로그인Berakhirnya hubungan Jeno dan hejin menggegerkan seluruh jeguk. Pasangan yang digadang gadang sebagai the couple evil of jeguk itu tiba tiba saja berpisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun perselingkuhan sudah sangat jelas terjadi, tapi banyak yang masih berspekulasi. Pasalnya hejin yang disebut sebut evil dari hubungan mereka memilih mengakhiri tanpa memperpanjang masalah.
"Apa kau serius dengan keputusanmu?"
"Tidak"
"Lalu kenapa malah berpisah joen hejin sahabatku?"
"Aku lelah"
"Jika lelah, harusnya hanya menunda untuk introspeksi, bukan berpisah dan melarikan diri"
Hejin menghela nafas
"Kau tidak mengalaminya, jadi susah untuk ku bercerita denganmu"
"Tap--,"
"Berhentilah somi ya"
Hejin pusing, baru 2 jam yang lalu ia mendarat dan merebahkan diri. Tapi sahabatnya sudah menjejalinya dengan banyak pertanyaan.
Setelah memutuskan pertunangan. Hejin langsung kabur dari rumahnya. Berdalih menenangkan diri, hejin langsung bergegas menuju bandara guna melancarkan pelariannya. Ontario Kanada menjadi tujuan pelarian terbaik jika keadaan sudah tidak memungkinkan. Peduli setan dengan orang tuanya sekarang. Hejin butuh waktu menenangkan diri.
Somi menghela nafas panjang dan memilih meninggalkan hejin sendirian. Ia Tidak pernah mengira jika hejin yang notabene sahabat seperkutuannya itu, bisa membatalkan pertunangan seenak jidatnya. Somi ingat, bahagianya hejin sewaktu pertunangan itu digelar. Hejin memenuhi impiannya untuk bersama dengan Jeno, teman masa kecil yang ia taksir dari janin.
Sejak datang ke rumahnya dengan linangan air mata, hejin sama sekali tidak mau cerita. Hejin hanya mengatakan jika ia ingin sendiri. Somi mengerti kenapa Hejin memilih ke rumahnya daripada ke rumah teman yang lain. Mungkin karena Hejin tau jika ayahnya tidak akan bisa masuk ke kediaman somi. Bukan rahasia lagi jika orang tua somi dan hejin sudah lama berbeda jalan.
Ayah hejin tidak akan mau ambil pusing menerobos masuk ke rumah somi. Ayah somi bisa membuatnya langsung dideportasi seketika, dan ia tidak mau itu terjadi.
Lalu darimana Somi tau jika hejin membatalkan pertunangan?,. Jangan ditanya lagi, ayah hejin memang tidak bisa menghubungi keluarga somi, tapi Jeno tunangan hejin bisa. Ah Somi lupa, Jeno sudah menjadi mantan. Jeno menelfon somi dan menceritakan tanpa diminta kemarin. Lelaki itu bahkan terus mengganggu tidurnya.
"Bantu aku Somi ssi?" Suara lelaki di seberang sana tampak memohon. Somi tau Jeno tidak 100% tulus dengan sahabatnya.
"Do it your self"
"Kurasa aku tidak bisa"
"Maka lupakan,"
Suara di seberang tidak lagi terdengar. Sampai somi mengira Jeno menutup panggilannya. Lalu suatu ide terbesit di kepala pintarnya.
"Hmm... begini saja, besok ia akan kuseret pulang jadi Kalian bisa selesaikan sendiri okay" Somi menutup panggilan setelah mengucapkan rencananya. Pasangan JJ setidaknya harus bertemu, yah itu lebih baik daripada terus mengganggu ketenangannya.
.
.
.
Tepat pukul 14.30 Korea airline akan mendarat di bandara internasional Korea. Somi memilih menggunakan penerbangan komersial daripada menggunakan jet pribadi. Alasannya, ia tidak mau terlalu boros. Bahan bakar pesawat mahal hanya untuk menerbangkan dirinya dan hejin. Anggap saja somi pelit, ia merupakan pecinta lingkungan garis keras. Semenjak bergabung dengan organisasi pecinta lingkungan Greenpeace sebagai relawan, ia menjadi manusia super go green yang pelit.
Somi tidak sendiri tentunya. Jangan lupakan hejin yang sekarang duduk di sampingnya Dengan aura sebal luar biasa. Somi akui ia keterlaluan. Dengan ancaman deportasi, Somi menakut nakuti hejin agar mau pulang bersama nya.
