LOGINTok tok tok
"mom?" Anson memberanikan diri mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Masuklah, nak"
Terlihat ibunya, sedang duduk di ranjang sambil tersenyum hangat padanya.
"Duduk sini" menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Mom" Anson menunduk sembari memainkan jarinya. Cukup lama, "hmmm"
"Mau tidur dengan ibu?" Tebak Lisa asal.
Anson mengangguk
"Bolehkah?"
Lisa meraih tangan Anson, menggenggam tangan anak tunggalnya. Lisa paham, bahasa tubuh anaknya. Meski jarang pulang, ia sangat tau perkembangan dan apa yang dilakukan anson.
"Anson boleh tidur dengan mommy, kapanpun"
Anson merebahkan tubuhnya di samping sang ibu, meringkuk layaknya janin. Lisa memeluk anaknya. Menepuk bahu Anson pelan, menidurkan bayi remaja miliknya.
Anggap saja Anson anak mama. Memang faktanya ia terlahir dari rahim sang ibu. Jadi wajar jika ia manja padanya, toh dia anak Lisa bukan.
"Mom?"
"Hmm,"
"Aku sayang mommy" gumam Anson di pelukan Lisa.
Lisa mengusap helaian rambut Anson. Posisi Anson tengah memeluk pinggangnya. Persis seperti anak kecil yang merindukan ibunya.
"Mommy tau," sambil mengusap punggung Anson.
"Jangan marah lagi"
Lisa menghentikan usapan tangannya.
"Mommy tidak marah,"
Hembusan nafas teratur menandakan si empunya tubuh telah terlelap. Hanya ada Anson dan Lisa.
Lisa memandangi wajah Anson yang terlelap, sesekali membelai wajah anaknya. Matanya, hidungnya, dan merasakan bagaimana tangannya bisa menyentuh Anson. Lisa merasa bersyukur, anaknya sehat, tanpa kurang suatu apapun. Sedikit merasa bersalah, karena Lisa belum bisa menjadi ibu yang baik bagi anson. Anggap saja Lisa masih mengalami sindrom ibu.
"Anak baik, kau pasti kesusahan"
Selang beberapa saat, Lisa menyusul Anson ke alam mimpi.
15 menit setelahnya
Cklek
Sehun membuka pintu kamar. Hening, suasana yang sangat jarang terjadj di kamarnya jika Lisa ada.
"Say__" ucapannya terhenti. Melihat istri dan anaknya telah terlelap membuat hatinya sedikit menghangat. Hanya sedikit.
Bukankah Akan lebih hangat jika mereka tidur ber 3, bukannya hanya berdua. Tolong Jauhkan Sehun dari rasa cemburu pada anaknya sendiri.
Sehun segera mengganti pakaiannya dengan piyama. Menyusul istri dan anaknya di ranjang. Tak lupa ia mencium pipi istrinya sebagai ciuman selamat tidur. Anson?, Tentu juga dapat. Meski anak itu sering menolak, bahkan meronta ronta. Bagaikan bibir ayahnya merupakan momok paling menakutkan setiap malam. Padahal apa salahnya. Toh Sehun juga tidak jelek, bersih dan wangi. Ia bahkan cek kesehatan setiap bulan.
Anson mungkin tidak tau banyak sekali yang ingin berada di posisinya. Gadis gadis yang melewati ayahnya bahkan lebih minat memandang wajah ayahnya daripada dirinya. It's okay, bukan masalah.
Tapi sebanyak apapun Anson meronta. Sehun tetap akan mencium anaknya itu. Meski sudah berjanji untuk tidak mencium lagi. Sehun tetap akan menciumnya. Sehun merasa ciuman adalah bukti kasih sayang orangtua pada anaknya. Meski ia bisa memberi banyak bukti berupa barang dan bukannya janji. Tapi Sehun, Han sehun, kepala keluarga Han lebih suka membuktikannya lewat kontak fisik. Seperti ciuman.
