LOGIN"Ayolah dongie ya."
"Andwe, aku tidak mau appa"
Taehyung mencoba menarik ujung selimut anaknya. Sudah seharian anaknya itu mengurung diri di kamar, dibalik selimut nya dan tidak mau bicara dengannya.
"Dongie, lihat appa"
"Andwe, appa keluar saja. Aku tidak mau bicara dengan appa" mengeratkan selimut dan menyembunyikan kepalanya
"Lihat appamu nak"
Haechan membuka selimutnya
"Ah Wae?"
"Dongie ya, dengarkan penjelasan appa?"
"Andwe, appa pasti bilang sekertaris itu tidak sengaja kan? Selalu begitu"
"Memang seperti itu nak, ia hanya membantu appa"
"Cari sekertaris lain appa, aku tidak suka. Tidak suka. Pokoknya tidak suka" kekeuh haechan
Taehyun mengusap wajahnya. Anaknya yang satu ini memang beda. Sifat haechan terlalu posesif dan negatif thinking terhadap orang lain. Semenjak kegiatannya menonton drama, ia jadi semakin posesip terhadap ayahnya itu. Ia takut ayahnya akan berpaling dari ibunya seperti pemain utama yang ia lihat di drama drama umumnya.
Wah demi apapun, taehyun tidak akan melakukan nya. Ia masih waras dan punya keinginan hidup yang besar. Menyelingkuhi ibu haechan sama saja mendaftarkan diri menuju kematian. Kim Yiso istrinya lebih menyeramkan dari malaikat pencabut nyawa saat marah. Pernah sesekali istrinya marah, hanya karena ia telat datang ke ulang tahun Taeyong. Padahal hanya sedikit 'Telat' tapi hukumannya luar biasa berat baginya. Ibu Taechan itu tidak menganggapnya sama sekali setelah acara ulang tahun taeyong selesai.
Tidak mau didekati
"Bisa kau tidur di kamar lain, suara nafasmu itu mengganggu telingaku" ucapnya sarkas
Jika taehyun tidak mau beranjak dan tetap memaksa tidur di samping istrinya
"Kamar ini panas sekali, perlu kutambahkan AC dan atau kubuat jadi kulkas untuk kamar mayat saja"
Taehyun tau itu menyindir dirinya, ia tetap saja tak bergeming. Lalu yiso dengan kasarnya, keluar dari kamar utama dan tidur bersama dua anaknya.
Tidak mau makan dengannya
"Aku selesai, ahjuma buang semua makanan di meja"
Bahkan membalas pesannya dengan mengerikan
"Kau siapa? Suamiku sudah mati. Jika ada kepeluan dengannya bisa datang ke akhiratnya sana"
Taehyun bergidik ngeri mengingatnya. 1 Minggu taehyun terus didiamkan sampai benar-benar menyerah. Ia menurunkan banyak harga diri dan saldo rekeningnya untuk yiso. Merayu perempuan tidak pernah sesusah ini, tapi ibu Taechan benar benar susah dirayu, Dibujuk, dimintai maaf.
Sampai akhirnya amarah jiso reda, karena taeyong. Taeyong merayu ibunya, tidak sampai setengah jam taehyun sudah bisa disayang kembali. Sudah bisa dianggap 'Ada' oleh jiso.
Taehyun bahkan sangat berterima kasih pada anak sulungnya itu.
"Begini dong"ie, dia itu...
Ucapannya terputus
"Jika ingin ceramah, pergi saja ke gereja. Aku tidak perlu"
"Tapi dia benar benar butuh pekerjaan ini dongie, ayah hanya ingin membantunya"
"Jika ingin membantu, lebih baik sumbangkan uang ayah ke panti sosial atau kirim sekalian orang itu ke panti sosial. Tidak perlu membawa bawa tikus ke perusahaan apalagi pulang ke rumah. Aku tidak Sudi udaraku tercemar karena orang itu, aku tidak Sudi appa"
Taehyun mendengus kesal, anaknya ini benar-benar salinan ibunya. Persis tidak bergeser sama sekali.
