Home / All / Be A Parent / 12. Toxic

Share

12. Toxic

Author: ricasari575
last update publish date: 2020-09-30 15:59:28

Sehun memang tidak pernah bercanda. Membuat Baskin robins sendiri, oh baiklah, dengan entengnya Sehun memanggil sekertaris Lee untuk membuat Baskin Robbins miliknya sendiri.

Lihat wajah sok sibuknya mengatur ini dan itu. Sehun terlalu bossy, jika sudah menyangkut keinginan dan tujuan menyenangkan hati istrinya.

"Mom?, Ada apa ini?" Sambil menunjuk ke bagian belakang rumah.

"Ayahmu, membuat Baskin Robbins"

"Hmm" menjawab singkat dan langsung berlalu. Tidak mau repot repot mendengar alasan absurd ayahnya, Anson segera menuju lift dan masuk ke lantai kamar miliknya. Terserah jika ayahnya membuat rumah ini jadi seperti departemen store sekalipun.

Bukan hal baru bagi anson, jika ayahnya membuat hal yang aneh aneh. Mulai dari yang paling besar seperti membuat rooftop mereka untuk landasan helikopter, dan yang paling kecil dengan memindahkan kursi taman kota ke taman rumahnya dengan alasan kursi itu menjadi tempat dimana ibu dan ayahnya dulu bertemu.

"Anson" panggilan Lisa menghentikan langkah Anson.

"Ingin makan sesuatu?, Eomma bisa memasak untukmu?."

Anson memeriksa jam di tangannya, ia baru makan Tteokbokki dan ini sudah waktunya makan malam. Waktu begitu cepat ternyata. Ia memikirkan sesuatu yang ingin ia makan, tapi Tidak ada yang ia inginkan untuk makan malam.

"Terserah eomma saja, aku suka semua yang eomma masak untuk ku" jawaban paling aman adalah terserah. Yah, bukannya Anson bohong, ia suka semua yang ibunya masak untuknya. Selain itu ia juga bingung dan tidak mau merepotkan ibunya yang sudah lelah mental karena ulah ayah tunggalnya yang absurd.

"Baiklah, bersihkan dirimu dan turun sayang"

"Okey eomma"

....

Anson Kira setelah makan malam, ia bisa pergi dan bermain di rumah barunya

Anson Kira setelah makan malam, ia bisa pergi dan bermain di rumah barunya. Tapi lihat sekarang, helaan nafas tidak nyaman memenuhi ruangan spa rumahnya.

Melakukan perawatan tubuh dari ujung kaki hingga ujung rambut, memang solusi yang paling efektif untuk menghilangkan stress. Keluarga kecil itu, kompak melakukan perawatan. Sehun dan anson dengan masker dan perawatan rambutnya serta Lisa yang tengah melakukan pijat.

Rasanya Sehun mau kabur saja, jika Lisa tidak memaksa untuk melakukan hal yang sama. Dengan alasan wajah Sehun menua jadi tidak menarik, Sehun tersulut emosi dan melakukan perawatan wajah dan rambut yang sudah ia lakukan entah berapa jam lamanya.

Anson menyenggol tangan sehun. Lalu menulis di tangan ayahnya itu. Dengan hati hati ia menulis. Ia tidak mungkin bicara, karena masker masih menempel di wajahnya. Jika masker retak, pecah, tidak menempel dengan sempurna. Para pelayan pasti akan mengganti dengan yang baru, sampai menempel dan benar benar pas. Sampai 20 menit.

Oh iya, alasan Anson ikut terseret disini dengan masker putih diwajahnya. Tidak lain dan tidak bukan karena Han Sehun yang merupakan kepala keluarga dan berstatus sebagai ayahnya. Motivasi terbesar duduk disini dengan segala macam perawatan penghabis waktu, tidak lain hanya karena sepeda kuning miliknya. Ayahnya bilang akan menghilangkan sepeda warna kuning dari rumahnya, jika ia tidak mau turun dan menuruti orang tuanya itu.

"Aku bosan, ayah" tulis Anson di tangan Sehun tanpa repot mengangkat kepalanya yang tengah bersandar

"Tidur saja"

Sudah Anson duga, mengeluh pada ayahnya tidak pernah menyelesaikan masalah. Tapi malah tambah masalah.

