Masuk"Ini rumah yang kau minta nak, ayah menambahkan beberapa renovasi agar nyaman untukmu"
Mark melongo melihat rumah tetangga yang sudah dibeli ayahnya sekarang.
"Are you seriusly Daddy? This is mine?"
"Tentu, kau bilang menginginkannya. Jadi ayah hanya bisa membelinya untukmu. Ayah minta maaf sebelumnya tidak bisa membeli kostum iron man paman park, paman park bilang kostumnya untuk anaknya".
Ayah menyesal tidak bisa mendapatkan nya untukmu.
Mark tersenyum senang, walaupun sedikit kecewa karena ayahnya tidak bisa mendapat kostum iron man yang ia damba"kan itu.
"Tidak masalah ayah, ini lebih baik. Aku suka hadiah ayah" Mark tersenyum senang pada ayahnya. Ia puas dengan hadiahnya saat ini
"Ah, syukurlah. Ayah senang mendengarnya"
Masih terlintas ingatan sehun 2 Minggu lalu. Saat Anson meminta kostum iron man milik Park Chan yeol. Tidak mau yang lain dan hanya ingin bekas pakai Park Chan Yeol. Sehun sampai frustasi membujuk Chanyeol agar menjual kostum iron man miliknya.
Dibujuk dengan cara apapun park Chanyeol tidak akan menjual kostum iron man miliknya.
Sampai Chanyeol muak dengan wajah Sehun. Chanyeol tetap tidak mau menjual kostum iron mannya. Bukan karena ia tidak suka dengan Sehun, kostum iron man nya itu telah ia berikan pada anaknya. Tidak mungkin sebagai ayah ia mengambil kembali kostumnya. Mau di taruh dimana harga diri Chanyeol.
Membayangkan ibu anaknya pasti akan mengamuk dan mengusirnya hanya karena kostum konyol lebih mengerikan daripada harus bertemu hantu studio Agensinya Minggu lalu.
"Jangan kesini lagi sehuna, sudah ku katakan dari seminggu yang lalu aku tidak akan menjual kostum konyol itu padamu"
"Kenapa? Apa harga yang kutawarkan kurang hyung. Tolonglah sekali lagi, anak ku sangat mengidolakan mu dan kostum mu itu"
"Aku mengerti, tapi tidak bisakah kau menolaknya. Tidak semua keinginan anakmu harus dituruti sehuna"
"Tapi Aku sudah berjanji hyung, tidak mungkin aku membatalkan janji pada anakku sendiri"
Chanyeol benar benar frustasi pada Sehun.
"Kenapa kau tidak membelinya saja, designer nya masih hidup. Dan masih kuat untuk membuat kostum konyol itu. Kau Han Sehun, pasti mudah memintanya membuat lagi. Tidak perlu mengejarku begini"
"Jika Anson mau, sudah ku belikan beserta designer nya sekalian Hyung. Tapi dia maunya punyamu"
"Tapi aku bilang tidak bisa, bilang pada anakmu tidak bisa" Chanyeol geram lama lama dengan lelaki Han itu.
Terbesit ide lain untuk mengusir Sehun dari studionya
"Begini saja, tawarkan barang lain pada anakmu"
"Barang lain" Sehun mulai berfikir
"Pasti ada sesuatu yang lebih di inginkan Anson kecuali kostum itu. Pikirkanlah, sebagai ayahnya tentunya kau tau apa yang diinginkannya bukan?"
"Ada, tapi tidak mungkin kudapatkan. Lisa bisa menceraikan ku Hyung"
"Mwo, hal ekstrem apa yang Anson inginkan sampai kau bisa diceraikan?"
"Hmm sebenarnya, Ia meminta rumah sederhana tetangga kami" jawab Sehun dengan polosnya
"Se sederhana katamu?"
Chanyeol membulatkan matanya, sampai benar benar bulat. Rumah tetangga Sehun itu milik Kepala kepolisian seoul, walaupun lama tidak dihuni. Harga nya masih tetap fantastis untuk dibeli. Design nya memang terlihat sederhana tapi tetap saja itu mewah, dimana tempat nya saja di apgujeong.
Sehun mengangguk pelan "awalnya kudengar Anson meminta rumah itu pada Lisa, tapi tanggapan Lisa sungguh mengerikan hyung. Lisa bilang ia akan mencoret Anson dari kartu keluarga jika meminta rumah itu"
"Mwo, apa itu mungkin? Ingat anak kalian hanya 1, ingat, 1 sehuna. Jika kalian coret, ah aku tidak bisa membayangkan masa tua kalian sesepi apa nanti"
"Lagipula Untuk apa anak SMA meminta rumah?" Chanyeol memijit pelipisnya pusing memikirkan anak Sehun. Chan kira hanya anak anaknya yang membuat kepala pecah, ternyata 1 anak seperti punya sehun bisa membuatnya tua lebih cepat dibanding anak"nya.
"Anson bilang rumah itu kelihatan segar, udaranya bagus, tidak seperti rumahnya yang harus berbagi udara dengan banyak orang"
Chanyeol melongo sampai rasanya rahangnya bisa lepas dari mulutnya sekarang. Chanyeol menghirup udara sebanyak banyaknya dan menghembuskannya dengan cepat. Mengelus dadanya agar tetap sabar dan tidak menyumpahi anak temannya ini.
