Beranda / Semua / BUKAN MAUKU / Eps. 8 – Berdebar

Share

Eps. 8 – Berdebar

Penulis: Nhovie EN
last update Tanggal publikasi: 2020-10-19 12:49:40

Kulihat arloji berwarna merah muda yang kusematkan di pergelangan tangan kiriku. Arloji pemberian mendiang suamiku, kini sudah menunjukkan pukul 8.37 pagi. Huft, sudah setengah jam lebih aku duduk disini tanpa semangat. Menatap layar komputer tanpa berbuat apapun. Aku sungguh tidak bersemangat.

Tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk.

“[Pagi Windy manis, lagi apa nich, abang gak mengganggukan?].” Pesan dari Anto.

Ah....

Begitu malasnya aku membalas pesan itu. Aku letakkan kembali gawayku tanpa membalas pesan dari Anto, sungguh aku tidak bersemangat hari ini.

Tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan Vidio Call. Dari siapa lagi kalau bukan dari Anto. Aku merasa sangat tidak nyaman, bahka lebih tepatnya sangat risih. Kubiarkan ponsel itu berdering, aku hanya mematikan nada deringnya saja.

Ini sudah yang ke empat kalinya ponselku berdering, akhirnya aku angkat juga karena sungguh aku tidak nyaman dan ingin segera mengakhirinya, walau belum dimulai.

“Hai Windy.” Terlihat Anto dari seberang sana dengan senyum merekahnya.

“Ya, ada apa vidio call pagi-pagi bang, maaf Windy sedang dikantor.” Jawabku sekenanya.

“Iya, maaf kalau abang menganggu. Abang hanya ingin melihat Windy, minggu depan kita keluar ya.”

“Lihat dulu nanti ya bang, kalau Windy tidak ada kegiatan. Maaf, Windy harus kerja. Nanti ditegur sama atasan.” Aku mencari-cari alasan agar segera mengakhiri panggilan viido itu.

“Baiklah, hati-hati ya disana.”

Aku segera mematikan ponselku tanpa membalas sapaan terakhir Anto.

Diruangan berukuran 3,5 x 3,5 meter  ini aku biasanya berdua dengan Vivi, rekan kerjaku. Namun hari ini Vivi izin, sehingga hanya aku sendiri dalam ruangan ini. Ruangan demi ruangan dikantor tempatku bekerja disekat oleh lapisan kaca dan diberi stiker kaca sekitar 1 m dari bawah. Jadi apapun aktifitas karyawan dalam ruangan akan terlihat dari luar ruangan. Apalagi posisi mejaku tepat menyamping ke dinding bagian luar, jadi apapun yang aku kerjakan akan terlihat jelas dari luar.

Aku kembali menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Bahkan komputer itu masih menampilkan layar desktop, berarti aku belum menyentuh file apapun sedari tadi. Kepalaku memang cukup pusing hari ini, aku tidak enak badan.

“Kenapa Windy, apa kamu kurang enak badan?” Seseorang menyapa dari pintu ruangan. Aduh, kenapa aku teledor tidak menutup dulu pintu itu.

“Ma... maaf pak, Bapak sejak kapan ada disana?” Kataku cukup gugup.

Pria itu masuk dan duduk didepanku. Didepan meja kami masing-masing memang disediakan satu bangku kosong.

“Sudah dari tadi.” Jawabnya singkat.

“Owh...” Entah mengapa kali ini rasanya agak berbeda dari biasanya. Sungguh ini bukanlah kali pertama aku hanya berdua saja dalam satu ruangan dengan pria ini. Tapi kali ini entah setan apa yang menganggu fikiranku.

Hari ini suasana kantor memang cukup sepi. Direktur sedang pergi ke Belanda, menyusul isterinya yang sedang menempuh pendidikan S2 disana. Wakil Direktur sedang pergi keluar kota. Kantor tempatku bertugas hanya terdiri dari enam buah ruangan, dua ruangan besar untuk Direktur dan wakil Direktur dan empat lainnya ruangan kecil. Di bangunan ini khusus untuk Bagian project saja, sementara bagian lainnya ada dalam gedung lain yang terpisah. Di masing-masing gedung ada pantry dan ruang Fotocopy tersendiri.

Jadi gedung bagian project memang sering sepi jika karyawannya sedang Dinas luar. Bisa jadi ke lapangan, atau kekantor PU atau juga ke kantor Konsultan.

