LOGINHari yang ditunggu tunggu tiba, dimana an south resort diresmikan. Pesta mewah dengan banyak tamu penting. Satu keluarga Han termasuk Anson juga ada di pesta tersebut. Dandanannya jauh dibandingkan penampilannya di jeguk. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya barang mewah. Hanya satu yang tak berubah, ia masih memakai topeng.
Somi terlihat bicara dengan banyak kolega bisnis serta keluarga Anson. Menggantikan tuan muda yang begitu malas. Padahal akan sama saja, biarpun somi menyapa. Mereka akan tetap mendekat pada Anson. Namanya juga kolega. Seperti sekarang, kolega mancanegara itu mengelilingi Anson.
"Aku suka whisky disini, rasanya lebih enak dari punyaku di China" ucap winwin sembari meminum segelas whisky di tangannya.
"Dont drink again dude, kau bisa mabuk nanti" Johnny merampas gelas winwin. Mencampurnya dengan air putih.
"Yo man, kenapa kau kuno sekali" Lucas menimpali Johnny
"Kau ingat, kita disini untuk bersenang senang. Bukan untuk mabuk. Apa perlu kukatakan pada yuqi kau minum berapa gelas tadi? Hah?" Tantang Johnny
Lucas mengerutkan keningnya
"Okay, you win" Lucas mengangkat tangannya.
"Kenapa memanggilku?"
Yuta menggeplak kepala winwin "Maksudnya menang bodoh, win sama dengan menang"
"Ouhhh"
Bangku bundar mereka nampak ramai. Winwin, yuta, Lucas, Johnny dan Anson berbincang serta bertengkar satu sama lain.
"Hey, mumpung para nyonya muda kita tak ada. Bagaimana jika kita keluar?" Usul Lucas.
"No, don't do that. Somi bisa membunuh kita" tolak Anson.
"Dasar kalian pecundang" winwin yang setengah mabuk angkat bicara.
"Kenapa kalian takut sekali, mereka tak akan pernah puas meskipun kita menurutinya"
"Winwin ah, kau mabuk. Mau ku seret pulang?" Yuta menepuk pipi winwin yang menjatuhkan kepalanya di meja.
"Ah anak ini, sudah tau tak kuat minum tapi masih saja..." Geram Lucas.
"Win ah, kau pulang saja nde. Private jet ku bisa terbang ke China. Kau tak perlu khawatir kawan. Aku akan memulangkanmu ke negeri panda" yuta membopong winwin yang sudah teler.
"Ah wheeee, aku mau ikut kalian. Aku benci sendirian" Winwin duduk kembali. Memeluk botol miras di depannya.
"Ah aku bisa gila"
"Hyung, mau tidur disini?" Anson mencoba mengajak winwin bicara.
"Yak, anson. Apa yang kau lakukan?" Yuta berteriak gila. Bagaimana Anson menawarkan hal tak masuk akal begitu. Winwin bisa membunuh mereka, jika sadar dibiarkan tidur di lantai pesta.
"Hey, maksutku. Biar winwin hyung menginap di resort ini. Resort ini kan milik kami"
Johnny dan yang lain baru sadar. Jika Anson pemiliknya. Mereka lupa jika Anson anak dari Han Sehun. Lelaki paling berpengaruh di Korea.
"Saking lamanya Anson miskin, aku lupa jika dia yang punya tempat ini" Lucas memijit kepalanya yang tak pusing sama sekali.
"Kalian bicara apa?"
"Ah kamjagiya" yuta kaget sampai hampir jatuh dari kursinya.
"Hey some, kenapa kau datang tiba-tiba, menakutkan sekali" Johnny mengusap lengannya. Seolah olah bulu kudu nya berdiri.
"Siapa?, Aku?, Menakutkan!"
"Ya, kau menakutkan"
Somi mengambil handphone lalu berkaca.
"Kalian buta atau bagaimana. Aku cantik begini kalian bilang takut"
"Hey penyihir, mulutmu itu memang tak bisa berubah" yuta berdiri menantang somi.
"Kenapa memangnya, mau berkelahi?, Ayokk" tantang somi berkacak pinggang.
"Ya tidak" yuta menciut. Duduk kembali ke tempatnya. "Aku kan hanya asal bicara, ya kan ans" yuta merangkul pundak Anson disampingnya.
