로그인"Aku mau paket burger up down,, kau?" Anson melirik somi yang masih mendongak membaca menu.
"Aku mau paket burger box"
"1 paket burger up down dan 1 paket burger box" pesan Anson pada kasir KFC lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
Anson membawa nampan berisi makanannya dan makanan somi juga.
"Biar aku bantu, itu punyaku"
"Tidak eve, kau cari tempat duduk saja. Aku yang bawa"
Karena hari ini weekend jadi KFC lumayan ramai dan sulit mencari tempat duduk. Somi menurut, ia mencari tempat duduk yang pas.
"Disana kosong" somi menunjuk tempat duduk yang kosong.
Mereka memakan makannya dengan tenang. Somi terlihat khidmat dengan burger dan ayam sebesar kepalan tangannya. Untuk gadis seukuran somi, mungkin tak ada yang menyangka jika makannya sebanyak itu.
"Pelan pelan eve" anson mengusap ujung bibir somi yang terkena saus.
"Mark Lee" suara gadis menyapa mereka berdua.
"Chaeri"
Chaeri melirik arah somi dan melihat Anson bergantian.
"Hmm perkenalkan. Ini Eveline, pacarku" ucap Anson dengan yakin.
Somi tersenyum kecut 'pacar ya', hmm bisiknya dalam hati.
Chaeri melebarkan matanya. Pacar?, Yang ia tahu Mark Lee tidak dekat dengan siapapun. Anak anak di sekolah juga begitu. Tak ada yang tau.
"Aku Lee Chaeri senang berkenalan denganmu" ucap Chaeri ramah.
"Sepertinya aku mengganggu kalian, aku permisi"
"Chaeri ssi, kau bisa bergabung dengan kami" tawar somi
"Bolehkah?, Tapi aku dengan temanku juga"
"Dengan siapa saja chae?" Tanya anson
"Aku kemari dengan seungkwan dan min young. Mereka masih antri di belakang"
"Wah pasti seru jika ramai" somi antusias. "Sini gabung saja"
...
Stefani, shuri dan yuqi berada di tempat Yang sama yaitu Hyundai Departemen Store. Mereka hanya bertiga. Tidak ditemani pasangan pembuat onar. Meskipun yuta merengek minta ikut, Johnny minta reschedule jadwal, Lucas mengancam tak makan. Mereka tak PEDULI. Biarkan saja 3 orang itu, salah sendiri kemarin menilap.
Di tengah jalan shuri berhenti. Matanya tak sengaja melirik sosok yang sangat amat ia kenal. Bahkan semenjak sebelum pubertas.
"Ini mataku yang salah atau memang benar jeon somi kita makan KFC?" Gumam shuri.
"Hahaha, jangan bercanda. Kutawari makan pizza standar saja tak mau. Apalagi makan makanan rakyat." Ucap Stefany
"Itu bukan somi, dia tak akan pakai baju sederhana begitu" yuqi menambahi.
"Lagipula somi tak mungkin bicara dengan orang lain segila itu"
Posisi mereka memang tidak terlalu jelas. Somi membelakangi mereka, jadi shuri hanya bisa melihat punggungnya saja.
Gadis yang shuri lihat asik sekali bicara dengan teman temannya. Sifatnya tak seperti somi. Somi asli hanya akan melirik sinis jika bertemu dengan orang yang sok kenal dekat. Tapi ini mereka seperti kenal lama.
'aku saja yang kenal lama, sering kena damprat apalagi orang yang baru dekat. Tak mungkin orang itu somi' batin shuri
"Hmm baiklah, ayo pergi" shuri mengendikan bahu. Terserah saja jika itu memang somi, akan lebih baik menjauhinya. Shuri juga tak mau kena tatapan maut mata bulat somi. Membayangkan saja bisa membuatnya merinding.
...
Jeno dan hejin pergi ke mall dengan mood buruk. Bahkan berjalan beriringan saja tak Sudi. Hejin terlihat berada di depan dan Jeno di belakangnya dengan jarak 2 langkah.
"Harusnya kau tolak jika tak mau!" Teriak hejin.
"Mau bagaimana ayahku yang minta. Hanya karena dirimu aku membatalkan janji dengan pacar pacarku"
"Bodoh, kenapa tidak bawa saja mereka kemari. Kau kan jadi tak perlu repot repot menungguiku"
"Tidak, nanti kau mengadu. Aku tau otakmu yang licik rencananya lebih banyak ke buruk daripada ke arah baik"
'BAJINGAN' gumam hejin yang masih bisa di dengar Jeno. Di pikiran Jeno mungkin perilaku hejin sudah masuk kategori setan. Padahal kan hejin sudah baik beri solusi. Siapa juga yang mau repot repot mengadu. Lebih banyak aduan pacar pacar Jeno yang minta hejin meninggalkannya. Tolong ya tolong, yang harus meninggalkan itu siapa. Kadang hejin sampai meledak hanya karena itu. Banyak gadis tak tau diri yang seenak jidat memintanya pergi. Memangnya mereka ini siapa.
