LOGINAnson memberikan potongan daging ke mangkuk somi. Tak lupa membagikan jus semangka kesukaannya. Setelah itu anson makan makanannya sendiri.
"Mau kimchi juga?"
"Tidak, ini cukup" somi melahap makanannya.
"Apa kau diet?" Anson bertanya dengan muka penuh keheranan.
"Tidak,"
"Benarkah?,, Hmm kurasa kau makan sedikit sekali hari ini" Anson mengalihkan diri dengan makanannya.
Lisa yang berada di depan mereka melirik dua anak itu bergantian. Senyumnya mengembang, Anaknya jadi penuh perhatian. Sangat jauh berbeda dengan ayahnya. Bagaimana bisa Sehun tetap fokus makan tanpa memperdulikan keimutan dua anak ini.
"An, aaa" somi memperagakan orang yang akan menyuapi bayinya.
"Aaa, mmm"
"Makan yang banyak"
Lisa iri, dua remaja di depannya lebih romantis dibandingkan ia dengan Suaminya.
"Apa kimchinya enak?, Somi yang membuatnya tadi" Lisa buka suara
Anson membulatkan matanya.
"Kau bisa memasak?"
"Of course, kau pikir aku dirimu. Memasak telur saja tidak bisa. Cihh" ejek somi
"Hey aku bisa masak telur sekarang" sergah Anson tak terima "benar kan mom?" mencari dukungan sang ibu.
Lisa tersenyum "no comment"
"Ah, mom"
"Tak bisa dipercaya," tambah somi
"Kau lihat saja besok, aku akan memasak telur untuk sarapan kita"
"Uhuk, uhuk uhuk,"
"Minum sehuna," Lisa mengelus punggung suaminya.
Tangan Sehun melepaskan elusan Lisa dipunggungnya. Sehun membayangkan bagaimana Anson akan mengacaukan dapur. Ia ingat bagaimana chef Gordon Ramsay sampai harus turun tangan untuk mengajari Anson memasak. Tapi bukannya malah ahli, sehari setelahnya Anson menyombongkan diri dan seperti yang Sehun duga serta tau akhirnya. Rumah mewah mereka hampir kebakaran. 'Ah tidak, aku tidak bisa membiarkannya' pikir Sehun
(Yang Sehun fikirkan)
"Kau tidak perlu memasak nak, kalian hanya perlu belajar dan having fun. Kasian koki di rumah ini jika Anson mengambil alih tempatnya" tolak Sehun.
Anson terlihat berfikir
"Ah tidak, aku besok tetap akan memasak telur. Akan ku perlihatkan koki kita jauh dibawahku" ucap Anson dengan semangat 45 nya
Lisa menyengir, jika sudah dalam mode ganbate kudasai. Anson jauh lebih keras dibandingkan batu di kali. Percuma saja menghalanginya.
"Baiklah, besok bawa ke apartemenku telur hancur milikmu" tantang somi
"Okey, akan ku perlihatkan bagaimana kemampuan masak ku yang luar biasa" sombong Anson
"Sudah, sudah, teruskan makan malamnya" Lisa menengahi
"Eh apartment?," Anson tersadar dengan ucapan somi "tidak menginap disini?"
"Tidak"
"Ah whyyy?," Teriak Anson dengan nada melengking.
Sehun dan Lisa hanya menggeleng melihat kelakuan Anson yang diluar batas jika bersama somi.
"Anson, diam jika sedang makan" tegur Sehun.
"Ah nde"
...
Setelah makan malam, Anson mengajak somi kencan atau lebih tepatnya kencan introvert di kolam renang.
Sudah jadi kebiasaan mereka untuk kencan di rumah saja dibandingkan makan di restoran terkenal atau yang lainnya. Bukan karena terlalu pelit atau bagaimana. Anson akan ditinggal somi jika melakukan penghamburan uang secara berlebihan. Ia ingat terakhir kali sewaktu somi akan kembali ke Kanada. Anson mengajaknya makan malam di rooftop hotel del luna bukannya Zeus hotel miliknya sendiri. Somi bahkan bisa memperkirakan berapa jumlah uang yang dikeluarkan Anson untuk menyewa hotel del luna, tak terhingga.
Ketika ditanyai, apa alasan Anson lebih memilih de Luna daripada Zeus. Anson bilang jika pemandangan de Luna lebih bagus. Tempatnya cocok untuk makan malam romantis dan bulan purnama telihat jelas dari rooftopnya.