"Eve, berhenti. Kami hanya berbincang biasa"
"Kalian tidak membicarakan kami kan?" Shuri ikut nimbrung sambil membawa sepotong kue di tangannya.
"Sayang, tidak. Kami hanya berbincang tentang bisnis" jawab yuta. Menjelaskan pada kekasihnya.
Shuri mengangguk "hmm, baiklah aku percaya"
Yuqi di seberang ikut berjalan ke kerumunan yang sama.
"Apa lagi yang dilakukan si bodoh itu" gumamnya sepanjang jalan menuju meja Anson.
Yuqi mencubit lengan Lucas.
"Awwww, what the" Lucas berbalik "babe?"
Yuqi bersidekap
"Apa?, mau mengumpatiku?"
"Ah, tidak. Aku hanya refleks melihat mu cantik sekali hari ini"
"Gombal sekali tuan wong yukhei ini" somi menimpali.
"Eveline Douma, please" Anson menghentikan kejulitan somi.
"Kenapa kalian romantis sekali" ucap shuri dengan polosnya sembari memakan kue yang ia bawa tadi.
"Sayang, bukankah aku lebih romantis?" Tanya yuta
"Romantis apanya, kuajak memasang gembok saja. Kemarin kau tidak mau"
"Sayang, kau kan tau aku.."
"Aku apa? Hah?" Shuri mengejar penjelasan yuta.
"John, apa yang terjadi" tanya wanita blasteran.
"Entahlah, mereka bertengkar sendiri sendiri"
"Lalu kenapa kau diam saja?"
Johnny menggenggam tangan Stefany.
"Karena kita tidak bertengkar, dan aku bersyukur akan hal itu"
"BERHENTI" winwin berteriak gila dari mabuknya.
"Kenapa berisik sekali, dasar kalian menyedihkan" winwin langsung jatuh tertidur setelah mengatakan itu.
Somi menunduk memeriksa kondisi winwin.
"Apa yang kau lakukan eve?"
"Aku memeriksa nadinya, kukira dia mati ternyata masih bernafas" ucap somi sembarangan.
"Hey, jelas saja dia masih hidup. Winwin hanya mabuk" jelas Lucas sebal pada gadis penyihir itu.
Lucas memanggil bodyguard winwin, meminta mereka mengantar winwin ke kamar resort. Yuqi juga ikut mengurus winwin yang masih telentang di lantai.
"Menyusahkan saja"
"Hey jangan bilang begitu," yuta meneriaki yuqi.
"Yak, Nakamoto yuta. Ini kan tugasmu. Kenapa kau malah meneriaki yuqi, padahal yuqi sudah membantumu" shuri memarahi yuta
Yuta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau lebih penting, shuri san"
"Dasar tidak setia kawan" Johnny menggeleng.
"Jadi bagaimana, kita jadi keluar tidak?" Yuta keceplosan mengatakannya. Ia langsung membekap mulutnya sendiri menyadari apa yang ia katakan.
Langsung saja semua sorotan mata tertuju pada yuta. Diikuti dengan sorotan mata menakutkan gadis disampingnya.
"YUTAAAA"
Yang selanjutnya terjadi. Teriakan seperti paduan suara nada tinggi, memekakkan telinga memanggil yuta. Diikuti dengan para lelaki yang mengejar anak itu.
Dari jauh seseorang memperhatikan mereka. Melihat betapa ramainya bagian meja pojok. Sebenarnya bukan keramaian suara yang membuatnya penasaran. Tapi, para remaja muda yang berpasangan seperti dirinya saat ini.
"Kenapa anak anak itu?"
"Biarkan saja, mereka mungkin sedang main" sehun menanggapi pertanyaan Chanyeol.
"Ah Hyung, dimana anakmu?"
"Mereka tidak ku ajak,"
"Kenapa, menghancurkan pesta?" Ganti Lisa bertanya.
Chanyeol tersenyum geli
"Sepertinya kenakalan anakku, sudah terdengar sampai ke sini. Hahaha" tawanya renyah.
"Kau pasti tidak tau anakku" taehyung ikut angkat suara.
Jiso mencubit paha taehyung,
"Hahaha, maafkan suamiku. Dia memang suka bercanda"
"Tidak masalah Mrs Kim, aku sendiri juga punya masalah yang sama" kali ini Lisa menjawab.