Anson menghirup udara lebih banyak. Dia harus sabar, dongkol hati hanya membuat tua. Ia tidak mau tua dan jelek seperti hantu film the Conjuring. Impiannya adalah menjadi manusia awet muda tanpa hambatan. Dan sekarang ia malah terkurung dengan masker putih bau bengkuang.

...

Sudah hampir 2 Minggu suasana di jeguk menjadi lebih tenang. Tidak ada peristiwa saling membuli dan tidak ada berita buruk mengenai joen hejin.

hejin nampak berbeda setelah kembali dari pelariannya. Tidak ada yang berani menanyai hejin kecuali Kim haechan sang ketua pers.

Dengan seenak jidat dan pantat, dia duduk di depan hejin yang tengah membaca buku di perpustakaan. Lebih tepatnya bermain tablet di perpustakaan. Tampang tengilnya sudah membuat hejin tau, apa yang haechan inginkan.

"Hejin ah, tolong beri aku berita?. Radio ku terasa sepi tanpa berita darimu!"

Hejin mengalihkan pandangan dari tablet kesayangan miliknya.

"Kau ingin berita?"

Haechan mengangguk yakin

"Haechan cheesee"

Hejin mengambil foto dengan haechan yang masih bengong seperti orang bodoh.

" apa yang ka..?"

"Aku memberimu berita, akan kuposting ini di media sekolah. Anak anak pasti akan menyebarkan banyak berita"

Haechan mengusap rambutnya, menyadari apa yang akan hejin lakukan.

"Hapus, hejin" pinta haechan sembari menyambar handphone hejin. Tapi tentu saja tidak akan mudah.

"Ambil, jika kau berani?" Hejin menyilangkan tangannya.

Haechan menganga tidak percaya. Bagaimana bisa?,

"Ambil!". Tantang hejin

"Wah aku bisa gila". Haechan mengusap wajahnya. Pandangannya masih fokus pada handphone hejin. Handphone itu seperti mengejek dirinya. Pikirannya bercabang kemana mana mempertimbangkan apa yang bisa dilakukan. Jika diambil tangannya akan berlumur dosa, jika tidak diambil wajahnya akan menjadi bahan berita.

"Aku menyerah," haechan mengangkat kedua tangannya.

Hejin mengambil handphone yang berada di saku dadanya. Ia akan selalu menang jika menyembunyikan itu disana. Sedikit tips dari hejin, jika mau membuat pikiran lawan menjadi gila. Apalagi lawannya seperti haechan, sudah pasti haechan akan gila duluan.

"Ini"

"Apa,, kau?"

"Hapus sendiri" hejin memberikan handphonenya dan beralih kembali pada tablet miliknya.

"Jangan mempermainkan ku?" Haechan menerka, tidak mungkin hejin dengan mudah memberikan handphonenya.

Hejin melirik haechan yang masih dalam mode tidak percaya.

"Buka sendiri, aku tidak mau repot repot menghapusnya"

Haechan mencoba percaya. Mengambil handphone yang ada di hadapannya lalu mencari fotonya di galery hejin. Menscroll dari atas ke bawah mencari foto dosanya tadi. Tetapi belum sempat ia menemukan yang ia cari, beberapa foto malah mengalihkan perhatiannya. Senyum wanita yang sama sekali berbeda dari wanita di hadapannya. Senyum cantik nan tulus tanpa amarah. Haechan terpaku.

"Jika sudah, letakkan dan pergi" ucap hejin dengan acuhnya tanpa melihat ke arah haechan yang masih terpaku di tempatnya.

Sejenak hejin merasa handphone nya sudah diletakkan di meja. Lalu suara kursi yang dirapikan membuatnya tau, jika haechan sudah pergi.

Krieettt

Meja yang sedikit bergetar dan suara kursi yang diduduki mengalihkan perhatian hejin. Siapa lagi manusia gabut yang mengganggu dirinya. Perasaan, hejin tidak mengganggu siapapun. Tapi lihat, banyak sekali yang mengganggunya.

"Duduk dan jangan lakukan apapun" suara yang sangat dikenal hejin, suara memerintah yang sangat akrab di telinganya.