"Kapan kau datang?"
"Dari seminggu yang lalu"
"What, dan kau tidak mengabari ku?"
"I'm very busy" ucap somi singkat.
"Itu bukan alasan eve"
"Eve?, Eve, eve?" Somi mengucapkan panggilannya sendiri dengan berbagai ekspresi. Anson selalu bertanya dan mengakhirinya dengan nama lainnya.
Anson bilang nama itu lebih cocok dari nama lokal. Anson tidak terlihat terlalu jauh jika memanggilnya eve.
"Eveline douma?"
"Ya ya ya" somi duduk di bibir kolam. Merendam setengah kakinya dengan bibir mengejek atau mengalihkan pembicaraan Anson.
Anson menyusul dengan duduk disampingnya.
"Ada masalah?" Anson mengusap jari somi yang terdapat cincin kecil. Lalu menggenggam tangan somi.
Somi menggeleng tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Masih menikmati pemandangan didepannya tanpa menjawab tanya lelaki disampingnya.
"Eve?"
"Aku cemburu" ucap somi lirih
"Apa?, Kenapa, hah?" Cengo anson. Tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
"I'm jealous"
"Cemburu? Dengan siapa"
"Aku cemburu dengan gadis di sampingmu pagi tadi"
Anson mengingat ingat
"Chaeri?, Lee Chaeri?"
"Kau bahkan ingat namanya, tapi tak pernah ingat nama anjingmu sendiri" kesal somi
"Hey aku ingat, namanya Vivi"
"Valentin Igor Nadezhda lyubov" jawab somi dengan aksen Rusia.
"Baiklah, aku dengan Chaeri tidak ada hubungan apapun, kenapa sampai berfikir begitu?"
"Aku merasa,"
Anson menggenggam tangan somi. "Jangan berfikir macam macam,".
Somi mengangguk
"Jangan membahas hal ini lagi," Anson menyenderkan kepalanya ke bahu somi tanpa melepaskan tautan tangan mereka berdua.
Sementara itu, di belakang mereka tampak Han Lisa tengah memandang ke arah yang sama. Menikmati pemandangan kolam, laut, dan bonus pemandangan kebucinan anaknya.
Lisa tak sendiri, Sehun juga ada di sampingnya menikmati pemandangan yang sama.
"Aku rasa mereka tidak terpisahkan lagi?"
"Mungkin"
"Kenapa jawabanmu singkat sekali?"
Sehun mengecap bibirnya, "sebenarnya aku tidak terlalu setuju dengan hubungan mereka"
"Sehuna, jangan mulai lagi "
"Aku tidak ingin mereka terlibat hubungan rumit seperti kita di masa depan! Apa kau tidak ingat?," lanjut sehun
"Stop, don't talk again" potong Lisa di sela sela sehun menjelaskan.
"Itu hanya masa lalu Sehun, tidak bisakah kau melihat masa depan?, Anak kita bersama somi akan terus bersama dan kujamin itu" ucap Lisa dengan lantang.
Sehun melepaskan tautan tangan Lisa, dan merubah posisi agar Lisa bisa bertatapan dengannya.
"Bayangkan, hanya bayangkan. Jika anak kita memiliki hubungan seperti kita, apa dia akan kuat dengan masalah yang akan datang nantinya?"
"Jika, orangtua somi tau anaknya lebih bahagia dengan yang lain atau bahkan anak kita menemukan tambatan hati yang lain. Apa bisa kita menentangnya?"
"Jawabannya TIDAK Lisa" jelas Sehun menekankan kata tidak pada kalimatnya.
"Sebagai orang tua, kita sepakat untuk terus mendukung baik susah maupun senang. Walaupun aku tidak yakin anak itu akan kesusahan diluar sana. Tapi, itu yang kita janjikan padanya semenjak dia bahkan masih dalam kandungan. Kita sudah berjanji akan terus menjaga dan mendukungnya nyonya han"
Lisa terdiam. Sulit mencerna kata kata Sehun saat keadaan sekarang sangat kondusif. Anaknya baik baik saja, bersama tunangan seperti somi harusnya jantung Lisa tidak akan terus berolahraga.
Anson berbeda dengan Sehun. Yah itu benar. Sehun hanya menyumbang wajah tampan dan badan setinggi tiang, sedangkan Lisa menyumbang bakat serta sikap yang baik. Semoga saja anak itu tidak seperti ayahnya ataupun berjiwa bebas seperti ibunya.
