LOGIN"Bagaimana bisa ia melakukan ini padaku" membanting handphone baru miliknya.
"Sudahlah heejin" mengusap lengan heejin. Bukan pertama kali heejin membanting handphonenya untuk lelaki yang bahkan malas mengabarinya, jadi tidak perlu kaget.
"Na, Apa aku tidak cukup cantik untuknya?"
Yang diajak bicara hanya tersenyum, tidak perlu lagi ditanyakan harusnya heejin tau jika ia cantik.
"Joen hejin sahabatku, semua wanita itu cantik. Jadi tidak perlu kau membandingkan dirimu dengan yang lain"
"Lalu kenapa ia bahkan tidak mau menjawab telfonku?"
Jaemin menaikan bahunya,
"Itu memang kebiasaannya, mau bagaimana lagi?, Sudah ku beri tau ratusan kali kau masih saja tidak mau dengar. Tinggalkan saja tunanganmu itu!" Jaemin menjawab dengan santai tanpa peduli ekspresi heejin yang sangat ingin membunuhnya sekarang.
Heejin menghembuskan nafas kesal. Dia tentu salah curhat dengan lelaki menyebalkan di sampingnya itu.
"Aku suka Jeno, aku tak bisa meninggalkan nya na"
Jaemin kesal, percuma saja ia menasehati heejin. Jika dan terus saja solusi yang ia paparkan pada gadis itu sama sekali tidak masuk ke otak dan dijalankan dengan benar hanya karena alasan cinta pada lelaki yang bahkan tidak peduli dengannya.
"Apa kau tidak bosan?, Aku saja bosan melihatmu mengeluh setiap hari l"
"Mau bagaimana lagi... Hiks aku suka dengannya, tidak ada hal lain yang Kusuka melebihi dirinya" dengan air mata yang membanjiri pipinya seakan Jaemin yang telah menyakiti sahabatnya itu. Untung saja posisi mereka berada di taman belakang, jika tidak mereka pasti sudah jadi sorotan.
"Kalau begitu, tahanlah joen heejin sahabatku" menepuk pundak heejin
"Daripada terus menangis, lebih baik kau cari tunanganmu itu dan lampiaskan rasa bencimu padanya" lanjut Jaemin. Ia tidak peduli akan terjadi perang yang entah ke berapa kalinya. Sahabatnya itu harus segera mengambil langkah jika tidak mau tunangan yang ia suka dengan sepenuh jiwa dan raga hilang dari tempatnya.
Heejin mengusap air matanya dengan tisu yang entah dari mana datangnya. Mungkin Jaemin yang membawa. Heejin kembali ke mode normalnya, ia harus tetap tampil cantik paripurna. Motivasi utamanya tentu saja karena tunangan tercinta. Ia tidak mau dalam sesi perang tidak terlihat ia kalah dari selingkuhan tunangannya.
"Sudah, ayo" heejin melangkah menjauhi Jaemin sekarang. Bayangan nya semakin menjauh dan samar samar menghilang.
"Kuharap kau cepat sadar Joen Hejin"
.
.
.
"Permisi, bisa aku duduk disini?" Heejin duduk di samping chaeri sebelum dipersilahkan. Diijinkan atau tidak ia tetap akan duduk disana. Ia hanya basa basi saja.
Chaeri melirik minyoung. Tatapannya menanyakan siapa lagi yang disampingnya sekarang.
Renjun dan seungkwan tidak merasa terganggu sama sekali dengan kedatangan gadis di sampingnya. Dilihat dari respon temannya, Chaeri tau jika wanita di sampingnya bukan lah orang yang pantas ditakuti.
"Makan saja, aku hanya ingin duduk disini" heejin menyunggingkan senyum 2 jari andalannya
Chaeri membalas senyuman gadis manis di sampingnya. Ia merasa gadis ini baik, cantik dan dari sikapnya ia cukup ramah.
"Kenapa kau ke kantin jika tidak untuk makan?" Renjun memecahkan pemikiran Chaeri.
"Aku makan, tidak usah peduli dan habiskan makananmu park renjun" sambil meminum susu dan menyumpalkan roti di tangannya.
