Home / All / Be A Parent / 15. Meet

Share

15. Meet

Author: ricasari575
last update publish date: 2020-09-30 16:00:11

Drrdd drrdd 

Getaran telepon membangunkan somi dari tidur indahnya. Tangannya meraba samping tempat tidur dimana handphonenya berada. Dengan mata masih terpejam dan seperempat nyawa.

"Yeobseo?" Sapa somi setelah menggeser simbol hijau di handphonenya.

"Some?" Suara lelaki di seberang menyadarkan nyawa somi.

"Ayah?" Mata somi melebar, tidak biasa bagi ayahnya menelfon somi dipagi hari.

"Ya nak,,, apa seminggu disana membuatmu lupa jika kau punya ayah?" Ucap lelaki itu.

"Tentu saja tidak, bagaimana aku lupa dengan ayahku sendiri?," Jawab somi dengan senyum di wajahnya. Moodnya selalu bagus jika ayahnya menelfon.

"Kapan kau pulang some?"

"Aku tidak tau, mungkin bulan depan?"

"Kenapa lama sekali?, Apa tugasmu belum selesai disana?"

"Maaf ayah,"

"Tidak sayang, jangan meminta maaf. Lakukan sesukamu okay?" Support lelaki itu.

"Ayah memang yang terbaik"

"Nak, kau sudah makan?"

"Hmm belum"

"Kenapa, cepat makan okay?, Jangan sampai anak ayah yang cantik masuk berita karena kelaparan"

"Hahaha, jangan berlebihan ayah"

"Some," jeda sejenak, somi jelas tau apa yang akan dikatakan lelaki itu "mungkin kau bosan mendengar ayah mengatakan ini. Tapi, jika kau merasa lelah atau ingin menyerah. Pulanglah nak. Ayah akan selalu menerima dan melindungimu"

"Aku tau, ayah tidak perlu khawatir. Ayah sudah mengatakan ini selama 17 tahun hidupku"

"Dan ayah akan terus mengatakan ini seumur hidupmu. Hahaha" tawa renyah lelaki itu.

"Terserah ayah, aku mau makan. ku tutup telponnya?" Pamit somi

"Ya nak, makan yang banyak. Jaga kesehatan nde?, Bye sayang"

Titt

Panggilan telepon dimatikan. Somi beralih ke meja makan. Menatapi roti dan selai yang ada di hadapannya.

"Ah muak sekali melihat kalian" sambil memandangi selai dan roti secara bergantian. Tapi tubuhnya menghianati ucapan. Tangannya dengan cepat mengambil roti tawar lalu mengoles selai coklat hazelnut kesukaannya. Somi memakan roti selai coklat nya pelan. Walaupun perutnya sudah gusar meronta ronta minta diberi makan. Ia tetap harus manusiawi. Ia memakan roti itu dengan pelan dan tenang.

Sendirian di apartemen bukanlah sesuatu yang bagus. Itu yang dipikirkannya sekarang. Suasana apartment juga sepi sekali. Berbeda jauh dengan apa yang ia bayangkan.

Mungkin benar kata ayah, haruskah ia pulang sekarang?. Padahal tujuannya belum tercapai.
'ah tidak, aku harus menyelesaikan tugasku' tekad somi dalam hati.

Somi beralih mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada seseorang.

Drrdd drrdd

Getaran handphone yang somi tunggu. Segera somi menggeser simbol hijau yang tampil di handphonenya.

"Kenapa, katakan kau mau apa?" Ucap seseorang di seberang. Padahal somi belum sama sekali menyapa orang itu.

"Hey, joen hejin. Kau mau berkelahi ha?, Seperti itukah sikapmu setelah ku selamatkan jiwa ragamu?" Ucap somi berlebihan

"Baiklah, kau mau apa. Temanku jeon somi?" Tawar hejin tak ikhlas

"Hejin, aku ingin mengantarmu sekolah?"

Hejin menyemburkan susu vanilla di mulutnya. Mengenai meja makan besar, mengotori makanan didepannya dengan susu vanilla yang sudah hampir masuk ke tenggorokan. Pelayan disampingnya buru buru membersihkan kekotoran yang hejin perbuat.

"Yak, jeon somi. Kau gila?" Teriak hejin. Sambil membersihkan sudut bibirnya dengan tisu.

"Tidak, aku hanya ingin mengantarmu apa itu salah?"

