LOGIN"Lihat sini sehuna" wanita cantik penyandang marga Han terus menggoda Sehun.
Senyuman bahagia tercetak jelas di bibir kecil wanita Han itu.
"Ayolah, lihat kesini"
Yang dipanggil sama sekali tidak menghiraukan. Sehun bahkan tidak berniat untuk sekedar menggerakan leher dan memutar kepalanya guna menghadap ke kamera Lisa.
"Anak ayam ku," panggilan ketiga di teriakan, tapi Sehun tetap tak bergeming
Lisa mulai kesal. "Ah sudahlah, aku juga tidak ingin memfoto wajah jelekmu itu"
Seketika Sehun sedikit berbalik, dan klik klik klik. "Dapat" Lisa memeriksa beberapa foto.
"Wah, suamiku benar benar tampan. Tampak kiri tampak kanan dan tampaknya memang hanya ditakdirkan untukku" lisa menyengir
"Tentu saja El, aku milikmu" sehun beranjak dari tempatnya, beralih ke samping Lisa.
Sehun menyandarkan kepalanya di bahu Lisa. Menghirup aroma khas istrinya itu.
"ehemmm"
Lisa membuka pelan kelopak matanya. Tersadar dirinya berada di tempat asing. Rupanya lisa hanya bermimpi. Lisa tidak ingat kenapa ia bisa berada di lubang dan entah ia dimana sekarang. yang lisa ingat, ia sedang berkeliling meninjau kawasannya. sampai suara tembakan dan beberapa granat dilemparkan, lalu setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
lisa mencoba bangkit
"ahh" kaki kirinya terkilir dan tangannya patah.
"yak, bagus sekali. kurasa aku akan benar benar mati sekarang"
mungkin lisa adalah satu satunya tentara yang ceroboh, saat tembakan terjadi bukannya sembunyi di tempat aman. lisa malah jatuh terperosok ke lubang. beruntung saja lubang itu tidak terlalu dalam, jadi masih ada kemungkinan dia diselamatkan.
Lisa menarik tangannya yang patah dengan sekali hentakan.
"Aaahhh" sakitnya sampai membuat wajahnya memerah. Setelah beberapa jam, Lisa merasa belum ada yang menyadari ia menghilang. Apalagi setelah kejadian terdengarnya tembakan dan granat, tentara Korea Selatan akan berfikir dua kali untuk masuk ke hutan.
"Apa aku akan benar mati hari ini?" Lisa mulai khawatir, langit mulai menggelap dan udara mulai dingin.
"Letnan ell, letnan ell" suara teriakan membuyarkan lamunan Lisa. Lisa langsung mengambil peluit yang mengalung di lehernya. Meniup sekuat tenaga.
Orang orang yang mencari lisa, segera menuju ke sumber suara. Letaknya di Utara perbatasan, di samping pohon besar. Lubang besar dimana letnan mereka terjerembab.
"Sersan min, panggil bantuan" perintah lelaki yang rasanya lebih tinggi pangkatnya.
"Siap" sersan min langsung berlari untuk memanggil bantuan.
"Letnan El, bertahanlah, kami akan segera menolongmu" suara letnan Kyung menenangkan Lisa.
Lisa menghela nafas lega, sungguh bersyukur. Ia tidak jadi mati, suaminya otomatis batal jadi duda dan anaknya tidak akan jadi yatim.
Kurang dari 1 jam, Lisa berhasil dievakuasi dari tempat kejadian. Dan saat ini dalam perawatan. Rasanya tubuh Lisa sudah hampir mati rasa, ia seperti habis dipukuli.
Genggaman tangan dan sentuhan pada rambut menyadarkannya. Siapa yang berani menyentuh dirinya, dokter disini tidak mungkin sekurang ajar ini. Lisa mencoba membuka matanya, cukup berat.
"Eomma"
Lisa melebarkan matanya, hampir pingsan rasanya. Siapa yang membiarkan remaja 17 tahun berada di daerah berbahaya seperti ini.
"A,ans"
"Nde eomma, ini aku. Jangan bergerak. Beristirahat lah eomma" Air mata Anson mengalir. Ia terus mencium tangan ibunya.
Lisa hanya mengangguk dan menyunggingkan seulas senyum, sampai akhirnya tertidur karena obat biusnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Lisa bangun dengan suasana segar. Lisa merasakan Tangannya telah diperban, kakinya juga dibebat perban. Rasanya ia hampir seperti mummy. sedikit dibebat tisu toilet, Tubuhnya pasti sudah persis hantu metologi Yunani.
Lisa memijit pelipisnya yang sedikit pusing, lalu berusaha memposisikan dirinya untuk duduk. Ia bingung, dimana ia sekarang.
Ruang rawat tampak berbeda, dan Lisa menyadari ia tidak di peleton kesehatan tempatnya bertugas.
Ruang rawat rumah sakit ini 100% berbeda dari ruang rawat peleton kesehatannya di DMZ. Luasnya juga terlalu berlebihan untuk disebut kamar rawat.
Lisa menyandarkan tubuhnya pada sandaran rawat. Berusaha memposisikan dirinya untuk duduk.
Orang di kasur seberang adalah dalang dari tempat nya sekarang. Suami dan anaknya terlalu posesif untuk perawatan dirinya. Mereka berdua selalu kompak untuk semuanya. meskipun Lisa bilang berlebihan meski ia hanya lecet sedikit, Anson dan Sehun tetap akan memilih kelas VVIP rumah sakit terbaik.