Renjun melirik tidak minat. Ia malas menanggapi gadis didepannya. Daripada sakit hati sendiri dengan jawaban heejin, Renjun lebih memilihi diam dan apatis terhadap salah satu gadis yang katanya 'populer' itu. Walau Tanpa ditebak pun Renjun serta seisi sekolah juga tau tujuan dan motivasi joen heejin ke kantin bawah.
"Maaf, apa kau siswa baru?, Aku joen heejin" heejin mencoba terlihat akrab dengan wanita di sampingnya
Chaeri gugup, gugup dengan wanita yang sok akrab seperti heejin. Tidak seperti min young, aura yang heejin lebih kuat. Walaupun terlihat ramah, tidak menutup penglihatannya jika heejin punya kelas yang berbeda.
"N.de, a..a ku Lee Chaeri. Senang berkenalan denganmu heejin ssi" Chaeri menjawab dengan tingkat kegugupan yang luar biasa
"Apa aku terlihat menyeramkan bagimu?," Heejin cemberut, padahal ia sudah berdandan cantik dan bersikap ramah.
"Mwo, tidak, kau cantik joen heejin ssi" jawab Lee Chaeri
Heejin tersenyum senang "kau punya penglihatan bagus ternyata, aku suka padamu"
Seketika seungkwan menyemburkan nasi di mulutnya sampai mengenai min young
"Ah cabe, kau menjijikan sekali" min young membersihkan butiran nasi yang mengenai rambut serta bajunya.
Renjun menghentikan acara makannya yang damai. Ia sudah tau pasti, kedatangan heejin sedikit banyak selalu membuat kacau. Auranya terlalu kuat untuk siswa yang lain, ia bisa membunuh orang hanya dengan tatapan dan senyuman nya itu.
"Renjun ssi, kau lanjutkan saja. Maaf membuatmu tidak nyaman" seungkwan membersihkan mejanya
"Ah tidak, aku sudah kenyang seungkwan ssi. Terima kasih telah menemaniku makan" Renjun melirik ke arah heejin.
Heejin yang dilirik biasa biasa saja. Sampai orang yang ia cari terlihat di pojok kantin dengan gadis cantik berambur gelombang disampingnya.
"Ah ketemu" ucapnya girang dalam hati
Ia langsung beranjak tanpa pamit pada orang yang berada di meja yang telah ditumpanginya.
"Heejjj.." ucapan Chaeri terputus, bekapan tangan minyoung membuat suaranya tidak bisa keluar.
"Kenapa kau.." Chaeri melirik min young
"Ssstt"
"Memangnya kenapa?, Aku hanya mengingatkan jika susu kotaknya ketinggalan" ucap Chaeri polos
Min young memijit kepalanya sakit.
"Biarkan saja joen heejin pergi, kuingatkan Chaeri ya, sebisa mugkin persingkatlah percakapanmu dengannya"
"Kenapa?, Ia tidak jahat min yo.."
Prangg
Nasi dan lauk berceceran dengan sangat mengenaskan. Terlihat seorang gadis yang mendorong gadis lain ke nasi dan lauk yang sudah seperti sampah itu.
Chaeri membulatkan matanya lebar lebar. Ia terkejut setengah mati dengan apa yang dilihatnya sekarang. Joen heejin yang tadi bersikap manis bisa sangat menyeramkan. Gadis itu melempar tempat makan gadis lain dengan tampang sangar. Heejin tersenyum tanpa merasa bersalah
"MAKAN ITU?" Menunjuk nasi dan lauk yang sudah berceceran. Teriakannya membuat hening kantin bawah. Gadis manis yang tadi bicara dengannya, jadi terlihat sangat marah sekarang.
"Kau senang, kau bisa makan di samping tunanganku sekarang" heejin menyilang kan tangannya
Sementara lelaki yang disebut tunangan hanya melanjutkan makan tanpa peduli dengan apa yang terjadi di sampingnya.
"KAU GILA HEEJIN AH" teriakan gadis lain membuat suasana hening.
Heejin menggeser posisinya untuk duduk di samping lelaki itu. Ia begitu bersemangat menanggapi gadis yang menyebutnya gila.
"Apa, aku gila?, Segila apa dengan gadis yang menempeli tunanganku seperti lintah"
Ucapan heejin sungguh keterlaluan, untuk ukuran anak SMA yang mengatai temannnya lintah itu sudah sangat kasar. Dan masalah disini bukankah terlalu sepele.