Hejin tetap dalam posisinya tanpa mau terganggu lagi dengan manusia lain di hadapannya.

"Lihat aku, joen hejin" suara yang pelan berhasil mengalihkan atensi hejin.

Hejin mematikan tablet di tangannya. Menatap malas manusia di hadapannya.

"Apa yang kau bicarakan dengan haechan?"

"Tidak ada"

"Jika kau lupa, perjanjian kita,__"

"Tidak, aku tidak mengatakan dan melakukan apapun. Bukankah itu maumu?"

Lelaki itu mengangguk membenarkan.

"Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, lebih baik kau pergi Jeno ssi"  sedikit penekanan saat hejin menyebutkan nama Jeno.

Jeno mengerti, maksud dari hejin. Bekerja sama dengan pewaris joen memang tidak pernah mengecewakan.

"Terima kasih"

Hejin terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut manis lelaki sipit dihadapannya. 1 tahun semenjak bertunangan, jeno sama sekali berbeda dari Jeno yang ia kenal semasa kecil. Jangankan mengucapkan terima kasih, memandang hejin saja ia sama sekali tidak Sudi.

Hejin mengangguk "pergilah"

Sebelumya, Hejin tau. Jeno tidak mungkin susah susah mencarinya jika tidak butuh bantuan darinya. Tanpa meminta pun, hejin pasti akan selalu membantu. Salah satunya Menutupi berita buruk jeno. Seisi sekolah bahkan dunia juga tau hejin dan Jeno dijodohkan tanpa ada perasaan. Bertunangan hanyalah alasan, menyiksa dua anak manusia yang sama sekali tidak punya perasaan yang sama untuk mengikat hati dan mempermainkan janji.

....

Mark, chenle, Ji-Sung dan Renjun berada di ruang pribadi chenle        

Mark, chenle, Ji-Sung dan Renjun berada di ruang pribadi chenle. Atau bisa dibilang bukan ruang pribadi lagi. Semenjak chenle memberikan akses, sahabatnya tidak pernah membiarkan dia sendiri.

Seperti sekarang Mark yang tengah bermain gitar dengan kacamata bak detektif Conan. Bernyanyi dengan baiknya, ingatkan chenle untuk mengirim Mark ke audisi global. Agar ia bisa menjadi penyanyi yang dibayar dan tidak terus bilang miskin dengan bangga.

Lalu Ji-Sung dan Renjun, kedua saudara kakak beradik itu seperti tidak mengenal. Yang satu sibuk dengan nyanyiannya bersama mark, yang satu sibuk bermain game cacing kesayangan nya. Ji-Sung terlalu terobsesi dengan besarnya cacing di game tersebut, padahal sudah banyak trik yang bisa diandalkan untuk memperbesar cacing bodoh pemalas yang hanya bisa makan itu.

"Ji-Sung ah, pakai cheat saja agar cacingmu itu besar".

"Chenle ya, hanya pengecut yang memakai cheat"

Chenle menghembuskan nafas nya kesal. Sudah 2 hari 1 malam jisungie park itu bermain cacing. Lihat lingkaran hitam di kelopak matanya. Dia benar benar kompetitif, bahkan Renjun yang notabene kakak kandung tidak mau repot repot memarahi adiknya.

"Biarkan saja, chenle ya. Biarkan matanya menghitam dan menjadi panda yang suka makan bambu..  lalu kita kirim dia ke Cina. Lumayan juga, untuk mengurangi kepengapan di ruangan ini"

Tit tit tit

Suara akses pin pengaman ruangan. Cklek

Terlihat haechan yang tidak tampak seperti biasanya. Lelaki itu datang duduk dan memakan kripik kentang bekas Ji-Sung. Pandangan nya  terlihat shock.

"Haechan ah, Are you okay?" Mark bertanya dengan raut muka khawatir. Wajah haechan terlihat pucat. Apa haechan melihat hantu yang dibicarakan orang orang?.

Yang ditanya masih melamun sambil memakan keripik kentang Ji-Sung. Tidak lupa susu bekas bibir chenle juga tidak luput dari perhatiannya. Saat ia mau mengambil, donat kentang milik Renjun. Ia berhenti.

