat ia meninggal dunia. Kondisi paru-parunya kian hari kian memburuk, karena butuh banyak biaya untuk perawatan mama, aku memutuskan bekerja lagi. Alhamdulillah awal Januari di tahun yang sama dengan kepergan suamiku dan mama, aku mendapatkan pekerjaan di salahsatu perusahaan Konstruksi yang tidak jauh dari kantor tempat suamiku bekerja, hanya berjarak kurang dari 1 kilometer saja.

Berat sebenarnya memutuskan untuk bekerja lagi, terlebih kondisi kesehatan mama yang naik turun. Tapi kubulatkan tekad dan atas persetujuan suami aku kembali meniti karir yang sudah 3 tahun aku tinggalkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status