“Sudah hampir jam 9, kenapa Windy masih melamun? Lagi jatuh cinta ya?” Pak Irfan menggodaku dengan tawanya.

“Apa maksud bapak?” Aku berusaha santai, walau sebenarnya hatiku tak mampu lagi kukendalikan. Pria ini seperti memagnet jantungku.

“Yang VC tadi itu pacarmu ya? Abang kira Windy gakkan mau punya pacar.”

“Owh... Bapak menguping?” Ternyata tanpa kusadari sedari tadi pak Irfan memperhatikanku dari luar.

“Maaf... tadi sebenarnya abang mau kesini, mau minta dokumen MC, tapi abang lihat Windy lagi VC dengan seseorang. Jadi abang tunggu dulu, takut menganggu.” Aku memperhatikan wajah Pak Irfan dan kulihat ada segurat kekecewaan disana.

“Bapak salah paham, dia bukan siapa-siapanya Windy koq. Udah tua gini mana sempat pacaran. Gak ada ya dalam kamus Windy yang namanya pacaran.” Aku mulai mencair. Degup jantungku mulai bisa kukendalikan.

“Masa....???” Pak Irfan seperti menatapku begitu dalam.

Cobaan apa lagi ini, disaat aku mulai mampu mengendalikan degup jantungku. Tatapan pak Irfan malah membuat kedua pipiku memerah dan irama jantungku kembali tak mampu kukendalikan.

“Mukamu memerah.” Pak Irfan tersenyum.

Aku langsung memalingkan wajah, berusaha mencari dokumen MC yang diminta pak Irfan tanpa berkata apapun lagi.

“Kak Ita sudah memasukkan gugatannya ke pengadilan, dan tanggal 17 adalah hari pertama sidang perceraian kami. Abang sudah dikirimi surat panggilan.”

Spontan, perkataan pak Irfan menghentikan langkahku mencari dokumen yang dimintanya tadi. Aku kembali menatapnya tanpa berbicara sepatah katapun.

“Dua minggu dari sekarang, abang harus mempersiapkan diri untuk sidang pertama. Abang gak tau harus berbuat apa.” Pak Irfan meletakkan sikunya ke meja dan kedua telapak tangannya mengusap wajah dan kepalanya berulang kali.

Aku masih mematung.

“Apa yang harus abang lakukan Windy?”

“Maaf bang, abang harus bisa mempertahankan rumah tangga abang, bagaimanapun caranya. Kasihan Kenzo, dia yang akan sangat terluka oleh perceraian itu jika saja itu terjadi.” Aku berusaha memberikan jawaban yang bijak.

“Abang maunya juga begitu, tapi tidak dengan Isteri abang. Kak Ita ngotot meminta perpisahan ini. Abang mengira dia sudah punya pria idaman lain.” Pak Irfan mengalihkan pandangannya ke jendela yang memang langsung berpapasan dengan taman.

“Maaf, bapak tidak boleh menduga-duga seperti itu. Nanti malah jadi fitnah kalau gak benar.” Aku menjawab sembari masih mencari dokumen yang beliau minta.

“Windy yakin, bapak pasti kuat. Pria seperti bapak ini gak mungkin lemah, iyakan?” Aku berusaha tersenyum untuk menghibur pak Irfan sembari memberikan berkas MC.

“Sebenarnya aku tidak membutuhkan ini Windy.” Pak Irfan tiba-tiba bangkit dari duduknya dan tidak sengaja menyenggol lenganku yang membuatku hampir terjatuh. Namun dengan cepat dan spontan tangannya mengenggam dan menarik tanganku hingga membuatku berada dalam pelukannya.

Dengan cepat aku melepaskan diri. Namun irama jantungku kian hebat dan mukaku semakin memerah. Ada apa ini?

“Ma...maaf Windy, abang tidak sengaja. Abang reflek, hanya ingin membantumu agar tidak terjatuh.” Pak Irfan tampak gugup dan segan.

“I... Iya pak, Windy mengerti.” Aku tak berani menatap pak Irfan karena aku yakin wajahku sangat merah saat ini.

“Baiklah, Abang tinggal dulu. Ada yang mau abang urus kekantor PU. Hati-hati sendirian disini, nanti ada yang ngikutin.” Pak Irfan kembali menggodaku dengan tawanya.

“Windy......” Pak Irfan menghetikan langkahnya sejenak.

“Ya pak.” Jawabku sambil menatap pak Irfan.

“Mukamu Merah, pakai blush On nya jangan ketebalan ya” Pak Irfan berlalu sambil tersenyum.