Lisa melepaskan tangan Sehun dari pundaknya.
"Aku tau, tapi lihat mereka" Lisa mengalihkan pandangan pada pasangan muda yang masih saja di pinggir kolam renang.
"Mereka bahagia, setidaknya nikmati masa ini,,, jadi mari kita jalani apa yang ada dan hindari berfikir negatif. Okay"
"Baiklah, as you wish Mrs Han"
"Inilah kenapa aku menikah denganmu" Lisa menyender ke bahu Sehun. Menggenggam tangan suaminya.
"Dan inilah alasan, kenapa aku tidak setuju mereka bersama" bisik Sehun dalam hati.
...
Ruang perpustakaan itu nampak sepi, sebagaimana biasanya. Hanya beberapa orang yang bisa masuk ke perpustakaan itu. Ruang pribadi ayah hejin. Dimana hejin hanya akan masuk jika ia butuh bantuan. Dan disinilah ia sekarang.
"Kau minta pembatalan?, Apa yang kau fikirkan?," Ucap seokjin, memarahi anak semata wayangnya.
Ia tak tau apa yang difikirkan anak jaman sekarang. Tak bisa diajak kerja sama, sama sekali.
"Jeno tidak suka padaku, dia semakin membenciku sejak kami ditunangkan. Apa ayah mau aku hidup dengan orang yang membenci anak ayah sendiri?"
"Jika itu bisa membuat perusahaan ayah maju, ayah tidak keberatan"
Air mata mengalir begitu saja. Ayahnya joen seokjin memang berbeda dari ayah yang lain. Menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai. Begitulah wataknya. Hejin jadi tau, mengapa ibunya cepat cepat pergi ke surga meninggalkan mereka. Mungkin salah satunya karena sikap sang ayah.
"Sulit dipercaya, inilah kenapa aku ingin ayah yang mati duluan bukannya ibu"
PLAKK
Tamparan keras mendarat mulus di pipi hejin.
"Kembali ke kamarmu"
"Ayah memang tidak pernah menyayangiku" hejin berlari ke lantai atas tempat kamarnya berada. Menangis sejadi jadinya, melempar semua benda dikamarnya. Para pelayan sampai tak berani masuk ke kamar nona muda mereka.
"Biarkan saja dia," titah kepala rumah tangga joen kepada para pelayan yang takut takut untuk masuk ke kamar hejin.
Setelah mengatakan itu, seokjin pergi lagi. Tanpa memperhatikan atau menyurutkan amarah anaknya.
Brakk, prang, prang prang, brak.
Kamar hejin sudah berserakan dengan kosmetik, bantal, semua perabotan berceceran di lantai.
Pelaku yang menyebabkan keributan tersebut tampangnya tak jauh berbeda dengan kamarnya. Rambut berantakan, dengan mata membengkak dan wajah memerah. Menunduk, duduk di samping ranjang miliknya. Meringkuk menyembunyikan wajah serta air mata yang memenuhi wajahnya.
...
Pagi itu suasana rumah nampak berbeda. Gaduh dan jangan lupakan asap dimana mana. Arah asap itu dari dapur utama. Terlihat Beberapa bodyguard tengah mencoba memadamkan api. Sedangkan bibi pelayan dan koki yang menyelamatkan diri menghampirinya.
Lisa menghela nafas panjang. Memijit pelipisnya yang tidak sakit sama sekali. Menggeleng pelan dengan kejadian di hadapannya. Dapur terbakar bukan pertama kali di rumah ini, jadi Lisa tidak kaget. Pelakunya tidak usah ditebak, jawaban kalian pasti benar semua.
"Ikut aku keluar" perintah Lisa terhadap manusia di hadapannya.
Dua orang pembuat onar di pagi harinya yang cerah. Tolong katakan pada Tuhan, jika menciptakan lelaki jangan setengah setengah. Dua orang di hadapannya sudah lebih dari cukup membuatnya darah tinggi.
"Salah siapa lagi ini?"
Sehun mengangkat tangannya bersamaan dengan Anson di sampingnya. 'kompak' kata itu paling tepat melambangkan 2 orang seperti fotocopyan di hadapannya.
"Bisa jelaskan padaku, apa yang kalian lakukan?"