"Kau jahat sekali Somi, apa yang Jeno janjikan sampai kau mendorongku begini?"
Somi menghentikan kegiatannya. Mengalihkan pandangan ke samping kanan tepat pada hejin.
"Tidak ada, ia hanya berjanji menyumbang" ucap Somi
Hejin duduk tegak dari kursinya. Membuka kacamata tidur berwarna hitam yang bertengger di kepalanya. Rasanya hejin mau melempar Somi dari pesawat sekarang. Bagaimana bisa hejin yang berharga, ditukar dengan sumbangan Jeno yang tidak seberapa.
"YAK, Somi ya, kau menjualku untuk sumbangan Jung bodoh yang tampannya tidak seberapa itu?,"
"Eittsss, bukan menjual. Aku hanya memanfaatkan kesempatan.
Fikirkan berapa banyak yang bisa aku berikan pada organisasi dari dana yang Jeno berikan?"
"Kau bisa pakai uang ku Somi ssi, aku tidak kalah kaya untuk menyumbang dirimu?" Hejin bersungut sungut. Hanya karena dana ia sampai diseret ke Korea dan diancam deportasi. Somi bahkan mengancam membiarkan hejin jadi tunawisma jika tidak mau ikut pulang bersamanya.
"Kau lupa, kau tidak bawa apa apa hejin ah. Ingatkan aku untuk menagih pada paman Seok jin nanti. Biaya penginapan, makan dan pesawat anaknya ini" menghitung dengan jarinya atas kontribusi yang ia keluarkan untuk menampung hejin.
"Heol, teman macam apa kau jeon somi. Perhitungan sekali" hejin berdecih. Somi temannya sangat berbeda, dan terlalu gila sumbangan. Semenjak menjadi relawan, ia jadi sangat perhitungan dan pecinta lingkungan garis keras. Rumah somi yang sebesar dan seluas istana itu, ia tanami pohon di sekeliling dan sepanjang jalannya. Somi bilang itu akan menyumbang oksigen dunia. Ah baiklah, niat Somi memang bagus. Tapi dengan pohon" itu, rumah somi jadi terlihat menakutkan. Andai saja lampu" itu di matikan, ia yakin tidak akan ada yang bisa menemukan jalan pulang.
"Sudahlah hejin, terima saja" somi menyengir geli. Ia suka menggoda temannya ini.
"Ingatkan aku untuk tidak memberimu tumpangan nanti"
"Siapa bilang aku akan tidur di rumahmu?"
"Lalu kau mau tidur di mana? Di Jalan? kolong jembatan? Gereja? Hah? Sadarlah Somi,"
"Tenang saja. Aku punya tempat tinggal disini"
"Benarkah? Jangan bilang jika apartemen sewa, kau terlalu perhitungan untuk beli apartemen pribadi"
"Hyundai Apartment"
Hejin mendadak kaku. Ia seperti gambar jpg yang tidak bisa bergerak. Apartemen mewah dengan harga selangit, yang hanya kalangan tertentu saja yang bisa membelinya. Bagaimana bisa?.
"Jangan bercanda?"
"Aku serius, mereka menawarkan nya saat aku melakukan kegiatan sosial disini. Dan dengan segala pertimbangan akhirnya aku membelinya"
"Uang darimana?, Jangan bilang kau mengambil uang sumbangan untuk beli apartemen"
"aku tidak melakukan hal serendah itu. Kau bahkan tidak tau apa yang ku jual demi membeli apartment itu"
Hejin menaikan alisnya, penasaran. Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa somi jual. Tapi otaknya tidak sampai, tanpa menjual apapun Somi pasti bisa membeli apartment itu. Orang tua somi tidak kalah kaya dari orangtua hejin.
"Aku menyerah, semua yang kau pakai bahkan bisa dijual. Fotomu saja bisa dijual"
Somi membenarkan kacamatanya "Maximus" singkat padat jelas, barang jualan Somi memang beda dari yang lain.
Hejin menutup mulut dengan telapak tangan. Mencoba meredam suara berisik yang keluar dari mulutnya.
"Kuda putih pangeran ku?"
Somi mengangguk, ia sedikit sedih. Pasalnya Maximus adalah kuda pertama kesayangannya. Warnanya putih, persis seperti yang dipakai pangeran di serial kartun.
"Berapa yang ditawarkan, Sampai kau rela menjual kuda cantik yang berharga itu"
"1.5 juta dollar"
Hejin lemas seketika, rasanya rahangnya bisa jatuh ke tanah dan jantungnya mau keluar dari dadanya. Harga kuda Somi terlalu tidak wajar, mana ada kuda semahal itu.
