LOGIN1 bulan berlalu, aku sudah bisa beradaptasi di tempat kerjaku. Begitu juga hubunganku dengan willyam yang semakin hari semakin intens.
Hari itu tepatnya saat istirahat willyam menghampiriku dikantin. Dia membawa piring makanannya dan duduk disampingku.
"Hari sabtu aku ada meeting di bandung 3 hari kamu ikut aku ya?."
"Sama bu indah kan?." Bu indah itu sekertarisnya willyam.
"Yaa."
"Kita berangkat jam berapa ya pak."
"Sorean aja."
Agak aneh sih, pemberitahuan meeting kok mendadak.
Sabtu sore
Aku sudah ada di depan kantor. Keadaan memang sepi karena hari sabtu minggu kantor libur. 15 menit menunggu akhirnya pa willyam datang.
"Ayo naik."
"Loh kok bapa bawa mobil sendiri? Bu indah mana?."
"Udah jangan banyak tanya cepet naik." Aku menurut saja. Aku sedikit tercengang melihat penampilan willyam dia hanya mengenakan celana jeans dan kaos putih. Bahannya agak tipis sehingga aku bisa melihat dadanya yang bidang, sangat beda dengan penampilannya saat dikantor, membuatku sedikit gerogi saja. Dan lagi dia menyuruhku duduk didepan.
"Ohh iya pa nanti meetingnya jam berapa ya? Bu indah udah berangkat duluan ya pa?"
"Kalau diluar jam kerja panggil aja willyam. Jangan panggil pa kesannya aku lebih tua banget."
"Ohh iya pa, ehh willyam."
"Maaf ya sebenarnya kita tidak ada meeting, aku cuma mau jalan jalan aja, kamu ngga keberatan kan buat nemenin aku?."
"Eemm.. enggak ko pa, tapi kenapa ngga bilang dari awal?."
"Aku takutnya kamu ngga mau, jadi aku bikin alasan deh." Ucapnya diringi senyuman giginya putih tersusun rapih.
Dikantor, willyam orangnya cuek, dingin, menakutkan kaya zombie. Tapi setelah kurang lebih 1 jam berbincang dengannya aku merasa beda dia asik nyambung diajak bicara. Membuatku sedikit nyaman. Entah perasaan apa ini. Pasalnya setelah berpisah dengan dodit aku tidak pernah dekat dengan siapapun.
Dodit adalah lelaki pertama yang dekat denganku. Aku mengenalnya sejak SMA sampai akhirnya kisah kita melangkah ke pelaminan sayangnya hubungan pernikahan kita tidak berjalan lama. Dia kekasih terbaik selalu membuatku bahagia.
Dan sekarang aku merasakan perasaan yang sama tapi tidak dengan dodit. Melainkan willyam. Apakah aku salah?.
Sepertinya aku membutuhkan sosok yang dekat, sosok yang mampu memberiku ketenangan. Dan itu aku temukan pada diri willyam.
Hari pertama di bandung kita pergi kepuncak, willyam menyewa villa yang cukup besar.
Saat itu malam minggu pukul 09 kita kembali ke villa. Aku langsung menuju ke kamarku membersihkan diri. Setelah itu kurebahkan tubuhku dikasur. Rasanya bahagia, sesaat bebanku tentang ibu dan dodit hilang.
Hampir saja aku terlelap aku dikagetkan suara ketukan pintu kamar. Kulihat masih pukul 11 kurang
"Aini?. Bisa kamu keluar sebentar?." Aku keluar menemui willyam.
Ku buka pintu kamar, dan aku sedikit terkejut, suasana yang indah. Kulihat ada meja makan kecil didepan ruang tv dihiasi lilin kecil dimana mana. Aku sedikit bingung apa arti semua ini?.
"Aini mari duduk disini." Willyam menepuk pundakku dan menggandeng tanganku menuju meja kecil itu.
Dia membuka sebuah kotak berwarna merah. Dia mengeluarkan sebuah kalung perak berhiaskan berlian. Dan memasangnya dileherku. Aku masih tercengang antara percaya dan tidak percaya.
Dia duduk kembali dan memegang tanganku yang masih mematung.
"Aini aku menyukaimu?. Mau kah kamu menjadi kekasihku?."
"A.. aku.. maaf aku.. "
"Ngga usah dijawab sekarang."
"Tapi aku ini sudah pernah menikah."
"Itu tidak masalah aini, selama aku bahagia disampingmu apapun kekuranganmu aku terima."
Bibirku kaku tak bisa berkata apa apa. Willaym menuang minuman dan memberinya padaku.