"Ya tidak, tapi"

"Aku jemput sebentar lagi okay, ku tutup telfonnya" potong somi

Klik

Suara somi menghilang beserta panggilan gadis itu. Hejin masih di tempat nya dengan kadar bingung dan emosi yang tinggi. Bingung kenapa somi mau mengantarnya, dan emosi karena somi mengganggu sarapan paginya.

Tidakkah cukup di hidupnya dikelilingi manusia absurd. Apalagi bertambah somi yang makin lama ikut bertambah absurd juga.

Hejin masih ingat jelas. Padahal sekolahnya dengan sekolah somi itu jauh sekali. Bisa diibaratkan dari sekolah somi harus pakai kereta bawah tanah dulu, baru bisa sampai ke sekolahnya. Tapi anak itu, PD sekali mau menjemput dirinya.

Tin tinnn tinnn tinnn

Klakson biadap siapa lagi yang mengganggu harinya. Hejin bergegas keluar rumahnya. Harusnya ia tak emosi dengan orang dihadapannya.

Tapi lihat, Jung Jeno di hadapannya sekarang. Jangan lupakan penampilan Jeno, bentukan manusia minta di gusur. Mentang mentang keluarganya donatur besar disekolah, Jeno jadi seenaknya sendiri. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, jangankan memakai kaos. Lupa memakai dasi saja Jeno bakal balik rumah ambil dasi. Sekarang, jangankan memakai dasi, ia bahkan tak tau hari ini pakai seragam apa. Dasar, Lelaki ini memang benar benar berubah.

Jeno menghampiri hejin yang tengah bersidekap di tempatnya        


Jeno menghampiri hejin yang tengah bersidekap di tempatnya.

"Bukankah sudah ku bilang tak usah bertemu jika tak ada urusan bisnis" tegas hejin menekankan kata bisnis

Yang diajak bicara meliriknya tanpa mau repot repot menanggapi hejin. Berteman sedari dini sudah membuatnya hafal bagaimana sifat dari gadis di hadapannya.

"Kau fikir aku mau?, Jangan bercanda. ayahku yang memintaku menjemputmu kesini." Ucap Jeno to the point.

"Baiklah, katakan pada ayahmu aku menolak. Aku ada janji lain" tolak hejin

"Jangan sombong, aku tau jantung mu masih berdetak tiap kali kau dekat denganku. "Jadi masuklah, dan berangkat sekolah bersama?" Jeno membuka pintu mobilnya.

"Tidak, aku ada janji lain. Berangkat saja duluan" hejin berbalik masuk.

"BAIKLAH, aku berangkat sendiri" teriak Jeno,. Jeno masuk dan mengendarai mobilnya. Ia tak mau repot membujuk hejin agar mau berangkat bersama.

Hejin melihat arah mobil Jeno yang meninggalkan halaman rumahnya.
"brengsek"

....

"Heyyy joen hejin" somi memanggil hejin dari mobilnya        

"Heyyy joen hejin" somi memanggil hejin dari mobilnya. "Ayo masuk, nanti telat!, Memangnya kau mau panjat gerbang?" Cerewet somi.

Hejin segera mengambil tas dan masuk ke mobil somi. Air muka hejin masih sebal. Hari Jumat nya terasa berat. Berat bertemu orang orang absurd di sekitarnya.

Hejin duduk gusar di samping somi. Mendengus kasar minta ditanyai. Tapi jangankan peka, somi tidak menanyainya sama sekali. Dari ia masuk sampai dengan setengah jalan mau ke sekolah.

Somi fokus dengan jalan raya dan bagaimana mobilnya berjalan. Hejin melirik somi sebal. Pandangan hejin beralih ke sisi kaca. Melihat pemandangan di luar lebih baik dari melihat wajah temannya jeon somi.

"Mark" gumam hejin saat ia melihat Mark duduk di halte dengan siswa baru kemarin.

"Siapa Mark?" Somi masih fokus dengan kegiatannya "pacarmu yang baru?" Ceplos somi asal

Plakk

"YAK, hejin" menoleh ke arah hejin

"Fokuslah somi, fokus"

Somi kembali mengalihkan diri untuk menyetir. Terserah saja jika hejin mau curhat dengannya, tak akan ia dengarkan nanti. Ia catat dalam hati daftar dendam yang akan ia tuntaskan untuk hejin. Awas saja jika sudah waktunya. 

Mobil somi memasuki area jeguk. Banyak wartawan padahal sekolah itu tak terlihat seperti ada acara apapun.