"Pantas kau dapat apartemen hyundai, aku tidak akan tanya lagi"
Suasana hening sejenak
"Somi ya, menurut mu... Apa aku berlebihan?" Hejin memecahkan keheningan mereka
Somi masih membenarkan posisi tubuhnya.
"Tidak"
"Lalu apa tindakanku benar?"
"Tidak"
"Lalu apa maksudnya?"
"Tindakanmu tidak bisa dianggap benar ataupun salah.
Pertama, Jeno pantas mendapatkan hukuman, sesekali ia memang harus diberi pelajaran.
Kedua, Kita hanya remaja, tindakan Jeno memang salah. Tapi ia berhak untuk bersenang senang hejin ssi.!"
"Kalian hanya terikat pertunangan, dan bertunangan bukan berarti menikah" somi mengatakannya tanpa beban. Bukannya Somi jahat, tapi ia ingin membuka mata hejin. Sudah lama somi melihat hejin begini, ia harus segera menyadarinya.
sebulir dua bulir air mata memenuhi wajah cantik hejin.
" tapi aku mencintainya Somi ya" hejin mengucapkan dengan air mata yang masih terus menetes
Somi mengambil beberapa tisu, dan menghapus air mata hejin yang sudah seperti air terjun itu.
"Jika cinta, kau tidak akan memutuskan pertunangan begitu saja. Dan karena alasan itu, ia tidak pernah menghargai dirimu hejin ah."
..faktanya kau tidak bahagia dan itu terlihat nyata bagiku" somi menambahi
Apa yang dikatakan somi benar. Sedikit banyak menyadarkan hati hejin yang selama ini tertutupi cintanya pada keturunan Jung konyol itu.
Bicara dengan somi, menjadi solusi terbaik untuk hejin. Keputusannya tidak pernah salah untuk kabur ke Kanada. Sekarang ia hanya ingin pulang,
Dan membicarakan semuanya dengan Jung Jeno.
.
.
.
Makan malam di Zeus hotel dengan fasilitas bintang 5 ditemani musik orkestra, mungkin akan terasa romantis jika ditemani dengan orang tercinta.
Jika hal ini terjadi kemarin, mungkin hejin akan senang meledak ledak dengan senyum bodoh tercetak sepanjang jalan. Tapi, hari ini berbeda.
Jeno masih fokus pada steak daging dengan kematangan medium miliknya. Ditemani jus cranberry yang menjadi pelengkap hidangan.
"Kau sudah tenang sekarang, hejin ah?" Jeno membuka percakapan.
Somi tersenyum samar "tentu" sembari memainkan gelas besar di tangannya
"Jadi, bisa kau tarik kembali keputusan mu?"
"Baiklah"
Alis Jeno terangkat, mata sipitnya membulat. Respond hejin di luar ekspektasi, Jeno awalnya mengira jika hejin mungkin akan melakukan tindakan jahat seperti biasanya. Tapi, hejin sama sekali tidak berbuat apapun.
"Apa kau bosan, kau sedikit tenang dari kemarin?"
Hejin meletakkan alat makannya. Ia tidak mood untuk makan apalagi makan bersama manusia hina dihadapannya.
"Kau benar, aku bosan. Aku bosan denganmu"
Jeno menyunggingkan senyumnya. Hejin kembali kejam seperti sebelumnya, okay ia merasa di rumah sekarang.
"Aku bosan terus menjadi tameng,"
Jeno mengalihkan arah pandangnya.
"Karenamu aku menjadi bahan gosip anak anak"
"tidak ada yang mau berteman denganku"
"Tidak ada yang tulus denganku, mereka ramai ramai menghindar dariku"
"Aku bosan,.. nafas hejin tercekat, berusaha menahan air mata yang hampir mengering karena terus ia forsir keluar beberapa hari ini.
"bukan salahku kau dijauhi, jika saja kau diam saja dan tidak berusaha menjadi tameng bagiku. Mungkin hubungan kita tidak seperti ini"
Hejin menatap Jeno dengan nuansa penuh kebencian.
"Kau benar, meskipun ku bilang cinta padamu 1000 kali dan menjadi bermanfaat bagimu. Perlakuanmu padaku tidak akan pernah berubah"
"Cinta?, Jangan bercanda. Dari awal Hubungan ini murni bisnis hejin ah"
"Baiklah, terserahmu. Lakukan sesukamu"
"Maksudmu?"
