LOGIN"Halo, namaku Lee Chae ri, aku murid pindahan dari Jeju. Senang berkenalan dengan kalian"
Betapa terkejutnya haechan bahwa murid yang ia lihat di bawah tadi merupakan teman sekelas nya. Ia jadi tidak perlu susah susah bertanya pada chenle sekarang. Lagipula susah sekali menemukan chenle, ia bahkan tidak masuk kelas hari ini padahal haechan melihat mobilnya ada di bawah tadi pagi. Siswa andalan jeguk memang beda.
"Chae ri, bisa pilih tempat duduk di samping min young ne"
Chae ri langsung menuju ke tempat duduknya.
Min young cukup ramah untuk jadi temannya sekarang. "anyeong, aku Lee min young, senang berkenalan denganmu"
Chae ri senang, di hari pertamanya ia sudah punya teman. Tidak seperti kekhawatiran nya kemarin jika siswa jeguk cenderung individual dan berkelompok sesuai dengan koneksi.
"Nanti makan siang denganku ya Chaeri?"
"Tentu min young ssi"
"Tidak usah formal begitu, panggil min young saja"
Seungkwan yang duduk di belakang mereka menimbrung di tengah. "Panggil saja dia kentang"
"Yak cabe" teriak min young
"Mwo, apa kau kentang"
Sampai lemparan penghapus papan menghentikan perdebatan mereka.
"Jika kalian tidak bisa diam, keluar saja" teriak seonsaengnim
Seung Kwan dan min young hanya mengangguk "ne, seonsaengnim"
.
.
.
Bel istirahat telah berbunyi dari 5 menit yang lalu. Anak anak jeguk tak terkecuali seungkwan, min young dan Chae ri berada di kantin sekarang. kantin di jeguk melebihi ekspektasi chaeri. Ini sungguh berbeda dari sekolah lamanya di jeju yang harus berdesak desakan dan makanannya tidak enak. Kantin disini terlihat unik, seperti cafe atau restoran.
"Kau hanya makan itu Chaeri?"
Tanya seungkwan sambil menunjuk kimbab milik chaeri
"Ne, sudah lama aku tidak makan kimbab dan ini buatan ibuku. Jadi aku harus memakannya"
"Wah sayang sekali, padahal lobster hari ini sangat enak"
"Diam kalau kau sedang makan cabe, lihat mulutmu sekarang bocor kemana mana"
"Ah baiklah"
"Aku juga suka kimbab Chaeri, boleh aku minta 1?"
"Tentu" memberikan kimbabnya untuk min young
"Hey kentang, kau kan bisa ambil lagi kenapa kau minta punya Chaeri"
"Diamlah, Chaeri saja mau berbagi kenapa kau yang songong?"
"Tentu, kau itu"
"Kalian ku mohon berhenti" sambil merentangkan tangannya memisah 2 orang yang hobi war itu. "Berhenti, dan makan okay"
"Ah baiklah" ucap mereka serentak
.
", kulihat ada tangga disini, tapi tidak ada yang makan diatas. Apa itu tidak digunakan?"
Min young melirik tangga,
"Oh, di ruangan atas itu milik presiden kami" menunjuk tangga dengan sumpit lalu melanjutkan makannya.
"Pres presiden apa?"
"Kau pernah dengar murid kebanggaan jeguk?"
Chae ri menggeleng,
"Wahh, sebenarnya kau hidup dimana Chaeri ya"
"HEY kentang, beritahu saja. Chaeri kan murid baru wajar jika ia tidak tau" Teriak seungkwan
"Ah ne ne, presiden sekolah kami namanya Zhong chenle"
"Zhong? Sepertinya aku familiar dengan nama itu"
"Tentu saja, ia sering sekali bersliweran di tv tidak mungkin jika orang tidak mengenalnya"
"Lalu apa hubungannya dengan orang yang makan diatas?"
"Hanya orang penting yang tergabung dalam klub C as Klub chaebol milik chenle"
"Mwo?"
"Ini seperti sistem kasta tidak terlihat, ia punya kedudukan tinggi di sekolah kami. Bahkan jika ia mau, ia bisa membeli sekolah ini"
"Wah itu berlebihan sekali kentang" sanggah seungkwan
"Memang begitu, fikirkan cabe jika ia benar membeli sekolah ini. Siap siap ucapkan selamat tinggal dengan lobster bodohmu itu"
"Ah tidak, aku suka makanan sekolah ini"
"Pikiranmu memang hanya makanan saja"
"Lalu siapa saja yang menjadi orang penting chenle itu?" Tanya Chae ri penasaran.
