Home / All / Be A Parent / 13. About

Share

13. About

Author: ricasari575
last update publish date: 2020-09-30 15:59:33

Sudah hampir 2 jam Sehun tidak keluar dari ruang bioskop. Lisa tau, karena hampir 2 jam juga dia duduk di samping jendela dengan segelas susu coklat di depannya. Menunggu, atau lebih tepatnya tengah dihukum atas pertanyaannya.

Sehun lebih memilih mendiamkannya daripada harus bicara dan berakhir mengucapkan kata kata kasar padanya.

"Cukup" Lisa beranjak menuju ruang bioskop. Persetan dengan apa yang akan terjadi.

"Bibi, jangan biarkan orang lain masuk sampai aku keluar"
Lisa membuka ruang bioskop dengan kasar.

Brakk

Lisa memindai dari kiri ke kanan, ruangan itu nampak kosong        

Lisa memindai dari kiri ke kanan, ruangan itu nampak kosong. Padahal ia sangat ingat Sehun pamit nonton Avengers. Hampir memutuskan untuk kembali,

"Ah, aku ingat" Lisa menuju dinding bagian kiri, meraba, mencari sesuatu.

"Aku ingat sekali tempatnya disini" sedikit membungkuk, tepat di pojok ruangan. merasakan sesuatu yang ia cari "Ketemu". Lisa menekan tombol disana.

Terlihat dinding berubah menjadi pintu layar LED. "Masukkan sidik jari"

Lisa Memindai sidik jari nya, 
"Semoga dia tidak merubah aksesku"

"Akses diberikan" 
"Selamat malam nyonya Han" suara mesin keamanan yang diikuti terbukanya pintu.

Menghembuskan nafasnya lega. Lisa sedikit berjalan dari pintu bioskop, menuju ruang rahasia. Suara berisik keyboard komputer, dan teriakan seseorang membuatnya yakin. Si setengah tua Han itu berada di ruang kesayangannya.

Lisa duduk di samping kursi Sehun. Menatap lelaki yang masih berstatus suaminya.

Yang ditatap sama sekali tidak terganggu. Terserah saja jika istri nya marah marah. "Aku tak mau dengar, aku pakai headset" bisiknya dalam hati.

masih menekan keyboard dengan gila. Sehun masih terfokus dengan game di hadapannya.

Usia memang tidak menjadikan manusia jadi dewasa. Lisa baru menyadari pepatah itu memang benar adanya.

Ingatkan Lisa untuk memberi hadiah pada orang yang menciptakan pepatah tersebut.

"Apa game lebih menarik, daripada aku?, ..Sehun." Ucapan lirih yang masih bisa didengar.

Sehun memalingkan wajahnya, "tak ada yang lebih menarik dari istriku".

Sehun memalingkan wajahnya, "tak ada yang lebih menarik dari istriku"

"Masih marah?" Tanyanya lirih. Tangannya meraih tangan Sehun. Lisa selalu melakukannya jika ia benar menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya.

Sehun memandangi wajah istrinya. Penyesalan sudah memenuhi wajah lisa. "Tidak, kau tau aku tidak bisa marah padamu El"

Lisa menunduk "maaf,, maafkan aku Sehun" air mata menetes Walaupun ia mencoba menutupi. 

"Kau tidak salah El, aku hanya sedikit sensitif. Maafkan aku" memeluk Lisa. Mengusap punggung istri tunggalnya. "Jangan menangis seperti orang bodoh, jika Anson tau aku membuat ibunya menangis. Ia bisa mengusir ku dari rumah"

Lisa melepaskan pelukannya, wajahnya memerah.

"Aku tidak ak__"

"Eomma? Appa, kalian disini?" Suara anak lelaki Lisa memotong pembicaraannya.

"ANSON" keduanya melihat satu sama lain.

"Kalian bertengkar?" Melihat kedua orang tuanya dalam posisi dekat sudah sangat menjelaskan apa yang Anson kira bukan.

"Ti tidak, ibu hanya ingin quality time saja dengan ayahmu."

"Kenapa kau disini nak?," Tanya Sehun. Yang Sehun ingat, ia bahkan belum memberi tahu Anson tentang tempat rahasianya. Tapi anak itu terlalu pintar untuk menerobos keamanan nya.

Mata Lisa melebar "darimana kau tau ruangan ini?"

"Ini rumahku, tidak ada yang tidak kuketahui" Anson ikut duduk di samping ibunya.