Aku reflek menutupi wajah dengan kedua tanganku. Aku begitu malu. Aku sama sekali tidak menggunakan blush On, dan pak Irfan tau itu. Namun terkadang reaksi tubuh tak mampu untuk berdusta.

Kejadian pagi itu berhasil membuat aku gelisah. Aku tak mampu lagi menutupi perasaanku pada pria beristeri yang bernama Irfan itu. Namun statusnya sebagai pria beristeri tentu saja menjadi benalu bagiku. Kembali, aku tak ingin disebut sebagai pelakor.

Walau keutuhan rumahtangga pak Irfan akan  dipertaruhkan di meja   pengadilan. Namun aku tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk kepentinganku sendiri. Dilema, itulah yang aku rasakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUKAN MAUKU   Eps. 18 - Pernikahan

    Hari ini semua tampak sibuk. Semuanya mempersiapkan pernikahanku dengan bang Putra, lelaki yang belum pernah kutemui sama sekali.entah engapa aku menurut saja dengan semua perintah mbak Nurul. Dua hari yang lalu harusnya aku bertemu dengan bang putra untuk melakukan taaruf. Namun beliau harus pergi keluar kota, sehingga rencana taaruf itu dibatalkan. Setelah menikah akupun akan berhenti bekerja dan tinggal serumah dengan mbak Nurul. Mbak Nurul yang memintaku melakukan, itu agar aku bisa fokus mengurus keluarga saja dan b

  • BUKAN MAUKU   Eps. 17 - Rencana

    “Pagi Windy.” Pak Rahmad masuk keruanganku.“Pagi pak Rahmad, tumben bapak datang kesini?” “Jadi pak Irfan belum memberitahu Windy kalau saya akan menggantikan pak Irfan mengurus proyek Agam dan Proyek Pariaman.” Ucapan pak Rahmad

  • BUKAN MAUKU   Eps. 16 - Diacuhkan

    Beberapa hari ini sikap pak Irfan tampak sangat berbeda. Dia terlihat menghindar dariku, entah mengapa beliau bersikap demikian. Apa beliau marah ketika aku menolaknya pergi makan siang Sabtu lalu? Tapi itu bukan pertama kalinya aku menolak ajakannya. Namun tidak pernah pak Irfan bersikap seperti ini. “Maaf Pak, ini back up data yang sudah Windy revisi. Bisa bapak bantu periksa? Sebab tadi pagi pak Viro menelpon menanyakan Dokumen Back Up yang belum clear.” Aku menemui pak Irfan diruangannya untuk memberikan dokumen.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 15 – Aneh

    Siang ini rumah terasa sangat sepi karena Langit dan Mentari sedang ikut neneknya ke rumah antan. Mama dan Papa menepati janjinya menemui antan hari ini, hendak membahas masalah penolakan perjodohanku dengan Anto. Rian sedang sibuk di bengkel sementara Dian pergi ke bazar, membuka stand disana. Kembali, aku merenung sendiri dikamar ini. Pertemuanku dengan mbak Nurul tadi cukup mampu mengusik ketenangan batinku. Aku memang kasihan melihat kondisi mbak Nurul. Aku bahkan bersedia mengurusnya dan Aisyah tanpa harus menikahi

  • BUKAN MAUKU   Eps. 14 – Permintaan Nurul

    Pagi ini aku siap-siap berangkat tahsin. Walaupun aku sibuk dengan pekerjaan sebagai staf diperuhaan konstruksi, namun aku tidak mengabaikan bekal untuk akhiratku. Aku ingin sekali memiliki hafalan yang banyak dengan bacaan yang bagus. Maka dari itu aku masih mengikuti kelas Tahsin. Didepan kelas kami ternyata mbak Nurul sudah menungguku. Beliau langsung menghampiri ketika aku baru saja memarkirkan motor didepan kelas kami.

  • BUKAN MAUKU   Eps. 13 – Terkejut

    POV WindySesampai dirumah aku langsung merebahkan diri keatas ranjang. Airmataku mengalir begitu deras. Beruntung Rian dan Dian tidak ada dirumah. Sabtu begini mereka berdua biasanya pergi main. Langit dan Mentari juga belum kembali dari acara jalan-jalan mereka. Jadi aku bisa meluapkan semua kekesalan, sakit hati dan kecewaku dikamar ini sendirian. Besok aku berniat hendak menemui mama dan menceritakan semuanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status