Saat aku hendak meminumnya aku sadar ini minuman yang sama dengan minuman yang memabukan saat aku dibar. Tapi tak apalah cuma sedikit kalau ditolak tak enak juga dengan willyam yang sudah menyiapkan semuanya.
Kita berbicara kesana kemari desertai tawa tawa kecil.
Sampai akhirnya kepalaku pusing, mungkin karena terlalu banyak minum. Sesaat kemudian pandanganku gelap tubuhku ambruk.
Setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi.
Keesokan harinya
Kubuka mataku perlahan dan betapa kagetnya aku. Tepat disampingku ada lelaki tertidur dangat pulas. Willyam tidur dengan satu tangan memeluk pinggangku. Kubuka selimut tebal yang menutupi tubuhku. Oh my good apa yang telah terjadi? Aku sama sekali tidak memakai baju. Seketika mataku dibasahi bulir putih. Ku ambil bajuku yang berserakan dibawah tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi, kunyalakan keran air. Entah apa yang membuatku menangis.
Sekilas aku teringat dodit suami sahku, aku merasa bersalah. Dia yang berstatus suami saja belum pernah melakukan hal seperti ini. Bagaimana aku bisa melakukannya dengan orang lain.
Apakah semalam aku melakukannya atas dasar suka sama suka? Aku sama sekali tidak mengingat apapun. Dadaku terasa sesak.
"Aini kamu ngga papa?." Tanya dodit seraya mengetuk pintu, aku masih terus menangis.
Hampir satu jam aku berada dikamar mandi. Setelah berganti pakaian, aku keluar villa berjalan menuju kebun teh. Kakiku terus melangkah dengan pandangan kosong.
Sampai langkahku terhenti disebuah pohon rindang, aku duduk disana dan kembali terisak.
Tiba tiba kepalaku pusing, Mungkin karena terlalu lama menangis aku sampai tak sadarkan diri.
Kubuka mataku ternyata aku sudah ada di villa. Kulihat willyam duduk ditepi ranjang sambil memegang tanganku.
Apakah dia benar benar tulus mencintaiku?. Kalau memang tulus kenapa sampai terjadi peristiwa semalam?.
"Aini kamu sudah bangun?. Kamu kemana aja sih, aku cariin kamu ngga ketemu ketemu... meskipun aku baru mengenalmu aku sangat meyangimu aku merasa nyaman ada didekat kamu."
"Dan aku minta maaf atas kejadian semalam, seandainya terjadi apa apa aku akan bertanggungjawab."
"Tak usah minta maaf... aku ingin pulang sekarang."
"Iya kita pulang sekarang."
Tepat pukul 10 malam kita pulang ke jakarta.
Sesampainya dirumah aku langsung tidur, kumatikan ponselku.
ke esokan harinya.
aku bangun tepat pukul 10, padahal ini hari senin sengaja saja hari ini aku bolos kerja. Rasanya badanku sangat lelah.
kuambil remot tivi Kutekan tombol merah, duduk disofa merah sambil mengunyah cemilan rasa jagung, rasanya santuy banget.
kuniatkan nanti siang untuk menjenguk ibu. Saat sedang asik nonton film percintaan anak muda. tiba tiba kudengar suara ketukan pintu. aku kira itu gina ternyata salah, saat ku buka pintu ternyata dia adalah willyam.
Dia datang dengan bungkusan plastik hitam besar. sebuah boneka besar berwarna pink dia serahkan padaku. aku merasa senang, tapi rasa itu hanya sebentar berganti dengan rasa kecewa yang amat dalam.
Saat willyam disini aku lebih banyak diam, aku hanya menjawab seperlunya saja.
"kamu belum bisa memaafkan aku atas kejadian itu ya, katakan aku harus bagaimana?."
"aku tak tau, aku hanya ingin sendiri."
"ya sudah. kalau menyendiri bisa membuatmu lebih tenang, aku kembali ke kantor, kalau ada apa apa hubungi aku, aku siap menerima resiko apapun ay." dia mengecup keningku sesaat tubuhku menjadi kaku, entah apayang dia inginkan. aku sangat tidak mengerti dengan tingkah willyam. setelah kepergian willyam kuputuskan untuk menjenguk ibu.
pukul 1 siang aku menemui ibu. saat aku baru sampai kulihat dia sedang menangis, aku segera memeluknya. Beberapa menit kita berpelukan air mataku pun ikut menangis.
aku merasa aku adalah orang paling bodoh didunia, bagaimana bisa ibu menjadi korban tak senonoh dari suamiku sendiri.
ibuku menjadi korban cintaku. kisah cinta yang mungkin tidak ada indahnya. kepalaku sangat pusing beban yang aku pikul rasanya tidak sebanding dengan kekuatan yang aku punya, terkadang aku merasa Tuhan tidak adil. Kenapa semuanya terjadi padaku, rasanya aku ingin mati saat ini juga.