"Kenapa kita malah membicarakan anak anak, bukankah ini pesta kita. Mari nikmati pestanya" Sehun mengangkat segelas minumannya.
Cheers
"Selamat Mr Han atas pembukaan resort mu?"
"Terima kasih, ini juga tak akan berjalan tanpa bantuan kalian" ucap Sehun.
Sehun mulai berbincang bincang dengan para rekan bisnisnya. Tak terkecuali Lisa yang masuk ke grup sosial wanita.
...
Kilauan cahaya menyilaukan mata winwin. Membangunkan dirinya dari tidur nyenyaknya. Mata nya melirik ke atas.
"Ini bukan kamarku" bisiknya dalam hati.
Suara dengkuran melebarkan mata winwin. Bulu kuduk nya berdiri mengira itu suara setan. Winwin berbalik ke kiri.
"YAKKK, SAEKKIYA" winwin melempar bantal didekatnya ke objek yang hampir saja ia anggap setan.
Bagaimana winwin tidak kaget. 4 manusia busuk dengan baju berantakan tidur sekamar dengannya. Seumur hidup winwin tak pernah sekaget ini saat bangun.
Winwin meraba tubuhnya,
"Masih utuh,"
"Yak dong shi cheng, kau anggap kami apa?, Mana Sudi kami dengan tubuh kering begitu" ucap Lucas sembarangan.
Winwin mencium bau Lucas. bau alkohol menguar kuat dari badannya. Tak terkecuali Lucas, semua yang di kamar itu bau alkohol.
Sumpah, winwin mau muntah rasanya mencium bau mereka.
"Yak kalian, kenapa tidak masuk kamar kalian sendiri?" Winwin mencak mencak.
Yuta terbangun, membuka kacamata tidur yang masih terpasang.
"Maaf, kami mabuk. Lagipula ini kamar Anson. Kau juga tidak masuk ke tempat seharusnya"
Yang punya kamar bahkan tidur dengan keadaan tak bisa dijelaskan lagi.
"Aku bisa gila" winwin meremat rambutnya. Seingatnya, anak anak itu berjanji keluar. Tapi yang ia lihat disini berbeda. Mungkin mereka tidak keluar, tapi malah terjebak bersamanya disini. Bagus, setidaknya ia punya teman mabuk.
"Luke, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya winwin pada Lucas yang masih setengah sadar memeluk guling.
"Ah itu, kemarin kami tidak jadi keluar. Malah para nyonya mencekoki kami pakai alkohol kadar tinggi"
"Kau lihat, bahkan Johnny yang kuat minum sudah teler begitu. Apalagi kami" lanjut Lucas
"Cukup fan, aku tidak akan melakukannya lagi" Johnny mengigau di sela tidurnya.
"Ah kepalaku sakit" Anson mencoba bangun dengan langkah sempoyongan.
"Hyung, beli obat pengar Hyung" Anson memukul paha winwin dengan nyawa yang masih belum terkumpul.
"Beli obat kepalamu, aku saja pusing begini"
Anson mengambil ponselnya di nakas. Memasukkan sidik jari keamanan. Menelfon ke salah satu nomor.
"Belikan aku obat pengar, bawa sup pereda pengar juga,," Anson melirik winwin "Hyung mau titip juga?" Tawar Anson
Belum sempat winwin membuka mulutnya. Handphone Anson sudah dipindah tangankan ke yuta.
"Aku mau sushi, bulgogi, jangan lupa sup kimchi juga. Bawakan baju baru ukuran ku"
Yuta memberikan telfonnya pada winwin.
"Bawakan kami 4 seragam hyundai, dan 1 seragam jeguk. Terima kasih"
Tit
"Winwin, kau gila hah. Mau sekolah dengan keadaan begini?"
Winwin mengangguk
"Pendidikan no 1, jangan membolos. Ingat diatas langit masih ada Anson"
"Anak itu bahkan masih tidur. Dia turun dari langit, minum alkohol lalu tidur"
"Anak baik. Hahaha" yuta tertawa cekikikan.
"Kita bolos saja, hanya sehari tak ada yang mencari" Lucas angkat bicara.