"Kelakuannya ini sangat menguatkan jika dia benar-benar anakmu"
"Sudahlah Hyung, daripada menghujatku lebih baik bantu aku mencari solusi" ucap Sehun mendengus kesal
"Kukira ia hanya mewarisi wajahmu yang penuh dosa itu, tak kukira sifat burukmu menurun padanya"
"Hyung" teriak Sehun
"Baiklah, coba saja bicarakan dengan Lisa. Atau langsung beli saja rumah tetanggamu itu. Lisa pasti akan marah sebentar lalu berbaikan denganmu"
"Hmm ta.." ucapan Sehun terputus
"Soal dicoret dari kartu keluarga, kau bisa memperbaruinya lagi. Tidak susah, jika perlu hilangkan sekalian nama mu itu.
"Ah Hyunngg"
Sehun kemudian kembali, dan melakukan saran Chanyeol. Tidak terlalu buruk juga. Anson senang pikirannya pun tenang. Ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
.
.
.
.
.
Lingkaran hitam di mata Sehun sudah menjelaskan segalanya. Lisa tidak mau berdebat, Sehun terlihat lelah dan Lisa tidak ingin bertanya alasannya. Pasti karena anaknya meminta sesuatu yang aneh". Anaknya memang luar biasa dalam meminta pada ayahnya ini. Mark tau ayahnya akan memberikan apapun yang Mark minta, dan Sehun akan dengan mudah memberikan nya. Jika tidak bisa, Sehun akan membelikan sesuatu yang 'lebih baik'. Dan disinilah Sehun sekarang, dihakimi istrinya sendiri karena menjadi budak anaknya.
Menyentuh pipi Sehun, mengusap lingkar mata nya. "Tidur sehunie"
"Tapi ini belum selesai el?"
"Aku akan menggantikanmu, tenang saja itu juga tanggung jawabku" Lisa tersenyum mengusap rambut Sehun .
"Tidurlah"
"Tidak bisakah kita begini, aku ingin tidur begini" Sehun merubah posisi tidur di pangkuan Lisa
Lisa mengangguk, lalu mengusap kepala suaminya sampai tertidur. Beberapa menit kemudian Dengkuran halus dan suara nafas yang beraturan milik lelaki Han itu menenangkan hatinya.
"Dasar bodoh" gumamnya pelan, sambil mengelus rambut Sehun
Suaminya benar benar sudah lelah. Lingkaran hitam di matanya jadi bukti perjuangan Sehun menyenangkan anaknya itu.
Lisa bangga dan sangat terharu bagaimana Sehun menyayangi anaknya. Lisa kira Sehun akan jadi ayah seperti yang lain. Lisa ingat bagaimana ayahnya terlalu sibuk mengurus pekerjaannya dan ibunya sibuk mengurusi jabatannya sebagai jaksa. Semua kebutuhan nya disediakan sekertaris kepercayaan mereka, bahkan saat Lisa naik jabatan pun ayahnya mengadakan pesta besar untuknya. Tapi, tak ada orang tua di dalamnya. Mereka hanya datang sewaktu penyambutan dan Lisa harus menutup sendiri acara tersebut.
Bertemu dengan Sehun merupakan anugerah membahagiakan baginya. Sehun sama sepertinya, menjadi anak tunggal yang menjalankan tugas berat sebagai pewaris.
Lisa ingat betapa tidak bahagianya Sehun saat itu, buruknya kehidupan Sehun waktu itu dan bagaimana ia mengacaukan semuanya.
Mengingat hidupnya dulu, Lisa tidak mau anaknya nanti juga sama seperti dirinya. Sehun sepakat saat melakukan pernikahan jika anaknya tidak akan dibebani tugas menjadi pewaris. Meskipun orang tua dari kedua belah pihak meminta.
Lisa lebih baik menyumbangkan hartanya untuk kemanusiaan daripada harus menyumbangkan anaknya demi kelangsungan hidup perusahaan.
Karyawan di perusahaan tidak akan di PHK, karena Lisa telah memilih orang" yang kompeten untuk membantunya nanti.
.
Ehem, Hay mom? Mark menyapa ibunya yang sedang terlihat 'mesra' pada ayahnya itu. Mark iri terhadap ayahnya sendiri.
Lisa tersenyum, "Anson"
Mark menghampiri Lisa dan memeluk ibunya itu.
Lisa membalas pelukan anaknya, sampai ia lupa jika Sehun masih ada di pahanya. Tergencet dengan kehadiran Mark.
"Ssstttt, ayahmu tidur. Bisa ambilkan ibu bantal di belakangmu? Paha ibu hampir mati rasa" sambil menunjuk banyal yang ada di belakang Mark.
Lalu mengalihkan kepala Sehun dengan bantal nya itu.
"Biarkan ayahmu tidur, ibu siapkan makan dan kau cepat mandi sayang. Bau keringatmu bisa membuat ibu pusing nak" ucap Lisa sambil meraih tas anaknya itu
"Okey mom" semangat Mark segera menuju kamarnya.
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.