Pelan pelan kulepas pelukan ibu kutatap wajahnya, pandangan ibu sangat kosong, badannya sangat kurus.
"dodiiit... dodit..."
aku tersentak saat ibu mengucapkan nama itu, wajahnya sangat sendu, seperti seorang ibu yang telah lama berpisah dengan sang anak. Bukankah dodit pelakunya tapi kanapa ibu tidak marah saat mengucapkan namanya. Ohh ibu sebenarnya apa yang terjadi? .
"aku ingin bertemu dodit. aku ingin bertemu..." kembali lagi ibu menangis setelah itu tertawa sangat keras, tubuhnya berontak, segera kupanggilkan suster.
beberapa saat kemudian suster berhasil menenangkan ibu, sekarang dia terlelap tidur. kukecup keningnya kutitipkan ibu pada seorang suster.
Penasaran apa yang menimpa ibu dulu. aku ingin menemui dodit. ini adalah kali pertama aku menemuinya, aku ingin menanyakan langsung apa yang terjadi. sekarang aku lebih tegar untuk menemuinya mungkin karena sudah tidak ada lagi cinta dihatiku.
kulajukan mobil menuju tempat dodit ditahan, sesampainya disana aku langsung menemuinya. kebetulan kata seorang polisi dodit sedang dijenguk seseorang.
aku diantar kesebuah ruangan hanya ada 2 kursi yang dipisahkan meja kecil. kulihat dodit sedang duduk dengan tangan menopang kepalanya. ada seoarang perempuan berhijab sedang memegang tangannya sambil mengelus rambutnya. dia bukan umi bukan juga mba sarah. wajah dan perwakannya terlihat asing. tak lama kemudian mereka berdiri lalu berpeluakan sangat lama.
hatiku sakit. aku menangis terisak tak karuan. aku segera berlari masuk ke mobil dan menumpahkan semua air mataku sampai aku merasa tenang.
kulajukan mobil kesebuah hotel ternama, chek in lalu memasuki kamar yang cukup luas. kuambil ponsel dan kukirim pesan di sebuah aplikasi hijau. ku kirim pesan pada willyam untuk menemuiku disini. aku butuh teman bicara, aku butuh bahu untuk bersanndar.
1 jam kemudian pintu kamar tebuka willyam datang dengan membawa plastik bertuliskan in**mart, kulihat ada banyak cemilan, dia meletakannya dimeja. lalu dia mendekatiku, memelukku dan membelai halus rambutku
"kamu kenapa ai.."
"aku butuh temen bicara."
"katakan apa yang ingin kau katakan. jika ingin menangis menangislah."
lama aku menangis dipelukannya sampai aku tertidur.
malamnya ku lihat pukul 9 malam, ada willyam duduk disofa sebelah ranjang.
"aku minta maaf, kemarin sudah mengabaikanmu."
malam itu pun terjadi lagi, hal yang membuatku senang atau sedih aku tak tahu. bagaimana nantinya, bagaimana resikonya tak aku hiraukan kujalani semuanya seperti air mengalir, sekarang aku hanya memikirkan diriku memikirkan keseenangannku kuhilangkan semua beban didada fikiran kusutku sudah tak ada.
1 jam sudah berlalu tapi aku masih dikamar ini. Willyam teman sekaligus tempat mencurahkan segala kéresahan hati ini sudah lebih dulu meninggalkanku. Tentunya dia pergi dengan senang hati setelah hampir semalaman memadu kasih terlarang denganku.
Sesaat lamunanku dibuyarkan dering telfon ku. Rupanya ada 3 panggilan tak terjawab dari pa firman . Dia adalah pengacara untuk kasus ibuku.
Saatnya kusudahi lamunan tentang masa laluku, sekarang pukul 11 aku harus menemui pa firman, dia bilang ada hal penting yang harus ia bicarakan, membuatku cukup penasaran.
pukul 11 lebih 15 menit aku sampai dikantor pa firman.
"selamat siang pa firman, sudah lama menunggu ya, tadi dijalan macet banget."
kami duduk berhadapan hanya dipisahkan meja bundar berukuran kecil.
"ahh tidak juga."
"ya udah pa langsung aja mau bicara apa, bukankah kasus ibu sudah selesai."
"begini ayy, mungkin ini kabar bahagia untuk kamu, saudara dodit akan segera bebas dari tahanan."
aku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara.