Sehun merebahkan dirinya di samping Anson. Sehun di sebelah kiri, Anson di tengah dan Lisa di yang paling kanan. Dengan posisi Anson yang sedikit lebih rendah memeluk perut sang ibu.
Mencoba untuk tertidur.
"Sehun?" Ucap Lisa lirih
Sehun menatap Lisa,
"Sini" tangan kirinya merentangkan lebih lebar.
"Tidak El"
"Ap__"
Sehun memeluk Lisa sedikit lebih longgar karena jarak Anson yang berada di tengah mereka.
"Begini baru benar"
"Selamat tidur"
...
05.00 PM
Lisa bangun, tangannya serasa kebas tertindih semalaman. Beranjak dari tidurnya, mengikat rambut lalu mandi.
Ia harus segera menyiapkan sarapan. Berfikir masakan apa yang bisa ia buat hari ini. Sarapan ala barat? Atau sarapan lokal?. Anson pasti akan protes melebihi protes ayahnya jika ia menyiapkan nasi. Tapi lebih baik nasi daripada makan roti terus.
Mereka tinggal di area lokal, dan berkewarganegaraan lokal. Jadi sudah seaharusnya makan masakan lokal kan.
07.00 PM
Anson sudah memakai seragam sekolah. Rambut sudah di oles pomade, wajah sudah di oles skincare dokter kulit pribadi.
"Kurang apa ya?" Melihat wajahnya di cermin besar kamar.
"Ah," mengambil lipbalm rasa semangka di nakas. Lalu mengoles tipis ke bibir. "Perfect".
Anson mengambil dasi di walk in closet, Lalu berjalan keluar. Mencari ibunya.
Di ruangan berbeda, tampak Sehun yang melakukan aktifitas sama persis seperti yang Anson lakukan. Pomade, skincare, parfum sampai telapak kaki.
Lalu melanjutkan mengambil dasi di walk in closet miliknya dan segera mencari Lisa.
Sebenarnya Sehun bisa memasang sendiri. Tapi mau bagaimana, Sehun punya istri yang terus menggoda untuk terus dimanfaatkan.
"Sayang, Mom" keduanya bersahutan
"Aku duluan"
"Tolong mengalah pada anakmu dad"
Perdebatan mereka mengalihkan perhatian Lisa pada masakannya. Lisa mengikuti Anson, memasangkan dasi anaknya.
"Thank you Mom" ucapnya. Sambil menyunggingkan senyum 2 jari andalannya.
Lisa beralih ke sehun lalu memasangkan dasi suaminya.
"Aku selalu kalah dengan anak itu" dengusnya marah. Sehun sebal, moodnya rusak seketika saat Lisa lebih memilih Anson dibandingkan dirinya. Rasanya seperti melihat pasanganmu berselingkuh tepat di hadapan mu. Serius rasanya sakit sekali.
Lisa memasangkan dasi tanpa memperdulikan omongan Sehun.
"El, kau bahkan tidak menganggapku"
"Hmm, Jangan banyak drama dan makan. Chagi" menepuk pipi sehun.
"MOM, oh my God" mengalungkan tangan ke leher. "All carbohydrates" sambil menunjuk masakan Lisa yang terpampang memenuhi meja ruang makan.
"What's wrong?"
"Jelas wrong mom, this is make me fat. I'm only eat salad or bread for breakfast. Not rice not carbohydrates" oceh anson dengan segala protesnya.
"El,__"
"Jadi kalian tidak mau?" Potong Lisa memberikan tanya dengan nada mengancam. Melirik Anson "Anson tidak mau?, Ah mommy lupa, Mark Lee?"
Menoleh ke kanan "kau juga?"
Anson dan Sehun membeku di tempat. Mau menjawab takut salah, apalagi jika tidak dijawab, pasti lebih salah.
"Let's do it dad" segera mengambil sumpit, menyantap masakan yang ada di hadapannya.