"Seluruh anak chaebol dan anak Kanada beruntung itu namanya siapa kentang aku lupa"
"Mark,. Wah kau parah, setampan dan sebaik itu kau lupa. aku harus mengantarmu ke dokter otak nanti"
Sebentar, beruntung? Kata itu terngiang di telinga Chae ri. Keberuntungan apa yang dimiliki anak Kanada itu sampai bisa masuk ke perkumpulan anak kaya.
"Beruntung?, Apakah seperti memenangkan lotere?" Ucapnya penasaran
"Andai semudah memenangkan lotere?" Min young menggigit sumpitnya "mereka susah sekali digapai Chae ri ssi"
"Sulit bagaimana?"
"Mark berbakat, dia masuk ke banyak ekstrakulikuler. Dia populer, tampan, dan pintar. Dia juga baik. Jika kau punya kesulitan dalam belajar, ia pasti akan membantumu. Meskipun ia tidak kaya, tapi ia punya nilai + luar biasa Chaeri ya"
"Hanya harus jadi baik dan luar biasa untuk masuk ke club mereka?" Tanya Chaeri
"Kau ingin bergabung?, Bukankah lebih mudah jadi siswa biasa?" Seungkwan menimpali tanpa melepas fokus pada lobsternya.
"Kau benar cabe, benar benar panutan ku" min young menunjukkan jempolnya.
"Wae, bukankah bagus jadi populer?"
"Bagus, mereka dapat banyak perhatian, punya jaringan, dan koneksi luar biasa. Tapi sangat susah bagi orang seperti kita" ucap
Diluar ekspektasi Chae ri. Anak anak chaebol itu memang beda. Jika ia bisa masuk, masa depannya pasti akan lancar. Ia tidak akan hidup susah lagi.
"Apa maksudnya seungkwan ssi"
"Mereka punya tugas pribadi, seperti kegiatan sosial, kegiatan olahraga dan kegiatan ekstra" sela minyoung
"Benarkah?, Apa anak beruntung dan anggota seperti dia melakukannya" melebarkan matanya dan semakin penasaran.
"Untuk Mark tidak tau, tapi untuk yang lain iya. Tapi pengaruh anggota tidak terlalu menonjol dan mereka juga tidak mudah didekati, yang paling sering terlihat di media hanya chenle" jelas min young
"Dan jangan lupakan pilar Kim bersaudara itu" tambah seungkwan
"Oh" ucap Chae ri singkat. Dibalik kata ini ia benar benar merasa penasaran dan semakin ingin tau bagaimana tentang club c itu.
"Wahh daebag, kau orang pertama yang hanya bilang oh"
"Memang mereka tidak menarik, kau saja yang tergila gila dengan anak Kanada itu" ucap seungkwan
"Kau bahkan tidak tau sebaik apa dia cabe"
"Memangnya kenapa dengan anak Kanada, apa namanya memang begitu"
"Namanya Mark Lee, dia tampan, baik dan tidak seperti cabe merah ini"
"Mwo, kau mulai lagi kentang"
Ekor mata min young menangkap pemandangan menarik. Manusia tampan yang menjadi pembicaraan mereka. Ia fokus terhadap objek didekat jendela.
"tak kusangka ia malah makan dibawah sementara teman kayanya itu makan di atas. Aku akan mendekatinya" semangat minyoung menenteng makan siangnya.
Tapi belum sempat min young beranjak, tempat duduk yang ia inginkan sudah dijatuhi bokong jelek milik anak Kim itu.
Chaeri menoleh dan melihat dua orang yang makan di samping jendela kantin. Terlihat biasa saja, ah okay mereka memang tampan melebihi standar. Satunya mengganggu pria asing di sampingnya. Dan pria asing itu hanya melanjutkan makan tanpa terganggu dengan pria lainnya.
"Boleh aku makan disini, tidak ada lagi kursi yang kosong sekarang"
Suara murid laki laki menginstruksi Chae ri dan temannya. Seungkwan bergeser mempersilahkan dia duduk. Sedikit terkejut juga karena anak yang di depannya mau makan bersama murid lainnya. Seungkwan dan min young melihat satu sama lain. Seketika murid lain juga mengikuti arah pandang yang sama. Sosok manusia bernama Park Renjun mau makan bersama murid lain. Biasanya seorang park Renjun akan memilih makan sendiri di tempat khusus untuknya. Tapi tidak dengan Renjun, alasan tidak ada tempat duduk bukanlah alasan yang bisa mereka terima. Karena Renjun punya tempat duduk khusus di atas, ia tidak perlu menenteng alat makannya sendiri seperti itu.