"Kau lupa, anak ini sekarang ada yang mencari" jawab Johnny
"Lagipula kenapa dia pindah sekolah. Sudah benar di hyundai. Malah pindah ke sekolah musuh" terang Lucas emosi.
"Hey, biarkan saja. Itu pilihannya" bela winwin.
Johnny juga sepakat. Tak semuanya harus sama sama bukan. Mereka tetap berteman bagaimana pun keadaannya. Dimana pun tempatnya, itu saja sudah cukup.
Johnny menggoyangkan tubuh anson
"Daepyonim, bangunn. Kajaa"
"Hngggghh" Anson merapatkan diri ke paha winwin.
Winwin menggoyangkan pahanya kasar. "Ans, kau sekolah tidak?, Sudah jam 7 anson"
Anson tetap tak bergeming
"Sudahlah Hyung, tidur pangeran kita lebih berharga dari jeguk" celetuk Lucas.
Tok tok tok
"Siapa lagi itu!" Yuta menyibakkan selimut, lalu beranjak menuju pintu.
Menekan tombol security door.
"Ohayo gozaimasu yuta San"
"Samonim" yuta hampir jatuh jika tidak ada gagang pintu. Saking kagetnya dengan siapa yang ada di depan kamarnya sekarang.
Yuta langsung membukakan pintu. Peduli setan dengan yang lain. Keselamatan nya sedang terancam, jadi ia harus cari jalan selamat.
"Anson di dalam?"
Yuta hanya diam, tak berani menjawab. Takut, itu yang ia rasakan. Jika ibu Anson tau, anaknya mabuk mabukan apa yang akan terjadi padanya. Salahkan nyonya muda nya, yang mencekoki vodka, Dan Miras lain kemarin.
Lisa mengernyit, hidungnya mencium bau familiar dari yuta. Alkohol, sungguh berapa yang anak ini minum sampai baunya menyebar ke seluruh ruangan.
"Jangan takut, apa aku terlihat menakutkan untukmu?"
"Tidak samonim, maaf atas ketidaksopanan saya" yuta membungkukan punggungnya 90 derajat.
"Its okay, anson di dalam kan?"
"Aku membawakan apa yang dia minta"
Yuta melebarkan matanya. Bukankah tadi Anson menelfon sekertaris. Ingatkan yuta untuk melempar bule lokal itu dari langit.
"Ja, jadi"
Lisa mengangguk
"Kalian menelfonku"
JDARRRR
Rasanya tubuh yuta seperti disambar petir di pagi buta. Yuta tak tau lagi harus bicara apa saking malunya.
"Gwenchana yuta ssi, kalian sudah ku anggap anak ku sendiri" lembut Lisa. Menepuk pundak pemuda Jepang di hadapannya.
"Nde, maafkan kami samonim"
"Panggil saja eomma nde?"
Perhatian Lisa teralihkan pada suara Anson. Ia yakin 100% jika suara yang ia dengar suara anaknya.
Ckrekk
"Mommy" Anson bicara lirih. Ia memanggil tanpa dosa. Tanpa repot repot berdiri menyambut ibunya.
"SAMONIM" teriak lucas, Johnny, winwin. Langsung berdiri dan membungkuk 90 derajat.
"Hahaha, kenapa kalian gugup sekali" tawa Lisa. Melihat sekumpulan remaja takut dengannya. Kecualikan Anson, anak itu tak ada takut takutnya sama sekali.
Lisa duduk di samping ranjang Anson. Mengusap helaian rambut anaknya.
"Ans," Lisa menepuk lengan anaknya.
"Hngggghh" Anson masih menggeram. Tak mau bangun.
"Ibu membawakan pesananmu" bisik Lisa di telinga Anson. Mengabaikan tatapan remaja lain yang iri. Tentu saja, ibu mereka tak pernah melakukannya.
"Wait a minute mom. Aku pusing sekali"
"Ayo makan sup mu, ibu sudah bawakan pereda pengar juga"
Lisa beranjak dari tempatnya. Menyiapkan sup pereda pengar yang ia bawa untuk anak anak itu.
"Samonim, apa yang anda lakukan" teriak Johnny.
"Aku membuat sup pereda pengar untuk kalian. Kalian bersihkan diri dulu sana. Jika sudah siap akan ku panggil"
"Biar kami bantu samonim" tawar winwin.