Sehun menyusul dengan menyantap sup buatan istrinya. Rasanya enak, seperti biasa tidak mengecewakan.
Anson mencari sesuatu yang terasa kurang di meja makan. Sesuatu yang selalu mewarnai hari harinya. Yang membuat moodnya bagus.
"Where's my watermelon mom?" Tanya Anson dengan mata bulat dan tanda tanya di wajahnya.
"Tidak ada jus semangka pagi ini, minum susu saja" ucap Lisa.
Bukan karena apa apa lisa tidak menghidangkan semangka, Lisa rasa Anson kurang tumbuh. Bagaimana bisa anson yang berusia 17 menuju 18 tahun tingginya dikalahkan Ji-Sung yang beda setahun dibawahnya. Lisa curiga selama ia tidak ada, Sehun membebaskan Anson makan semangka tanpa peduli kebutuhan kalsium anaknya.
Bukan tanpa alasan Lisa berfikir demikian. Selama seminggu ia di rumah. Pagi siang malam, Anson selalu makan semangka. Baik berupa salad, semangka potong, jus semangka dan banyak olahan yang lain.
Bahkan saat Lisa mengambil cake yang begitu bagus di kulkas dan mengira itu kue, ia hanya harus berakhir kecewa. Karena yang ia dapat ternyata semangka. Sewaktu Lisa bertanya ke para pelayan, pelayan dapur juga bilang. Jika kulkas yang Lisa buka adalah kulkas Anson. Isinya seputar buah dan olahan semangka.
Flashback off
"Hmm, okay" Anson sedikit sebal. Buah kesukaannya tidak bisa ia temui hari ini. Tapi tak masalah, ia bisa beli semangka waktu di sekolah nanti. Ah, Anson tak sabar menantikannya. Belum sehari saja sudah rindu. Rindu ini lebih berat dari rindu film remaja yang ia lihat bersama temannya kemarin. Dimana pemeran lelakinya mengatakan rindu itu berat pada kekasihnya. Lelaki itu pasti menyukai kekasihnya sebesar Anson menyukai semangka.
Kembali ke acara makannya. Ayahnya masih khidmat menikmati sarapan. Ibunya juga demikian. Hati Anson menghangat. Sangat jarang mereka makan bersama. Ayahnya sibuk sampai tidur di hotel terus, ibunya jarang pulang dan lebih betah tinggal diperbatasan, sementara dirinya sibuk dengan sekolahnya.
"Anson, mau berangkat bersama?" Tanya sehun yang hampir selesai dengan makannya.
"Oke, tapi turunkan aku di halte bis ya dad"
"Mommy boleh ikut?"
Sehun mengangguk "Tentu mom,"
"Okay, mari selesaikan sarapan lalu mengantar Anson" usul Sehun
...
BMW Individual 760Li Sterling 2014, mobil kesayangan Sehun. Mobil yang Sehun beli sewaktu temannya Kim taehyung menawarkan mobil padanya. Taehyung bilang mobil itu paling mahal, hanya ada beberapa di dunia. Taehyung menjelaskan kelebihan mobil itu. Memang dasar saja mulut taehyung mulut sales, dan bodohnya Sehun juga sasaran empuk para penjual mobil. Ia tak akan tahan dengan mobil mewah yang seakan meminta untuk dibawa pulang.
Dan sekarang mobil itu akan mengantarkan keluarga kecilnya. Sampai di dekat halte bus.
"Aku berangkat mom, dad"
"Hati hati sayang, jika butuh sesuatu hubungi da, eh mommy"
"Siap mom," Anson melambai membiarkan mobil pergi duluan.
Anson berjalan sampai ke halte bus. Untung saja masih pagi, jadi hanya beberapa orang yang mengantri. Duduk sambil mendengarkan lagu baru dari aipodnya.
"Mark Lee"
Anson menoleh pada gadis yang memakai seragam mirip sepertinya. Dengan name tag bertuliskan huruf Hangul. "kau mengenalku?"