"Ah mereka mulai lagi" seungkwan sebal, setiap Minggu pasangan itu selalu bertengkar. Si wanita selalu marah marah dan si lelaki tampak tidak peduli, sedangakan si selingkuhan selalu berakhir mengenaskan.
"Itulah, mengapa aku tidak mengijinkanmu bicara banyak dengan heejin, Chaeri ssi" min young menambahi
.
Kembali ke heejin
"Kau gila heejin ah, kau obsesif gila. Kau tidak pernah sadar jika tunangan mu tidak pernah nyaman denganmu"
Tubuh heejin menegang, rasanya ia tidak bisa menjawab wanita rendah didepannya. Kemarahan heejin hampir mencapai puncak. Apa tadi katanya 'Tidak nyaman'. Hal gila apa lagi yang wanita ini katakan.
"Kenapa kau berhenti, kau sadar dengan perbuatanmu?, Pukul dan maki aku heejin ah. Semua tidak akan merubah jika Tunanganmu itu lebih suka padaku daripada denganmu"
Gadis yang menantang heejin menyeringai, ia yakin heejin sudah kalah. Terlihat dari tatapannya dan gerik tubuh. Tunangan heejin memang tidak nyaman dengannya.
Takk
"Berhenti" si lelaki membuka suara
"Kau lihat, tunanganmu bahkan lebih membela ku" gadis itu nampak percaya diri
Heejin melirik
"Segitu berharganya jalang ini buatmu?" Ucapnya lirih tapi masih terdengar jelas
Seungkwan dan murid lain ternganga dengan apa yang dikatakan heejin. Ucapan heejin melebihi batas. Biasanya pertengkaran antar pasangan itu tidak pernah mencapai sesuatu yang kasar. Tapi kali ini, nampaknya berbeda.
"BERHENTI JEON HEJIN" bentak lelaki itu.
"BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU DENGAN MULUT KOTORMU" heejin menanggapi dengan air mata yang hampir membanjiri wajahnya.
"Kau jika lebih suka dengan jalang itu dari pada aku, maka ENYAHLAH Jung Jeno ssi"
Jeno membulatkan matanya, mencoba menahan tangan heejin. Tapi tentu saja itu tidak bisa menahan kekuatan hejin. Keinginan hejin ketika marah bahkan lebih menakutkan. Entah kenapa Jeno sampai bisa bertunangan dengan gadis seperti heejin.
"Lupakan, ini tidak akan berhasil" heejin menarik cincin di jarinya
"Joen hejin, kau hanya marah. Jangan bertindak gegabah" Jeno menenangkan, mencoba merendahkan harga dirinya.
"Jung Jeno, lepaskan saja dia" gadis itu menggelayuti lengan Jeno. Menggesek kan kepalanya persis seperti jalang.
Jeno langsung menepis gadis itu. Jeno menyadari hejinnya tidak dalam kondisi baik. Ia salah memantik emosi heejin hari ini.
"Ini cincinmu, berikan pada jalang manapun aku tidak peduli" heejin menaruh cincin itu di meja.
"Joen hejin, kau pasti bercanda"
"Bercanda katamu, bertahun tahun kita bersama kau anggap aku bercanda?" Hejin berdecih
"Hejin ah, kita selesaikan ini di rumah" Jeno berbisik, mencoba menenangkan somi dengan memeluk gadis itu. Biasanya dengan sedikit pelukan jeno, kemarahan joen hejin tunangannya bisa langsung mereda.
"Tidak ada rumah, aku akan minta orang tuaku memutus hubungan ini" hejin melepas dengan kasar.
Tangan Jeno jatuh, dia cukup kaget dengan apa yang didengarnya.
"Joen hejin"
Heejin langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun. Ia butuh sendiri,
Jeno hampir menyusul jika bukan karena tangan Mark menahannya.
"Biarkan dia, dia butuh sendiri"
"Tapi aku.."
"Kau merasa bersalah, lakukan hal lain untuk menebusnya nanti. saat ini biarkan dia sendiri" ceramah mark.
Jeno duduk kembali, wajahnya tampak tidak baik baik saja sekarang. Ia merasa bersalah dengan heejin.
"Semoga saja hejin memaafkanku" ucapnya dalam hati
Yah semoga saja
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.