Langkah hejin terhenti pada toko paling besar dan mahal di mall itu. Butik paling terkenal dan paling mahal. Matanya menelisik pada dress putih yang dipajang.
Tanpa menunggu lama hejin langsung mengambil dress itu dan mengenakannya. Black card kesayangannya dengan mudah ia gesek. Tak peduli dengan harga yang tertera dan syarat ketentuan yang berlaku. Jika hejin suka ia akan langsung pakai dan bawa pulang.
Hejin bukan type gadis yang memutari seluruh mall hanya untuk memilih barang cantik. Ia berpendapat dirinya sudah cantik, yang lain hanya pemanis baginya. Jadi tak perlu dipikir lama.
Jeno memutar mata jengah, bukan karena lama tidaknya hejin belanja. Tapi bagaimana hejin dengan mudahnya memiliki apa yang ia inginkan termasuk dirinya. Ia mengibaratkan dirinya sebagai barang yang hejin lihat dan pakai hingga sekarang. Tinggal menunggu dibuang jika hejin bosan. Tapi gadis itu, bahkan tak menunjukkan tanda bosan dengannya.
"Aku selesai, ayo pulang" ajakan hejin yang terdengar seperti perintah.
Kurang dari 1 jam hejin belanja lalu ia minta pulang. Jeno muak sekali, ia repot repot membatalkan semua janji hanya karena hejin ingin membeli dress. Wah betapa tak berfaedahnya waktu Jeno hari ini.
Satu hal positif yang bisa dipetik dari hal ini. Jeno tak perlu menunggu lama seperti lelaki lain yang menunggu pasangannya belanja sampai seperti gembel di ruang tunggu.
Hejin tak pernah membuatnya menunggu lama dan ia senang akan hal itu. Gadis itu selain pintar juga cepat dan tepat. Sedikit pujian untuk hejin untuk menutupi sifatnya yang buruk. Ahh, setidaknya ada sedikit nilai plus dari sekian sikap minus yang gadis itu punya.
Hejin berjalan ke eskalator yang membawanya ke basemant. Sebenarnya mereka bisa naik lift dan sampai ke bawah dengan lebih cepat. Tapi hejin tidak bisa, ia punya masalah dengan lift. Jadi disinilah mereka sekarang, dari lantai 5 sampai ke lantai bawah naik eskalator.
"Somi," ucap Jeno saat melihat gadis yang cukup ia kenal berada di pojok meja KFC.
Hejin berbalik, "mana?"
"Itu, bukankah itu somi?" Jeno menunjuk gadis yang dari samping memang mirip sekali dengan somi.
Hejin mengernyit, eskalator yang berjalan membuatnya tak bisa fokus. Bayangan somi tertutup sebelum ia bisa menemukan sahabatnya itu.
"Kau pasti salah lihat, mana mungkin somi ada di situ?" Sebal hejin, merasa dibohongi.
"Aku serius, dia somi. Dari samping mirip sekali"
Hejin menggeleng "kau lupa, somi yang kita kenal tidak makan ayam murah"
Jeno tersadar sesuatu, benar juga. Apa mungkin ia salah lihat. Tapi sudahlah, tak ada untungnya juga ia tau. Jeno dan hejin tak bicara lagi sampai mereka memasuki basemant.
Hejin POV
Aku tau Jeno tak suka menemaniku shopping. Jadi aku melakukan semua secepat yang aku bisa. Kurang dari satu jam aku mendapatkan dress yang aku inginkan.
Hari sebelumnya aku sudah bilang dengan pemilik butik untuk mengirimkan produk barunya. Aku memintanya memajang produk yang aku pilih. Dan disinilah kami, tak perlu waktu lama aku akhirnya pulang dengannya.
Wajahnya sama sekali tak pernah bersahabat denganku. Ia bahkan masih membicarakan gadis lain saat mengantar ku. Jujur saja aku juga tak mau di antar. Tapi tau sendiri, Orang tua kami memaksakan. Jadi mau tak mau kami tetap harus berangkat dan memberikan laporan.
Di saat itu aku harus memasang senyum selebar mungkin. Sifat yang tak pernah aku tunjukkan di hadapan orang lain.
"Somi" ucap Jeno saat ia tau sekelebat orang yang mirip dengan somi.
Sebenarnya aku tau, itu memang somi. Gadis bar bar yang menikmati ayam murah dengan senyum selebar garis katulistiwa. Disampingnya lelaki yang tak membuatku kaget lagi. Han Anson atau Mark Lee. Tunangan somi.