Alasannya, mereka juga ingin menginap dengan nyaman, pelayanan memadai dan makanan yang enak. Kasur bagi mereka harus besar, tidur di ruangan yang sama sangat jarang terjadi. Jadi Anson memanfaatkan berbagai macam kesempatan untuk dekat dengan orang tuanya. Termasuk di rumah sakit.
2 orang yang tidur saling memeluk begitu hangat. Hati Lisa menghangat, 2 lelaki andalannya terlihat akur saat ia tidak ada. Sedikit rasa iri memenuhi hatinya, jika saja ia bukan tentara dan selalu ada di rumah. Keluarga kecilnya pasti akan lebih bahagia dari sekarang.
"Maaf, omma membangunkan mu"
"Tidak omma, eomma ingin apa. Aku bisa berikan" dengan mata memerah kurang tidur dan penampilan acak acakan, Anson beranjak dari tempatnya.
"Air,"
Anson memberikan air di samping lisa. Mendekat ke ibunya.
"Are you okay mom?"
Lisa mengangguk, tanda baik baik saja.
"Maaf, omma merepotkan kalian" ucap Lisa lirih
"Jangan katakan apapun omma, kita keluarga. Tidak ada kata merepotkan"
Lisa tersenyum,
"Ah, anakku pintar sekali" mengusap kepala Anson
"Tentu saja"
"Eomma ingin pulang"
"Kita pasti pulang, setelah omma baik baik saja. Okay?".
"Omma mu baik baik saja sayang, besok kita pulang nde?".
"Tidak"
"Eomma kasihan, jika kalian terus tidur seperti trenggiling"
.
.
.
"Woah, senangnya kembali ke rumah" Lisa dengan senangnya beranjak dari kursi roda lalu mencoba berjalan dengan kaki yang sedikit pincang. Kondisinya yang lemah membuatnya mudah pusing dan langsung terduduk ke kursi ruang tamu.
"LISA, EOMMA" teriak 2 lelaki cerewet bermarga Han itu. Suara langkah kaki sudah sangat menjelaskan, jika keduanya bergegas ke arah Lisa.
"Eomma, hentikan. Eomma bisa terluka lagi" jelas Anson menasehati ibunya yang terlampau aktif. Rasanya bukan dia disini yang posisinya sebagai anak, tapi ibunya.
"Dengarkan anakmu el, duduk tidur istirahat lah. Jangan lakukan apapun, okay?" Sehun menambahi.
"Dengar suamimu omma?" Anson menatap serius sang ibu.
Lisa tertawa geli, mereka berdua terlalu kompak.
"Ah baiklah, eomma akan istirahat" Lisa beralih ke jam besar dekat tangga. Pukul 08.30, masih pagi
"Kalian juga beraktivitas nde, Anson pergilah sekolah, dan sehun bekerjalah"
Anson dan Sehun saling memandang
"TIDAK"
"Kami akan melayani eomma, aku tidak akan berangkat sekolah"
"Aku juga" teriak sehun tidak mau kalah
"Ah bagaimana ini, eomma sedih kalau Anson membolos begini, apalagi ayahmu juga bolos"
"Bagaimana masa depan anak eomma, sekolah itu bukan milik kakekmu, bagaimana jika eomma tidak bisa berbuat apa apa nanti?"
Anson terkejut, Sekolah itu memang diluar kuasa keluarga nya. Anson dipastikan dapat penurunan poin jika bolos lagi, teman temannya yang cerewet juga pasti akan bertanya yang aneh aneh.
Jika ibunya sampai turun tangan untuk ke pertemuan orang tua. Image nya sebagai anak miskin yang beruntung akan berubah. Saat miskin beruntung saja dimanfaatkan, apalagi jika kaya dan lebih bermanfaat. Bisa sesak dadanya terus dihimpit.
Anson menggeleng "ah tidak, eomma sakit. Jadi aku harus menjaga"
"Ada perawat dan dokter pribadi kita sayang, eomma pasti akan baik baik saja"
Anson sedikit melunak.
"Baiklah, tapi jika nanti eomma mau sesuatu bisa hubungi Anson nde?"
Lisa mengangguk "baiklah, cepat sekolah sayang"
Anson langsung berpamitan dan lari menuju garasi. Anak itu terlalu niat menjadi miskin. Ia memilih menuju sepeda kuning kesayangannya daripada diantar sopir pribadi andalan keluarga nya.
Tersisa Sehun yang masih menemani istri tercintanya itu.
"Dan,,--"
"Jangan menasehatiku"
"Tap,--"
"Perusahaan itu milik kita, aku bosnya. Jadi tenang saja"
"Deng_--"
"Aku tidak bangkrut hanya karena bolos sehari nyonya han " sehun terus memotong pembicaraan Lisa
Lisa geram, lalu membungkam bibir seksi milik suaminya.
"Aku tidak ingin membicarakan itu, belikan aku ice cream strawberry"
"Mwo?" Sehun kaget dengan ciuman yang baru saja ia terima
"Beli di Baskin Robbins,".
Masih duduk bersimpuh di tempatnya, Sehun masih belum tersadar.
sudah 18 tahun menikah, tapi Sehun tetap saja jadi lelaki polos. Jantungnya selalu berdetak tak sopan jika sudah berurusan dengan manusia cantik bernama han Alice istrinya.
"Hunna, CEPAT" teriakan Lisa menyadarkan sehun.
"Besok, aku akan bawa Baskin robins sendiri" Sehun dengan kesalnya menyambar jaket dan segera berangkat dari tempatnya. Padahal ia masih ingin melanjutkan kegiatan romantis, tapi Lisa dengan seenak jidatnya membuyarkan halusinasi Sehun.
.
.
.
(To be Continued)
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.