Anson mengangkat tangannya tinggi tinggi. Tanda ia ingin menceritakan apa yang terjadi.
"Begini mom, pagi tadi aku sedang memasak telur goreng. Tapi, tiba tiba daddy datang dan memintaku mencarikan sesuatu dengan tergesa gesa. Jadi aku langsung ikut membantu daddy. Lalu aku lupa, jika kompor belum ku matikan dan aku lupa tidak mengangkat telur ku. Waktu kembali ke dapur, aku melihat sudah penuh asap, lalu aku melihat mommy dan berakhirlah aku disini" Anson menunduk di akhir ceritanya.
"Jadi siapa yang salah?"
Sehun dan Anson tetap mengangkat tangannya tinggi tinggi. Mengakui jika mereka berdua yang bersalah.
"Apa salahmu Sehun?"
"Kesalahanku adalah menjadi laki laki. Karena laki laki selalu salah dan wanita selalu benar"
"Pffttt" Anson tak bisa menahan tawa mendengar ucapan ayahnya yang absurd. Tidak sadarkah mereka sedang dimarahi. Ayah nya bisa berangkat jalan kaki jika ibunya marah terus seperti ini.
"Lalu?, Mau ku ganti kelaminmu?"
"Tidak, itu akan lebih salah. Karena jika ku ganti istriku Mrs allice tidak akan mau denganku lagi"
"Bagus" Lisa tersenyum, amarahnya menyusut segera. Melupakan tindakan berbahaya sepasang lelaki di hadapannya. Tak masalah dengan ucapan gila yang Sehun ucapkan. Itu lucu, Lisa akui. Jadi tak masalah jika mereka diloloskan lagi.
"Ayo bersihkan diri dan sarapan bersama"
"What?" Anson cengo, mulut dan matanya melebar. 'Semudah itu' ibunya luluh semudah itu.
Sehun menepuk punggung Anson
"Kau harus lebih pintar nak" Sehun berjalan mengekori Lisa di belakangnya.
"Wah, jinja" Anson tak percaya. Harusnya ia juga tak lupa. Keluarga nya pasangan bucin jadi wajar jika ia jadi budak cinta, sama seperti ayah ibunya.
...
"Bagaimana, mana telurnya?" Anson menyembunyikan piring di belakang tubuhnya. 'Malu' 1 kata yang mendefinisikan dirinya hari ini.
"Aku menyerah eve, aku akui jika tak punya kemampuan"
Somi mengernyit, merapatkan tubuhnya pada dada bidang Anson.
"Berikan aku piring di belakang mu"
"Hah?"
Somi mengangguk "itu punyaku"
Somi mengambil piring di belakang tubuh anson.
"Ini buatanmu?"
"Jika ti-__"
Ucapan Anson berhenti, somi memakan telurnya tanpa mendengar apapun darinya.
"Jangan memaksakan diri eve, jika tak enak. Kita makan di luar saja"
"Ini enak,"
"Apa, tapi itu__"
"Ini memang sedikit hitam, tapi masih layak dimakan. Apalagi yang memberikannya orang setulus dirimu, jangan pernah merasa malu. Aku akan selalu makan apapun yang kau buatkan untukku"
"Dan lagi, memasak itu tugasku nantinya. Tak perlu berusaha terlalu keras. Aku mencintaimu apa pun keadaanya"
Anson terharu, sungguh. Jika boleh menangis ia akan meneteskan air mata dengan senang hati. Tapi ya mau bagaimana. Gengsi.
"Mau berangkat bersama?" Ajak somi.
Pagi tadi Anson menjemputnya di apartemen, hanya untuk mengajaknya sarapan. Demi apapun, matahari saja masih malas menampakkan cahayanya. Tapi Anson sudah repot repot membangunkan somi dengan suaranya. Yah suara, Anson tau password apapun milik somi. Bisa dibilang jika pepatah yang mengatakan 'tak ada rahasia di antara kita', mungkin hubungan somi dan Anson sudah sangat tepat menjadi gambarannya.
Yang ditanya hanya diam saja. Berfikir, terlalu banyak berfikir. Padahal hanya diajak berangkat sekolah bersama, bukan ditanyai mau hidup atau mati berdua.
"Aku pikir, tidak bisa"
"Baiklah"
"Kau tak apa?
"Ya, asal kau tidak ganjen dengan gadis gadis disana. Aku tidak apa apa"
Anson memijit pelipisnya. Bertahun tahun hubungannya dengan somi. Baru tahun ini, somi protes mengenai para gadis di sekolahnya.