(Mon maap TM renjun simbol vlive keliatan 🙊)
"Apa kalian merasa tidak nyaman?" Renjun merasa tidak enak. Suasana mendadak berubah saat ia duduk di samping seungkwan.
"Ah tentu tidak, kami hanya heran kau mau makan dengan kami Renjun ssi" ucap seungkwan blak blakan
Renjun hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Ia hanya ingin makan sekarang. Terserah dengan tatapan siswa lain.
Min young memukul seungkwan,
"Ah Wae?"
.
Ekor mata haechan menangkap pemandangan aneh. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Park Renjun?" Haechan memanggil dengan tidak sopannya.
Tapi Renjun tetap saja menikmati makan siang tanpa perlu repot-repot membalas sapaan tuan muda Kim itu.
Merasa panggilannya tidak terbalas
"Woah anak itu, makin lama telinganya makin tertutup"
"Berhenti dan makan makananmu haechanie" ucap Mark dengan tatapan garang.
"Ah ne" haechan menyerah. Sambil bersungut sungut dia bergumam sendiri "kau sangat jahat, coba saja ada kakak ku. Aku juga tak ingin makan denganmu"
Mark tetap melanjutkan kegiatannya. Kata kata haechan ibarat angin lalu, haechan memang sering begitu. Marah seperti wanita yang datang bulan. Bergumam sendiri, merasa paling tersakiti dan bersikap layaknya korban. Padahal dirinya sendiri yang tidak mau diam.
Lalu terasa tepukan di pundaknya sekarang. Haechan tersenyum "aku tau kau..."
"Bisa minggir sebentar, aku ingin makan disini"
"Mwo, kau tidak lihat aku sedang makan juga sekarang?"
Yang diajak bicara melirik piring haechan yang sudah bersih tak bernoda.
"Come on dude, piringmu kosong. Bergeserlah sedikit"
"Makan diatas sana" teriak haechan
Menggeleng "andwe, aku akan tetap makan disini" ngotot
"Di sampingku saja, ini kosong" menepuk kursi di sampingnya.
"Tidak, terlalu jauh dari Mark Hyung"
Haechan tidak habis fikir dan fikirannya terasa sangat mubazir. Jika bisa mulutnya pasti sudah berbusa menanggapi orang di depannya. Sudah diberi tempat duduk tapi minta tempat duduknya. Benar benar mencari ribut.
Menghembuskan nafas panjang "daripada dengan Mark Hyung, bergabunglah dengan saudaramu sana"
"Aku tidak bersaudara dengan seungkwan apalagi min young" jawabnya polos
Haechan malas bicara, lebih baik dia menyingkir. Bicara pada orang didepannya sama saja bicara dengan orang tuli. Dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi tetap tidak bisa mengerti.
"Duduklah Park Ji-Sung" menggeser kursi kebesarannya dengan sangat amat berad hati. Ingin rasanya haechan melempar kursi ke muka Ji-Sung. Anggap saja haechan jahat. Jika bukan karena wajahnya terkenal dan ia tampan mungkin jisung akan dapat masalah sekarang.
"Gomawo haechanie hyung" Ji-Sung tersenyum senang, ia tau akan selalu menang. Haechan tidak suka berdebat dengannya. Ada gunanya juga pura pura bodoh.
"Jisungie, kurasa ibumu benci sekali pada paman lay sewaktu mengandung. Kau bisa sampai lemot begini"
Ji-Sung tetap melanjutkan makannya, tanpa terganggu ucapan haechan. Lebih baik pura pura bodoh, dan mengiyakan. Karena ada untungnya juga, haechan selalu mengalah jika ia mendadak telmi.
"Hmmm, mungkin"
Detik itu juga haechan merasa menyesal bicara dengan Ji-Sung. Ingatkan haechan jika Ji-Sung itu menyebalkan agar haechan tidak mengajak, menyapa dan menuruti kata kata Ji-Sung. Tapi meskipun ingat haechan tetap akan melakukannya, salahkan dirinya sendiri yang terlalu setia dan mau saja disuruh ini itu. Ah pray for haechan.
.
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.