Sudah sangat lama aku tau. Jika lelaki itu Anson. Nama aslinya bukan Mark Lee. Aku sampai kaget melihatnya berubah 180 derajat saat masuk jeguk. Tapi, meskipun aku tau. Aku tak pantas mengajaknya bicara. Lelaki itu membenciku. Jauh lebih besar kebenciannya daripada Jeno membenciku saat ini.
Karena itu, aku lebih baik menghindar. Daripada bergabung ke mereka yang bahkan tak akan nyaman untuk mengajakku bicara. Aku, joen hejin hanya perusak suasana.
Aku dan Jeno turun dari lantai atas menuju eskalator lain. Merepotkan memang, tapi mau bagaimana lagi. Aku punya trauma tersendiri mengenai lift. Jeno sendiri tau, dan ia tak keberatan. Karena dia tau bagaimana buruknya keadaanku dan semua trauma yang aku punya. Intinya, lelaki ini tau semua kelemahanku.
POV end
....
Lisa mengadon kue seperti yang youtube terangkan. Menguleni sekuat tenaga. Sudah 2 jam ia melakukannya. Obsesi untuk membuat garlic cheese bread tak pernah padam. Meskipun adonannya gagal ngembang 2 kali, ia masih semangat semangat saja. Baginya menyajikan roti terbaik untuk Anson adalah misi utama hari ini.
Lupakan Sehun sejenak. Pria itu membuatnya kesal sepanjang hari. Bukannya membantu ia malah melihat tv dengan volume sound aktif. Tapi percuma saja jika Sehun membantunya. Bukan membuat ringan malah membuat kacau.
Sehun tidak bisa memasak dan jangan memintanya melakukannya. Bakat Anson membakar dapur mungkin menurun dari Sehun. Sampai tanpa diminta pun Anson jago sekali membakar dapurnya.
"El, sudah belum?" Sehun memanggil dari ruang tamu.
"Jangan cerewet" teriak lisa.
Sudah sebal rotinya tak ngembang. Sehun malah teriak tak jelas mencarinya. Seperti bayi yang tak diberi susu. Sudah 38 kali dia memanggil Lisa hanya karena bosan.
Perlu Sehun ingatkan ini weekend. Harusnya mereka bersenang senang atau membuat Sehun junior yang lain. Tapi Lisa malah mengacuhkannya. Garis bawahi mengacuhkan dari pagi. Lisa lebih memilih roti sialan itu daripada bangun siang bersamanya.
Sehun mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Ell, kupanggil saja koki pastry kesini nde???"
"Oke, jangan lupa panggil pengacara Ong sekalian"
"Untuk apa?, Mematenkan resep?, Jangan bercanda. Resep rotinya sudah ada yang punya"
"Tidak, mau ku coret namamu dari KK" ucap Lisa sambil melumuri pipi sehun dengan tepung.
Sehun memejamkan matanya. Anggap saja perawatan wajah.
"Wah, kau tampan sekali Mr Han" Lisa tersenyum menampakkan gigi kelincinya.
"Kau suka?"
Lisa mengangguk.
"Ada yang lebih menyenangkan lagi"
"Apa?"
Tanpa basa basi Sehun langsung merapatkan diri pada Lisa. Melumat bibir lembut istri cantiknya. Tak membiarkan Lepas walaupun hanya sekedar bernafas.
"Berhenti" Lisa menepuk pundak sehukn menjauhkan wajahnya, mengambil nafas sebanyak banyaknya.
Sehun menghentikan kegiatannya. Melihat lekukan wajah cantik istrinya. Mengusap kelopak mata, bibir, pipi Lisa.
"Kenapa?, Aku jelek ya?" Lisa mengusap wajahnya.
"Tidak, kau cantik" Sehun memeluk Lisa seerat mungkin. "Aku mencintaimu".
Lisa mengangguk. Wajahnya datar di balik pelukan mereka.
Lisa POV
Hari ini aku menyiapkan apapun untuk mengalihkan pikiranku. Membuat roti konyol salah satunya. Biasanya aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyajikan sesuatu yang enak dimakan.
Tapi kali ini, pikiranku kacau. Adonanku tidak ngembang 2 kali dan aku hampir frustasi. Mungkin benar kata orang, jika memasak harus pakai hati. Seperti sekarang, aku emosi sekali sampai rotiku tak jadi jadi.
"El sudah belum?"
Suara lelaki yang sudah sangat jelas status nya. Suamiku Han Sehun menunggu di ruang tamu.
"El kupanggil saja koki pastry kesini nde?"
"Kau panggil pengacara Ong saja sekalian!"
"Untuk apa?, Mematenkan resep?, Jangan bercanda. Resep rotinya sudah ada yang punya" .