"Dan kau, jangan ganjen dengan para lelaki di hyundai" balas anson
Somi menghentikan acara makannya. Meminum susu strawberry lalu membersihkan sudut bibirnya.
"Jangan bercanda, mereka takut duluan padaku"
Tawa Anson meledak.
"Ya mau bagaimana ya, kau kan galak eve"
"Ah mungkin, padahal aku sudah berubah. Menjadi secantik ini. Tapi mereka masih saja berfikiran buruk"
"Jelas saja mereka berfikirian buruk, ingat?
Pikiran somi berkelana pada satu tahun yang lalu. Kelakuannya buruk sekali. Ia pernah membully siswa sampai drop out. Menghancurkan makanan temannya, tak hanya makanan. Mobil teman sekolah somi pernah hancur ditangannya. Merampas mobil sport temannya juga.
"Wah aku benar-benar buruk waktu itu" somi menggeleng pelan.
"Makanya"
"Tapi, aku melakukannya kan demi dirimu" ucap somi tak mau kalah.
Upaya buruknya tidak lain dan tidak bukan untuk melindungi Anson. Siswa yang ia bully adalah anak tak tau diri yang memanfaatkan kebaikan anson contohnya. Apa kau akan diam saja mengetahui pasanganmu memberikan kartu kredit nya pada gadis lain?,. Sebenarnya tak masalah jika uang itu digunakan untuk kebaikan atau kelestarian lingkungan atau bagaimana. Anak itu malah, menfoya foyakan uang anson.
Ah jangan mengingatnya. Mengingat hal buruk membuat pagi harinya buruk juga.
"An, dimana mommy?, Dari tadi aku tidak melihatnya"
Anson meminum air putih di samping kanannya.
"Entahlah, melihat sunrise mungkin"
"Jadi kau sendirian?"
"Di rumah ini ada 28 orang, termasuk bibi rumah tangga, pengurus kebun serta para bodyguard. Dan kau masih bilang aku sendirian?"
"Maksudku tanpa keluargamu?"
Anson menghentikan suapannya. Sendok yang hampir masuk ke mulut mendadak harus berbalik arah.
"Semua yang bekerja disini adalah keluarga eve, jadi tetap saja. Aku tidak sendiri"
Anson melanjutkan lagi sendok yang berbalik arah tadi. Sementara somi tak melanjutkan percakapan mereka sampai berakhirnya waktu sarapan.
...
"El bagaimana?"
Sehun nampak berpose seperti pangeran dalam drama the K kemarin. Tak tanggung tanggung, kuda yang ia gunakan adalah kuda putih asli yang digunakan aktor limin pada drama populer tersebut.
"Bagus, pertahankan kesombonganmu"
"Yak Mrs Han"
Sehun mengikuti kuda Lisa yang tak jauh darinya.
"Jadi bolehkah aku tau alasanmu kenapa membeli kuda bodoh ini?, Dan memakai baju yang tidak ada keserasiannya sama sekali dengan aktor limin?"
"Alasannya karena Kau mengabaikan ku"
"Abai bagaimana?"
"Semenjak kau suka drama. Kau jadi lebih suka melihat tv daripada suamimu sendiri. Aku tidak terima. Aktor itu bahkan tidak jauh lebih tampan dariku"
Lisa melirik tidak minat pada suaminya.
"Baiklah, bisa kita akhiri ini?, Aku ingin menunggang kuda itu!"
"Kita lanjutkan sore saja" Sehun turun dari kuda putih, lalu menghampiri sekertaris Lee yang membawa kemeja miliknya.
Lisa turun dari luciver, kuda hitam miliknya. Dan mengover diri ke kuda putih milik Sehun. Ia harus menungganginya tentu. Kuda bagus tidak boleh dibiarkan menganggur lama bukan?,. Tapi.
Lisa berbalik melihat Sehun yang berjalan pergi bersama para pekerja mereka. Matanya melirik tajam pada sosok wanita di dekat Sehun.
Bukan karena wanita itu cantik atau seksi atau bagaimana. Bukan karena wanita itu mempesona juga. Wanita itu tampak familiar di matanya, dan dari sikap wanita itu. Satu kali lihat Lisa sudah tau.
"Bitch"
To Be Continue
.
.
.
See u later guys 😊
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.