Flashback

Anson pulang dari hotel dan melihat sesuatu yang janggal. ia tidak melihat batang hidung ayah atau ibunya sama sekali. Biasanya, dari jarak 1 km pun ia pasti akan mendengar melihat dan merasakan keberadaan dua orang itu. Tanpa berfikir Anson naik lift dari lantai 1 sampai lantai 3, tidak ada siapapun. Terlalu malas bertanya, ia masuk saja ke kamar orang tuanya. Tapi nihil, dua orang itu tidak ada. Pengawal ayahnya ada di rumah, pengawal ibunya juga. Jadi tidak mungkin dua orang itu kemana mana sendiri.

Anson masuk sedikit lebih jauh, melewati ruang tamu. Ruang bioskop?, Tidak mungkin.
Melanjutkan langkahnya, "bibi apa yang kau lakukan disini?"

"Saya sedang menjalankan tugas, tuan muda"

"Orang tuaku di dalam?" Mencoba masuk tapi terhalangi

"Maaf tuan muda, saya tidak bisa membiarkan Anda masuk. Nyonya sudah memberi perintah" halang bibi pelayan

Anson melebarkan matanya. Baru kali ini ia dilarang di rumahnya sendiri. Menggelengkan kepala. 
"Buka saja, ibuku tidak akan marah" Anson memaksa

"Tetap tidak bisa tuan muda" masih menghalangi Anson. "Pengawal kemari" panggil bibi pelayan pada walkie talkie nya.

"Halangi tuan muda"

Sekarang ada 3 orang yang menghalanginya. Bagus, ia tak akan bisa menang.

"Kalian berani menentangku?, Jangan bercanda"

"Maaf tuan muda, ini perintah langsung dari nyonya Han"

"Kalian lupa aku anaknya, I have any access rights in this house"

Kedua bodyguard merapatkan tubuh pada pintu bioskop. Apalagi bibi pelayan yang ada di belakangnya. Seolah mengejek dirinya.

"Maaf tuan, tidak bisa"

"Can't you hear, what I'm saying? OPEN THE DOOR. NOW" Anson menabrak dua orang dihadapannya.

Membuka pintu dengan kasarnya. Tapi, nihil. Dua orang itu tidak ada di ruangan bioskop.

"Tuan muda,"

"GO AWAY"

Nyali bibi pelayan langsung surut. Tuan mudanya sungguh marah.

"Baik tuan"

Anson melihat ke kanan kiri. 
"Pasti disana" menekan tombol kecil di dinding. Memindai sidik jarinya.

"Akses diberikan"
"Selamat datang tuan muda"

Langsung saja Anson melangkah. Dan perkiraannya memang benar.

"Eomma, appa. Kalian disini?"

Flashback off

"Anson, ini memang rumahmu. Tapi tidak bisakah menghargai privasi?"

"Apa masalahnya mom?"

"Ibu tidak lupa menugaskan bibi untuk menjaga pintu. Apa kau tidak melihatnya?, Haruskah ibu mencari bibi baru?"

Anson melebarkan kelopak matanya. Ia tau kemana arah pembicaraan sang ibu. Ah sungguh, harusnya ia tetap diluar saja. Pikirannya mulai kemana mana. Jika bibi dipecat dan diganti. Belum tentu orang baru bisa diajak kerja sama.

"Atau kau mau bibi/paman untuk mu sendiri?"

"TIDAK" teriak Anson "jangan mencoba melakukan apapun mom. Lagipula aku tidak lihat apapun"

"Bagaimana jika kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat nak?. Atau mungkin kau pernah melihatnya?" Mengalihkan pandangannya ke Anson. Kali ini Sehun yang bertanya.

"A aku tidak pernah melihat apa yang tidak ingin kulihat. Jadi ayah tenang saja. Kalian bisa lanjutkan, aku mau keluar" segera beranjak menyelamatkan diri

Lisa beralih pada Sehun
"Kau tau apa yang kupikirkan?"

Yang diajak bicara memakai headset nya kembali. Lalu memainkan game komputer dihadapannya.

Lisa menatap sinis manusia di depannya. Melupakan pertikaian mereka sejenak hanya karena privasinya dilanggar Anson. Lalu Tatapannya berubah jadi sendu. Melihat lingkaran hitam di wajah Sehun, kurusnya suaminya. Lisa bahkan tidak tau apakah suaminya makan dengan baik atau tidak. Tangan kurus yang masih bergerak lincah di atas keyboard mengingatkannya akan sesuatu yang lama.

"Suamimu memang tampan nyonya Han, tak perlu terus ditatapi begitu. Tak akan mengurangi ketampanan ku" sela sehun yang masih berkutat dengan game komputer didepannya.

"Ah HEIII, HAN ALLICE" Teriak Sehun dengan gilanya.

Bagaimana tidak. Lisa langsung mencabut kabel komputer. Tentu saja komputernya langsung mati sementara dia tinggal sedikit lagi menang melawan musuh.