Gadis itu mengangguk "Aku Chaeri, kita sekelas bahkan satu organisasi"
Anson hanya menganga lalu membulatkan bibirnya mirip huruf O. "Benarkah?"
"Ya, kau pasti tidak ingat. Kau kan terkenal, jadi Wajar jika tidak tau namaku"
"Ah, bukan begitu. Aku sulit mengingat nama orang, jika bukan karena name tag. Aku tidak tau bagaimana harusnya menyapa"
....
Hari itu jeguk tidak seperti biasanya. Dari luar nampak ramai sekali orang yang bukan dari jeguk. Bahkan wartawan berjejeran di depan gerbang.
"Kenapa ramai sekali?"
"Kau tidak tau, katanya ada tokoh penting yang akan datang ke sekolah kita"
"Tokoh?, Siapa?"
"Kau akan tau jika melihatnya nanti"
Anson dan Chaeri berjalan bersama menuju pintu masuk jeguk. Di lobi terasa lebih ramai, walaupun biasanya juga sudah ramai sekali karena kendaraan jemputan anak anak jeguk.
"WOAHHH, Daebag" Chaeri berteriak sambil berlari ke arah keramaian tersebut. Tak lupa hp yang dalam mode on kamera dihadapkan pada objek yang membuatnya lunjak lunjak kesenangan.
"Hey Chaeri ssi, ada a__" Anson menghentikan langkahnya. Harusnya ia tau, nama orang itu sudah hits seantero negara. Lihatlah dua sahabatnya yang bermuka tengil di bawah ketiak orang itu. Ya ampun, sok ngartis sekali.
"Aku tidak percaya ini, cubit aku Mark" mengulurkan tangannya untuk dicubit.
"Maaf aku tidak suka skin ship, bagaimana jika ku pukul pakai buku?" Mark mengeluarkan buku yang paling tebal dari tas punggungnya. Bersiap menggebuk punggung atau bahu chaeri.
"Hey, kau mau membunuhku?"
Mark menggeleng "katamu minta dipukul?"
"Dicubit Mark Lee, dicubit."
"Tadi sudah ku bilang aku tidak bisa mencubit, kukira kau setuju untuk dipukul"
Chaeri terdiam sebentar. Benarkah yang ia ajak bicara adalah Mark Lee yang pintar itu. Chaeri rasa otak Mark sudah tercampur dengan otak kentang, Sampe susah begini"
"Ah lupakan," Chaeri mulai merekam lelaki yang tidak jauh dari jangkauan mereka. "Ya ampun dia tampan sekali"
"Yang kau bilang tampan itu, ayah temanmu" potong Mark
"Uncle Chan" Mark berteriak keras. Berlari menuju tempat Chanyeol berada. Sementara lelaki yang dipanggilnya memalingkan wajahnya menghadap Mark lalu tersenyum. Seakan gerakan slow motion. Senyumnya seperti menggambarkan dirinya 'Im Chanyeol'.
" Hey nak" ucap lelaki yang Mark sebut paman.
"Paman Chan tumben mengantar iblis ini" Mark menunjuk dua orang yang dikatainya iblis.
"YAKKK" gas 2 manusia galak. Teman dan adik kelasnya. Wah padahal Mark lebih tua, tapi ia masih saja merinding jika dibentak 2 orang itu.
"Renji, Jangan berteriak, masuk sekarang okay?"
"Baik ayah" ucapnya serempak
"Kalian berdua?" Chanyeol melirik seseorang di samping Mark.
"Tidak, tentu saja tidak" mark menimpali
"Hahaha, padahal aku belum selesai bicara. Maksudnya kalian berangkat bersama "
"Sebenarnya tidak paman, aku tadi menemukan dia di jalan. Jadi sekalian saja bersama"
"Ohh, senang bertemu denganmu nak.."