"Tidak, mau ku coret namamu dari KK" sambil mengusap tepung di pipi sehun.
Jujur saja aku ingin menaruh bom di baju suamiku. Peduli setan jika ia tinggal nama. Aku sebal sekali.
Pernikahan kami nampak baik baik saja. Dan kukira begitu. Kukira kami saling percaya dan tak saling memiliki rahasia. Tapi faktanya tak seindah ekspektasi ku.
Sehun menciumku, untuk kesekian kalinya. Kami tak pernah absen melakukannya. Semenjak aku di rumah aku tak pernah absen melayaninya. Mulai dari hal kecil sampai dengan yang ia lakukan padaku malam tadi.
Aku menikmatinya, menganggap itu kewajibanku. Sampai aku tau, ada yang tak benar. Aku mengutuk kepintaranku sendiri. Aku mengutuk diriku sendiri. Aku tak bisa menangis, anak ku pasti tau. Otak pintarnya menurun dariku. Sekecil apapun perubahannya ia akan tau.
Sehun memelukku
"Aku mencintaimu"
Biasanya aku senang ia mengatakannya. Tapi kali ini, Aku tak bisa bereaksi. Tak ada niatan bibirku membalas.
'Maaf Sehun, kali ini aku ragu', batinku.
...
Somi dan Anson sudah sampai di apartemen. Sepanjang jalan, somi tak mau bicara apapun. Biasanya somi akan bercerita panjang lebar apapun dan Anson akan mendengar apapun. Lalu mereka akan bersikap romantis lagi satu sama lain.
Tapi kali ini, somi bahkan tak mengucapkan terima kasih. Padahal sudah diantar sampai apartemen. Ditraktir makan ayam, ditemani kemana mana.
"Eve" Anson buka suara.
Somi menaikkan sebelah alisnya
"Jangan pakai bahasa tubuh"
"Apa?"
"Kau marah, lagi?" Anson frustasi. Belum genap seminggu somi marah dengannya tapi gadis ini marah lagi. Somi selalu pakai bahasa tubuh jika ia marah atau tak sependapat dengannya. Kenapa para wanita suka begitu. Kalo tidak suka ya bilang saja. Jangan pakai bahasa tubuh. Kalian kira kami ini mengerti?, Ya tidak lah. Tolong ubah pola pikir kalian. Kami para lelaki tersiksa jika terus begini. Bisik Anson dalam hati tanpa mau mengucapkan langsung.
Ya gila saja, mau bilang langsung. Anson masih ingin hidup panjang. Mertuanya pasti akan mencincang dan membuat dirinya jadi makanan buaya jika ia melakukannya.
"Tidak, pacar" somi menekankan kata pacar.
Anson menahan nafasnya. Otaknya harus berfikir. Somi sudah menekankan kata pacar. Jadi clue nya pasti itu. Lalu Anson ingat sesuatu.
"Bukankah kita memang begitu, bukannya lebih baik daripada kuakui sebagai teman?"
Somi mendengus. Melirik Anson tajam. Tatapannya membara ingin membakar tubuh anson.
"Kau ingat ungkapan istri 1, pacar boleh banyak?"
Anson mengangguk walaupun sebenarnya tidak tau. Ikut alur saja, nanti pasti tau sendiri.
"Statusku Tunanganmu, calon istri mu Anson, bukan pacar. Pacar bisa kau nomeri, sementara tunangan hanya bisa sekali!"
"Dan satu lagi, aku tak mau kita seperti Jeno dan hejin. Aku tak mau kau jadi brengsek"
"Eyyyy, Eveline Douma" Anson menangkup wajah somi. "Aku bukan Jeno, aku Han Anson yang hanya jadi milikmu. Sifat dasarku setia dan akan kubuat diriku ini setia hanya pada satu nama, yaitu namamu"
Somi sedikit tenang, hatinya mencair. Memang benar selama ini Anson setia. Apa mungkin dirinya saja yang berlebihan.
"Baiklah ans, aku percaya. Maafkan aku. Aku berlebihan" somi memeluk Anson. Merasa bersalah dengan sikapnya yang berlebihan.
"Tak apa, sering seringlah cemburu. Aku suka ekspresimu, hahaha" tawa Anson renyah.
"Pulanglah sudah malam" usir somi sembari memainkan tangannya. Seperti mengusir Vivi.
"Siap nona eve" anson bersikap hormat pada somi.
Anson berjalan pergi. Somi mengantarnya sampai pintu lift tertutup. Perasaan somi masih ragu. Yang ia lihat tadi gadis itu menatap Anson berbeda. Sama seperti Anson menatapnya. Entah perasaannya atau bagaimana. Untuk pertama kalinya ia cemburu dengan gadis yang ia pikir tidak ada apa apanya.
To Be Continued
.
.
.
.
To Be Continued
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.