"Hahahaha" tawa Lisa memenuhi ruang rahasia. Atau bisa dibilang bukan rahasia lagi. Karena anak mereka satu satunya sudah tau seluk beluk ruangan ini.

Sehun menatap istrinya. Bukan karena kesal, Ia malah merasa senang. Istrinya tertawa lepas tanpa beban. Sungguh pemandangan yang langka. Dimana selama seminggu lisa di rumah. Lisa dan dirinya hanya fokus pada diri masing masing.

Jika kalian fikir Lisa dan sehun akan berbulan madu atau menghabiskan malam berdua. Jawabannya adalah tidak. Sehun sibuk mengurus resort baru yang akan diresmikan kurang dari sepekan. Intensitas nya di rumah juga sangatlah jarang. Tak jarang juga Lisa harus membuat janji untuk menemui suaminya sendiri.

Lisa sendiri, lebih memilih memulihkan tubuhnya. Sampai benar benar sehat. Ia bahkan sudah bisa berkuda, menembak, bermain golf. Tubuhnya sungguh bagus, tidak gendut tidak kurus dan cukup ideal. Tidak heran Sehun langsung mengajaknya menikah saat aniversary pertama mereka.

Anson?, Jangan tanyakan anak itu. Anak itu terlalu sibuk dengan teman teman jeguknya. Lisa sampai heran, bagaimana bisa anson bergaul dengan semua orang dari berbagai kalangan. Padahal dulu anak itu sama sekali tidak sudi. Bernafas dengan bibi pengurus rumah tangga saja, bibir nya sudah mengeluh sesak. Apalagi dengan teman dari kelas rendahan. Ya, kelas rendahan.

Flashback on

Lisa masih ingat saat masa SMA nya. Walaupun tidak ingat dengan baik, ia tau mengenai diskriminasi sosial yang ada di jeguk. Berteman berdasarkan kasta.

Lisa cukup beruntung. Atau sangat beruntung. Dirinya pewaris tunggal, dan langsung masuk ke kelas bangsawan. Isinya seputar anak anak chaebol. Membosankan?, Tidak juga. Baku hantam serta adu mulut sering sekali ia lihat diantara temannya. Ia suka sekali, sangat suka pertengkaran. Hiburan yang cukup menyenangkan baginya.

Dan lagi kelas Lisa adalah gudangnya pembuli.  "Kau dari kelas rendahan, kenapa kau berada disini" kata kata itu selalu Lisa dengar saat teman chaebol nya membuli satu sama lain.

"Hey Lee sua, Dia punya kaki, jadi wajar jika kemana mana termasuk kesini. Lagipula, Bukankah ini sudah abad ke 20. Kenapa kau masih mengagungkan kasta padanya?"

"Jangan ikut campur," melirik sinis ke arah lisa

"Baiklah, kau ingat jika aku di golongan pertama" Lisa menghampiri Lee sua "dengan kastamu, Kau tak pantas bicara denganku"

Lisa sering membantu kelas rendahan yang dibully. Seperti sekarang. Lee sua yang membuli murid lain hanya karena dia anak kelas rendahan. Tak hanya membantu di sekolah, Lisa bahkan membantu keuangan beberapa anak dari keluarga kurang mampu. Tanpa mereka sadari, Lisa memberikan pekerjaan bagi orangtua mereka. membantu mereka secara tidak langsung lebih baik daripada mengkoar koarkannya ke publik bukan.

Lisa ingin tau rasanya bagaimana menjadi kurang mampu. menangis karena lapar, menangis karena direndahkan bahkan berusaha sangat keras hanya untuk meraih nilai bagus.

Sewaktu muda ia bahkan tidak pernah telat makan. Ia selalu mendapat apa yang ia mau. Orangtuanya yang sibuk, memberinya banyak pelayan. Uang? Jangan ditanya. Itulah alasan kenapa sebutan chaebol disematkan padanya.

Sesekali Lisa ingin hidup sedikit susah. Tak perlu miskin sekali, hanya susah saja. Melakukan seperti yang Anson lakukan sekarang, sama saja bunuh diri.

Sekali waktu Lisa melakukan pekerjaan paruh waktu. Ia juga sudah mengatakan untuk merahasiakan semuanya. Tapi entah dari mana orangtuanya tau, Lisa langsung dihampiri di restoran ayam. Yah, keduanya langsung menghampiri tanpa kabar apapun.

"PU-LANG" satu kata membuat Lisa membeku. Ibunya langsung berbalik tanpa menatapnya. Raut wajah sang ibu jauh lebih buruk dari rasa kecewa.