"Tidak, jangan mendekati dapur. Biar aku saja. Ini perintah"
Sontak Johnny winwin Lucas terdiam. Mundur dari dapur. Lagipula mereka juga tak ada skill memasak sama sekali. Tawaran membantu hanya sekedar basa basi.
"Wah daebag," teriak lucas.
Winwin menggeleng dengan apa yang ibu Anson lakukan. Padahal ia bisa meminta pelayan melakukannya. Tapi Lisa, malah turun tangan hanya demi anak nakal seperti Anson. Tak lupa dirinya dan teman teman laknatnya juga ikut hadir.
Setengah jam kemudian 5 remaja itu sudah duduk melingkar di meja makan. Tak lupa sup pereda pengar di hadapan mereka yang tengah mereka santap.
"Mom, mana jus semangka ku?" Tanya Anson dengan wajah polosnya.
Lis menggoyangkan pisau yang ada di tangan kanannya. Tanda menolak.
"Tak ada semangka hari ini"
"Mommy jahat sekali"
Keempat remaja langsung menatap Anson dengan gilanya. Ibu Anson sudah rela jauh jauh datang kemari membuatkan sup untuk mereka, dan Anson masih mengatakan itu jahat.
Katakan pada Lucas agar merajang Anson untuk makanan piranha miliknya.
Winwin bahkan mengaduk aduk sup pereda pengar membayangkan jika itu wajah Anson. Ia sudah geram dengan bocah itu.
Lisa beranjak dari duduknya lalu mengambil sesuatu di dapur. Membawakan sesuatu yang tak pernah Anson kira. Sesuatu yang istimewa, yang jauh lebih istimewa dari jus semangka.
Kue tart semangka, dari semangka asli. Bertabur gula manis yang Anson suka. Jangan lupakan hiasan almond dan buah mahal yang lain.
"Sayang sekali si almond jadi pemanis buah murah" bisik lucas dalam hati.
"Oh my God mom, mommy memang yang terbaik" Anson mengacungkan jempol pada ibunya.
Lisa tersenyum senang. Kejutan kecil untuk anaknya bisa terlaksana dengan lancar.
"Kalian juga makan semangkanya nde?" Tawar Lisa pada yang lainnya.
"Nde samonim" ucap keempat remaja itu serentak.
Dering handphone mengalihkan perhatian 4 remaja itu. Dering itu jelas bukan dari hp Johnny, Johnny ingat sekali handphonenya dirampas Stefani kemarin. Apalagi dari handphone yuta, ataupun Lucas. Mereka berakhir sama dengan dirinya.
Satu orang yang mungkin saja hpnya berdering. Yaitu dong shi Cheng atau winwin. Tapi tak mungkin. Tunangan winwin saja tak ada. Keluarga winwin sangat percaya dengan si panda cina itu. Jadi tak mungkin juga ditelpon telpon.
Lisa membiarkan handphone nya menyala. Tanpa menjawab panggilan Sehun.
Yuta menyenggol tangan Lucas
"Apa ibu Anson bertengkar"
Lucas melotot, memperingati yuta.
"Kita bahas nanti"
Yuta mengangguk, melanjutkan sarapannya. Jujur saja, hatinya meronta ronta ingin tau ada apa sebenarnya. Tapi ia harus sadar posisi, yang mau dia tahu permasalahan ibunya Anson. Sahabatnya sendiri. Tak mungkin ia langsung bertanya pada mrs allice. Bisa hilang namanya dari kartu keluarga Nakamoto. Ayahnya pasti akan menebas kepalanya dengan samurai.
Hihhh, membayangkan saja yuta ngeri. Apalagi jadi kenyataan. Yuta tak akan pernah rela jika kakaknya Nakamoto Yuka jadi anak tunggal. Ia tak akan membiarkan itu.
Klik
Lisa menerima panggilan video call Sehun.
"El, kau dimana?"
"Aku di an south, jangan video call Sehun. Kami sedang sarapan"
"Kami? Kami siapa?"
Lisa langsung mengalihkan handphonenya ke kamera belakang. Menampilkan para remaja yang ia rawat hari ini. Rawat atau ia asuh, anggap saja sama. Lisa jadi baby sister sehari untuk anak anak itu.