Keesokannya aku bangun tidur keluar dari kamar menuju ke kamar mandi mencuci muka. Kulihat ada bi inah sedang menyiapkan sarapan. "ini sarapannya non, ko non belum siap siap apa ngga ke kantor non.""ngga bi saya agak pusing." kuhabiskan nasi goreng buatan bi inah, rasanya hampir sama dengan buatan ibu, aku jadi kangen sama dia.Setelah menghabiskan makanan aku berjalan menuju halaman belakang. Aku duduk dibawah pohon mangga, terlihat rumah bagian belakangku, begitu banyak kenangan disini, ibu yang sudah 25 tahun merawatku disini sedang sakit, jiwa nya terguncang akibat perbuatan manusia yang sifatnya jahat melebihi setan.Aku sangat merindukannya.Ibu aku akan
aku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara."keluarga dari saudara dodit menemukan fakta baru, telah ditemukan sebuah kamera tersembunyi di tempat kejadian peristiwa ibumu. dari kamera tersebut kita bisa tau bahwa dodit tidak andil dalam pemerkosaan itu, justru dia menjadi korban kekerasan dari ketiga pelaku itu." jelas pa firman yang sedikit mengagetkanku"untuk lebih jelasnya kamu bisa liat rekeman ini." pa firman mengarahkan layar laptopnya ke hadapanku. vidio yang menampilkan ibu disekap disebuah ruangan. ibu duduk disebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat mulutnya ditutup sebuah kain yang mellingkar ke kepalanya. Disampingnya terdapat lemari yang sudah sangat usang.
1 bulan berlalu, aku sudah bisa beradaptasi di tempat kerjaku. Begitu juga hubunganku dengan willyam yang semakin hari semakin intens.Hari itu tepatnya saat istirahat willyam menghampiriku dikantin. Dia membawa piring makanannya dan duduk disampingku."Hari sabtu aku ada meeting di bandung 3 hari kamu ikut aku ya?.""Sama bu indah kan?." Bu indah itu sekertarisnya willyam."Yaa.""Kita berangkat jam berapa ya pak.""Sorean aja."Agak aneh sih, pemberitahuan meeting kok mendadak.
Masih dalam keadaan sadar, aku memesan satu botol minuman memabukan, minuman yang baru saja ku kenal, aku fikir satu botol itu cukup untuk menghilangkan rasa sesak di dada, tapi aku salah. Ternyata dari sinilah masalah terbesar dihidupku dimulai.Pukul 10 pagi aku masih belum sadar, mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman haram itu.Aku terbangun saat merasakan tubuhku diguncang kuat kuat. Kudengar samar samar suara perempuan menangis. Pelan pelan kubuka mataku."Asstaghfirulloh Gina, kapan kamu datang." Dia masih menangis."Kaka ini apa apaan, kondisi ibu sakit separah itu tapi kaka tidak memberitahuku. Kemarin sore aku bertemu ka sarah dikafe.awalnya aku tidak tau, Dia menanyakan keadaan ibu.
Pukul 8 pagi kuputuskan untuk membawa ibu ke Rumah Sakit jiwa sesuai anjuran dokter, tentunya ditemani dodit."Dodit maafkan aku harusnya hari ini adalah hari bahagia kita. Tapi aku sudah menyusahkan kamu saja.""Tak apa ayy, ibu kamu juga berarti ibu aku. Aku minta apa pun yang akan terjadi nanti kamu harus bisa menerimanya ya. Aku ingin kamu bisa bersikap lebih dewasa."Aku sedikit bingung dengan perkataan dodit."Sudah sampai ayo kita turun."Ibu masih belum sadar karena pengaruh obat penenang. Ibu diperiksa dan lagi lagi ibu mengamuk hilang kendali. Hatiku sangat hancur melihat ibu seperti itu.
Kriiiiiiiing ... telfon rumah berbunyi."Hallo assalamualikum Aini, ini umi Amira, Oh iya ibu dengar kamu semalem dilamar sama Dodit ya, Selamat ya Ayy.""Waalaikumsalam umi, iya mi alhamdulillah itu waktu yang sangat aku tunggu tungu mi. Dodit udah cerita ya sama umi, dodit ngomong apa aja mi. Aku jadi malu sama umi.""Iya syukur insyaalloh nanti dalam waktu deket umi ingin berkunjung ke rumahmu bersama abi. Oh iya semalem umi liat di fb nya dodit. Dodit sendiri belum cerita. Umi malah mau nanya sekarang Dodit sedang bersamamu atau tidak ayy.""Ya alloh jadi dodit belum pulang dari semalem. Kemana ya mii. Ibuku juga belum pulang, semalem ibu pulang bareng dodit mi... gimana ini mi aku