"Wah kenapa sekolahmu ramai sekali?, Apa kalian ada acara?"

"Entahlah, katanya ada tokoh penting yang datang"

"Oh my God" somi mengerem mendadak mobilnya. Jarak beberapa ratus meter dari dirinya berada, nampak pemandangan yang sangat sulit dijelaskan.

"PARK CHANYEOL" teriak somi di dalam mobilnya.

Somi segera mengambil ponsel terbaru miliknya, dan menzoom Sampe benar benar dekat dengan objeknya        


Somi segera mengambil ponsel terbaru miliknya, dan menzoom Sampe benar benar dekat dengan objeknya. Beruntungnya somi ia membeli handphone baru yang bisa zoom Sampai ke pori pori artis idolanya. Akhirnya somi bisa mendapatkan foto sejelas kamera profesional dari jarak lumayan jauh, sungguh puas hati somi rasanya. Mimpi apa dia semalam sampai bertemu dengan idol setampan park Chanyeol.

Apa karena handphone baru?, Jika iya. Somi harus sering sering beli handphone baru biar sering beruntung begini.

Hejin disampingnya hanya menggeleng melihat kelakuan absurd somi. Dari sekian banyak idol, somi mengidolakan Park Chanyeol. Paman park yang notabene adalah ayah teman hejin. Ingatkan hejin untuk mensponsori judul FTV 'idola temanku adalah ayah dari teman sekolahku'. Kurasa hal itu akan viral.

Hejin keluar dari mobil somi, tanpa berterima kasih pada sang sopir yang mendadak baik di pagi harinya yang buruk.

"Hejin, heyy, "

Hejin berjalan tanpa menoleh ke somi. Anggap saja tidak kenal. Somi dalam mode Fangirl bisa melebihi orang gila. Jadi lebih baik hejin menjauh saja.

Somi ikut keluar dari mobilnya, tak lupa membawa album single untuk dimintai tanda tangan Chan Yeol. 
"Ah dia masih disana" somi mencoba mendekat.

Tampak Chanyeol sedang berbincang dengan remaja lain. Tapi, langkah somi berhenti. Menyadari seseorang yang amat ia kenal. Matanya melebar selebar telur mata sapi. Dari wajahnya sudah penuh akan tanda tanya.

"Anson" lirihnya.

Somi segera memotret seseorang yang dikira nya Anson. Lalu pergi. Ia harus berangkat ke hyundai. Jika waktunya tak terbatas, ia pasti akan menarik Anson pulang dengannya. Tapi, ah pikirkan nanti apa yang akan ia tanyakan pada orang itu.

.....

Tepat pukul 16.00 somi pulang dari hyundai high school. Pikirannya hanya berkelut 1 nama. Han Anson.

Somi bergegas mengganti baju Berdandan cantik dan langsung menuju rumah keluarga Han.

"Jeon somi?"

"Mom"

"Wah benar ini kau nak" Lisa memeluk somi seperti anaknya sendiri. "Kapan datang?"

Somi meringis, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Dari seminggu yang lalu mom"

Lisa melebarkan matanya "what, dan kau baru mengunjungi mommy sekarang?"

"I'm sorry mom, I'm very busy" sesal somi

"Tak apa, yang penting kau sudah disini" senang lisa. "Berhubung disini, bisa kita makan malam bersama?,

"Tentu"

"Sebelum itu, mau makan ice cream dulu. Ayah Anson membuatkan kedai ice cream untuk Mommy kemarin"

"Siap mom"
Somi tak akan bertanya kenapa ayah Anson membuatkan kedai di dalam rumah. Rumah Anson setara mall. Atau mungkin ini mall hyundai versi mini. Dimana design nya entah ikut aliran siapa. 

Untuk saat ini somi hanya perlu menikmati apa yang mommy Anson berikan. Somi juga senang bertamu di rumahnya. Sambil melanjutkan misi yang mengganggu di otaknya. Dengan catatan dendam yang sudah menunggu untuk dituntaskan. Somi harus bersabar. Sebentar lagi, Han Anson, tunggu saja. 



To Be Continue

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Be A Parent   24. Our Family

    Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek

  • Be A Parent   23. A plan

    "L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."

  • Be A Parent   22. The Fact

  • Be A Parent   21. Anson Back

  • Be A Parent   20. D

    "Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.

  • Be A Parent   19. A information

    Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status