Suara pintu sedikit terbuka, terlihat wajah wanita yang cantik. Dan tentu saja itu istrinya.
"Dongie, Tae Tae ayo makan" ucapnya memanggil (Heachan, Taeyong, Taehyung)
Wanita itu mengernyitkan dahinya, melihat taehyun yang sudah pusing di samping ranjang anaknya. Ia menatap taehyung. Menggunakan bahasa tubuhnya. Menaikkan alisnya bertanya "ada apa?"
Taehyun membalas dengan bahasa tubuhnya jika haechan marah padanya. Dia meminta bantuan.
Yiso mengangguk tanda mengerti
Ia menghampiri haechan
"Haechanie, Kim dong hyuck, dong dong eomma"
Haechan membuang muka. Ia berusaha jual mahal di hadapan ibunya.
"Omo ommo, sejak kapan anak ku pintar jual mahal begini hm?"
Haechan masih diam
"Apa karena sekertaris lagi?" Yiso membuka masalah yang sensitif ini.
Haechan mengangguk
"Wah bagaimana ini, ayahmu tidak akan memecat sekertaris barunya dongie"
Haechan menyipitkan matanya, dan melirik sinis ayahnya
"Mwo?"
"Jika appa memecat sekertaris nya lagi, bagaimana pekerjaan appa nanti nak?"
"Appa bisa mencari sekertaris baru"
"No no no" sambil menggerakan jari telunjuknya ke kiri dan kanan.
"Wae eomma, kenapa tidak bisa?"
"Mencari sekertaris tidak semudah itu nak, harus ada kualifikasi yang jelas dan mereka harus pintar serta yang terpenting sabar.
Jika ayahmu memecat sekertaris nya lagi HRD akan pusing mencari sekertaris lagi untuknya. Kasian mereka nak"
"Kasian? Itu tugas mereka eomma, mereka bekerja tidak untuk makan gaji buta bukan?"
"Kau pintar nak, tapi selain itu bukankah mereka juga punya tugas lain? Seperti haechan eomma, tidak hanya jadi murid tapi juga anak eomma. Tidak kah itu sulit?
"Tidak sulit sama sekali eomma, aku hanya perlu duduk dan minta diberi makan di rumah. Jadi itu tidak sulit"
yiso kehabisan kata kata membujuk anaknya. Ia lupa bagaimana kebiasaan haechan di rumah. Anaknya tidak pernah susah. Jadi wajar jika pemikirannya terlalu sederhana
"Haechan bisa meminta makan pada eomma, tapi sekertaris appa. Mereka sudah besar dan tidak mungkin meminta minta. Mereka butuh pekerjaan dan ayahmu menyediakan. Ini kerja sama yang menguntungkan nak.
"Ah tapi aku tetap tidak setuju"
"Sejak kapan anak ku jadi jahat, membiarkan orang lain meminta minta dan merubah hidup orang menjadi mengenaskan?"
"Ah eomma, dia tak akan hidup mengenaskan"
"Pikirkan haechan, tidak semua orang terlahir seperti anak eomma. Mereka bisa lebih susah dan adapula yang terlahir sendirian"
Haechan memikirkannya, dan otaknya mulai berputar. Nalarnya mulai bekerja. Keegoisannya mendadak turun. Mengingat menyedihkannya para gelandangan, haechan tidak mau menambah populasi sampah di negeri ini. Jadi hatinya mulai melunak
"Baiklah, aku menyerah. Aku tidak minta appa ganti sekertaris lagi"
Taehyun terkejut dan memeluk putranya "terima kasih sudah mengerti nak"
"Tapi, aku tetap minta sesuatu"
"Katakan saja dongie, ayah akan berusaha mendapatkannya untukmu" ucap taehyung sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Aku minta mobil seperti chenle?"
Saat itu juga taehyun menyesal sebesar besarnya. Dia merutuki dirinya sendiri sekarang.
.
.
.
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.