"Apa yang kami berikan padamu kurang, Lisa?"

"Maafkan aku dad, aku hanya ingin merasakan hidup susah"

"What,, are you crazy?. Mom memberikan semuanya un__"

"Jangan melakukannya lagi" potong tuan choi

"Dad, please" pinta Lisa

"Tidak, jangan membantah. Lakukan seperti yang biasa kau lakukan"

"Aboeji"

"jan-gan mem-bantah" berbalik lalu pergi

Keduanya langsung pergi meninggalkan Lisa. Tanpa bertanya keadaannya, bagaimana harinya dan tanpa memperdulikan perasaannya.

Flashback off

Ah lupakan, Lisa jadi ingat kenangan menyedihkan.

Sementara Sehun, Jangan ditanya. Anak itu pembuat onar no 1 di sekolahnya. Jika bukan karena tampan dan orangtua yang kaya, Lisa fikir Sehun akan susah lulus. Lihat sekarang tampangnya yang sok tobat. Padahal di belakangnya, sehun masih suka membeli mobil mahal tidak berguna. Lisa tidak akan bermasalah jika mobil itu dipakai. Tapi "aku membelinya karena hobi, bukan untuk dipakai" kata kata sakral Han Sehun.

Intinya dia hanya suka membeli. Dia tidak suka mobilnya, tapi suka menghabiskan uang pribadinya. Kelebihan uang memang suka membuat tidak waras. Lisa baru sadar dan menemukan fakta itu pada diri suaminya. Sekarang sudah sangat jelas, sifat Anson yang laknat itu muncul darimana. Dan sifat mencoba miskin muncul dari bibit siapa bukan?.

"Adakah yang mengganggu fikiranmu?, Nyonya El?" Tanya Sehun, yang sudah mematikan komputer dan menatap sang istri.

"Ah tidak, aku hanya memikirkan pekerjaan"

Sehun menjauhkan tubuhnya

"Kenapa?"

"Kau tidak dalam rencana menembak ku dengan senapan, atau membunuhku dengan granat kan?" Sehun menyilangkan tangannya "ingat kau akan jadi janda jika melakukannya"

"Hey, memangnya kau anggap aku apa?" Lisa memukul lengan sehun. Lalu memeluk leher Sehun dari belakang. Masih dalam posisi duduk. Sehun mengusap pelan kepala Lisa yang bersandar di bahunya. 
"Aku mencintaimu" Sehun berbisik.

"Apa? Aku tidak dengar?"

"I love you Han allice" mencium pipi Lisa.

....

Di lain sisi        

Di lain sisi. Di kamar nya, Anson berbaring gelisah. Baring kiri baring kanan, fikirannya tidak bisa tenang. Anson mengusap wajahnya frustasi. Harusnya ia tidak main masuk ke ruangan itu. Ayah dan ibunya pasti curiga. Apalagi bibi itu, ibunya pasti akan menggantinya. Pikiran anson kemana mana. Di lubuk hati yang paling dalam ia merasa bersalah jika bibi pelayan benar benar dipecat.

"Ah, bodoamat" tapi masih mengusap wajah dan rambutnya.

"Doryeonim apa ada masalah?"

"Ah kamjagiya," Teriak Anson. Sambil berusaha bangkit.

"Maaf mengagetkan, tapi tuan muda belum makan. Apa tuan muda mau makanannya saya bawa kemari?"

"Aku sudah makan, pergilah"

Bibi pelayan menunduk "baik doryeonim"

Satu hal mengganggu pikiran Anson "berhenti"

"Ne doryeonim"

"Ahjuma, Jika ibu bilang mau memecatmu, katakan padanya aku tidak akan mengizinkannya"

"Katakan padanya, jika ia membawa bibi baru. Atau bodyguard untuk menjagaku__ aku lebih baik tinggal di apartemenku" ucap Anson

"Baik doryeonim?" Bibi pelayan sedikit kaget dengan penjelasan tuan mudanya. Tidak biasanya Anson mau berkorban hanya demi orang seperti dirinya. Tersadar dari lamunannya, bibi memilih cepat pergi. Takut pikiran Anson berubah.

Drrrrdd drrrdd

Getaran handphone mengalihkan perhatiannya. Buru buru Anson menggeser gambar hijau yang menyambungkan pada seseorang.

"Yeobseo"

"Anson, anyeong?"

To be continued
.
.
.
.
.

To be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Be A Parent   24. Our Family

    Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek

  • Be A Parent   23. A plan

    "L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."

  • Be A Parent   22. The Fact

  • Be A Parent   21. Anson Back

  • Be A Parent   20. D

    "Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.

  • Be A Parent   19. A information

    Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status