"Chaeri paman, namaku Chaeri"
"Chaeri, nama yang cantik. Sama seperti orangnya"
"Terima kasih paman" ucap Chaeri dengan senyum selebar samudra. Jika diibaratkan di perutnya pasti sudah keluar banyak kupu kupu sangking senangnya. Melihat artis pujaan hati ibu dan dirinya tengah berada di hadapan Chaeri. Ya ampun. Mimpi apa Chaeri semalam.
"Jangan mulai uncle,"
"Baiklah,," Chanyeol mengecek jam
"Paman harus pergi nak, Mark bisa telfon paman nde? Senang bertemu denganmu Chaeri, kuharap bisa bertemu lagi nanti"
Tanpa memperdulikan ucapan Chanyeol pada mark. Chaeri melihat tanpa mau berkedip pada sosok idola pujaan hatinya.
"Ya paman" Woah, lelaki itu benar benar tampan. Ucapnya dalam hati
"Chaeri ssi, ayo masuk" Mark menyadarkan lamunan chaeri
"Ah nde" Chaeri membuntuti di belakang Mark.
"Chaeri ssi, jangan berjalan di belakangku. Ayo beriringan"
Chaeri berjalan di samping Mark. Sepanjang jalan mereka dilihat siswa siswi yang lain. Bukan hanya anak jeguk, tapi Tanpa mereka sadari, seseorang juga tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.
.....
Lisa berkutat dengan pistol miliknya. Setelah mengantar Sehun ke kantor dan menyelesaikan urusannya di kantor yang lain. Lisa langsung memanggil temannya dan meminta nya menemani Lisa menembak.
"Lempar"
Dor
"Lempar"
Dor
1 cakram lagi pecah, entah sudah berapa cakram dalam 1 jam yang telah ia hancurkan. Tembakannya tidak pernah meleset, dan sampah cakram di lapangan tembak sudah sangat menjelaskan betapa handalnya Lisa.
"El, istirahatlah. Ini sudah jam berapa?"
Teriakan wanita yang sudah sangat jelas.
"Unnie, ini sudah biasa. Jika tidak kulakukan bagaimana aku menjaga negara ku"
Yang diajak bicara mengerucut kan bibirnya. Andai saja ia tidak terlena dengan ajakan nyonya han, ia pasti sudah memasak atau mengganggu suami dan anaknya agar cepat pulang.
"Sudahlah unnie, daripada tidak ada kerjaan. Mending temani aku main tembak tembakan"
Tidak ada kerjaan?, Wah lancar sekali nyonya Han ini bicara. Batin wanita itu, ia harus mereschedul jadwal nyanyi dan beberapa bisnis hanya untuk menemani Lisa main tembak tembakan. Tapi apa yang ia bilang, tak ada kerjaan. Mungkin yang dibilang ada kerjaan itu seperti Lisa. Berguling guling di tanah atau berlari lari di pantai. Isi otak Lisa hanya latihan fisik saja.
"Tapi unnie, boleh aku tau? mengapa oppa Chanyeol sering menghubungi anakku?" Tanya Lisa setelah meletakkan pistol pada tempatnya.
Wendy membenarkan letak kacamata hitam yang daritadi ia kenakan.
"Anson kan memang dianggap keponakannya, jadi wajar lisa"
Lisa mengangguk
"Benarkah?, bukan karena hal lain?, Karena yang kudengar kalian disponsori Zeus. Jadi aku ingin tau, apa ini ada hubungannya,,
unnie?"
TO BE CONTINUE
Halo gaisss, maaf banget ya kalo banyak yang typo. Maaf banget juga cerita ini makin lama updetnya. Celine lagi prepare balik ke new normal. Dan beberapa kerjaan celine stress. Mohon dimaklumi yah.
Terus Celine mau berterima kasih banget nih, sama reader yang mampir kemari. Makin hari makin lumayan,, hehe sombong dikit.
Kalo kalian suka minta votenya dong, biar Celine semangat buat update chapter selanjutnya.
Udah gitu aja
Celine mau mandi
Bye bye mingedep para reader kesayangan akuhh 🥰🥰
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.