"Seperti pasangan bisnis, aku tetap jadi tunanganmu dalam aspek bisnis. Diluar itu mari tidak lagi saling bicara" hejin beranjak dari duduknya
.
.
.
di tempat yang sama dengan ruangan berbeda. Nampak 2 orang yang tengah menikmati makan malam mereka. Orang pertama memakai jas hitam formal dan yang satunya lagi memakai baju santai. Dari sekian banyak menu yang ada di hotel, keduanya memilih memesan makanan dari luar dan memakannya di ruang pribadi.
Sudah 2 Minggu ayah dan anak itu tidak ada di rumah utama. Keduanya memilih tidur di ruang pribadi yang besarnya tidak bisa mengalahkan rumah mereka.
Semenjak diadakannya proyek baru, Anson yang notabene anak dari Han Sehun terus menemani ayahnya di hotel. Ia sama sekali tidak pernah pulang ke rumah. Alasannya, Anson harus menjaga ayahnya dari para janda dan gadis muda jelalatan seperti perintah ibunya. Selain itu, Anson juga harus mengingatkan ayahnya yang kelewat tampan untuk tidak melewatkan makan pagi siang malam.
"Apa di wajah ayah ada sesuatu?, Kau terus melihatnya". Sehun mengusap sudut bibir, mengira ada sesuatu di wajahnya.
"Ah, anniya. Aku hanya terlalu kagum pada ayah"
Sehun mengernyitkan dahi, ia tidak merasa melakukan sesuatu yang bagus akhir akhir ini. Sehun hanya melakukan kegiatan seperti biasa yang ia lakukan.
"Apa maksudnya nak?"
"Ayah tidak berubah, meski ibu tidak pernah pulang. Ayah tetap menunggunya. Bahkan ayah tidak tergoda dengan artis muda kemarin"
"Lalu, apa kau mau ayah mendekati artis muda yang kemarin? Hmm?"
"Coba saja, jika mau kartu keluarga kita tinggal 2 nama. Aku tidak keberatan"
Sehun menahan tawanya.
"Tidak, ayah tidak akan berani. Ibumu bisa menggantung ayah di pohon Pinus nanti"
"Ayah, ayah tidak lupa kan?" Anson mengalihkan pembicaraan.
Sehun mencoba mengingat. Ini bulan April, tidak ada perayaan khusus. Ulang tahunnya sudah lewat, ulang tahun Anson masih bulan depan.
"Ahh, ibumu?" Sehun menebak
"Ya ayah, lusa ibu pulang. Haruskah kita memberinya kejutan?" Anson terlihat antusias
"Boleh, kita beri kejutan ibumu nde?" Sehun menyetujui ide anaknya, sudah lama ia tidak membuat kejutan apapun untuk istri tunggalnya itu. Lisa tidak pernah ada saat hari spesial mereka, dan Sehun tidak memaksakan Lisa untuk terus ada untuknya. Di ulang tahun Anson pun, Lisa juga tidak bisa datang. Pernah sekali dua kali Lisa memaksakan datang. Esoknya ia harus dihukum sampai tubuhnya luka lecet. Semenjak itu Sehun berhenti meminta Lisa mengusahakan. Sehun tidak tega, istrinya di apa apakan disana.
Makan malam mereka mendadak terhenti. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian ayah anson. Sekertaris andalannya datang dengan kesan buru buru. Membungkukan badan 90 derajat guna menyapa atasannya itu.
Anson segera menyingkir, ia sama sekali tidak minat dengan pembicaraan bisnis.
"Maaf mengganggu daepyonim, tapi ini mendadak. Saya harus menyampaikan segera" sekertaris Lee menyerahkan tablet nya.
Sehun menegang, melihat headline berita malam itu.
'suara tembakan terdengar dari perbatasan Korea Utara dan Selatan'
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Pikirannya melayang pada ibu Anson yang berada di daerah itu.
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Untuk saat ini belum ada kabar apapun disana tuan, saya khawatir jika mereka menutupi hal ini seperti sebelumnya"
"Yang saya dengar, nyonya allice berada di barisan depan dan merupakan shiftnya"
Sehun hampir pingsan sekarang
"Tuan"
"Cari tau, cari tau sebanyak yang kau bisa. cari istriku sekarang"
"Maafkan saya daepyonim, setelah penembakan itu, semua akses kesana ditutup"
"Kecuali anda meminta,.-- mertua Anda"
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.