"Aneh sekali" gumamnya, lalu mengambil donat Renjun dan memasukan benda bulat dan lembut itu di mulutnya.

Renjun mendelik
"Siapa yang aneh?" Pertanyaan yang ditujukan untuk orang yang sama.

Haechan terdiam, gelagatnya masih saja diluar nalar.

"Ah, ANDWEE" teriakan Ji-Sung menggelegar di ruangan itu. Ji-Sung melompat lompat kesal dan membanting hp nya ke sofa. Rasanya ia ingin mematahkan hpnya jadi 2.

"Kenapa Ji-Sung ah?", Chenle bertanya dengan khawatir.

"Cacingku, cacingkuu. Ah tidak cacingku" Ji-Sung meremat rambutnya frustasi. Hanya karena salah berbelok cacingnya menabrak cacing kecil sialan.

Chenle tidak jadi bertanya, ia duduk mendesak di samping haechan. Melakukan apa yang haechan lakukan.

Haechan melirik chenle di sampingnya

"A, Apa yang kau lakukan chenle ya?"

Chenle masih memakan keripik kentang sisa Ji-Sung. Ah sebenarnya itu keripik miliknya, Ji-Sung saja yang seenak jidat meminta pelayan chenle menyediakan keripik.

"Ak,,uu, entahlah" chenle memakan makanan di hadapannya.

"Haechan ah, kau kenapa?" Mark bertanya untuk kedua kalinya.

Kali ini ia mendekat dan duduk di depan haechan. Ia kesal tidak dihiraukan, dengan duduk di depan Kim haechan ia bisa dengan mudah melempar haechan dengan kripik kentang Ji-Sung atau mengusap wajahnya dengan krim donat milik Renjun.

Haechan tersadar dengan teman temannya mengelilingi dirinya dengan tatapan khawatir.

"Ah heyy, apa yang kalian lakukan?" Haechan mendorong teman temannya agar sedikit menjauh.

"KAU YANG KENAPA?, Wajahmu benar benar seperti mayat? Kau sebenarnya kenapa Kim haechan?" Renjun bertanya dengan galaknya, memborbardir haechan dengan banyak pertanyaan.

Anggap saja reaksi Renjun berlebihan. Ia tidak suka dihiraukan apalagi oleh Kim haechan. Seharusnya Renjun yang bisa menghiraukan satu sama lain. Bukan haechan.

Haechan menganga, "ah maafkan aku, aku hanya sedikit kaget"

Lalu pandangan haechan mengarah ke samping kanannya. Mark Lee, harusnya tau banyak hal bukan?.

"Mark Hyung, apa yang kau tau tentang hejin?"

Sejenak suasana menjadi sangat hening. Pertanyaan sensitif antara haechan dan Mark.

"Haechan ah, kau gila?. Buk..."

"Kenapa kau menanyakan hejin?" Mark melihat haechan.

"Ah tidak, aku hanya penasaran"

"Haechan ah, ayo kita ambil corn dog di bawah" Renjun mulai mengalihkan pembicaraan.

"Tidak, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan" haechan kesal.

"Tanyakan pada hejin sendiri" Mark beranjak dan keluar dari ruangan dengan aura sebal luar biasa.

Renjun Ji-Sung dan chenle memukul haechan.

"Asas sakit, apa yang salah dengan pertanyaan ku?"

"Kau salah, bertanya tentang hejin saja sudah salah. Kau masih saja bertanya ke kami alasannya apa. Ckk dasar bodoh" Renjun memarahi haechan dengan membabi buta.

" Ahhh waee?" Haechan berteriak

"Percuma saja, kita tinggalkan saja dia Hyung" Ji-Sung menimpali

"Ah Wae, Ji-Sung saja tau. Kenapa hanya aku yang tidak tau disini?"

Chenle melirik haechan
"Hyung, itu bukan sesuatu yang pantas diceritakan. Kuharap kau tidak pernah bertanya" chenle menjawab haechan

Haechan berbalik menghentikan chenle yang mau keluar juga dari ruangan.