"Ah baiklah"
"Tidak menanyakan anakmu?"
"Tidak, aku tau ia sedang apa. Kemarin sekertaris Lee menghubungiku. Katanya Anson mabuk. Jadi aku sudah maklum jika mereka makan sup pereda pengar sekarang" ucap Sehun enteng.
"Sehun, kau sudah sarapan?" Tanya Lisa.
"Sudah, tadi aku sarapan di neguya, dengan sekertaris Lee dan pak kang"
"Baiklah, aku sarapan dulu. Sampai nanti."
Lisa memutus panggilan video callnya.
"Anson, jika tak sekolah. Mommy bisa panggil guru mu kemari. Mengajar kalian"
Lucas melebarkan matanya. Padahal ia mau bolos hari ini. Rencananya pasti gagal jika Anson mengiyakan.
"Samonim, sepertinya tidak perlu. Kami lebih semangat jika pergi ke sekolah"
"Mommy, aku beda sekolah dengan mereka. Jadi lebih baik aku masuk saja. Aku tak mau dapat perlakuan istimewa"
"Baiklah, tapi mommy yang antar"
"Tap.."
"Kita naik mobil murah, tidak ada helikopter atau sejenisnya. Mommy janji"
Yuta menelan ludahnya kasar. Ingin rasanya ia bertukar tubuh dengan Anson. Beruntung sekali Anson memiliki ibu seperti Mrs allice. Tak terkecuali teman temannya juga. Wajah mereka sudah sangat iri.
"Anak anak,, kalian naik helikopter kami saja. Kasian sekali capung itu tidak dipakai" ucap Lisa dengan wajah penuh sesal.
Lucas rasanya ingin berhenti bernafas. Dirinya saja jarang sekali naik Helly, jika tidak dalam keadaan sangat mendesak. Tapi keluarga Anson. Dari rumah ke rumah saja jika bisa naik Helly.
Johnny biasa saja. Ia masih memakan sup pereda pengarnya. Ia menikmati sup itu seolah itu makanan terakhirnya.
Sementara yang lain berterima kasih atas kebaikan hati Mrs allice. Jika tau begini, Sering sering saja mereka mengajak Anson mabuk.
To Be Continue
.
.
.
To Be Continue
..
Halo guisss, Kenalan dulu dong sama pemeran wanita, pasangan koleganya Anson nih. Para Crazy Rich internasional. 🤭
- Stefany William
- Tunangan Johnny atau Seo Young Ho
- Kebangsaan Australia
- Anak ke 2, dari pemilik Heiken Corporation yang bergerak di bidang produksi dan penjual bir terbesar di dunia.
- berbakat di bidang permirasan. Stefany Tau segala macam bir, wiski, Vodka atau apapun yang berhubungan dengan miras.
- Cita citanya menjadi bartender terkenal.
- Tanaka shuri
- Tunangan Nakamoto Yuta
- Kebangsaan Jepang
- Anak bungsu dari 3 bersaudara, pemilik Tan Financial Group. Salah satu perusahaan pengelola keuangan terbesar di Jepang.
- Shuri berbakat menjadi pemimpin, termasuk pemimpin organisasi bawah tanah. Jangan percaya dengan wajahnya, kalian akan menyesal jika tau sebenarnya.
- cita cita shuri menjadi agen Rahasia di lembaga perlindungan saksi swasta.
- Song yuqi
- Tunangan wong yukhei atau Lucas
- Kebangsaan China
- Anak tunggal dari pemilik Sung post holdings. Sung post holdings adalah konglomerat beragam yang juga memiliki minat di bidang perbankan , asuransi dan logistik disamping bisnis utamanya manajemen pengiriman surat dan layanan kantor pos China.
- cita citanya menjadi istri Lucas, tak ada yang lain. Hanya mengurus Lucas.
- Jeon Somi
- Tunangan Han Anson
- Kebangsaan Kanada
- Anak tunggal pemilik JK Holdings, perusahaan yang bergerak di segala bidang. Keuangan, properti, makanan dll.
- Somi berbakat dalam bermain saham. Untuk itu ia cocok disandingkan dengan tunangannya Anson.
- Cita cita somi menjadi Billionaire yang dermawan dan menggabungkan JK Holdings dengan Hyundai Corporation.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.