"Apa kau tau sesuatu?,"

Chenle mengangguk 
"Aku tau, bahkan lebih tau dari kalian" chenle menyingkirkan haechan dari hadapannya.

Haechan menyerah bertanya.

"Baiklah jika kalian tidak mau memberi tau, akan kucari tau sendiri" 
Haechan bergumam sendiri.

...

19.00 KST

Pasangan Han itu menikmati makan malam dengan tenangnya. Mereka hanya berdua, karena Anson anak tunggal mereka sudah pamit untuk tidak ikut makan malam. Dengan alasan ingin makan di hotel, Lisa dengan mudahnya mengijinkan. Bahkan jika Anson ingin makan di kutub Utara pun, Lisa akan selalu mengijinkan.

Kembali ke pasangan yang nampak masih fokus menikmati makanannya masing masing. Lisa sedikit canggung, tapi ia sungguh penasaran. Sudah hampir 1 Minggu di rumah ia tidak tau, bagaimana Han Sehun suaminya bisa dengan mudah menjemput dirinya.

"Bagaimana kau bisa menjemputku Sehun?" Pertanyaan itu dengan berat keluar dari mulut kecilnya.

"Aku meminta sedikit bantuan"

"Tidak mungkin"

"Kita keluarga, harus saling membantu!"

"Kau tidak gugup lagi?"

Sehun mengangguk. Sebenarnya ia masih merasa tidak nyaman. Jika bisa memilih, Sehun lebih baik terjun dari puncak gunung mount Everest dibandingkan harus meminta bantuan pada orang tua lisa. bedanya mount Everest tidak bisa memberinya bantuan menjemput istrinya. tetapi orang tua Lisa bisa. Itulah kelebihan pilihan Sehun untuk menuju orang tua Lisa daripada terjun sendirian di gunung konyol tertinggi di dunia.

Lisa menangkup tangan Sehun, menggenggam mencoba menguatkan.

"Kita sudah menikah, jadi ku harap kau melupakan semuanya"

Sehun menghela nafasnya, tersenyum tipis. Tidak mau membahas lebih jauh dan berakhir pertengkaran.

Meski sudah 18 tahun menikah, hubungan Sehun dengan mertuanya tidak terlalu baik. Sehun tidak mau terlalu terbuka, meski mertuanya telah memberikan Zeus hotel untuk ia kelola. Rasanya masih terlalu ganjal, ia masih bersikap selalu waspada.

"Ibu dan ayahku menyayangimu Sehun, sama seperti mereka menyayangiku. Jadi, kumohon berdamailah"

Sehun mengalihkan arah pandangnya tanpa menjawab argumen Lisa. Kedengarannya memang mudah. Berdamai, mungkin jika mertuanya adalah mertua biasa pada umumnya, Sehun mau berdamai dengan mudahnya. Tapi,.. keluarga Lisa?, Tidak semudah membalikan telapak tangan.

"Aku selesai" Sehun menyelesaikan makan malam, lalu beranjak menuju ruang bioskop. Bukan menuju kamar, perpustakaan, ruang kerja, melainkan pergi ke ruang bioskop.

Ia berbalik "aku ingin nonton Avengers, jadi jangan ganggu"

Belum sempat Lisa menjawab, Sehun sudah menutup pintu rapat rapat.

Lisa harus terima, luka hati suaminya lebih buruk dari yang selama ini Lisa terima.

To be continued

.
.
.
.

Foto hejin yang haechan lihat

(Aku mencintaimu Jung Jeno) - Hejin         

(Aku mencintaimu Jung Jeno) - Hejin

(Aku mencintaimu Jung Jeno) - Hejin

.
.

Hejin asli di mata anak jeguk

(Tidak usah menatapku, atau kucolok bola mata kalian) - Hejin         

(Tidak usah menatapku, atau kucolok bola mata kalian) - Hejin

(Tidak usah menatapku, atau kucolok bola mata kalian) - Hejin

(Segitu berharganya jalang itu buatmu) - hejin

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Be A Parent   24. Our Family

    Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek

  • Be A Parent   23. A plan

    "L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."

  • Be A Parent   22. The Fact

  • Be A Parent   21. Anson Back

  • Be A Parent   20. D

    "Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.

  • Be A Parent   19. A information

    Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status